
“Aku sungguh tidak bermaksud menghina istri kamu Stefan. Aku minta maaf. Aku sungguh sangat menyesal. Aku harap hubungan kita akan tetap baik baik saja Stefan.”
Stefan hanya diam bahkan enggan menatap Williana yang berpindah duduk disampingnya. Jika bukan karena menghargai wanita itu sebagai rekan bisnisnya, mungkin Stefan sudah menendangnya keluar dari rumahnya.
“Stefan, kamu mau kan maafin aku?” Tanya Williana dengan nada merengek manja pada Stefan. Wanita itu yakin Stefan tidak akan tega untuk tidak memaafkan-nya jika dirinya sudah merengek.
“Kamu tentu tau siapa saya Williana. Saya sangat tidak suka jika milik saya di hina.” Ujar Stefan dingin.
“Ya.. Aku sungguh sangat sangat menyesal Stefan. Tolong maafkan aku..”
Hana berhenti melangkah begitu melihat Stefan dan Williana yang duduk disofa yang sama. Wanita itu berdecak merasa sangat kesal pada suaminya yang sepertinya tidak bisa sekali saja menolak wanita berbaju terbuka itu.
Hana menghela napas menatap dua gelas orange jus yang dibawanya kemudian kembali melanjutkan langkahnya mendekat pada Stefan dan Williana.
“Selamat malam nona Williana. Suatu kehormatan bagi saya kedatangan tamu besar seperti anda..” Senyum Hana begitu sampai di depan meja disamping Stefan duduk.
Stefan masih diam namun sedikit bingung melihat senyuman tidak biasa istrinya itu.
“Ah ya.. Tidak perlu memanggil nona. Panggil saja saya Williana atau mungkin Ana supaya kita bisa lebih akrab. Karena bagaimanapun hubungan saya dan Stefan juga sangat baik dan dekat sejak dulu.” Senyum Williana menyombongkan diri.
“Begitu ya? Baiklah Williana..”
Hana berusaha mengukir senyuman dibibirnya meskipun sebenarnya merasa sangat muak melihat Williana. Namun Hana tidak kehabisan akal. Ketika hendak meletakan dua gelas orange jus yang dibawanya ke atas meja, Hana berakting seolah rasa pusing tiba tiba terasa di kepalanya. Dengan sengaja Hana menumpahkan dua gelas orange jus tersebut membuat Williana memekik karena terkejut.
Stefan yang melihat itu juga sangat terkejut. Apa lagi tumpahan orange jus itu juga sampai mengenai pahanya sehingga Stefan merasakan dingin yang amat sangat.
“Hey apa yang kamu lakukan !!” Marah Williana.
Hana tidak memperdulikan pekikan heboh Williana dan tetap ber akting dengan memegangi kepalanya kemudian menjatuhkan dirinya di pangkuan Stefan yang langsung dengan sigap menangkapnya.
“Ya Tuhan, Hana !! Apa yang terjadi Hana !!”
__ADS_1
Hana bersorak senang dalam hati. Meskipun kedua matanya terpejam dalam pangkuan Stefan tapi sebenarnya Hana sedang menahan dirinya agar tidak berteriak karena berhasil mengerjai Williana.
“Stefan ini sangat dingin.. Tolong..” Williana berusaha menarik perhatian Stefan dengan rengekan manja nya. Wanita itu memang sudah basah kuyup karena ulah Hana.
Namun Stefan mengabaikan-nya. Pria itu sibuk menepuk nepuk pelan pipi Hana yang tiba tiba jatuh pingsan di pangkuan-nya.
“Stefan aku..”
“Lebih baik sekarang kamu pulang Williana.” Tegas Stefan kemudian membopong tubuh Hana dan membawanya menjauh dari Williana.
Williana berdecak kesal menatap Stefan yang berlalu dengan Hana yang berada di gendongan-nya. Lagi lagi niatnya untuk mendekati Stefan gagal.
“Awas kamu Hana.” Gumamnya kemudian berlalu keluar dari ruang tamu kediaman mewah Stefan.
Sedangkan Hana, wanita itu membuka satu matanya mengintip apakah Williana sudah pergi atau belum. Setelah melihat Williana yang berlalu keluar, Hana langsung membuka kedua matanya.
“Stefan.” Panggil Hana membuat langkah Stefan terhenti.
Hana tersenyum membuat Stefan segera menurunkan dari gendongan-nya.
