
Dokter Rania keluar dari mobilnya ketika sampai dihalaman kediaman sederhana keluarga Alan. Dokter cantik itu sebenarnya tidak bisa meninggalkan Alan begitu saja dirumahnya. Tapi karena selama dua bulan ibu dan kedua adik Alan tidak lagi datang untuk menjenguk Alan, dokter Rania merasa sangat penasaran. Meskipun dokter yang menangani ibu Alan mengatakan bahwa kondisi wanita itu baik baik saja namun dokter Rania tetap merasa ingin tau bagaimana keadaan yang sebenarnya. Apa lagi dokter cantik itu juga tau bagaimana ibu Alan sangat berharap kesembuhan putra sulungnya itu.
Dokter Rania menatap ke sekeliling. Rumah keluarga Alan begitu sederhana dan berada di tengah perkampungan yang padat penduduk. Jalan menuju kediaman-nya juga tidak mudah mengingat dokter Rania menggunakan mobil.
Dokter Rania menghela napas. Dia tidak menyangka jika ternyata Alan dan keluarganya tinggal ditempat yang begitu ramai penuh dengan anak anak kecil bermain. Dan menurut dokter cantik tersebut itu sangat menyenangkan.
Dokter Rania tersenyum saat melihat segerombol anak yang sedang bermain tidak jauh dari rumah keluarga Alan. Seketika dokter Rania ingat bahwa saat dalam perjalanan tadi dirinya sempat membeli cemilan untuk dirumah.
Dokter Rania segera mengambil se-plastik besar jajanan yang dia beli di dalam mobilnya kemudian melangkah mendekat pada segerombol anak kecil tersebut. Dokter cantik itu menyapa dengan sangat ramah pada anak anak tersebut kemudian membagikan jajanan yang dibelinya. Awalnya anak anak itu terlihat takut namun dokter Rania berusaha untuk meyakinkan hingga akhirnya mereka mau menerima jajan pemberian darinya.
“Makasih ya kak..” Kata mereka kompak.
“Iya sama sama.. Ya udah silahkan main lagi..” Senyum dokter Rania merasa senang karena anak anak itu tidak lagi takut padanya.
“Abis bagi bagi jajan sama rakyat jelata ya dokter?”
Senyuman dibibir dokter Rania langsung sirna begitu mendengar suara Amira. Perlahan dokter Rania memutar tubuhnya dan mendapati Amira yang sudah berdiri dibelakangnya. Amira masih mengenakan seragam putih abu abunya yang menandakan bahwa gadis itu baru saja pulang sekolah.
“Amira...” Gumam dokter Rania lirih. Amira memang selalu sinis padanya.
__ADS_1
“Dokter mau ngapain kesini?” Tanya Amira menatap dokter Rania malas.
“Eemm.. Saya kesini karena kalian tidak pernah lagi kerumah untuk menjenguk Alan.”
Amira tertawa mendengar apa yang dokter cantik itu katakan. Gadis itu merasa sangat lucu jika benar dokter cantik itu datang karena keluarganya yang sudah tidak lagi pernah menjenguk Alan. Padahal jelas jelas dokter cantik itu yang membayar orang orang seram bertubuh kekar itu untuk berjaga dirumahnya agar Amira juga ibu dan adiknya tidak bisa masuk walaupun secara paksa kerumahnya.
“Selama kalian tidak datang banyak perkembangan baik Alan. Bahkan Alan mulai membuka kedua matanya.” Ujar dokter Rania tidak memperdulikan Amira yang menertawakan-nya.
“Dokter jangan pura pura bodoh. Jelas jelas dokter sendiri yang melarang saya dan keluarga saya untuk masuk kerumah dokter. Dokter bahkan sampai menyewa beberapa body guard untuk berjaga dirumah dokter. Tapi untunglah saya tidak bodoh. Saya selalu berbohong pada ibu dan adik saya tentang kondisi kak Alan. Saya berpura pura bolak balik setiap hari kerumah dokter untuk melihat keadaan kak Alan. Dan ibu saya percaya dengan apa yang saya lakukan.”
