ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 230


__ADS_3

Stefan menjelaskan pada Hana kenapa dirinya tidak mengangkat telepon ataupun membalas pesan dari Hana hari ini. Hal itu karena kesibukan-nya yang juga membuatnya sampai harus pulang larut malam.


“Jadi kamu udah nggak marah sama aku?” Tanya Hana menatap Stefan yang memberikan lengan-nya untuk bantalan kepala Hana karena saat itu mereka sudah sama sama berbaring di atas tempat tidur dengan posisi saling berhadapan.


Stefan tersenyum. Pria itu membelai lembut pipi chuby Hana. Awalnya memang Stefan merasa kesal. Tapi setelah berpikir kembali Stefan mengerti bahwa penolakan Hana juga karena tidak ingin mengusik tidur lelap putranya.


“Aku nggak seharusnya marah sama kamu tadi pagi sayang. Aku minta maaf.”


Hana tersenyum. Apa yang Sera katakan memang benar tentang Stefan tadi pagi.


“Ah ya Stefan, mamah ngajak kita besok untuk datang ke dokter Clara, mengecek keadaan Theo. Bagaimana?”


“Boleh saja. Besok pagi kita sama sama kesana. Sekarang lebih baik kita tidur. Ini sudah malam.”


Hana menganggukkan kepalanya menuruti apa yang Stefan katakan. Wanita itu kemudian memejamkan kedua matanya untuk tidur begitu juga dengan Stefan yang merasakan lelah di sekujur tubuhnya setelah seharian ber aktivitas diluar rumah.


Paginya Stefan mengajak Hana juga Sera untuk menemui dokter Clara dirumah sakit. Namun sebelum itu mereka lebih dulu mengantar Angel ke sekolahnya bersama mbak Titin yang di tugaskan untuk menjaga Angel selama di sekolah.


“Bagaimana Clara?” Tanya Stefan setelah dokter Clara mengecek dan menimbang berat badan Theo.


“Perkembangan-nya sangat pesat yah. Berat badan-nya juga sudah naik banyak. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Theo baik baik saja dan sangat sehat.” Jawab dokter Clara menatap bergantian pada Hana, Stefan, dan Sera.


Hana dan Sera saling menatap kemudian tersenyum. Mereka senang karena Theo tumbuh dengan baik meski lahir prematur.


Stefan yang mendengar penjelasan dari dokter Clara juga merasa sangat lega. Tidak heran sebenarnya jika putranya begitu sehat dan tumbuh dengan cepat mengingat kuatnya bayi tampan itu menyusu pada Hana. Bahkan Hana juga sering terbangun di tengah malam karena Theo yang menangis ingin menyusu.


Setelah menemui dokter Clara, Stefan menghubungi Rico meminta tolong pada orang kepercayaan-nya itu untuk mengantar Hana dan Sera pulang. Tentu saja karena Stefan sudah harus menemui Boby dan Williana di perusahaan Boby.


“Stefan..”

__ADS_1


Stefan yang baru selesai menelepon Rico menoleh mendengar suara Sera. Pria itu mengeryit karena tiba tiba Sera menghampirinya.


“Ya mah..” Saut Stefan pelan.


Sera diam sebentar dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Semuanya sudah terbuka sekarang. Dan Hana bisa mengerti. Itu benar benar sangat diluar dugaan. Mamah harap setelah ini kamu bisa menjadi suami dan daddy yang jauh lebih baik lagi ya Stefan.”


Stefan tersenyum. Pria itu tau arah pembicaraan mamahnya.


“Ya mah.. Itu pasti.” Balas Stefan menganggukkan kepalanya dengan yakin.


Tidak lama kemudian Rico datang. Stefan merangkul mesra pinggang Hana menggiringnya keluar dari rumah sakit tempat dokter Clara bekerja. Stefan juga mencium kening Hana dan Theo bergantian begitu sudah ada didepan rumah sakit di samping mobil Rico. Pria itu seolah ingin menunjukan pada semua orang yang melihatnya bahwa dirinya sangat mencintai istri juga anaknya.


Sera dan Rico yang menyaksikan bagaimana lembut dan mesranya Stefan memperlakukan Hana ikut merasa bahagia. Mereka juga tidak menyangka seorang Stefan yang dulu begitu dingin dan datar setelah kehilangan Lusi kini bisa kembali ceria karena cintanya pada Hana.


