ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 208


__ADS_3

“Rico.”


Rico menoleh ketika mendengar seseorang menyebut namanya. Pria itu tersenyum manis ketika mendapati dokter Rania yang sudah berdiri disampingnya.


“Eh dokter, selamat siang.” Sapa Rico dengan ramah pada dokter Rania.


“Ya, selamat siang juga Rico.” Balas dokter Rania menganggukkan kepalanya pelan.


“Maaf sebelumnya dokter, apa ada yang bisa saya bantu?”


“Hem tidak ada. Hanya tadi saya melihat kamu disini dengan Boby makan-nya saya mendekat. Saya hanya ingin bertanya sesuatu.” Jawab dokter cantik dengan dress selutut warna coklat gelap itu.


“Oh ya? Apa itu dokter?” Tanya Rico penasaran.


Dokter Rania diam sesaat. Wanita cantik itu kemudian menghela napas.


“Kalau saya boleh tau apakah Stefan dan Hana sudah pulang kembali ke indonesia Rico?” Tanya dokter Rania hati hati.


Rico tidak langsung menjawab. Rico berpikir tidak mungkin jika Stefan dan Hana akan buru buru kembali sedangkan Hana saja baru selesai operasi. Dan dokter Rania, dia bukan orang lain. Dokter Rania adalah salah satu orang yang cukup Stefan percaya. Rico berpikir rasanya tidak masalah jika dokter cantik itu tau bahwa Hana baru saja menjalani operasi di Amerika karena sebuah insiden kecelakaan di hotel tempat Hana dan Stefan menginap.


“Tuan dan nyonya masih di Amerika dokter. Bahkan nyonya Sera dan Angel juga menyusul kesana.” Jawab Rico pelan.


Dokter Rania mengeryit mendengarnya. Aneh sekali rasanya jika Sera dan Angel yang malah menyusul mereka berdua ke Amerika. Kecuali jika memang telah terjadi sesuatu disana. Entah terjadi pada Stefan atau mungkin pada Hana.


“Memangnya kenapa? Apa yang membuat tante dan Angel sampai menyusul kesana?” Tanya dokter Rania tidak bisa menahan rasa penasaran-nya.


Rico tersenyum tipis. Rico yakin Stefan tidak akan marah jika dokter Rania tau apa yang telah terjadi pada Hana.


“Jadi sebenarnya tuan dan nyonya sudah berniat untuk pulang kembali ke indonesia dokter. Tapi sesuatu terjadi. Nyonya Hana kecelakaan dan harus segera ditangani oleh dokter disana. Karena kecelakaan itu akhirnya janin dalam kandungan nyonya Hana terpaksa harus dikeluarkan.” Jawab Rico.


Kedua mata dokter Rania membulat mendengarnya. Wanita cantik berambut lurus itu menutup mulutnya terkejut dengan apa yang Rico katakan.


“Ya Tuhan..” Lirih dokter Rania.


“Karena itu juga akhirnya nyonya Sera dan Angel menyusul kesana dokter.” Sambung Rico.


“Lalu bagaimana keadaan Hana sekarang juga bayinya?” Rasa khawatir langsung menguasai hati dan pikiran dokter Rania. Dia juga tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Hana juga bayinya.


“Untuk sekarang semuanya sudah baik baik saja dokter. Nyonya Hana dan bayinya sehat.”

__ADS_1


“Syukurlah..” Hela napas dokter Rania merasa lega.


“Ah ya dokter, mohon maaf saya tidak bisa lama lama. Saya harus segera kembali ke kantor.”


“Oh iya.. Hati hati Rico.”


“Ya dokter..”


Rico kemudian melangkah menuju mobilnya menjauh dari dokter Rania yang tetap berdiri di tempatnya. Rico harus segera kembali ke perusahaan siang ini karena akan ada pertemuan dengan Williana disana.


“Aku harus kasih tau Alan.” Batin dokter Rania menatap mobil Rico yang mulai melaju menjauh dari restoran tersebut.


-----------------


Setelah Hana benar benar pulih, Stefan dan Sera segera mengajak Hana untuk pulang ke kediaman mereka yang memang sudah sangat lama tidak mereka tinggali. Namun meskipun begitu, rumah mewah berlantai dua itu tetap terurus karena disana tetap ada para pekerja yang setiap bulan-nya Stefan gaji.


“Jadi ini rumah mamah sama papah dulu Hana. Dulu sebelum punya Stefan kami berdua tinggal disini. Ini juga adalah kado pernikahan dari papah yang membelinya juga diatas namakan nama mamah.” Ujar Sera saat memasuki rumah penuh kenangan bersama mendiang suaminya.


