ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 229


__ADS_3

Sore ini Hana berdiam diri di balkon kamarnya. Wanita itu sedang menunggu kepulangan Stefan yang hari ini sama sekali tidak memberi kabar padanya. Bahkan saat Hana mencoba menelepon-nya Stefan tidak mengangkatnya. Mengirim pesan juga tidak kunjung dibuka apa lagi di balas.


Hana menghela napas merasa sedikit frustasi. Pikiran pikiran buruk mencoba menguasainya namun Hana selalu berusaha untuk menepisnya. Hana mencoba berpikir positif pada Stefan yang mungkin memang sibuk dan tidak sempat untuk memegang ponselnya mengingat hari ini adalah hari pertama Stefan kembali mengurusi perusahaan-nya setelah lama di Amerika.


“Apa dia masih marah sama aku karena tadi pagi?” Hana membatin bertanya tanya sendiri. Hana merasa sangat tidak tenang seharian ini karena Stefan yang seperti sengaja menghindar darinya.


Hana menatap kearah gerbang. Hana sangat berharap disana muncul mobil Stefan. Hana akan kembali meminta maaf pada suaminya itu karena sudah membuatnya marah.


“Mommy...”


Hana menoleh ketika mendengar suara Angel. Dengan sangat terpaksa Hana mengukir senyuman dibibirnya karena tidak ingin siapapun tau apa yang sedang dia rasakan sekarang.


“Ya kak.. Kenapa?” Saut Hana kemudian bertanya dengan sangat lembut pada Angel.


“Adek nangis mommy..”


Ekspresi Hana langsung berubah. Senyuman dibibirnya sirna dan berganti dengan raut wajah penuh ke khawatiran mendengar apa yang dikatakan oleh Angel.


Hana bergegas berlalu dari balkon kamarnya dan masuk kedalam kamar melewati Angel yang berdiri di ambang pintu.


Benar saja, ternyata Theo sedang menangis dengan tubuh kecilnya yang menggeliat seolah meminta pada siapa saja agar segera di gendong.


“Ya ampun.. Sayang.. Maafin mommy sayang.. Maaf yah..”


Hana langsung menggendong dan menyusui bayi tampan itu yang akhirnya tenang dalam gendongan Hana.


Hana membelai lembut puncak kepala putranya itu. Hana merasa sangat bersalah karena terlalu asik memikirkan Stefan sehingga sampai tidak mendengar suara tangis putranya.


“Mommy kenapa bisa enggak denger suara adek yang menangis? Mommy ngelamun yah?”


Hana menoleh lagi pada Angel yang sedang melangkah mendekat padanya. Hana tidak ingin terlalu terbuka dengan putri kecilnya yang tentu tidak akan tau maksudnya. Tapi Hana juga tidak ingin berbohong pada Angel.


“Enggak sayang.. Mommy nggak papa. Mommy cuma lagi nungguin daddy pulang saja.”


Angel menganggukkan kepalanya mengerti. Gadis kecil itu kemudian mengusap lembut kaki kecil adiknya.


“Oh iya mommy, Angel penasaran banget pengin tau apa isi dari kado kado yang ada dibawah. Kita buka sama sama yuk?”

__ADS_1


Hana menghela napas kemudian tersenyum. Sedikitpun Hana tidak terpikirkan dengan semua kado kado itu karena memang yang sedang Hana pikirkan hanya Stefan yang sama sekali tidak memberi kabar padanya hari ini.


“Kalau Angel mau buka, buka aja enggak papa. Mommy nanti nyusul ke bawah. Tapi Angel ajak oma atau mbak Titin buat nemenin Angel ya..”


Mendengar itu ekspresi Angel berubah. Angel ingin membukanya dengan di temani Hana, bukan Sera atau pelayan.


“Memangnya mommy nggak penasaran pengin buka? Kata oma itu semua hadiah dan bunga punya mommy dari temen temen daddy. Masa Angel buka sendirian sih. Kan nggak boleh..”


Hana tertawa mendengarnya. Wanita itu kemudian mengajak untuk Angel duduk di sofa yang berada di seberang ranjangnya dan Stefan.


“Ya sudah nanti kita buka sama sama. Tapi kita tunggu daddy pulang. Gimana?”


Angel menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias.


“Oke mommy..” Jawabnya semangat.


“Ah ya sayang, gimana tadi di sekolah? terus kamu ada tugas nggak?” Tanya Hana beralih topik.


“Angel senang banget bisa kembali ke sekolah mommy. Ketemu sama temen temen terus kasih mereka oleh oleh. Mereka bilang kangen sama Angel. Terus ada juga loh mommy kakak kakak yang kasih Angel surat katanya untuk daddy. Tapi Angel tolak. Kan daddy punya nya Angel, mommy, sama adek.”


