ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 11


__ADS_3

Stefan dan Hana sampai dirumah sakit tempat Alan dirawat. Namun Hana terkejut karena ternyata disana juga sudah ada Rico yang menyambut kedatangan-nya dan Stefan dirumah sakit.


“Kenapa ada Rico juga? Apa Stefan yang menyuruhnya datang kesini?” Hana bertanya tanya dalam hati sambil sesekali melirik Rico yang berdiri didepan-nya dan Stefan.


“Apa dia sudah datang?” Tanya Stefan pada Rico.


“Sudah tuan. Dia menunggu anda diruangan-nya.”


Jawaban Rico membuat Hana semakin merasa penasaran. Dan dari jawaban itu Hana yakin Stefan pasti datang kerumah sakit bukan hanya untuk mengantarnya saja. Tapi karena Stefan memang juga ada janji dengan seseorang.


“Kamu antar Hana ke ruangan mantan pacarnya.” Ujar Stefan menatap Hana dengan senyuman miringnya.


Hana berdecak. Jika saja Stefan bukan seorang tuan dengan segala kuasanya, Hana pasti sudah melayangkan sepatu flat yang dikenakan-nya saat ini ke arah wajah memuakkan pria itu.


“Baik tuan. Mari nyonya..”


Dengan menghentak hentakkan kakinya Hana melangkah mendahului Rico meninggalkan Stefan yang berdiri menatapnya dalam diam. Hana benar benar sangat kesal pada Stefan yang selalu bertingkah seenaknya.


Hana melangkah di koridor rumah sakit menuju ruang rawat Alan dengan Rico yang mengikuti dari belakang. Wanita dengan dress biru muda selutut itu berkali kali menghela napas karena kesal hingga akhirnya mereka berdua sampai tepat didepan ruang rawat Alan.


Hana memutar tubuhnya menatap Rico yang berdiri dengan tegap didepan-nya.


“Kamu mau ikut masuk?” Tanya Hana pada Rico.


“Tidak nyonya. Biar saya disini saja.” Senyum tipis Rico menjawab.


Hana menganggukkan kepalanya kemudian masuk kedalam ruangan tempat Alan berada.

__ADS_1


Disana sudah ada Amira yang duduk dikursi disamping brankar Alan. Amira memang sengaja menyuruh Aisha adiknya mengantar ibunya pulang karena tidak ingin kesehatan ibunya memburuk lagi.


Hana menghela napas pelan. Hana sudah bisa menebak apa yang Akan Amira bicarakan padanya. Meskipun Hana belum tau bagaimana dirinya menjelaskan, tapi Hana tidak ingin berbohong pada adik sahabatnya itu.


Hana menghela napas sekali lagi kemudian mendekati brankar dimana Alan tergeletak dengan peralatan medis yang masih menempel ditubuhnya. Alan benar benar terlihat sangat menyedihkan sekarang.


Sekilas Hana mengingat malam dimana peristiwa naas itu akan menimpa Alan. Alan tersenyum dan berkata begitu manis padanya. Alan bahkan berjanji akan selalu ada untuknya.


Amira mengangkat kepalanya menatap Hana yang berdiri di seberangnya disamping kiri brankar tempat Alan berbaring.


Berbagai pertanyaan sudah menumpuk dikepala Amira tentang bagaimana Hana bisa mengenal bahkan sampai menikah dengan seorang Stefan Devandra.


“Bagaimana keadaan Alan?”


“Bagaimana semua ini bisa terjadi kak?” Tanya balik Amira dengan tenang.


“Aku lakukan semua ini demi Alan.” Jawab Hana dengan senyuman dibibirnya. Hana tau langkah yang dia ambil akan menyulitkan dirinya sendiri. Tapi Hana selalu yakin Tuhan bersamanya. Tuhan tau niat baiknya.


“Apa kakak menukar diri kakak dengan uang?”


Hana mengangkat kepalanya. Secara kasar apa yang dipertanyakan oleh Amira memang benar. Hana menukar dirinya demi uang 500 juta. Namun bukan hanya uang saja, Stefan mengatakan dirinya akan membiayai seluruh kehidupan ibu dan kedua adik Alan sampai ke jenjang pendidikan yang Amira dan Aisha mau.


