
“Tristan.”
Tristan mengeryit saat mendengar suara Williana. Pemuda itu kemudian perlahan menoleh dan terkejut saat mendapati Williana yang sudah berada di belakangnya.
“Kakak..” Tristan bingung.
Pemuda yang mengenakan baju olah raga itu kemudian bangkit dari duduknya dan berdiri tepat didepan Williana yang menatapnya.
“Kakak sejak kapan disini?” Tanya Tristan yang mendadak merasa khawatir. Tristan takut kakaknya melihat apa yang dilakukan Amira tadi. Kakaknya pasti akan sangat marah pada Amira dan menganggap Amira lancang karena berani menciumnya.
“Begitu indah dunia kalian berdua bahkan sampai ada yang mengawasi saja kalian tidak sadar? Hebat sekali.” Sindir Williana yang membuat Tristan berdecak.
Tristan melengos. Itu artinya Williana sudah berada disana sejak tadi tanpa Tristan sadari.
“Kita perlu bicara Tristan.” Katanya dengan tenang.
Tristan hanya diam saja. Tristan merasa tidak ada yang perlu di bicarakan. Tentang rasa kesalnya, toh nanti juga akan hilang sendiri.
“Kita ke taman sekarang.” Putus Williana yang mau tidak mau harus Tristan ikuti.
Keduanya melangkah keluar dari ruangan luas itu dengan Williana yang melangkah lebih dulu. Sementara Tristan, dia melangkah di belakang Williana dengan santai.
Saat Williana dan Tristan melangkah di koridor sekolah, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Seluruh sekolah tau siapa mereka berdua. Tidak heran jika Tristan menjadi cowok populer di sekolah itu. Karena selain tampan dan baik, Tristan juga adalah adik dari donatur besar di sekolah itu.
Amira yang saat itu hendak kembali ke ruang dansa dengan membawakan sebotol air mineral untuk Tristan langsung berhenti melangkah melihat Tristan yang melangkah beriringan dengan Williana.
__ADS_1
Amira menelan ludah. Sampai sekarang Williana masih belum mau menerimanya dengan tangan terbuka. Dan jika sampai Amira muncul didepan-nya bukan tidak mungkin Williana akan sangat marah padanya.
“Oke.. Lebih baik aku ke kelas sekarang. Aku akan pura pura tidak tau apa apa.” Gumam Amira. Gadis itu menghela napas kemudian memutar arah menuju kelasnya. Meski sebenarnya Amira juga merasa sangat penasaran dengan kedatangan Williana ke sekolah. Apa lagi Williana juga melangkah beriringan dengan Tristan. Tapi Amira berusaha untuk abai tidak ingin tau apapun yang mungkin akan kakak beradik itu bicarakan.
Sementara itu Tristan dan Williana sampai di taman samping gedung sekolah. Keduanya duduk dikursi panjang bercat putih dalam diam.
“Kakak benar benar minta maaf untuk yang terjadi semalam Tristan. Kakak tidak bermaksud memukul kamu. Kakak refleks karena emosi mendengar apa yang kamu katakan.” Ujar Williana yang meskipun meminta maaf namun tetap tidak ingin mengakui kesalahan-nya.
Tristan tersenyum miring. Gengsi kakaknya memang sangat besar. Williana bahkan masih merasa benar meski sudah minta maaf.
“Kakak juga tau kakak ini belum benar benar bisa menjadi kakak yang baik untuk kamu. Tapi Tristan, apa yang selama ini kakak lakukan, itu semua juga demi kebaikan kamu.”
Tristan hanya bisa diam. Tristan marah dan kecewa pada sikap kakaknya. Tapi di sisi lain Tristan juga sadar dan tau bahwa apa yang dilakukan kakaknya juga demi kebaikan-nya. Buktinya selama ini meskipun dirinya banyak bertingkah bahkan sampai kabur dari rumah dan mempermalukan Williana di depan Rico, tapi Williana tidak pernah sekalipun melakukan hal yang berujung menyusahkan-nya. Williana juga berusaha untuk menahan diri meski tidak menyukai Amira.