“Hati hati ya..” Lirih Stefan menatap Hana dalam.


“Harusnya kamu yang hati hati Stefan. Jangan lupa makan juga. Terus pulangnya jangan kemaleman.”


Stefan terkekeh pelan. Kebawelan Hana membuat Stefan merasa gemas.


“Iya.. Nggak lagi lagi pulang malam. Ya sudah mending sekarang kamu pulang. Aku sudah harus meeting.”


“Eemm.. Iya..” Angguk Hana.


Stefan membukakan pintu mobil untuk Hana. Dan sebelum Hana masuk kedalam mobil Rico, Hana lebih dulu menyalimi Stefan.


“Sudah?” Tanya Stefan memastikan kenyamanan Hana yang duduk di kursi belakang di dalam mobil Rico sambil memangku Theo.

__ADS_1


“Iya..” Jawab Hana tersenyum manis.


Stefan kemudian beralih pada Sera yang berdiri berdampingan dengan Rico. Pria itu mempersilahkan sang mamah masuk dan tidak lupa menyaliminya. Setelah itu Stefan menutup pelan pintu mobil Rico.


“Saya percayakan keamanan mamah dan Hana sama kamu Rico.” Ujar Stefan pada Rico.


“Baik tuan. Kalau begitu saya jalan.”


“Ya.. Hati hati.” Titah Stefan pelan namun tetap dengan ketegasan-nya.


Stefan menatap Rico yang mulai memasuki mobilnya kemudian berlalu dengan kecepatan sedang menjauh darinya. Setelah mobil Rico tidak lagi terlihat, Stefan pun bergegas masuk ke dalam mobilnya dan melaju dengan kecepatan diatas rata rata dari depan rumah sakit.


--------------


Dua hari berlalu.


Dokter Rania sudah bisa beraktivitas seperti biasanya lagi setelah sembuh dari demamnya. Dokter cantik itu juga sudah membicarakan tentang Hana yang melahirkan dengan Alan yang memang terus bolak balik datang kerumahnya setelah pulang dari bekerjanya selama dokter Rania sakit. Dan sore ini mereka sudah janjian untuk sama sama datang kerumah Stefan untuk menjenguk Hana dan bayinya.


Alan melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju jalan pulang. Alan yakin ibunya juga adiknya Amira dan Aisha sudah menunggu kepulangan-nya karena sebelumnya Alan juga sudah mengajak mereka untuk sama sama menjenguk Hana beserta dokter Rania.


Benar saja. Begitu sampai dirumahnya, ibu, Amira dan Aisha sudah siap. Bahkan saking semangatnya akan menjenguk Hana ibu sampai menyuruh Amira untuk libur kerja dulu yang tentu membuat Amira tidak bisa bertemu dengan Tristan hari ini. Hal itu membuat Amira merasa tidak semangat karena sudah terbiasa selalu bersama Tristan setiap harinya.


Alan yang menyadari kelesuan Amira tertawa geli. Alan tau Amira sudah terbiasa menjalani harinya bersama Tristan yang selalu siap siaga menjaga dan mengawal kemanapun Amira pergi. Dan Alan paham karena memang dulu juga dirinya seperti itu bersama Hana. Hanya saja bedanya hubungan-nya dengan Hana hanya sebatas sahabat. Sedang Amira dan Tristan, mereka adalah sepasang kekasih.


Setelah semuanya siap, kado untuk Hana juga sudah ditenteng oleh Aisha, Alan segera memesan taksi yang akan membawa mereka menuju kediaman dokter Rania yang juga sudah menunggu kedatangan mereka.


“Sabar ya dek.. Besok ketemu lagi kok sama ayang..” Goda Alan menoleh pada Amira yang duduk dikursi belakang bersama ibu dan Aisha.


“Iihh.. Apaan sih kakak. Biasa aja kok aku mah..” Saut Amira yang gengsi mengakui bahwa dirinya merindukan kebersamaan-nya bekerja di toko pak Ang bersama Tristan.

__ADS_1


Alan tertawa mendengar jawaban Amira. Selain keras kepala gadis itu juga mempunyai tingkat gengsi yang tinggi.


Ibu yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Sedang Aisha, dia tertawa merasa lucu karena ekspresi malu malu tapi mau kakaknya, Amira.


__ADS_2