
“Permisi nyonya, tuan..”
Suara pelayan membuat fokus Hana dan Stefan teralihkan. Mereka berdua saat ini sedang berada di ruang keluarga dan bermain bersama Theo yang di baringkan diatas karpet berbulu di depan TV.
“Ya mbak.. Ada apa?” Tanya Hana yang menyauti. Seperti biasa, wanita itu selalu memperlihatkan senyuman manisnya saat sedang berbicara dengan siapapun.
Sementara Stefan, pria itu kembali fokus mengajak putranya mengobrol.
“Didepan ada nona Williana nyonya. Beliau mencari tuan.” Ujar pelayan tersebut memberitahu Hana.
Senyuman dibibir Hana perlahan memudar mendengar nama Williana di sebut. Hana kemudian menoleh pada Stefan yang terus saja mengajak putranya mengobrol tanpa sedikitpun terlihat perduli. Padahal Hana yakin Stefan pasti mendengar apa yang dikatakan pelayan-nya tentang kedatangan Williana.
“Oke, sebentar lagi Stefan akan keluar untuk menemuinya.” Senyum Hana lagi.
“Baik nyonya. Saya permisi.”
“Ya...”
Hana menghela napas kemudian menatap pada Stefan yang benar benar terlihat tidak memperdulikan kedatangan Williana malam ini. Stefan terus saja mengajak Theo mengobrol.
Hana kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu tanpa mengatakan apapun pada Stefan. Hana yakin Stefan tidak akan keberatan jika dirinya yang menemui Williana. Toh, Stefan sudah tidak lagi menjalin kontrak kerja sama dengan Williana. Hana tau itu karena Hana mendengar sendiri saat Stefan sedang berbicara dengan Sera di ruang tamu setelah kedatangan Boby malam itu.
Sedang Stefan. Pria itu menghela napas kemudian berdecak pelan. Stefan tidak tau apa lagi yang ingin Williana katakan padanya. Wanita itu benar benar tidak ada bosan-nya mengganggunya dengan berbagai alasan yang berhasil membuat Stefan merasa muak.
Namun Stefan juga tidak akan membiarkan Hana menemui Williana sendiri. Pria itu tidak ingin jika sampai Williana mengeluarkan kata pedasnya pada Hana.
Stefan kemudian meraih tubuh Theo dan menggendongnya membawanya keluar dari ruang tamu untuk mendengarkan apa yang akan Williana katakan jika Hana yang menemuinya.
__ADS_1
Sementara itu Hana melangkah dengan tenang menghampiri Williana yang asik memainkan ponselnya. Wanita itu duduk di sofa dengan santainya seolah sedang berada dirumah teman akrabnya.
“Ada apa mencari suami saya nona Williana yang terhormat.” Ujar Hana dengan sangat tenang begitu sampai di depan Williana.
Mendengar suara Hana, Williana langsung mengangkat kepalanya. Wanita itu menatap penampilan Hana dari atas sampai bawah kemudian tertawa. Ya, wanita itu menertawakan penampilan Hana yang menurutnya sangat tidak pantas itu.
Hana mengeryit merasa tersinggung karena tawa Williana. Hana kemudian menatap dirinya sendiri. Hana akui penampilan-nya memang sangat jauh dari kata cantik apa lagi elegan karena Hana hanya mengenakan dress rumahan.
“Maaf, maaf nyonya Devandra. Tapi kali ini anda benar benar membuat perut saya terasa geli sehingga saya tidak tahan untuk tidak tertawa.” Kata Williana masih dengan sisa tawanya.
Hana berdecak. Ingin sekali rasanya Hana melayangkan bantal sofa pada wajah cantik Williana. Hana tau, Williana sedang mengejeknya secara tidak langsung.
Hana menghela napas. Hana tidak ingin menuruti hawa nafsunya karena emosi. Wanita itu kemudian mendudukan dirinya diatas sofa tunggal yang berada di seberang Williana dengan tenang.
“Ini sudah malam nona. Apakah pantas anda kesini mencari suami saya. Sedangkan anda sendiri juga tahu sekarang adalah waktunya untuk suami saya beristirahat.”
