
Amira turun dari ojek online yang ditumpanginya tepat didepan pintu gerbang kediaman dokter Rania. Setelah membayar ongkos untuk si tukang ojek online tersebut, Amira langsung mendekat ke gerbang bercat hitam itu. Gadis dengan seragam putih abu abu itu menghela napas kemudian memanggil pak satpam meminta tolong agar di bukakan pintu gerbang.
“Maaf nona, tapi para penjaga disini melarang saya untuk membuka pintu gerbang jika keluarga tuan Alan yang datang.”
Amira mengeryit mendengar apa yang di katakan oleh satpam tersebut. Amira tidak tau apa yang dimaksud oleh satpam tersebut sehingga keluarganya tiba tiba tidak di izinkan untuk masuk ke dalam rumah dokter cantik itu.
“Loh memangnya kenapa pak?” Tanya Amira penasaran.
“Maaf sekali lagi nona, saya tidak tau kenapa. Tapi mereka semua melarang saya membuka gerbang ini jika nona dan keluarga nona yang datang.”
Amira menyipitkan kedua matanya menatap satpam didepan-nya. Amira merasa sangat aneh dan tidak biasa dengan sikap pria berseragam itu. Bagaimana mungkin tiba tiba dirinya tidak boleh masuk kedalam yang berarti juga tidak boleh menjenguk kakaknya, Alan. Padahal biasanya pria itu bersikap sangat ramah padanya dan ibu juga adiknya.
Kedua tangan Amira mengepal. Gadis itu berpikir mungkin itu adalah bagian dari cara dokter Rania dan Stefan untuk menjauhkan-nya dan keluarganya dari Alan.
“Lebih baik sekarang nona pergi saja. Saya takut orang orang itu marah kalau nona memaksa masuk.” Imbuh satpam itu menatap Amira melas.
Amira menghela napas kemudian mengangguk pelan.
“Ya pak, kalau ada apa apa sama kakak saya tolong segera hubungi saya ya pak..” Ujar Amira menatap satpam itu dengan senyuman tipisnya.
“Baik nona..”
“Ya sudah, saya permisi.”
“Ya nona, silahkan.”
Dengan langkah pelan Amira berlalu dari depan gerbang kediaman dokter Rania. Amira tidak tau apa maksud mereka sehingga tiba tiba melarang keluarganya menjenguk Alan.
“Kak Hana.. Apa dia juga tau tentang ini? atau memang kak Hana juga yang merencanakan ini?”
Sepanjang melangkah gadis berseragam SMA itu terus bertanya tanya. Amira sangat marah pada dokter Rania. Dokter yang selalu dianggap baik oleh ibunya. Tapi nyatanya dokter cantik itu bahkan sampai membayar orang orang berbadan kekar untuk berjaga dirumahnya.
Amira berdecak. Gadis itu menolehkan kepalanya ke samping kanan dan kiri hendak menyeberangi jalanan yang siang itu sangat ramai oleh berbagai kendaraan baik kendaraan beroda empat, tiga, maupun dua.
__ADS_1
Tintinnn....!!
Amira baru saja hendak melangkahkan kakinya ketika tiba tiba sebuah mobil mewah berhenti didepan-nya.
Amira mengangkat sebelah alisnya bingung sebelum akhirnya si pengemudi menurunkan kaca mobilnya.
“Tristan?”
Amira mengenal siapa pengemudi mobil mewah itu. Dialah Tristan Atmaja, siswa terpopuler disekolahnya.
“Hay.. Butuh tumpangan?” Senyum Tristan menatap Amira.
Amira terdiam sesaat. Amira sebenarnya tidak tau harus kemana sekarang. Jika pulang kerumah ibunya pasti akan langsung menanyakan bagaimana keadaan kakaknya, Alan. Sedang Amira sendiri tidak tau ada perkembangan apa pada kondisi kakaknya sekarang karena Amira bahkan tidak bisa masuk kedalam rumah dokter Rania.
“Amira.. Hey kok malah ngelamun?” Tanya Tristan menatap Amira bingung.
“Ah enggak, nggak papa kok.” Jawab Amira tersenyum manis.
Tristan memang sangat baik padanya. Tristan tidak seperti teman sekolahnya yang lain yang memandangnya sebelah mata karena Amira hanya anak dari keluarga yang tidak punya apa apa.
