
Hana keluar dari mobil Stefan dengan perasaan kesal. Wanita itu bahkan sama sekali tidak menyalimi Stefan saat Stefan mengatakan dirinya akan langsung berangkat ke perusahaan.
Stefan yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Stefan sengaja tidak menjelaskan pada Hana dan membiarkan wanita itu diam dengan segala kecemburuan yang menguasai hatinya pada Stefan dan Clara.
“Hana Hana.. Kamu memang berbeda dari Lusi..” Gumam Stefan menatap Hana yang masuk kedalam rumah dengan menghentak hentakkan kedua kakinya.
Sikap Hana memang sangat mudah berubah ubah. Hana bisa begitu dewasa jika sudah bersama Angel. Namun Hana bisa begitu galak dan kejam pada siapa saja yang sudah membangkitkan emosi dalam dirinya. Dan Stefan adalah salah satunya.
Tidak ingin pusing memikirkan istrinya yang sedang merajuk karena cemburu itu, Stefan pun memilih untuk menghubungi Sera lewat sambungan telepon dan meminta tolong pada mamahnya itu untuk mengawasi dan lebih memperhatikan Hana sementara Stefan sedang bekerja.
“Tolong ya mah..” Ujar Stefan pelan.
“Iya nak.. Kamu tenang saja. Hana akan baik baik saja di rumah sama mamah. Hanya saja mungkin mulai sekarang kamu harus bisa menghormati profesi orang lain.”
Stefan mengeryit tidak mengerti dengan apa yang Sera katakan.
“Clara dan Rania menjadi dokter itu bukan suatu pencapaian yang mudah Stefan. Panggil mereka dokter supaya istri kamu juga tidak salah mengartikan ke akraban kalian.”
Stefan hanya diam saja. Stefan yakin Hana bukan tipe wanita yang suka berprasangka buruk. Dan prasangka itu pasti muncul karena Hana yang sedang dalam kondisi hati yang mudah sekali berubah ubah.
“Hem ya mah.. Kalau gitu aku langsung ke kantor ya..” Balas Stefan yang tidak ingin terlalu panjang mendapat petuah dari sang mamah.
“Ya nak. Hati hati ya.. Sebentar lagi mamah dan Angel pulang.”
__ADS_1
“Ya mah..”
Stefan mengakhiri sambungan telepon-nya kemudian kembali melajukan mobilnya berlalu dari halaman luas rumahnya.
---------
Langkah Tristan dan Amira terhenti karena tiba tiba mobil Williana mencegat mereka. Tristan yang khawatir kakaknya akan marah marah dan menyalahkan Amira atas apa yang sedang terjadi segera meraih tangan Amira dan menggenggamnya erat. Tristan terus merasa yakin bahwa dirinya bisa melalui fase sulit itu tanpa bergantung pada kakaknya sendiri. Bukan tidak menghormati kakaknya yang sudah begitu berjasa dalam hidupnya, Tristan hanya ingin Williana mengerti dirinya. Tristan ingin Williana tidak menyikapinya seperti boneka yang bisa seenaknya di atur semau Williana sendiri.
Amira menelan ludah merasakan eratnya genggaman tangan Tristan. Gadis itu sendiri juga merasakan ke khawatiran dan ke ketakutan yang sama dengan Tristan. Namun bukan takut di salahkan. Melainkan takut Tristan mendapat amukan dari Williana.
Williana turun dari mobil mewahnya dan berdiri tepat didepan Tristan juga Amira yang terus bergandengan tangan. Wanita itu menatap Tristan dalam diam kemudian menatap tangan Tristan yang jelas sekali terlihat begitu erat menggenggam tangan Amira.
“Ayo kita pulang Tristan.” Ajak Williana pelan.
Amira yang berada di antara keduanya ingin sekali berlari menjauh. Namun itu sangat tidak mungkin mengingat Tristan yang begitu erat menggenggam tangan-nya. Saat Williana bersuara Tristan bahkan semakin mengeratkan genggaman-nya pada tangan Amira seperti meminta dukungan secara tidak langsung.
