ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 193


__ADS_3

Suara klakson mobil dokter Rania membuat pak satpam dengan gerakan cepat segera membukakan pintu gerbang. Pria dengan kulit coklat kehitaman itu menyapa ramah pada dokter Rania yang tidak lain adalah majikan-nya.


Sementara dokter cantik itu yang memang baik dan ramah, membalas sapaan pekerjanya dengan senyuman manis begitu mobilnya melaju pelan masuk ke area luas rumahnya.


“Huft, capek banget.” Gumam dokter Rania setelah menghentikan mobilnya di depan teras rumahnya.


Dokter cantik itu kemudian turun dari mobilnya dan melangkah masuk kedalam rumah dengan rasa lelah yang terasa di sekujur tubuhnya.


Namun begitu sampai di ruang tamu, dokter Rania berhenti melangkah karena merasa melihat sesuatu diatas meja.


Dokter cantik itu menoleh dan mengeryit ketika mendapati sebuket bunga mawar merah tergeletak diatas meja kaca diruang tamu. Karena penasaran dokter Rania pun mendekat kemeja dan meraih sebuket bunga itu. Dokter Rania juga membaca kartu ucapan berwarna pink yang hanya bertuliskan kata semangat itu.


Dokter Rania terkekeh merasa geli dengan ucapan semangat tersebut.


“Apa ini punya si mbak ya?” Dokter Rania bertanya tanya kemudian segera memanggilkan asisten rumah tangganya.


“Saya nona..” Asisten rumah tangga itu sedikit membungkuk sebagai rasa hormatnya pada dokter cantik itu.


“Ini punya kamu mbak?” Tanya dokter Rania menunjukan sebuket bunga mawar merah di tangan-nya pada asisten rumah tangganya.


Si mbak menggelengkan kepalanya. Bahkan dia juga sama sekali tidak tau milik siapa bunga yang sedang di pegang oleh majikan-nya itu.


“Bukan nona.” Jawabnya.


Dokter Rania mengeryit bingung. Dirumah itu hanya ada dirinya, si mbak, dan satpam yang berjaga diluar setiap hari.


“Ya sudah mbak, kamu boleh kembali ke dalam.”


“Baik nona, saya permisi.”


Dokter Rania menghela napas setelah asisten rumah tangganya berlalu. Tatapan-nya mengarah pada sebuket bunga yang ternyata bukan milik asisten rumah tangganya seperti apa yang dokter cantik itu tebak.

__ADS_1


Karena penasaran ingin tau siapa pemilik atau pengirim bunga tersebut, akhirnya dokter Rania kembali keluar dari rumahnya dan sedikit berseru memanggil satpam yang sedang berjaga di posnya disamping pintu gerbang.


“Ada yang bisa saya bantu nona?” Tanya pak satpam sopan begitu berdiri di depan dokter Rania.


“Ya pak.. Pak satpam tau ini bunga milik siapa? Kenapa ada di meja?” Tanya dokter Rania menatap satpam itu serius.


“Ah ya Tuhan.. Maaf nona, saya lupa memberitahu nona. Itu bunga buat nona dari tuan Alan. Tadi tuan Alan kesini dan menitipkan bunga itu untuk nona. Saya sudah suruh masuk dan menunggu sampai nona pulang tapi tuan Alan nggak mau karena katanya lagi buru buru mau menjemput adiknya yang sedang les.”


Dokter Rania tersenyum mendengar penjelasan pak satpam. Dia menatap sebuket bunga yang di pegangnya kemudian langsung memeluknya.


“Oh.. begitu yah. Ya sudah makasih ya pak..” Senyum dokter Rania kemudian kembali masuk kedalam rumahnya.


Pak satpam yang melihat tingkah majikan-nya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Siapapun pasti tau bahwa ada perasaan di antara keduanya yang belum tersampaikan. Namun tingkah Alan juga dokter Rania tidak bisa membohongi siapapun yang ada di sekitar mereka berdua.


Setelah dokter Rania berlalu masuk kedalam rumah, satpam itu kembali ke tempatnya untuk berjaga.


“Jadi ini dari Alan, dan untuk aku..” Senyum dokter Rania berhenti melangkah ketika sampai di depan tangga.