“Membayar dokter terkenal, melunasi tunggakan bahkan SPP aku sama Aisha sampai semester akhir, bahkan sampai menyewa dokter pribadi yang bisa kapanpun datang untuk mengecek keadaan ibu. Apa kakak pikir kami akan sangat bahagia dengan semua itu?”


Hana membulatkan kedua matanya menggeleng tidak menyangka dengan apa yang Amira katakan. Stefan memang tidak main main dengan ucapan-nya.


“Kami justru kasihan sama kakak.. Kami nggak mau menyusahkan kakak. Apa yang terjadi pada kak Alan adalah urusan kami sebagai keluarganya. Kakak tidak harus melakukan itu semua. Kakak bahkan sampai rela harus ber akting didepan kamera seolah kakak sangat bahagia dengan pernikahan itu. Kalian memang terlihat sangat serasi dan saling mencintai. Tapi aku yakin pada kenyataan-nya tidak seperti itu.” Lanjut Amira dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


Amira tau dirinya tidak berhak marah. Tapi Amira juga tidak mau kakaknya terluka nanti.


“Kak.. Semuanya belum terlambat. Kita bisa mengusahakan semuanya sama sama. Kakak tinggalin pria kaya raya itu dan kembali sama kita.”


Hana memejamkan kedua matanya mendengar permintaan Amira. Jika Hana mampu Hana pasti sudah melakukan-nya. Tapi Stefan sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untuk memenuhi ucapan-nya sendiri. Dan sebagai wanita yang punya harga diri Hana tidak mungkin lepas dari tanggung jawab dengan lari begitu saja mengingkari syarat yang dari awal memang sudah mereka sepakati.


“Amira, uang 500 juta ditambah membayar dokter terkenal serta keperluan lain yang kamu sebutkan tadi itu tidak sedikit. Bahkan jika kita menjual diri kita pun kita belum tentu bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Tentang cinta atau tidaknya aku sama Stefan, itu biar jadi urusan aku. Yang terpenting sekarang kamu dan Aisha bisa sekolah tanpa harus pusing mikirin biaya lagi. Ibu bisa sehat dengan penanganan yang tepat. Dan lagi, Alan sudah di operasi dan Alan akan mendapat penanganan yang baik dari ahlinya. Aku lakukan semua ini untuk kalian. Tolong kamu mengerti.”


Air mata Amira semakin deras menetes. Amira tidak berani membayangkan bagaimana hancurnya hati sang kakak jika nanti tau bahwa orang yang dari dulu sangat di cintainya sudah menikah dengan pria lain.


“Tapi kak...”


“Amira, Aku sudah menganggap kamu, ibu, juga Aisha seperti keluarga aku sendiri. Aku melakukan ini bukan tanpa alasan. Dan alasan itu karena aku sayang sama kalian. Aku ingin yang terbaik untuk kalian. Jadi tolong, tolong banget kamu mengerti.”


Amira menundukkan kepalanya. Amira sadar jika dirinya terus marah dan memberontak tidak menerima kenyataan itu sama saja dirinya tidak menghargai keputusan Hana. Terlebih apa yang Hana lakukan juga demi kebaikan keluarganya, bukan untuk kepentingan Hana sendiri.


“Kalau nanti Alan membuka kedua matanya dan menanyakan aku. Katakan saja dengan jujur bahwa aku sudah menikah. Tapi tolong jangan katakan bahwa aku menikah dengan Stefan demi kalian.”


Amira menggeleng. Dirinya mungkin tidak akan kuat mengatakan-nya pada Alan nanti.


“Amira.. Kamu harus janji sama aku, kamu harus sekolah. Jangan pikirkan aku karena aku pasti akan selalu baik baik saja. Sekolahlah setinggi yang kamu mau, kejar dan raih cita cita kamu demi masa depan kamu. Alan juga ibu pasti akan sangat bahagia dan bangga jika kamu sukses.” Senyum Hana menatap Amira dengan pipi basah.


“Tapi kak..”


“Amira aku mohon...” Sela Hana kemudian mendekat pada Amira yang sudah berdiri dari duduknya.


Hana meraih tangan Amira dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


“Jangan sia siakan pengorbanan aku..” Lirih Hana menatap Amira penuh harap.


__ADS_2