
Di dalam mobil saat dalam perjalanan menuju rumah dokter Rania Stefan terus saja diam. Meskipun pada akhirnya Stefan juga mengiyakan Angel untuk ikut tapi sepertinya pria itu tetap marah.
Hana yang melihat suaminya terus saja diam dengan ekspresi kesalnya hanya bisa menghela napas. Bahkan Angel saja sampai tidak berani berbicara di kursi belakang bersama pelayan yang menemaninya.
“Eemm.. Stefan, memangnya sekarang Alan ada dimana? Dan kenapa harus di pindah?” Tanya Hana memecah keheningan antara mereka berdua.
Stefan hanya melirik Hana sekilas. Pria itu merasa tidak penting menjawab pertanyaan Hana.
Stefan merogoh saku jas dalamnya meraih benda pipih miliknya kemudian menghubungi Rico.
“Susul saya kerumah dokter Rania setelah pembicaraan dengan Williana selesai.” Perintah Stefan pada Rico kemudian langsung menutup telepon-nya.
Hana yang mendengar itu merasa kesal. Stefan bahkan tidak pernah mengatakan tolong pada Rico saat hendak meminta bantuan dari pria itu.
“Dasar laki laki tidak tau sopan santun.” Gerutu Hana.
Stefan sebenarnya mendengar gerutuan istrinya. Namun Stefan sedang malas berbicara pada Hana sehingga memilih untuk diam mengabaikan saja.
Sekitar 45 menit perjalanan akhirnya mobil Stefan sampai didepan gerbang rumah berlantai dua dengan gaya simpel namun tetap terlihat mewah. Saat Stefan membunyikan klakson satpam rumah itu langsung membuka gerbangnya dan menunduk hormat pada Stefan.
Stefan langsung keluar dan turun dari mobilnya di ikuti Hana, pelayan juga Angel saat dua orang pria berpakaian serba hitam membukakan pintu mobil.
Stefan kembali mengeluarkan benda pipihnya menghubungi seseorang mengatakan bahwa dirinya sudah sampai.
Sedangkan Hana, wanita itu menatap bingung bangunan mewah didepan-nya. Hana bertanya tanya dalam hati bagaimana mungkin Alan di pindahkan dari rumah sakit kerumah yang ada didepan-nya. Apa lagi disana juga ada beberapa pria berbadan kekar yang Hana tebak adalah body guard yang sedang berjaga. Hana merasa Alan seperti seorang tahanan yang di khawatirkan melarikan diri.
Tidak lama kemudian seorang wanita cantik berpenampilan sederhana keluar dari rumah itu. Wanita dengan rambut di cepol tinggi berkulit putih bersih yang mengenakan dress pendek selutut warna orange membuat kesan manis dan imut. Apa lagi wanita itu juga mengenakan kaca mata bulat yang semakin membuat penampilan-nya menarik meskipun sederhana.
“Stefan..”
Hana mengeryit. Panggilan wanita berkaca mata bulat itu sangat akrab dengan Stefan. Apa lagi senyuman manisnya yang seolah sangat bahagia melihat kehadiran Stefan didepan-nya.
“Apa dia pacarnya Stefan?” Hana bertanya tanya dalam hati.
“Wow... Ada Angel juga dan nyonya..”
__ADS_1
“Ah ya, nama saya Hana. Panggil saja saya Hana.” Senyum Hana menyela ketika dokter Rania hendak memanggilnya dengan sebutan nyonya.
Hana kemudian melangkah mendekat pada Stefan dan berdiri tepat disampingnya didepan dokter Rania.
“Oh baiklah Hana, saya Rania. Saya orang yang dipercaya Stefan untuk merawat Alan.”
Hana mengeryit kemudian menoleh pada Stefan yang berada disampingnya. Stefan sampai mempercayakan Alan pada kenalan-nya.
“Ya Tuhan.. Maaf saya sangat tidak sopan karena mengajak ngobrol diluar rumah. Mari masuk.. Angel sini sama tante..”
Hana menatap Angel sekilas yang langsung mendekat pada dokter Rania. Hana merasa Angel sepertinya juga sudah sangat dekat dan mengenal baik sosok dokter Rania.
“Ayo Hana..”
Hana tersentak saat tiba tiba Stefan meraih dan menggenggam tangan-nya kemudian menuntun-nya masuk kedalam rumah dokter Rania.
Sedangkan Angel, gadis kecil itu sudah lebih dulu diajak masuk oleh dokter Rania di ikuti pelayan yang mengawal Angel atas permintaan Stefan.