“Ya Tuhan.. Hamba tidak tau perasaan apa ini. Tapi hamba selalu merasa bahagia jika sudah menyangkut tentang Alan. Apa yang hamba rasakan ini salah?” Batin dokter Rania bertanya tanya sendiri.


Selama ini yang dokter cantik itu pikirkan hanya karir dan pekerjaan-nya. Dokter itu hanya berpikir bagaimana caranya dirinya melakukan yang terbaik untuk semua pasien yang membutuhkan tenaga dan bantuan-nya. Tapi sejak mengenal Alan, semuanya terasa berbeda. Dokter itu bukan hanya berusaha membantu Alan. Namun baginya kesembuhan juga ketenangan Alan adalah prioritas utamanya.


Dokter Rania menghela napas. Wanita itu kemudian melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai dua untuk segera ke kamarnya dan membersihkan dirinya.


Rasa lelah yang di rasakan-nya entah kenapa tiba tiba sirna begitu saja saat tau bahwa bunga itu adalah bunga yang diberikan Alan untuknya.


--------------


Sementara itu di tempat les Aisha, Alan berdecak karena sesampainya disana ternyata Aisha sudah pulang di jemput oleh Tristan.


“Tau gini tadi aku tungguin dokter Rania sampai pulang aja.” Katanya merasa sedikit kesal.

__ADS_1


Alan kemudian kembali menaiki motornya dan melaju dengan kecepatan diatas rata rata berlalu dari depan tempat les Aisha.


Dalam perjalanan menuju pulang Alan kembali memikirkan dokter Rania. Namun kali ini Alan hanya memikirkan sewajarnya saja. Alan tidak mau mengambil resiko karena sekarang dirinya masih dalam perjalanan dimana banyak kendaraan yang berlalu lalang dari arah berlawanan meski dengan jalur yang berbeda.


Ketika melewati toko sembako tempat Amira bekerja Alan berhenti. Disana Alan melihat Amira dan Tristan yang sedang belajar bersama sambil sesekali melayani pembeli di toko itu.


Alan tersenyum. Bahagia rasanya melihat adiknya yang bahagia dengan orang yang bisa membuatnya nyaman. Alan yakin Tristan bukan pemuda yang arogan. Alan juga yakin Tristan bisa membuat adiknya bahagia. Tristan bisa menjaga Amira dengan baik.


Pelan pelan Alan melangkah menghampiri Tristan dan Amira yang sedang belajar bersama didepan toko itu. Mereka duduk di bangku panjang dimana didepan-nya juga ada meja panjang yang terbuat dari besi tempat roti roti dan jajanan ringan di letakan.


“Ekhem.”


Deheman Alan membuat Tristan dan Amira langsung menoleh. Mereka berdua kemudian bangkit dari duduknya bersamaan menyambut kedatangan Alan.


“Kak..” Senyum Tristan menyalimi Alan bergantian dengan Amira.


Alan mengangguk dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Kakak baru pulang yah?” Tanya Amira menatap Alan dengan tatapan yang menurut Alan sedikit berbeda dari biasanya. Ada raut sebal yang bisa Alan baca dari ekspresi adik cantiknya itu.


“Eemm.. Sebenarnya sih kakak pulang udah dari tadi. Cuma tadi ada urusan sebentar. Makan-nya sedikit telat jemput Aisha. Kata satpam disana Aisha udah pulang di jemput Tristan.” Jawab Alan melirik sebentar pada Tristan kemudian menatap lagi pada Amira.


“Pantes. Aisha nangis ketakutan tau kak karena dia sendirian di tempat lesnya. Temen temen-nya udah pada pulang semua. Ibu juga khawatir dirumah bahkan sampai nyusul kesini. Makan-nya Tristan yang jemput tadi.” Ujar Amira menatap Alan sebal.


“Udah handphone kakak nggak aktif lagi.” Tambah Amira.


Alan meringis. Kali ini dirinya benar benar egois karena mementingkan perasaan-nya sendiri dan lebih memilih kerumah dokter Rania lebih dulu dari pada menjemput Aisha di tempat lesnya.


“Iya iya maaf.. Handphone kakak lowbat tadi. Lupa juga nggak bawa charger.” Sesal Alan.


Amira melengos kesal. Alan sudah membuat ibu mereka ketar ketir khawatir menunggu kepulangan Aisha.

__ADS_1


__ADS_2