“Nyonya Devandra yang terhormat. Saya juga tidak akan kesini jika tidak ada yang penting. Anda tau bukan siapa saya? Dan anda pasti juga sudah bisa menebak untuk apa saya kesini. Tentu saja untuk membahas masalah pekerjaan.” Ujar Williana menatap Hana remeh.
“Saya ini punya karir nyonya. Saya bukan pengangguran seperti anda yang apa apa hanya bisa meminta pada suami. Saya wanita yang memiliki kesibukan dan kesibukan itu sama seperti kesibukan suami nyonya.” Lanjut Williana.
Hana tertawa geli mendengarnya. Hana tidak menyangka Williana juga sangat pandai berbohong.
“Nona Williana, anda pikir saya tidak tau? Hubungan kontrak kerja anda dengan suami saya itu sudah selesai. Apa anda tidak menonton berita di TV nona? Oh atau saking sibuknya anda mengejar suami saya makan-nya anda tidak punya waktu untuk melihat acara di TV? Atau mungkin memang anda hanya pura pura tidak tau jika berita putusnya kontrak kerja sama antar perusahaan suami saya dan anda sudah selesai?”
Ekspresi Williana langsung berubah. Wanita itu benar benar lupa bahwa berita tentang pembatalan kontrak kerja antar perusahaan-nya dan Stefan sampai meluas di berbagai media dan TV.
“Saya memang bukan wanita karir seperti anda nona. Tapi saya juga tidak bodoh. Saya tau anda kesini pasti ingin merayu suami saya bukan? Anda pikir suami saya laki laki seperti apa?”
__ADS_1
Williana mengepalkan kedua tangan-nya. Namun sebisa mungkin Williana berusaha untuk menahan diri. Williana tidak ingin berbuat arogan yang pasti akan membuat Stefan semakin ilfil padanya.
“Nyonya Devandra, anda jangan lupa. Hati manusia itu bisa berubah. Mungkin sekarang anda orang yang sangat di cintai oleh Stefan. Tapi nanti belum tentu Stefan masih mau mencintai anda sedangkan penampilan anda saja seperti ini. Sangat sangat tidak terurus.”
Williana mencoba menyerang Hana dengan merembet ke fisik. Wanita itu yakin Hana tidak akan bisa berkilah dengan kenyataan bahwa Hana memang sudah terlihat tidak lagi menarik.
“Anda seharusnya tau harus bagaimana nyonya. Apa lagi Stefan juga bukan orang sembarangan. Apa kata orang orang di luar sana jika melihat anda yang seperti ini? Mereka pasti akan mencemooh anda bahkan mungkin Stefan juga akan terkena cemoohan karena penampilan anda ini.”
Williana tersenyum remeh sambil menatap penampilan biasa Hana. Williana itu sangat yakin Hana pasti tidak akan bisa mengatakan apapun lagi jika dirinya sudah mulai menghina fisik wanita itu.
“Tidak akan ada siapapun yang berani mengatakan apapun tentang fisik istri saya Williana.”
Hana baru saja membuka mulutnya hendak membalas ucapan Williana saat tiba tiba Stefan muncul dari balik tembok dengan Theo yang berada di gendongan-nya sembari melangkah mendekat.
Williana langsung memusatkan perhatian-nya pada Stefan begitu juga dengan Hana. keduanya menatap Stefan dengan ekspresi dan perasaan yang berbeda.
“Stefan...” Lirih Hana.
Stefan kemudian mendekat pada Hana dan berdiri tepat disamping sofa yang Hana duduki.
“Williana, saya sudah berulang kali mengingatkan kamu untuk berhenti mengganggu saya. Tapi sepertinya itu tidak mempan. Apa perlu saya membanting perusahaan kamu ke dasar lebih dulu supaya kamu berhenti. Apa lagi kamu juga sudah berani menghina fisik istri saya.”
Williana melengos. Entah dimana kekurangan-nya sehingga sedikitpun Stefan tidak mau menatapnya.
“Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini Williana. Atau saya benar benar akan menghancurkan kamu.” Tegas Stefan.
Williana yang merasa malu karena ucapan tegas Stefan segera bangkit dari duduknya. Wanita itu berlalu keluar dari kediaman mewah Stefan dengan perasaan sangat marah.
__ADS_1
“Tunggu tanggal main-nya Stefan. Saat itu kamu tidak akan bisa lagi lepas dariku.” Batin-nya kemudian memasuki mobilnya.