
Tidak terima dengan apa yang Hana lakukan padanya, Williana langsung berencana menyuruh orang untuk mengejar mobil Stefan. Williana juga berniat menyuruh orang orang nya untuk memberikan pelajaran pada Hana yang sudah begitu lancang berani menamparnya di depan Tristan juga Stefan.
Williana merasa harga dirinya sudah di injak injak oleh Hana. Namun baru saja Williana hendak menempelkan ponselnya ke daun telinga, Tristan dengan cepat merebut benda pipih itu dari tangan Williana.
“Tristan apa apaan kamu?!” Marah Williana menatap Tristan tajam.
Tristan hanya diam dengan rahang mengeras. Tristan tau apa yang akan kakaknya lakukan.
“Aku nggak akan biarin kakak melakukan sesuatu yang tidak baik.” Ujar Tristan kemudian membanting ponsel milik Williana.
Kedua mata Williana membulat dengan sempurna melihat apa yang Tristan lakukan. Williana tidak menyangka Tristan akan begitu berani padanya.
“Kamu...”
“Aku pikir kakak masih punya hati. Tapi nyatanya kakak bahkan membayar orang untuk mencelakai Amira. Kakak tau nggak sih, aku sayang sama Amira. Kakak sudah dengar sendirikan kemarin kalau Amira enggak butuh uang kakak. Apa itu belum cukup jelas buat kakak kalau Amira itu gadis yang baik. Dia nggak seperti apa yang kakak pikirkan.” Marah Tristan menatap Williana dengan berani.
Williana menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya dengan pelan. Apapun yang Tristan lakukan Williana tidak pernah mempermasalahkan-nya selama apa yang Tristan lakukan masih wajar menurut Williana. Seperti sekarang contohnya. Williana tidak mempermasalahkan meskipun Tristan membanting ponselnya. Williana berpikir nanti dirinya masih bisa membeli lagi yang baru dengan uang yang dia punya. Tapi Williana tidak akan bisa memaklumi jika Tristan dekat dengan orang yang tidak sepadan dengan keluarganya. Williana ingin Tristan bergaul dengan orang yang sepadan agar Tristan tidak di manfaatkan.
Tidak ingin membalas kemarahan Tristan, Williana memilih berlalu dalam diam. Williana tidak ingin mengatakan sesuatu yang tidak baik pada Tristan sehingga memilih untuk menghindar dari adik satu satunya itu.
“Aku akan pergi dari rumah kalau kakak masih tetap mengusik kehidupan Amira.”
Williana yang hendak menaiki anak tangga menuju lantai dua rumahnya langsung terdiam. Tristan sangat keras kepala sejak dekat dengan Amira. Tristan sangat berani melawan dan membantah apa yang Williana katakan.
“Silahkan saja. Tapi kamu tidak boleh membawa apapun fasilitas yang kakak berikan pada kamu Tristan.” Balas Williana tidak perduli dengan ancaman Tristan.
Setelah berkata demikian, Williana menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Williana yakin Tristan tidak akan mungkin pergi dari rumah. Tristan hanya menggertaknya saja. Dan bagi Williana, gertakan Tristan bukanlah sesuatu yang harus Williana khawatirkan. Tentu saja karena Tristan tidak akan mungkin bisa bertahan diluar sana tanpa fasilitas yang biasa Tristan gunakan darinya.
__ADS_1
Sedang Tristan, karena sedang dikuasai oleh amarahnya, Tristan langsung meraih tasnya yang sebelumnya memang sudah Tristan siapkan. Tas itu berisi peralatan dan perlengkapan sekolahnya. Tristan memang sudah berencana pergi dari rumah begitu tau Williana diam diam punya maksud jahat pada Amira.
Tristan menghela napas kasar kemudian melangkah dengan cepat keluar dari kediaman mewahnya. Tristan yakin dirinya bisa bertahan meskipun tidak dengan semua fasilitas dari kakaknya.
“Loh den, aden mau kemana?” Tanya pak satpam saat hendak membukakan pintu gerbang untuk Tristan.
