ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 15


__ADS_3

Pagi ini Stefan menatap Hana yang sedang asik menyisir rambut panjang mengembangnya yang baru saja dikeringkan didepan cermin.


Stefan tersenyum tipis kemudian menatap dasi yang dipegangnya. Perlahan Stefan mulai memasang dasi tersebut dengan gerakan yang sangat pelan bahkan sepertinya memang sengaja di pelankan yang memberi kesan bahwa Stefan tidak bisa membuat sampul dasi pada siapa saja yang melihatnya.


Dan Hana yang tidak sengaja melirik Stefan dari cermin didepan-nya berdecak. Merasa terbebani dengan status sebagai istri Stefan, Hana pun langsung meletakan sisirnya diatas meja.


Hana melangkah mendekat pada Stefan dan dengan berani berdiri di depan Stefan.


“Bisa nggak?” Tanya nya dengan ketus.


Stefan hanya melirik Hana sekilas dan terus pura pura tidak bisa mengikat sampul dasinya.


“Iiihh.. Masa begitu aja nggak bisa sih? Sini aku bantu.”


Seolah melupakan siapa Stefan, Hana dengan sangat kesal mengambil alih dasi yang sedang Stefan pegang dan dengan telaten mulai mengikat sampul dasi Stefan dengan benar.


Stefan sedikit menundukan kepalanya agar Hana dengan mudah mengikatkan dasi di kerah kemeja putihnya. Pria itu diam diam memperhatikan wajah cantik natural Hana dari jarak yang cukup dekat. Dan itu sama sekali tidak di sadari oleh Hana.


“Udah..” Senyum Hana setelah berhasil mengikatkan sampul dasi dengan benar dan rapi pada Stefan.


Saat itulah Hana sadar Stefan sedang menatapnya. Wajah keduanya begitu dekat bahkan ujung hidung mancung Stefan hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.


Hana menelan ludah. Wajah tampan Stefan begitu dekat dengan-nya dengan bola mata warna coklat bening yang membuatnya merasa terhipnotis dan tidak bisa memalingkan pandangan-nya ke arah lain.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Hana tersentak dan segera menjauh dari Stefan. Hana menghela napas kemudian segera melangkah menuju pintu untuk membukanya.


“Hana..” Panggil Stefan saat Hana sudah memegang handle pintu dan hendak memutar dan menarik untuk membukanya.


Hana hanya diam dan menunda niatnya membuka pintu. Wanita itu sama sekali tidak menoleh pada Stefan yang berdiri sekitar dua meter darinya.


“Rambut kamu bau.”


Kedua mata Hana membulat mendengar apa yang Stefan katakan. Hana sudah keramas dan menggunakan shampo mahal yang ada di kamar mandi. Dan sekarang Stefan mengatakan bahwa rambutnya bau. Stefan menghinanya.


Hana memutar tubuhnya menatap kesal pada Stefan. Wanita itu sampai melupakan niatnya untuk membuka pintu.

__ADS_1


“Rambut aku bau?” Tanya Hana dengan menekan setiap kalimatnya.


Stefan melengos tidak perduli dengan apa yang Hana pertanyakan. Stefan mengakui dirinya sungguh munafik. Stefan mengatakan sesuatu tidak sesuai kenyataan. Padahal jelas jelas rambut Hana sangat wangi.


“Kamu...”


Tok tok tok


Suara ketukan pintu kembali terdengar membuat Hana urung melanjutkan rasa kesalnya pada Stefan. Hana menghela napas kesal kemudian meraih kembali handle pintu dan segera membukanya.


“Selamat pagi mommy..!!” Pekik Angel girang.


Hana tersenyum menatap Angel yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Namun rambut panjang gadis itu masih tergerai belum di ikat seperti biasanya.


“Pagi sayang...” Balas Hana lembut.


“Daddy mana mom?” Tanya Angel pada Hana.


“Oh daddy? daddy ada tuh..”


Hana sedikit menggeser posisi tubuhnya agar Angel bisa melihat Stefan yang sedang berdiri didalam kamarnya.


Stefan hanya tersenyum tipis menanggapinya membuat Hana semakin merasa gemas padanya.


“Dasar muka tembok.” Kesal Hana mengumpat dalam hati.


“Eh em.. Angel, bagaimana kalau kita turun duluan yuk? Rambut kamu juga belum di ikat, biar nanti setelah sarapan mommy bantu mengikat rambut kamu.” Senyum Hana pada Angel.