Hana tertawa mendengar cerita Angel. Sesaat wanita itu mengesampingkan pikiran-nya tentang Stefan. Apa lagi mendengar Angel yang hendak di titipi surat untuk Stefan. Dari situ Hana bisa menebak bahwa yang berniat memberi surat pada Stefan pasti adalah anak remaja yang terpesona dengan ketampanan suaminya.


“No mommy. Angel nggak mau. Daddy itu punya kita. Nggak boleh ada siapapun yang merasa dekat apa lagi memiliki daddy.” Tolak Angel mengerucutkan bibirnya.


Hana tertawa lagi melihat ekspresi putrinya. Hana juga tidak ingin ada siapapun yang merasa memiliki Stefan selain keluarganya. Karena Hana juga tidak mau ada siapapun yang masuk kedalam celah rumah tangganya dan Stefan.


Angel dan Hana larut dalam obrolan tentang Stefan yang banyak di taksir oleh anak anak remaja yang satu sekolah dengan Angel. Hana tidak berhenti tertawa setiap mendengar cerita Angel tentang para kakak kelasnya.


Keasikan bercerita, mereka berdua sampai tidak menyadari hari mulai petang. Sera yang saat itu sedang mencari keberadaan Angel pun mengetuk pelan pintu kamar Stefan dan Hana kemudian membukanya perlahan.


“Oma cariin dari tadi ternyata kamu disini sayang..”


Angel dan Hana menoleh pada Sera yang melangkah masuk kedalam kamar Stefan dan Hana. Keduanya tersenyum menatap Sera.


“Ya oma.. Angel sedang bercerita sama mommy tentang sekolah.”


“Oh ya? Seru banget kayanya. Kok nggak ajak oma juga.”

__ADS_1


“Ya kan tadi oma lagi ngobrol sama temen oma lewat video call. Angel kam nggak mau ganggu oma.”


Sera tertawa pelan dan menganggukkan kepalanya mengerti. Sera kemudian menatap pada Theo yang asik menyusu pada Hana.


“Wah.. Adek sudah mandi ya? Wangi banget.”


“Iya mah.. Tadi abis aku mandiin Theo tidur. Eh terus nangis kebangun. Mungkin dia lapar.”


Sera mengangguk pelan. Wanita itu membelai lembut pipi kecil Theo yang mulai terlihat berisi. Bayi tampan itu memang sudah terlihat mulai besar tidak sekecil saat pertama kali Sera melihatnya dirumah sakit.


“Mungkin besok kita harus bawa Theo ke Clara Hana. Mamah penasaran dengan berat badan Theo sekarang. Pasti sudah naik.”


“Ya mah.. Nanti aku coba bilang sama Stefan.”


“Ya.. Ya sudah lebih baik sekarang kita makan malam yuk. Theo biar sementara sama mbak Titin dulu.”


Hana menganggukkan kepalanya. Wanita itu hanya menurut saja saat Sera mengajaknya untuk makan malam bersama. Meski sebenarnya pikiran Hana sedang kembali berpusat pada Stefan yang belum juga pulang padahal waktu makan malam sudah tiba.


Hana terus menunggu kepulangan Stefan sambil mengayun Theo. Namun sampai larut Stefan belum juga pulang. Bahkan saat Hana mengecek ponselnya tidak ada satupun notifikasi dari Stefan.


“Ya Tuhan Stefan.. Apa semarah itu kamu sama aku?” Lirih Hana dengan kedua mata berkaca kaca dan suara bergetar.


CEKLEK


Suara pintu yang dibuka dengan pelan membuat Hana langsung menoleh. Air mata wanita itu menetes begitu melihat Stefan yang melangkah mendekat ke arahnya.


“Stefan..” Lirihnya merasa lega melihat Stefan baik baik saja.


Stefan yang melihat Hana meneteskan air matanya mengeryit. Rasa khawatir langsung merayapi hati Stefan saat itu.


“Hey.. Ada apa? Kenapa menangis?” Tanya Stefan.


Hana tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Perasaan-nya tenang sekarang karena Stefan sudah berada didepan-nya.


“Aku nggak papa..” Lirih Hana menjawab.


Stefan menghela napas pelan. Pria yang masih mengenakan setelan jas warna hitamnya itu kemudian mengusap dengan lembut air mata yang membasahi pipi Hana. Stefan juga mencium kening Hana membuat Hana langsung memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


“Jangan menangis Hana..” Bisiknya.


__ADS_2