“Saya mau pergi. Saya nggak mau hidup didalam neraka terus terusan.” Jawab Tristan angkuh.
Satpam itu terdiam dan menatap bingung pada Tristan. Satpam itu tidak mengerti dengan apa yang Tristan katakan. Apa lagi tidak biasanya Tristan keluar tanpa motor kesayangan-nya.
“Maksud aden apa?” Tanya satpam itu lagi.
“Udah nggak usah bawel. Buka saja gerbangnya sekarang.” Ketus Tristan merasa kesal karena satpam itu tidak kunjung membukakan pintu gerbang untuknya.
“Oh iya den.. Maaf..”
Tristan melangkah dengan mantap menjauh dari gerbang tinggi kediaman-nya. Tristan tidak akan pulang sebelum Williana merestui kedekatan-nya dengan Amira.
----------------
“Kamu nggak pulang?”
Amira mengalihkan perhatian-nya dari langit penuh bintang pada Alan yang masih fokus dengan gambarnya. Sejak sore Amira memang terus menemani Alan. Amira bahkan juga menemani Alan makan malam karena kebetulan dokter Rania sedang ada urusan diluar rumah sejak siang tadi.
“Kakak ngusir aku?” Tanya balik Amira dengan ekspresi sendu.
Alan tertawa dengan kepala menggeleng pelan. Pria itu tau Amira pasti sedang punya masalah sehingga beralasan untuk menemaninya.
__ADS_1
“Ya nggak juga. Kakak kan cuma nanya. Takutnya ibu nyariin kamu.”
“Aku udah bilang sama ibu mau kesini. Oh iya kak, aku boleh nanya sesuatu nggak?”
Alan mengeryit kemudian menoleh pada Amira. Alan meletakan kuas yang dipegangnya diatas meja kecil disampingnya kemudian mendekat pada Amira dengan kursi rodanya.
“Nanya apa?” Tanya Alan penasaran.
Amira terdiam sesaat. Amira tidak tau kenapa sejak jauh dari Tristan Amira merasa ada sesuatu yang hilang. Padahal Amira selalu mewanti wanti dirinya sendiri bahwa jauh dari Tristan adalah pilihan yang tepat. Apa lagi Amira juga sudah tau sendiri bahwa Williana kakak Tristan tidak mengizinkan-nya dekat dengan Tristan. Williana bahkan menghina dan merendahkan-nya dengan menganggap bahwa Amira akan mau menerima uang darinya asal Amira menjauh dari Tristan.
“Apa semua orang kaya itu selalu memandang segala sesuatu dengan uang ya kak?”
Alan menatap tidak mengerti dengan apa yang Amira katakan. Tristan bukan orang yang merasa bahwa orang kaya lebih mulia dari orang yang tidak punya.
“Apa mereka pikir dengan uang mereka bisa membeli harga diri seseorang?”
Alan mulai menebak nebak. Mungkin saja Amira berkata demikian karena Williana yang tidak mengizinkan-nya dekat dengan Tristan.
“Mungkin sebagian ada yang berpikir seperti itu. Tapi tidak semuanya juga begitu. Seperti dokter Rania. Dia kaya, tapi dia baik kan pada kita.” Jawab Alan santai.
Amira menghela napas. Dokter Rania memang sangat baik pada siapapun. Bukan hanya pada keluarga mereka saja.
“Amira, apa ini ada hubungan-nya dengan Tristan?” Kali ini Alan yang bertanya pada Amira. Alan memang sudah tau siapa Tristan dari dokter Rania.
Amira menelan ludahnya. Amira tidak ingin berbohong pada kakaknya. Tapi jika dirinya terlalu jujur juga pasti tidak akan baik. Bisa saja Alan ikut marah pada Tristan karena menganggap Tristan sama seperti kakaknya yang selalu memandang segala sesuatu dengan uang dan harta.
“Kamu nggak perlu menutupi apapun dari kakak. Karena kakak sudah tau siapa Tristan.”
__ADS_1