“Aku nggak akan pulang sebelum kakak berhenti menyikapi aku seperti boneka.” Ujar Tristan tenang.
Williana menelan ludah. Maksud hatinya bukan seperti itu. Williana hanya ingin memastikan yang terbaik untuk adik satu satunya itu. Williana tidak ingin Tristan salah bergaul dengan orang yang kemudian pasti akan di manfaatkan.
Williana melirik sekilas pada Amira dan kembali menatap Tristan yang enggan membalas tatapan-nya.
“Kamu tidak biasa hidup susah Tristan. Kakak nggak mau kamu merasakan hal sulit diluar sana. Pulanglah.”
__ADS_1
Tristan tertawa mendengar apa yang kakaknya katakan. Tristan mungkin memang tidak pernah merasakan kesulitan dalam masalah uang. Tapi hatinya selalu merasa tidak tenang karena ulah sang kakak. Tristan selalu di kekang dan selalu di tuntut untuk mengikuti apa yang Williana mau termasuk dalam masalah memilih teman.
“Kesulitan mencari uang aku bisa mengatasinya kak. Tapi kesulitan bergerak bebas karena apa yang kakak lakukan itu membuat aku merasa lebih baik pergi. Aku nggak mau hidup dengan kekangan. Aku ingin bebas seperti teman teman yang lain.”
Williana terdiam sesaat. Tristan tidak pernah begitu berani memberontak padanya. Tapi kali ini Tristan bahkan sampai nekat kabur dari rumah hanya karena Williana tidak mengizinkan-nya dekat dengan Amira.
Williana bukan orang bodoh. Tanpa bertanya pada Tristan pun Williana tau bahwa Tristan mempunyai hati untuk Amira. Gadis yang tidak punya apa apa.
“Kamu nggak akan ngerti apa maksud kakak kalau kamu terus bersikap seperti ini Tristan.”
“Enggak. Bukan aku yang nggak ngerti. Tapi kakak. Kakak yang selalu melakukan segala hal semau kakak. Kakak yang nggak bisa mengerti apa yang aku mau. Kakak selalu sibuk dengan kerjaan kakak. Yang kakak tau hanya aku butuh uang, bukan perhatian.” Balas Tristan dengan begitu berani menatap Williana.
Williana diam lagi. Waktunya bersama Tristan memang tidak banyak. Tentu saja karena Williana yang selalu sibuk mengurusi perusahaan. Williana hanya bertemu dengan Tristan saat pagi dan malam hari itu pun jika Williana tidak pulang terlalu malam.
“Oh aku tau. Kakak pasti takut kan kalau sampai kak Stefan tau aku kerja di proyek yang sedang berjalan itu. Apa lagi semalam Rico juga melihat sendiri aku yang ikut kerja disana.”
Amira terkejut mendengar Tristan menyebut nama Stefan juga Rico. Amira langsung tau siapa Stefan yang Tristan maksud karena Amira juga tau Rico adalah orang kepercayaan Stefan.
Amira menoleh pada Tristan yang masih menatap Williana di depan-nya.
“Kakak takut kak Stefan menjadi kurang respect sama kakak kan karena tau bahwa kakak itu bukan kakak yang baik. Kakak takut kak Stefan menganggap kakak tidak bisa mengurus aku yang hanya satu satunya adik kakak.” Lanjut Tristan tersenyum miring menatap Williana yang hanya diam saja mendengarnya.
Sementara Amira, dia ingin sekali bertanya pada Tristan tentang Stefan. Tapi Amira takut hal itu akan semakin memperkeruh suasana karena Tristan dan Williana yang hubungan-nya sedang tidak baik baik saja.
__ADS_1
“Jadi Tristan juga kenal sama Stefan Devandra suaminya kak Hana?” Batin Amira bertanya tanya.