“Nanti kalau Rico datang suruh saja dia masuk.” Kata Stefan pada salah satu pria berbadan kekar itu.
Dokter Rania langsung mengajak Hana dan Stefan untuk melihat keadaan Alan. Sedangkan Angel, gadis kecil itu di ajak bermain oleh pelayan diruang bermain yang ada dirumah dokter cantik itu.
Hana melepaskan genggaman tangan Stefan begitu masuk kedalam kamar dimana Alan berada. Wanita itu langsung menubruk Alan dan menggenggam tangan-nya erat.
“Alan.. Aku datang..” Lirihnya dengan suara bergetar.
Dokter Rania yang melihat itu mengeryit. Wanita itu tidak mengerti kenapa istri Stefan bisa begitu dekat dengan pasien-nya.
“Apa ada sesuatu yang masih tidak aku ketahui disini?” Lirih dokter Rania berbisik pada Stefan.
Stefan berdecak. Sikap Hana memang terlalu berlebihan menurutnya. Stefan sampai merasa tidak di hargai sebagai seorang suami.
Malas melihat Hana yang terus memegang tangan Alan dan mengusap pelan pipi tirus pria itu Stefan pun keluar dari kamar tersebut.
Dokter Rania yang melihat itu langsung mengejar Stefan. Dokter cantik itu mulai penasaran dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
“Stefan boleh aku tau lebih banyak lagi? Mungkin aku bisa sedikit membantu kalau ada masalah.” Ujar dokter Rania melangkah dibelakang Stefan.
Stefan terus melangkah dan baru berhenti setelah sampai di ruang keluarga dilantai dua kediaman dokter Rania. Stefan memang sengaja menjauh dari kamar tempat Alan dan Hana berada sekarang.
“Seperti yang sudah kamu tau Rania, aku yang menabrak Alan. Dan Alan, dia adalah sahabat dekat Hana. Dan sampai sekarang Hana tidak tau bahwa aku yang menabrak Alan. Aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini.”
Dokter Rania menggelengkan kepala dengan menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut mendengar apa yang Stefan katakan.
“Aku mengajukan syarat pada Hana untuk menikah denganku dan aku akan membiayai seluruh pengobatan Alan juga semua tanggungan Alan.” Lanjut Stefan.
“Tapi Stefan apapun alasan-nya kamu harus tetap jujur atau Hana akan sangat kecewa sama kamu.”
“Aku tau. Aku memang akan jujur. Tapi tidak untuk sekarang. Maka dari aku minta sama kamu untuk benar benar menjaga Alan dengan baik. Dan jika suatu saat dia sadar dan aku belum bisa jujur pada Hana, kamu harus bantu aku menahan dia agar tidak menemui Hana. Bisa kan Rania?”
Dokter Rania menghela napas. Stefan sedang meminta bantuan padanya. Dan kali ini Stefan tidak menyertakan ancaman.
“Cuma kamu satu satunya orang yang tau tentang ini Rania. Bahkan mamahku saja tidak tau. Dan kalau sampai semua ini terbuka tanpa aku jujur itu artinya kamu yang membukanya.” Ujar Stefan membuat Rania mengeryit.
“Hanya aku?” Tanya dokter cantik ber dress orange itu tidak menyangka. Itu merupakan beban berat lagi baginya. Bagaimana mungkin Stefan memberitahunya sedang yang lain saja tidak tau.
“Lalu bagaimana dengan Rico? Apa dia tau?”
Stefan tersenyum sinis.
“Kamu tentu tau siapa Rico. Dia adalah mata juga telingaku.”
Dokter Rania berdecak. Bodoh sekali jika dia mengira Rico tidak tau apa apa seperti yang lain-nya. Karena jelas jelas semua orang juga tau siapa Rico bagi Stefan.
“Aku juga sudah menyuruh orang orang ku untuk berjaga disini. Mereka akan menjaga dan memastikan Alan disini aman dan tidak akan pergi tanpa sepengetahuanku.”
“Kalau begitu itu sama saja kamu memenjarakan Alan Stefan. Kamu melakukan ini hanya untuk kepentingan diri kamu sendiri. Kamu egois.”
“Tepat sekali. Kamu memang pintar Rania.” Senyum Stefan.
Dokter Rania menggelengkan kepalanya menatap punggung lebar Stefan. Wanita itu benar benar tidak menyangka jika ternyata Stefan juga bisa se egois itu.
__ADS_1