
Beberapa hari setelah kedatangan ibu Alan kerumahnya, Hana dan Stefan kembali menjalani hari harinya dengan bahagia. Mereka tidak lagi memikirkan apapun tentang Alan karena mereka merasa sudah tenang dengan ibu Alan yang tidak menuntut.
“Daddy berangkat dulu ya sayang, Jangan nakal dan bantu daddy jagain mommy. Oke?”
Hana terkekeh merasa geli dengan apa yang Stefan bisikan pada putra mereka. Lucu sekali rasanya jika memang benar ada bayi yang bisa membantu daddy nya menjaga mommy nya.
“Stefan, kamu akan membuat Theo merasa memiliki beban jika setiap pagi selalu berpesan padanya agar membantu kamu menjagaku.”
Stefan tersenyum. Baginya Theo memang sudah membantunya menjaga Hana. Karena dengan kehadiran Theo, Hana sama sekali tidak mengerjakan pekerjaan rumah apapun dan hanya fokus mengurus Theo. Meskipun sebenarnya mengurus Theo saja sudah membuat Hana merasa sangat lelah setiap harinya. Tapi setidaknya Hana tidak menyentuh apa yang memang tidak seharusnya dia sentuh sebagai nyonya dirumah mereka.
“Maksudku menjaga hati kamu cuma untuk aku..” Ujar Stefan sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Hana.
Hana mengeryit. Aneh sekali rasanya mendengar Stefan berkata seperti itu. Rasanya sangat tidak pantas seorang Stefan Devandra yang terkenal dingin dan cuek mengucapkan gombalan.
“Apaan sih kamu, nggak jelas banget.” Tawa Hana pelan.
Stefan berdecak. Stefan sendiri merasa geli dengan ucapan-nya sendiri.
“Ya sudah aku berangkat yah. Kamu jaga Theo saja jangan memikirkan apa lagi sampai mengerjakan yang lain. Ingat untuk istirahat siang.”
Hana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Stefan semakin intens memperhatikan-nya sejak kelahiran Theo.
Setelah Hana menyaliminya, Stefan mencium kening Hana seperti biasanya. Pria itu tidak perduli dengan para body guard yang melihatnya mencium Hana. Setelah itu Stefan melangkah menuju mobilnya dan masuk kedalamnya dengan body guard yang membukakan dan menutup pintu mobil mewahnya. Sudah beberapa hari ini memang Stefan tidak mengantar Angel lebih dulu ke sekolahnya, tentu saja karena Stefan sudah menyuruh seorang body guard untuk mengawal dan memastikan keamanan Angel juga mbak Titin sebagai pelayan yang di percaya menjaga Angel selama Angel disekolah.
“Bye daddy.. Hati hati..” Senyum Hana saat Stefan menurunkan kaca mobilnya.
__ADS_1
Stefan tersenyum kemudian mulai melajukan mobilnya berlalu dari pekarangan luas rumahnya.
Hana menghela napas setelah mobil Stefan keluar dari pekarangan luas rumah mereka. Wanita itu kemudian memutar tubuhnya dan kembali membawa Theo masuk kedalam rumahnya.
Hana melangkah menuju tangga kemudian menaikinya satu persatu bermaksud untuk kembali ke kamarnya. Hana hendak meletakan Theo yang memang sudah terlihat besar sekarang. Tubuh bayi tampan itu bahkan begitu gempal dan udah tidak lagi terlihat seperti bayi yang lahir prematur.
“Tiduran sebentar ya sayang.. Mommy nya sedikit lelah..” Senyum Hana sambil meletakan Theo di ranjang bayinya.
Hana menghela napas menatap putranya yang begitu cepat tumbuh besar. Bayi dengan rambut pirang itu bahkan sudah bisa memainkan tangan-nya sendiri.
Hana kemudian menoleh kearah kaca besar yang ada dikamarnya. Sesaat Hana diam kemudian melangkah pelan mendekat pada kaca tersebut. Ketika sudah berada didepan kaca itu Hana menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Keterkejutan terlihat jelas di wajahnya ketika Hana mendapati penampilan-nya yang sangat berantakan. Rambut yang dikuncir namun terlihat awut awutan. Tubuh yang terlihat melebar, wajah tanpa sapuan make up serta lingkar hitam yang terlihat begitu jelas dimatanya.
Hana menggelengkan kepalanya. Menyadari penampilan-nya sangat berantakan seperti itu, tiba tiba pikiran Hana melayang. Hana membayangkan bagaimana sempurna dan cantiknya para wanita yang berada di sekitar suaminya. Sedangkan dirinya begitu berantakan dan jauh dari kata cantik.
