
Setelah acara pesta itu selesai, Stefan langsung mengajak Hana dan Angel juga Sera untuk pulang dengan Rico sebagai pengemudi mobil.
“Nanti mommy tidur sama Angel ya..” Pinta Angel menatap Hana penuh harap.
Sera yang mendengar permintaan cucunya tertawa pelan. Wanita dengan penampilan elegan itu kemudian membelai lembut rambut panjang Angel membuat si empunya menoleh padanya.
“Untuk malam ini jangan dulu ya sayang.. Kan mommy nya capek abis jadi pengantin cantiknya daddy. Angel biar tidur sama oma dulu.. Nanti oma bacakan dongeng cinderella kesukaan Angel. Bagaimana?”
Ekspresi Angel tampak murung. Gadis kecil itu kemudian melirik Stefan yang duduk disamping kemudi. Pria itu sama sekali tidak bersuara setelah acara pesta pernikahan-nya dengan Hana selesai.
“Ya oma..” Angguk Angel tidak semangat.
“Anak pinter..” Senyum Sera merangkul kedua bahu Angel yang duduk ditengah antara dirinya dan Hana.
Hana hanya bisa meringis. Pesta pernikahan-nya dengan Stefan sudah selesai. Dan sekarang mereka sudah akan kembali ke kediaman mewah Stefan lagi.
Hana bukan wanita yang tidak tau apa apa. Hana tau apa yang dilakukan suami istri di malam pertama. Meski memang dirinya dan Stefan tidak saling mencintai, tapi Hana yakin Stefan adalah pria normal. Stefan pasti sama dengan pria lain-nya.
“Hana, apa kamu baik baik saja?” Tanya Sera membuat Stefan yang sejak tadi diam menggerakkan bola mata coklat beningnya menatap Hana dari kaca mobil.
“Eemm.. Ya mamah. Aku baik baik saja.” Jawab Hana tersenyum tipis.
“Tenang ya Hana.. Semuanya akan baik baik saja.” Senyum Sera dengan mengedipkan sebelah matanya memberi kode pada Hana tentang malam pertama yang akan dijalaninya dengan Stefan.
Mendadak Hana merasakan wajah dan telinganya memanas mendengar apa yang Sera katakan. Hana sendiri tidak yakin dirinya bisa melakukan itu dengan Stefan.
Sekitar 20 menit perjalanan akhirnya mereka sampai dikediaman mewah Stefan. Sera segera mengajak Angel untuk lebih dulu masuk kedalam rumah dan mengajaknya untuk langsung beristirahat agar tidak mengganggu Stefan dan Hana.
__ADS_1
Stefan menghela napas melihat tingkah berlebihan mamahnya itu. Stefan tau sosok menantu adalah yang sangat Sera damba dambakan selama ini. Tapi Stefan tidak pernah mengira bahwa tingkah mamahnya akan sangat berlebihan bahkan melebihi tingkah kekanak kanakan Angel yang selalu merengek meminta ditemani bermain.
Stefan menoleh menatap Hana yang hanya diam disampingnya. Pria itu menatap penampilan Hana dari atas sampai bawah sekali lagi. Hana memang cantik. Dan Stefan mengakui itu.
Stefan meraih tangan kecil Hana menggenggamnya membuat Hana tersentak kaget karena sentuhan Stefan yang begitu tiba tiba.
“Ayo kita masuk..” Ajak Stefan menarik lembut tangan Hana mengajaknya masuk kedalam rumah yang sangat sepi itu.
Tentu saja sepi, para pekerja dirumah itu masih ada di gedung tempat diadakan-nya resepsi dan pesta pernikahan.
Hana hanya menurut saja saat Stefan menggandengnya melangkah menapaki lantai marmer mengkilat itu bahkan sampai menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua dimana kamar Stefan berada.
Ya, malam ini Hana juga akan menjadi penghuni kamar Stefan yang bahkan tidak pernah Hana lihat seperti apa dalamnya selama Hana berada dirumah itu.
