
Stefan kembali ke hotel dengan membawa apa yang Hana inginkan, yaitu makanan pedas tanpa sayur. Meskipun Stefan sedikit ragu apakah Hana akan menyukainya atau tidak makanan yang dibawanya.
Stefan masuk kedalam kamar hotel yang ditempatinya dan Hana. Pria itu menyuruh untuk Jane tidak lebih dulu pulang karena tidak lama Stefan akan kembali pergi menghadiri acara di rumah Michele. Stefan juga sudah menghubungi Selena dan menyuruhnya untuk bersiap agar ikut dengan-nya kerumah Michele.
“Sepertinya kalian berdua cukup akrab..” Ujar Stefan sambil meletakan bingkisan yang di bawanya diatas meja.
Hana tersenyum tipis mendengarnya. Setelah banyak mengobrol dengan Jane, Hana merasa nyaman dengan wanita itu.
“Jane sangat baik. Dia juga nyambung di ajak berbicara.”
Stefan mengangguk pelan. Pria itu melepas jaket warna hitam yang dikenakan-nya kemudian segera mendekat pada Hana, memeluknya dan memberikan ciuman singkat di kening istri tercintanya itu.
“Bagaimana kondisi Gabriel Stefan?” Tanya Hana mendongak menatap Stefan yang menunduk menatapnya.
Ya, Stefan mengatakan pada Hana akan mampir kerumah sakit.
Stefan menghela napas pelan. Kondisi Gabriel belum bisa dikatakan baik baik saja karena gadis itu sama sekali belum membuka kedua matanya.
“Gabriel masih belum sadar. Aku sudah menanyakan langsung pada dokter yang menanganinya. Dan besar kemungkinan Gabriel akan mengalami kesulitan saat berbicara jika sudah sadar nanti. Itu terjadi karena luka di lehernya yang tepat mengenai pada pita suaranya.” Jawab Stefan pelan.
Ekspresi Hana terlihat sendu. Hana tidak menyangka semua itu akan terjadi.
“Lalu bagaimana dengan tante, apa dia baik baik saja?” Hana kembali bertanya.
Stefan menggeleng pelan.
“Selena bilang tante terus menolak untuk makan sejak Gabriel masuk kerumah sakit. Tante terus menangis dan tidak henti hentinya menyalahkan dirinya sendiri.”
“Ya Tuhan...” Hana menutup mulutnya bergumam lirih merasa sangat iba dengan apa yang saat ini terjadi pada keluarga om dan tante Stefan.
Stefan kemudian menangkup kedua pipi chuby Hana. Pria itu menatap tepat pada kedua mata Hana yang membalas tatapan-nya. Stefan dapat melihat dengan jelas kesedihan dari pancaran kedua mata istrinya itu.
“Hana.. Jangan memikirkan apapun yang sedang terjadi sekarang. Aku nggak mau kalau sampai kamu dan anak kita kenapa napa. Percaya sama aku, semuanya akan baik baik saja.” Lirih Stefan.
Hana menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan pelan. Meski pada kenyataan-nya sekarang pikiran Hana sedang berpusat pada bagaimana keadaan Gabriel.
“Aku harap semuanya akan baik baik saja. Gabriel segera sadar dan tante tidak akan sedih lagi.”
“Ya.. Aku juga berharap demikian sayang..”
__ADS_1
Hana kemudian berhambur memeluk Stefan yang langsung dibalas dengan sangat lembut oleh Stefan. Stefan juga beberapa kali mendaratkan ciuman pada puncak kepala Hana yang begitu mudah dijangkau olehnya.
Stefan kemudian mengajak Hana untuk menikmati apa yang dia bawa. Stefan merasa lega karena ternyata Hana menyukai makanan yang dibawanya. Hana bahkan meminta agar Stefan membelikan untuk nya lagi.
“Memangnya kamu mau kemana lagi si Stefan? Kamu udah ninggalin aku lama banget loh hari ini..”
Hana merengut setelah mendengar Stefan akan kembali pergi malam ini bersama Selena.
“Udah gitu aku nggak di ajak lagi. Kamu malah ngajaknya Selena. Istri aku kan kamu bukan Selena..” Protes Hana.
Stefan tersenyum geli. Saat sedang merengut seperti sekarang Hana terlihat sangat menggemaskan menurut Stefan.
“Kemarilah..”