“Aku nggak papa. Terimakasih sudah membantuku mengerjai nenek sihir itu.” Senyum Hana kemudian berlalu dari hadapan Stefan untuk kembali menuju meja makan dimana Sera dan Angel sedang menunggunya.
Stefan menyipitkan kedua matanya. Dari awal senyuman Hana memang sudah berbeda. Dan Stefan tidak menyangka jika dibalik senyuman itu ternyata Hana sedang merencanakan sesuatu pada Williana.
Stefan menggelengkan kepalanya kemudian menunduk menatap celana pendek selututnya yang basah dibagian paha. Tidak ingin membuat siapa saja yang melihatnya salah paham, Stefan bergegas menuju kamarnya untuk mengganti celananya. Stefan juga tidak lupa menyuruh pelayan untuk membersihkan sofa ruang tamu yang terkena tumpahan orange jus karena ulah Hana.
“Bagaimana Mommy?” Tanya Angel saat Hana muncul dan mendudukkan dirinya dikursi samping tempat duduk Stefan.
Hana tersenyum manis dan mengacungkan kedua jempolnya pada Hana dan Sera. Hana merasa sangat puas karena bisa mengerjai Williana juga Stefan.
“Terus daddy nya mana?” Kali ini Sera yang bertanya karena Hana muncul dari arah ruang tamu sendiri tanpa Stefan.
__ADS_1
“Mungkin sedang mengganti celananya yang terkena tumpahan orange jus mamah..”
Mulut Sera terbuka mendengar jawaban menantu kesayangan-nya. Sera tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Hana tentang mengganti celana hingga akhirnya Stefan muncul dengan setelan piyama abu abu bergaris.
Stefan tidak hanya mengganti celana saja, tapi juga kaos putih pendek polos yang dikenakan-nya.
Hana terkikik geli. Stefan pasti akan sangat marah padanya nanti karena Hana sudah berperilaku tidak sopan pada tamu bahkan sampai membasahi celananya. Tapi Hana tidak perduli. Dan jika Stefan mengancamnya, Hana berencana akan balas mengancam Stefan dengan mengatakan yang sejujur jujurnya tentang malam kemarin dimana Stefan berdansa dengan Williana dan mencampakkan-nya begitu saja tanpa sedikitpun perduli.
“Daddy, mana nenek sihir itu? Eh emmm.. Maksud Angel aunty Williana?” Tanya Angel pada Stefan terbata bata.
Hana mengeryit. Bahkan Angel saja sepertinya takut menyebut nenek sihir pada Williana didepan Stefan.
“Dia sudah pulang.” Jawab Stefan singkat.
Angel tidak lagi menyaut. Gadis kecil itu takut jika ucapan atau pertanyaan-nya tentang Williana membuat sang daddy marah dan menegurnya dengan tegas.
“Eemm.. Angel tenang aja ya.. Selama ada mommy disini, daddy hanya milik kita. Bukan siapapun, oke?” Hibur Hana pada Angel berbisik pelan.
Angel menoleh dan tersenyum. Gadis itu menganggukan kepalanya mempercayakan segalanya pada Hana.
Sedangkan Sera, wanita itu yakin Hana pasti akan bisa menangani Williana dengan Stefan yang berada didepan-nya. Sera sebenarnya bisa saja melarang Williana secara terang terangan namun mengingat siapa dirinya dan siapa Williana Sera enggan melakukan-nya. Sera juga tidak ingin membuat hubungan kerja sama antar perusahaan Stefan dengan perusahaan Williana memburuk.
Stefan melirik Hana yang merasa menang dan bangga setelah apa yang dilakukan-nya pada Williana. Pria tampan yang selalu menampakkan ekspresi datar itu kini tau maksud Hana menumpahkan orange jus pada Williana dengan berpura pura mengalami sakit dan pusing kepala mendadak kemudian pingsan di pangkuan-nya. Tentu saja itu adalah cara Hana untuk mengusir Williana secara halus tanpa harus memperlihatkan sikap buasnya. Dan Hana melakukan itu dengan sangat apik dan rapi.
Stefan menghela napas. Williana bukan wanita yang bodoh dan begitu saja bisa di tipu. Dan setelah kejadian ini Williana pasti menganggap Hana sedang mulai mengibarkan bendera perang padanya.
“Kamu mau makan apa Stefan? Biar aku ambilkan.” Ujar Hana membuat Stefan melirik lagi padanya.
“Terserah.” Jawab Stefan dingin.
Rahang Hana mengeras. Menyesal sekali rasanya menanyakan hal itu pada Stefan.
__ADS_1