Dengan tetap tenang dalam diamnya, Stefan mengajak Hana masuk kedalam kamarnya dan langsung melepaskan genggaman tangan-nya begitu mereka berdua sudah berada didalam kamarnya.
Jantung Hana semakin berdetak dengan sangat kencang. Wanita itu bahkan tidak berani menatap kamar mewah yang sudah di penuhi bunga disetiap sudutnya. Kamar yang memang sengaja di hias seindah mungkin untuk memberi kesan istimewa dimalam pertama setelah pernikahan itu dilaksanakan.
Hana memejamkan kedua matanya. Hana tidak mempermasalahkan tentang cinta atau tidaknya Stefan padanya. Karena Hana juga tau dan sadar siapa dirinya. Mereka juga sama sekali tidak pernah saling mengenal.
Stefan melirik Hana sekilas kemudian melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Hana menghela napas lega dan baru berani mengangkat kepalanya setelah Stefan berlalu. Baru kali ini Hana bertemu dengan pria sedingin Stefan. Pria yang menurut rumor yang tersebar memang tidak pernah bersikap ramah pada orang lain.
“Ya Tuhan... Hamba harus bagaimana sekarang?”
Hana ingin sekali menangis tapi tidak bisa. Apa lagi jika sampai Stefan tau apa yang Hana rasakan sekarang. Bukan tidak mungkin pria itu akan marah atau mungkin semakin meremehkan-nya.
__ADS_1
Stefan kembali keluar dari kamar mandi dengan setelan piyama putih yang begitu pas melekat ditubuh kekarnya. Rambut kecoklatan-nya tampak basah membuat ketampanan-nya semakin bertambah.
Hana tidak bisa menyangkal bahwa Stefan memang sangat tampan dan berkarisma.
Tanpa melirik Hana yang masih menggenakan gaun pengantin dan berdiri ditempatnya Stefan naik keatas tempat tidur. Pria itu berbaring miring dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Hana bahkan juga mendengar Stefan sempat mengumpat pelan karena ranjangnya dipenuhi oleh kelopak bunga mawar merah.
Memang sangat berlebihan. Tapi sikap Stefan menurut Hana tidak seharusnya seperti itu. Bagaimana pun juga Stefan tetap harus berterimakasih pada orang yang sudah menghias kamar itu sedemikan indahnya.
Setelah memastikan Stefan tidak bergerak lagi dengan posisi berbaring miringnya, Hana pun melangkah menuju kamar mandi. Namun begitu sampai didalam kamar mandi Hana berdecak. Wanita itu lupa tidak membawa baju ganti.
Hana menghela napas kasar. Jika dirinya keluar lagi dan mengambil baju didalam lemari itu pasti akan sangat mengganggu Stefan. Pria itu bisa marah padanya.
Hana terdiam dengan kebingungan-nya. Tidak mungkin rasanya jika Hana tidur dengan mengenakan gaun pengantin yang bahkan beratnya saja sudah membuat punggung Hana terasa pegal pegal.
“Bagaimana ini?”
Hana menggigit bibir bawahnya sendiri. Hana benar benar tidak tau harus bagaimana dan melakukan apa sekarang hingga tatapan-nya tidak sengaja tertuju pada kemeja putih yang menggantung disana.
Hana mengeryit. Kemeja itu terlihat sangat besar yang Hana yakini pasti adalah milik suaminya, Stefan.
“Pinjam sebentar nggak papa kali ya..”
Meski ragu namun Hana terpaksa mengenakan kemeja itu. Setelah selesai menyegarkan tubuhnya, Hana keluar dari kamar mandi dengan memakai kemeja kebesaran Stefan.
“Besok aku harus bangun lebih awal supaya dia tidak tau kalau aku memakai bajunya.” Gumam Hana melirik Stefan yang tetap tenang dengan posisi tidur miring memunggunginya.
__ADS_1
Pelan pelan Hana naik ke atas ranjang. Sebelum membaringkan tubuhnya, Hana meraih guling membuat perbatasan antara dirinya dan Stefan kemudian tersenyum.
“Begini lebih baik.” Gumamnya kemudian membaringkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya sampai batas leher.