Stefan menepuk pelan pahanya menyuruh agar Hana duduk di pangkuan-nya. Dan setelah Hana duduk di pangkuan-nya, Stefan langsung melingkarkan kedua tangan kekarnya di perut besar istri tercintanya.
“Ada sesuatu yang harus aku selidiki tentang Gabriel Hana. Dan aku memerlukan Selena untuk membantuku.” Ujar Stefan pelan.
Hana mengeryit menatap wajah tampan Stefan yang berada lebih rendah dari wajahnya. Tentu saja, Stefan sedang memangkunya sekarang.
“Memangnya aku nggak bisa membantu ya?” Tanya Hana dengan ekspresi kembali sendu.
“Bisa.. Kamu tentu bisa membantuku Hana. Tapi tidak dengan langsung terjun ke lapangan. Bantu aku dengan tetap berada disini bersama Jane. Jangan lupa do'akan aku agar apa yang aku upayakan bisa terungkap.”
“Kamu bukan detektif Stefan..”
“Ya sayang. Tapi bersama kamu aku bisa menjadi apa saja yang aku mau. Bisakan kamu bantu aku untuk ini?”
Hana menghela napas. Tidak ada pilihan lain selain menurut pada suaminya sekarang. Selain karena Hana yang memang tidak bisa melakukan apa apa, apa yang akan dilakukan oleh suaminya juga bukan hal yang mudah.
Deringan ponsel Stefan membuat keduanya menoleh. Hana meraih ponsel milik suaminya yang tergeletak diatas meja didepan-nya. Wanita itu mengeryit ketika melihat kontak bernama agen Jane di layar ponsel suaminya.
“Siapa?” Tanya Stefan pelan.
“Jane, dia menelepon kamu.” Jawab Hana sambil memberikan ponsel tersebut pada Stefan.
Stefan menerimanya kemudian segera mengangkat telepon tersebut. Stefan juga sengaja memperbesar volume ponselnya agar Hana juga bisa mendengar percakapan-nya dengan Jane.
“Ada apa Jane?” Tanya Stefan yang memilih untuk menggunakan bahasa indonesia agar mudah dipahami oleh Hana, istrinya.
__ADS_1
“Maaf kalau saya mengganggu waktu anda tuan. Tapi tadi ada seorang perempuan yang menanyakan nama anda pada resepsionis. Perempuan itu bertubuh tinggi semampai dengan rambut hitam legam. Untuk wajahnya saya tidak bisa melihatnya dengan jelas karena dia memakai masker. Tapi saya sempat bertatap muka dengan dia.”
“Apa warna matanya abu abu terang?” Tanya Stefan menebak.
“Ya tuan.”
Tangan Stefan mengepal. Stefan bisa menebak siapa yang berusaha mengikutinya.
“Sekarang apa dia masih ada disana Jane?”
“Tidak tuan. Dia sudah pergi dengan mengendarai taksi.” Jawab Jane dari seberang telepon.
“Ya sudah, kamu tetap disana dan awasi sekitar.”
“Siap tuan.”
Stefan mengakhiri sambungan telepon tersebut kemudian menghela napas kasar.
Hana yang sejak tadi hanya mendengarkan apa yang Stefan bicarakan dengan Jane lewat sambungan telepon semakin merasa penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
“Stefan kenapa sampai ada yang menanyakan nama kamu pada resepsionis?” Tanya Hana mulai panik.
“Hana tenang.. Tidak akan ada apapun yang terjadi selama kamu mendengarkan aku..”
“Tapi Stefan...”
“Gabriel.. Dia tidak bunuh diri. Aku menebak ada yang mencoba mencelakainya.” Sela Stefan membuat kedua mata Hana membulat dengan sempurna.
“Apa?” Hana sangat terkejut mendengarnya.
“Gabriel yang malam itu mendekati kamu, dia bukan Gabriel yang sebenarnya Hana.” Jelas Stefan yang memang mulai tau semuanya.
“Tapi bagaimana mungkin?”
“Aki juga belum bisa tau semuanya dengan jelas. Maka dari itu aku meminta untuk Selena menemaniku menguak semua itu malam ini juga.” Jawab Stefan pelan.
“Stefan tapi aku..”
Cup
__ADS_1
Ucapan Hana tersela karena Stefan yang tiba tiba mencium bibirnya.
“Tetap tenang sayang.. Semuanya akan baik baik saja.” Lirih Stefan menatap Hana yang terdiam.