
Setelah pulang sekolah, Amira langsung mencari Tristan. Amira menyusuri jalanan ibu kota dengan bantuan Joshua dan Edo. Amira menatap ke segala arah berharap kedua matanya mendapati sosok Tristan yang sedang di carinya.
“Duh, kita sudah muter muter tapi Tristan tetap aja nggak ketemu. Coba deh telepon aja. Tanyain dimana dia sekarang.” Keluh Edo mengusap peluh yang membasahi keningnya.
Joshua yang mendengar keluhan kembaran tidak sedarahnya itu berdecak kemudian menjitak kepala Edo merasa gemas pada sahabatnya itu.
“Kalau Tristan bawa handphone juga sudah dari tadi kita telepon dia bego..”
Edo meringis merasa kesakitan karena jitakan Joshua. Edo mengusap pelan kepalanya dimana tadi Joshua menjitaknya.
Amira yang mendengar itu hanya bisa menghela napas. Amira benar benar merasa penasaran kenapa Tristan pergi dari rumah tanpa membawa apapun. Entah itu motor, mobil, ataupun handphone. Hal itu membuat Edo juga Joshua tidak bisa menghubunginya begitu juga dengan yang lain-nya.
Edo dan Tristan kemudian melangkah selangkah lebih dekat dengan Amira yang berada didepan mereka. Edo dan Joshua tau Tristan mempunyai perasaan yang lebih dari sekedar teman pada Amira. Karena Tristan bahkan sampai menyuruh keduanya untuk menjaga Amira secara diam diam.
“Amira.. Kami berdua tau kok, kakaknya Tristan nggak setuju dengan kedekatan kamu dengan Tristan. Tristan bahkan sampai berbohong pada kakaknya karena enggak mau kamu mengalami kesulitan karena kak Williana tau Tristan dekat dengan kamu. Oleh karena itu Tristan sampai rela mengajak Putri dan dikenalkan dengan kakaknya. Itu semua Tristan lakukan untuk melindungi kamu meskipun pada akhirnya kak Williana tau juga bahwa yang dekat dengan Tristan itu kamu, bukan Putri.”
Amira terkejut mendengar apa yang Joshua katakan. Padahal selama ini Amira berpikir Tristan mengajak Putri bertemu dengan kakaknya saat itu karena Tristan memang serius mendekati Putri. Tapi ternyata apa yang Tristan lakukan justru untuk melindunginya.
“Kakaknya Tristan memang bisa dikatakan kejam. Dia tidak segan menyakiti siapa saja yang dia anggap jahat dan merencanakan sesuatu terutama pada Tristan. Jangan kan sama kamu yang baru sebentar dekat sama Tristan. Sama aku dan Edo saja kadang masih berprasangka buruk. Kak Williana menganggap aku dan Edo memanfaatkan Tristan. Yah.. Meskipun itu sedikit ada benarnya karena kami berdua memang selalu mengandalkan Tristan jika pergi bertiga untuk masalah bayar membayar. Tapi kami berdua juga tidak pernah memintanya secara langsung. Tentu saja karena Tristan itu memang baik. Dia sendiri yang berinisiatif mengeluarkan uangnya. Tapi kami terlepas dari semua itu kami tulus berteman sama Tristan karena Tristan memang teman yang baik dan nggak banyak tingkah. Dari luar memang dia kelihatan arogan dan seenaknya. Tapi aslinya Tristan itu sangat baik dan nggak sungkan buat membantu teman Amira.”
Kedua mata Amira berkaca kaca mendengar penjelasan panjang lebar Joshua. Amira tidak menyangka ternyata Tristan begitu baik. Tristan bahkan sampai berbohong pada kakaknya karena ingin melindunginya.
Mendadak ingatan Amira langsung kembali saat dimana Tristan ketahuan membuntutinya. Sekarang Amira yakin apa yang Tristan lakukan dengan mengikutinya pasti juga adalah salah satu niat baik Tristan untuk memastikan ke amanan-nya.