Amira kembali diam. Tristan adalah adik dari donatur disekolahnya. Tristan juga terkenal diseluruh sudut sekolah karena kekayaan keluarganya. Dan Amira, dia merasa tidak sepadan dengan Tristan. Amira merasa tidak pantas jika harus berteman dengan Tristan.
“Eemm.. Enggak deh. Aku pulang naik yang lain aja. Makasih atas tawaran-nya ya Tristan. Aku duluan.”
Setelah berkata demikian, Amira pun melangkah menjauh dari mobil mewah Tristan. Amira tidak mau di anggap memanfaatkan kebaikan Tristan. Karena Amira sendiri tau seberapa banyak teman teman disekolahnya yang berusaha menarik perhatian Tristan. Amira tidak ingin keberadaan-nya disekolah semakin dipersulit karena kedekatan-nya dengan Tristan.
“Kalau begitu aku temenin kamu naik angkutan yang lain. Bagaimana?”
Amira langsung menoleh dan menghentikan langkahnya menatap Tristan yang tiba tiba sudah ada disampingnya. Gadis itu kemudian menatap kebelakang dimana mobil mewah Tristan berada.
“Tapi Tristan, bagaimana dengan mobil kamu?” Tanya Amira bingung.
Tristan tersenyum manis.
__ADS_1
“Udah nggak usah di pikirin. Mobil itu nggak ada artinya tau nggak buat aku.” Ujar Tristan santai.
“Loh tap tapi nanti..”
“Udah ayoo.. Kamu mau naik apa? Naik angkot, bajay, atau ojek?”
Amira mengangkat sebelah alisnya bingung. Bagaimana mungkin seorang Tristan Atmaja bisa betah naik semua kendaraan umum yang disebutkan tadi sedang Tristan tidak terbiasa dengan semua itu. Tristan terbiasa menaiki mobil mewah kemana mana.
“Tristan tapi..”
Tristan meraih pergelangan tangan Hana kemudian menuntun-nya dan mengajaknya melangkah meninggalkan tempat itu.
“Kamu jangan meremehkan aku.” Katanya.
Tristan menuntun Amira dan langsung menyetop angkot yang saat itu lewat. Tanpa merasa risih sedikitpun dengan keadaan sesak sempit didalam angkot itu Tristan duduk bergabung dengan penumpang yang lain-nya. Meskipun sebenarnya Tristan juga merasakan panas yang luas biasa namun Tristan berusaha untuk menahan-nya demi Amira.
“Tristan, kamu bener nggak papa?” Tanya Amira pada Tristan yang duduk disampingnya.
“Eh Amira, memangnya kamu pikir aku nggak pernah apa naik angkot? Aku itu laki laki, pengalaman aku lebih luas dari pada kamu.” Katanya menyombongkan diri.
Amira mengeryit kemudian tersenyum geli. Amira yakin apa yang Tristan katakan semata mata hanya karena Tristan tidak mau di anggap lemah dan manja. Semua orang juga tau siapa Tristan Atmaja yang tidak mungkin kemana mana menggunakan angkutan umum berbentuk angkot. Kalaupun tidak membawa mobil sendiri, Tristan pasti akan memesan taksi yang tentu jauh lebih nyaman dan ber AC.
“Begitu ya?” Tanya Hana yang sangat sangat tidak percaya dengan apa yang Tristan katakan.
“Iyalah..” Jawab Tristan dengan angkuh.
Amira menggeleng dengan senyuman gelinya. Gadis itu yakin seyakin yakinya bahwa sekarang Tristan pasti sedang menahan dirinya atas ketidak nyamanan didalam angkot tersebut.
Tidak sampai 15 menit keduanya turun dari angkot dengan Tristan yang membayar. Tristan memberikan uang seratus ribuan pada supir angkot itu yang membuat supir angkot itu marah marah padanya.
“Kenapa sih? Memangnya ada apa dengan uang aku?” Tanya Tristan menatap bingung uang yang dikembalikan oleh supir angkot itu dengan marah marah setelah Amira membayarnya dengan uang pas.
Amira tertawa dengan menggelengkan kepalanya. Jelas saja supir angkot itu marah. Bagaimana mungkin Tristan membayar dengan uang seratus ribuan sedang ongkos angkotnya saja hanya sepuluh ribu.
__ADS_1
“Mungkin supir angkotnya takut menyimpan uang kamu Tristan. Uang kamu kan baru, Nanti jadi merasa sayang buat beli apa apa lagi.” Ledek Amira membuat Tristan mengerucutkan bibirnya kesal.