“Tristan kakak..”
Williana terdiam sesaat kemudian tertawa dengan kepala menggeleng. Tristan memang keras kepala.
“Oke oke.. Jadi kakak cabut kembali perkataan maaf kakak. Toh kamu juga sangat batu.” Ujar Williana dengan kekehan pelan.
Tristan tersenyum merasa geli sendiri. Suasana tegang di antara keduanya luntur begitu saja karena ucapan-nya pada Williana yang mengatakan tidak akan meminta maaf. Dan Williana menanggapi itu dengan santai. Hal itu membuat Tristan yakin bahwa sebatu batunya Williana, kakaknya itu pasti akan bisa di luluhkan.
---------------
“Buru buru banget kayanya, pasti mau ketemu sama dokter Rania nih.”
__ADS_1
Alan berhenti membereskan berkas berkas di meja kerjanya saat tiba tiba Veby bersuara. Pria itu menoleh kemudian tersenyum menatap Veby yang entah sejak kapan sudah berdiri didepan meja kerjanya.
“Bisa aja kamu Veb.” Balas Alan yang kembali membereskan berkas berkas di mejanya.
Veby tersenyum geli. Entah kenapa Veby merasa senang berinteraksi dengan Alan. Pria itu sangat baik menurutnya. Dan Veby merasa seperti sedang berbicara dengan kakaknya sendiri jika sedang mengobrol dengan Alan.
“Jadi beneran ini kakak mau ketemu sama dokter cantik itu?” Tanya Veby yang merasa sangat penasaran itu.
Alan menghela napas. Mejanya sudah bersih dan rapi. Pria dengan kemeja warna putih itu kemudian bangkit dari duduknya.
“Enggak, aku ada urusan lain Veb. Kenapa memangnya? Mau ikut?” Jawab Alan kemudian bertanya pada rekan kerjanya itu.
Veby menggelengkan kepalanya.
“Enggak kok kak, enggak.” Jawab Veby dengan ekspresi yang membuat Alan terkekeh geli.
“Biasa aja kali mukanya. Ya sudah kalau begitu aku duluan ya Veb..” Alan menoel ujung hidung mancung Veby dengan gemas. Setelah itu Alan pun berlalu dari hadapan Veby dengan membawa serta tas kerjanya.
Hal itu membuat Veby bertanya tanya. Tidak mungkin jika hanya untuk makan siang saja Alan harus membawa tas kerjanya bahkan membereskan mejanya.
“Eh? Dia izin pulang lebih awal?” Gumam Veby yang akhirnya menyadari itu.
Sementara Alan, pria itu melangkah lebar keluar dari gedung perusahaan tempatnya bekerja. Siang ini Alan memang tidak ada janji temu dengan dokter Rania. Pria itu sengaja tidak mengajak kekasihnya untuk makan siang bersama dulu kali ini karena Alan mempunyai keniatan untuk menemui Stefan. Alan ingin meminta maaf pada Stefan atas apa yang sudah dilakukan-nya yang ternyata juga masuk kedalam berita di media sosial.
Alan mengenakan helmnya kemudian menaiki motornya. Pria itu menghidupkan mesin kendaraan beroda dua itu lalu melesat dengan kecepatan diatas rata rata. Alan tau siapa Stefan. Maka dari itu Alan izin pulang lebih awal dengan alasan yang bisa dengan mudah diterima oleh pihak perusahaan tempatnya bekerja. Alan yakin waktu makan siang adalah waktu yang sangat tepat untuk menemui Stefan dan berbicara berdua dengan pria yang sudah berhasil menguasai hati dan cinta sahabat kecilnya itu, Hana.
__ADS_1
Jarak antara perusahaan tempat Alan bekerja dengan perusahaan milik Stefan memang cukup jauh sehingga untuk sampai di perusahaan milik Stefan, Alan memerlukan waktu yang tidak sebentar. Namun Alan berusaha mempersingkat waktu dengan menambah kecepatan laju kendaraan miliknya agar bisa segera sampai di perusahaan Stefan.