Hana hanya diam saja. Hana bingung harus berkomentar apa tentang rumah itu. Jika masalah bagus itu sudah pasti.


Tuan dan nyonya Smith yang melangkah dibelakang Hana, Stefan, juga Sera hanya bisa diam saja. Mereka berdua tau betapa sangat mencintainya Sera pada mendiang suaminya, papah Stefan. Hal itu lah yang mungkin membuat Sera akhirnya memutuskan untuk tetap sendiri sampai sekarang.


“Selamat datang nyonya..”


Hana mengeryit. Hana benar benar tidak mengerti kenapa disana banyak sekali orang orang yang menguasai bahasa indonesia. Padahal Hana pikir mereka akan menggunakan bahasa inggris saja.


“Ya.. Kemana yang lain-nya?” Tanya Sera menatap pekerjanya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Mereka sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing nyonya. Maaf kami tidak tau nyonya dan tuan muda akan datang. Makan-nya kami tidak menyiapkan apa apa sebagai sambutan.” Kata pekerja tersebut dengan kepala sedikit tertunduk berdiri dengan jarak sekitar satu setengah meter dari Sera dan Hana juga Stefan.


“Tidak papa. Kalian tidak perlu repot repot. Kami hanya sebentar disini.” Balas Sera.


“Ya nyonya.. Saya akan membuatkan minuman.”


“Ya.. Terimakasih yah..”


Pekerja itu pun berlalu setelah mengangguk pelan meninggalkan Sera, Hana, Stefan, juga nyonya dan tuan Smith yang sengaja mengantar.


“Riana, max.. Ayo kita keruang tengah saja.” Ajak Sera.

__ADS_1


“Ya kak..”


“Hem mah..”


Sera menoleh pada Stefan yang sejak tadi hanya diam saja. Pria itu menghela napas pelan kemudian menatap Hana yang juga tidak tau harus bagaimana sekarang.


“Sepertinya Hana harus istirahat. Biar aku bawa dia ke kamar saja.”


Sera diam sebentar kemudian menganggukkan kepalanya.


“Ya, ajak Hana istirahat ya..” Angguknya kemudian.


Nyonya Smith yang sejak dari rumah sakit menggendong bayi tampan milik Stefan dan Hana segera menyerahkan dengan hati hati makhluk mungil tak berdosa itu pada Hana.


“Istirahat ya sayang..” Katanya pelan pada Hana.


“Hem, ya tante. Terimakasih sudah mengantar.” Balas Hana tersenyum tipis.


“Tidak perlu sungkan. Keluarga adalah segalanya untuk kami.” Ujar nyonya Smith mengusap lembut lengan Hana.


Setelah itu Stefan segera mengajak Hana menuju lantai dua rumah itu dimana kamarnya berada. Stefan merangkul lembut kedua bahu Hana memandu wanitanya agar melangkah dengan pelan dan hati hati saat menaiki anak tangga.


“Jangan berlebihan Stefan, aku baik baik saja..” Ujar Hana merasa apa yang Stefan lakukan padanya terlalu berlebihan.


“Ssstt.. Tidak ada yang berlebihan untuk kebaikan kamu dan putra kita sayang..” Lirih Stefan membalas.


Hana tersenyum geli. Hana berpikir isu tentang Stefan adalah pria dingin juga kejam itu sepertinya sebentar lagi akan berganti menjadi hot daddy atau mungkin suami idaman para kaum hawa.


“Kenapa?” Tanya Stefan bingung karena Hana yang tertawa sendiri.


“Enggak. Aku cinta kamu.” Geleng Hana kemudian mengungkapkan cintanya.


Stefan menyipitkan kedua matanya. Pria itu merasa aneh dengan ungkapan cinta istrinya kali ini.


“Kamu tidak sedang memikirkan hal hal yang konyol kan Hana?” Tanya Stefan waspada. Stefan khawatir meski putranya sudah lahir Hana masih ngidam dan menginginkan sesuatu diluar dugaan Stefan sendiri.


“Tidak. Aku hanya ingin bilang aku cinta kamu. Apa itu salah?” Jawab Hana kemudian balik bertanya dengan senyuman yang menghiasi bibir merah alaminya.


“Baiklah. Aku juga mencintai kamu Hana. Bahkan sangat mencintai kamu.” Balas Stefan ikut tersenyum.

__ADS_1


Keduanya kemudian tertawa pelan dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar untuk beristirahat.


__ADS_2