__ADS_1
“Setelah ini kita berdua harap kamu nggak salah paham lagi dengan kedekatan Tristan dan Putri. Kamu juga pasti bisa melihat dengan jelas bukan, Tristan nggak mendekati Putri. Tapi sebaliknya, Putri yang mendekati Tristan.” Lanjut Joshua lagi.
Amira hanya diam saja. Pemikiran-nya tentang Tristan memang selama ini salah. Amira pikir Tristan mendekati Putri karena merasa Putri lebih sepadan dengan-nya dari pada Amira yang tidak punya apa apa. Tapi setelah mendengar apa yang Joshua katakan, Amira merasa sangat menyesal sudah berpikiran buruk tentang Tristan.
“Iya Amira.. Kamu jangan galak galak terus sama Tristan. Kasihan tau. Dia jadi kaya kebingungan begitu.” Ujar Edo menimpali.
Amira tetap diam. Gadis itu menundukkan kepala menelan ludahnya. Tristan tidak seperti yang di pikirkan-nya selama ini.
“Kalian...”
Amira, Joshua, juga Edo langsung menoleh begitu mendengar suara Tristan. Mereka terkejut melihat Tristan yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Tristan..” Gumam Amira dengan air mata menetes.
Amira menutup wajahnya karena tidak bisa menahan air matanya yang langsung mengucur deras begitu mendapati Tristan baik baik saja. Amira sudah sangat khawatir dengan keadaan Tristan yang Putri bilang pergi dari rumah sejak semalam. Amira memikirkan dimana Tristan tidur, dan bagaimana Tristan makan. Amira khawatir dan takut Tristan kenapa kenapa mengingat banyak penjahat yang berkeliaran di pusat ibu kota.
“Lah lah.. Itu si Amira kenapa Jo kok malah nangis. Bisa berabe ini kita. Tristan pasti marah besar..” Edo menelan ludah semakin merasa takut karena Amira yang menangis terisak di sampingnya.
“Tau nih. Amira, kamu jangan nangis dong. Itu Tristan udah ketemu.. Jangan bikin kita susah dong..” Ujar Joshua menatap Amira yang menutupi wajah dengan kedua tangan-nya memelas.
Joshua dan Edo tidak mau Tristan menyalahkan-nya karena Amira yang menangis.
“Kamu sih tadi pake buka buka rahasia Tristan sama Amira.” Edo mendelik pada Joshua yang memang lebih dulu membuka semuanya.
__ADS_1
Joshua yang bingung juga takut hanya bisa meringis dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
“Ya maaf.. Bukan-nya tadi kamu juga ikutan.”
Sementara Tristan yang melihat Amira menangis langsung berlari mendekat. Tristan tidak tau apa yang terjadi sehingga Amira tiba tiba menangis begitu melihatnya.
“Joshua, Edo. Kenapa Amira menangis?” Tanya Tristan mendelik kesal menatap keduanya.
Joshua dan Edo tergagap bingung. Mereka tidak tau harus menjelaskan bagaimana pada Tristan sekarang.
“Itu, anu.. Duh gimana ya?” Joshua kebingungan dengan Edo. Mereka tidak mungkin mengatakan bahwa Amira sekarang sudah tau semuanya karena Joshua menjelaskan.
Tristan berdecak karena kedua teman-nya yang tidak bisa menjawab pertanyaan-nya. Tristan kemudian meraih kedua bahu Amira yang bergetar karena tangisan-nya.
“Amira, kamu kok nangis? Kenapa?” Tanya Tristan dengan nada yang dibuat selembut mungkin. Tristan benar benar tidak ingin Amira sampai di sakiti oleh siapapun termasuk kakaknya.
Amira menggelengkan kepalanya dengan terus menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Isakan-nya semakin terdengar memilukan membuat Tristan semakin khawatir.
Karena tidak tega melihat gadis yang disukainya menangis, Tristan pun memeluk Amira dan mengusap usap punggung Amira dengan sangat lembut berusaha untuk menenangkan-nya.
Untuk Edo dan Joshua, keduanya hanya bisa menatap penuh rasa Khawatir pada Tristan yang sedang mencoba menenangkan Amira dengan memeluknya.
“Mati kita Do..” Gumam Joshua.
__ADS_1