Dokter Rania mengeryit tidak mengerti dengan apa yang Amira katakan. Body guard dirumahnya memang ditugaskan untuk berjaga. Tapi mereka dibayar oleh Stefan, bukan olehnya. Mereka juga adalah orang orang suruhan Stefan dan dokter Rania sedikitpun tidak pernah tau bahwa mereka disana juga untuk mencegah kedatangan keluarga Alan.
“Sekarang dokter merasa menang bukan karena berhasil menjauhkan keluarga saya dari kak Alan. Jujur saya bingung. Apa salah keluarga saya sampai kalian orang orang kaya berbuat seperti ini pada kami. Kami memang tidak banyak uang seperti kalian. Tapi setidaknya tolong jangan tindas kami dengan menggunakan semua yang kalian miliki.” Ujar Amira dengan kedua mata berkaca kaca. gadis itu sesungguhnya sangat sakit karena menahan rindu pada sang kakak. Apa lagi dirinya juga yang harus terus berbohong pada ibunya tentang kondisi Alan. Karena sebenarnya Amira sendiri tidak pernah tau bagaimana kondisi kakaknya sekarang.
“Amira saya...”
“Lebih baik sekarang dokter pergi dari sini. Saya tidak mau ibu saya sampai sakit lagi karena mendengar apa yang sebenarnya. Saya juga tidak mau di anggap tidak jujur oleh ibu saya karena apa yang saya lakukan juga demi menjaga kondisi ibu saya.” Sela Amira menatap tajam pada dokter Rania.
Dokter Rania menghela napas. Wanita cantik dengan dress orange itu berpikir untuk mengalah lebih dulu dari perdebatan dengan Amira. Dokter Rania juga akan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi sehingga Amira dan ibunya tidak pernah lagi datang ke rumahnya untuk menjenguk Alan.
__ADS_1
“Baik kalau begitu. Saya paham. Salam buat ibu kamu ya Amira. Saya pulang.”
Dengan berat hati dokter Rania masuk kembali kedalam mobilnya kemudian berlalu dengan kecepatan sedang meninggalkan Amira yang terus berdiri di tempatnya.
Sepanjang perjalanan pulang dokter Rania terus memikirkan apa yang Amira katakan. Dan memang sejak adanya para body guard itu dirumah keluarga Alan tidak pernah lagi datang kerumahnya.
“Stefan.. Ini pasti ulahnya Stefan.” Gumam dokter Rania.
Tapi dokter Rania bukan wanita bodoh yang gegabah dalam melakukan sesuatu. Dokter cantik itu kemudian menambah kecepatan laju mobilnya menuju jalan pulang. Dokter Rania berniat bertanya pada satpam dirumahnya tentang semuanya.
Begitu sampai dirumahnya, dokter cantik itu langsung menyuruh pak satpam untuk menghadapnya.
“Jadi benar Amira pernah datang dan pak satpam tidak mengizinkan-nya masuk?” Tanya dokter Rania pada satpam penjaga rumahnya yang langsung dia panggil untuk masuk kedalam rumah dan menghadap langsung padanya.
“Iya nona.. Non Amira memang pernah datang tapi saya melarangnya untuk masuk karena perintah dari body guard nona. Saya pikir itu adalah perintah nona. Saya melarang langsung nona Amira karena saya tidak mau terjadi sesuatu pada nona Amira jika dia memaksa untuk masuk.” Jawab pak satpam jujur dengan kepala tertunduk.
“Kenapa pak satpam tidak langsung konfirmasi dulu sama saya?” Tanya dokter Rania lagi, kali ini dengan nada marah.
“Maafkan saya nona.. Saya pikir itu perintah nona.”
__ADS_1
Dokter Rania mengerang frustasi. Stefan sudah sangat keterlaluan. Stefan membuat Amira semakin membencinya karena kesalah pahaman. Stefan bahkan membayar orang untuk berjaga dirumahnya agar keluarga Alan tidak bisa lagi tau bagaimana kondisi baik Alan.
“Kamu benar benar keterlaluan Stefan.” Gumam dokter Rania dengan rahang mengeras.