“Oke mommy..” Antusias Angel.


Hana menoleh kembali pada Stefan yang masih berdiri di tempatnya, menatapnya dan Angel dengan wajah datar. Hana kemudian membuang muka dan langsung menuntun Angel berlalu dari ambang pintu kamarnya dan Stefan.


Stefan tersenyum samar. Sejak mendengar apa yang Hana katakan semalam didepan photo Lusi, entah kenapa Stefan merasa ada sesuatu yang berbeda di hatinya. Dan sekali lagi Stefan merasa bahwa Hana memang wanita yang unik dan menarik.


Stefan menghela napas kemudian menatap pantulan dirinya di cermin yang berada tidak jauh darinya. Stefan merasa sudah lama tidak merasakan perasaan aneh itu, tepatnya setelah Stefan tau rahasia Lusi yang ternyata hamil dengan pria lain yang selalu Lusi sebut sebagai sahabatnya.


Tidak mau lagi mengingat sesuatu yang membuatnya sakit, Stefan pun segera meraih jas miliknya yang memang sudah disiapkan oleh Hana saat dirinya sedang mandi. Untuk yang kesekian kalinya Stefan tersenyum meskipun samar. Hana tau apa yang Stefan perlukan pagi ini.

__ADS_1


“Apa? Kamu mau ke kantor? Ayolah Stefan, kamu bahkan baru kemarin jadi pengantin dengan Hana.”


Stefan tetap tenang menyantap sarapan paginya tanpa sedikitpun melirik pada Sera yang perotes tidak terima karena Stefan yang hendak kembali menjalankan aktivitasnya di gedung perusahaan miliknya.


“Padahal mamah pikir kamu dan Hana akan melakukan liburan bulan madu.” Nada bicara Sera menjadi tidak semangat.


Hana yang saat itu juga sedang menikmati sarapan tanpa memperdulikan perotesan Sera pada Stefan langsung tersedak oleh makanan yang dikunyahnya karena terkejut mendengar kata bulan madu yang dilontarkan oleh mamah mertuanya itu.


Stefan menoleh kemudian langsung menyodorkan segelas air putih miliknya pada Hana yang duduk disampingnya.


“Minumlah..” Perintahnya pelan.


Hana terdiam sesaat namun akhirnya menerima segelas air putih yang disodorkan oleh suaminya. Aneh sekali rasanya karena Stefan mendadak perduli padanya.


“Makasih..” Lirih Hana setelah meminum sedikit air putih tersebut.


Stefan tidak menanggapi. Pria itu memilih menatap Sera yang duduk disamping kirinya.


“Mommy nggak papa?” Tanya Angel menatap Hana khawatir.


Hana tersenyum dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban bahwa dirinya tidak apa apa.


“Untuk bulan madu aku belum memikirkan-nya mah. Tapi perusahaan benar benar tidak bisa aku tinggal lama lama.” Ujar Stefan memberi penjelasan pada Sera.


“Ayolah Stefan.. Jangan pekerjaan terus yang kamu pikirin. Lihat Hana, dia adalah istri kamu sekarang. Dia bukan pacar kamu lagi yang bisa kamu abaikan karena pekerjaan kamu. Kalian perlu waktu berdua.”


Hana hanya diam saja tidak berani menimpali. Sera mungkin juga sama seperti yang lain-nya, menganggap Stefan dan Hana sudah mengenal dan berhubungan lama.


Hana menghela napas. Hana berpikir mungkin memang lebih baik Sera taunya begitu. Karena jika Sera tau awal mula pernikahan itu Sera pasti akan salah paham dan menganggap Hana menjual diri pada Stefan.


“Lagian di perusahaan juga ada Rico kan? Dia pintar dan mamah percaya dia bisa menghandle semuanya selama kamu dan Hana bulan madu.”


Stefan menghela napas.


“Maaf mah tapi untuk saat ini aku pikir belum saatnya aku mengajak Hana pergi bulan madu. Lagian aku yakin Angel pasti tidak mau jauh dari Hana.”


Sera berdecak. Ucapan Stefan ada benarnya. Angel sangat lengket dan susah sekali berjarak dengan Hana.

__ADS_1


“Ya sudahlah.” Pasrah Sera.


__ADS_2