Hana memutar sedikit tubuhnya memperhatikan-nya dengan seksama. Tubuhnya benar benar sudah tidak lagi menarik dengan perut yang terlihat besar dan kentara sekali bergelambir.
Stefan memang tidak pernah protes dengan penampilan Hana selama mereka hidup bersama. Tapi penampilan Hana sekarang sangat sangat jauh dari penampilan-nya yang dulu. Hana memang tidak royal dalam berpenampilan. Tapi setidaknya Hana merasa dulu tubuhnya masih langsing, tidak selebar sekarang.
“Hana...”
Hana terkejut saat tiba tiba mendapati Sera yang tampak di bayangan cermin di depan-nya. Wanita itu langsung menoleh menatap Sera yang tersenyum manis padanya.
“Mamah...” Lirih Hana.
“Maaf mamah masuk tanpa izin. Tapi mamah sudah beberapa kali mengetuk pintu. Karena kamu tidak juga menyaut, akhirnya mamah masuk. Kebetulan pintunya juga tidak kamu kunci.” Ujar Sera menjelaskan khawatir Hana merasa tidak nyaman karena Sera masuk begitu saja ke dalam kamarnya.
__ADS_1
“Ya mah.. Maaf, aku sama sekali tidak mendengar suara ketukan pintu.” Balas Hana dengan wajah sendu.
“Tidak perlu di pikirkan. Tapi mamah lihat kamu sedang bercermin sambil mengamati penampilan kamu sendiri. Apa ada yang salah?”
Hana menghela napas. Bahkan Sera juga sama sekali tidak memberikan kritikan apapun tentang penampilan-nya. Itu membuat Hana merasa minder sendiri. Apa lagi jika melihat tubuh mamah mertuanya yang masih begitu bagus. Sementara dirinya terlihat begitu lebar dan tidak terurus.
“Aku hanya sedang berpikir mah, perempuan diluar sana yang berada di sekitar Stefan sangat cantik cantik bahkan sempurna. Sementara aku? Mamah bisa melihat sendiri bagaimana penampilanku sekarang.” Jawab Hana pelan.
Sera tertawa mendengarnya. Wanita itu tidak menyangka Hana akan berpikiran seperti itu.
“Hana, bagi laki laki yang sangat mencintai istrinya itu bukan masalah besar. Mamah yakin Stefan tidak keberatan dengan apapun penampilan kamu sekarang. Itu karena Stefan mengerti bagaimana kamu yang memang tidak ada waktu untuk mengurusi diri kamu sendiri Hana.”
Hana hanya diam saja. Meskipun memang Stefan tidak pernah mengatakan apapun padanya, namun Hana tetap merasa tidak seharusnya dirinya berpenampilan begitu berantakan seperti tidak terurus.
“Hana.. Bukan hanya kamu yang merasakan apa yang saat ini sedang kamu rasakan. Memang begitu konsekuensi mengurus anak sendiri. Kita tidak jadi tidak punya waktu untuk mengurus diri sendiri. Tapi mamah yakin bagi Stefan, bagaimanapun penampilan kamu, kamu tetap perempuan yang paling cantik di matanya.”
Hana menatap Sera. Walaupun memang benar apa yang Sera katakan, tapi Hana tetap merasa minder dengan penampilan-nya sendiri di depan Stefan.
“Tapi kamu nggak perlu khawatir sayang, kalau memang kamu ingin fokus mengurus diri kamu mamah bisa bantu kamu mengurus Theo. Atau mungkin kamu mau kita cari baby siter untuk Theo?”
Dengan cepat Hana menggelengkan kepalanya. Theo tidak bisa merasa nyaman dengan sembarang orang. Karena itu Hana tidak mungkin membiarkan Theo di urus oleh orang lain. Hana juga tidak ingin merepotkan mamah mertuanya yang sudah susah payah mengurusi segala keperluan Angel.
“Tidak mah.. Itu sangat tidak perlu. Mamah tau sendiri kan bagaimana Theo?”
Sera terdiam sesaat kemudian menganggukkan kepalanya. Theo memang hanya lengket dengan Hana dan Stefan. Bahkan bersamanya pun terkadang bayi itu menangis.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu Hana. Tapi Hana, mamah harap kamu buang jauh jauh pemikiran kamu yang sekarang. Karena bagi Stefan bagaimanapun kamu sekarang, kamu tetap istri yang sangat Stefan cintai. Mamah yakin itu.”
Hana ikut tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Hana berpikir dirinya hanya butuh lebih disiplin dengan waktu agar bisa mengurus dirinya juga.