
Stefan membunyikan klakson mobilnya begitu sampai didepan gerbang tinggi menjulang di kediaman-nya. Tidak menunggu lama satpam penjaga gerbang segera membukakan pintu gerbang tersebut sehingga Stefan kembali melajukan mobil mewahnya masuk ke pekarangan luas rumahnya. Ketika Stefan hendak turun dari mobil mewahnya salah satu body guard yang juga berjaga didepan rumah dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Stefan.
“Selamat malam tuan.” Sapa body guard yang membukakan pintu mobil untuk Stefan.
Stefan hanya menganggukkan pelan kepalanya menjawab sapaan ramah body guard nya. Pria itu kemudian membuka pintu mobil bagian belakangnya mengeluarkan semua yang di belinya kemudian membawanya masuk tanpa meminta bantuan pada siapapun yang ada didepan rumahnya.
Hal itu membuat para body guardnya kebingungan. Tidak biasanya Stefan membawa semua barang barangnya sendiri.
“Apa kamu tidak merasa aneh akhir akhir ini dengan sikap tuan?” Tanya salah seorang dari mereka.
“Sudah, tidak usah dibahas. Jangan sampai tuan tau kita membicarakan-nya. Itu tidak akan baik untuk kita semua.” Cegah body guard yang ada di sebelah body guard yang bertanya tadi.
“Huh, ya ya..” Ujarnya kesal.
Sementara didalam rumah, Stefan langsung melangkah menuju tangga. Pria itu menebak Hana dan Angel pasti masih ada di lantai dua rumahnya.
“Stefan.”
Panggilan Sera membuat langkah Stefan terhenti. Sera menatap bingung pada Stefan yang membawa dua permen kapas besar dengan bentuk yang lucu juga bawaan lainya.
“Hana dan Angel, apa mereka diatas mah?” Tanya Stefan pelan.
“Tidak, mereka sedang berada diruang keluarga. Sedang menonton tv.” Jawab Sera.
Stefan menganggukkan kepalanya kemudian turun lagi dan langsung menuju ruang keluarga dimana Hana dan Angel berada.
Stefan melangkah masuk kedalam ruang keluarga dan mendapati Hana juga Angel yang sedang serius menonton serial kartun. Keduanya bahkan sampai tidak menyadari kehadiran Stefan dibelakangnya.
Melihat itu Stefan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Stefan sempat menatap layar besar tv yang sedang memperlihatkan adegan lucu kartun yang sama sekali tidak membuat istri dan anak gadisnya tertawa.
“Aku pulang.”
__ADS_1
Suara Stefan berhasil mengalihkan perhatian Hana juga Angel. Keduanya langsung menoleh dengan cepat pada Stefan yang berdiri di belakang sofa yang mereka berdua duduki.
“Stefan?”
“Daddy?”
Hana dan Angel kompak langsung berdiri dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya.
“Permen kapasnya..” Gumam Hana merasa sangat senang melihat Stefan membawa permen kapas seperti yang dia mau.
Sementara Angel, gadis itu hanya tersenyum saja menatap permen kapas yang ada di tangan Stefan. Angel sebenarnya juga menginginkan permen kapas itu. Tapi Angel tidak berani memintanya secara langsung pada Stefan.
“Kok ada dua?” Tanya Hana pada Stefan.
Stefan tersenyum samar kemudian melirik sekilas pada Angel yang hanya diam dengan senyuman dibibirnya.
Pria itu menghela napas kemudian menyodorkan dua permen kapas dan burger didalam wadah yang dibawanya pada Hana. Sedangkan buah untuk membuat rujaknya masih Stefan tenteng.
Hana tersenyum lebar mendengarnya. Hana merasa sangat bahagia karena bukan hanya dirinya yang bisa menikmati manisnya permen kapas berbentuk matahari itu. Tapi juga Angel, putrinya dan Stefan.
Angel yang mendengar sendiri Stefan juga membelikan untuknya memekik bahagia. Gadis kecil itu benar benar merasakan kasih sayang yang begitu lengkap sekarang. Yaitu kasih sayang dari Sera sebagai omanya juga Stefan dan Hana sebagai kedua orang tuanya.
-------------
“Kakak..”
Williana baru saja hendak masuk kedalam kamarnya saat Tristan memanggilnya. Wanita cantik dengan penampilan formal itu menoleh kemudian memutar tubuhnya saat Tristan melangkah menghampirinya.
“Kenapa Tristan?” Tanya Williana begitu mereka berdua sudah saling berhadapan.
Tristan menatap Williana dengan rahang mengeras serta kedua tangan mengepal erat. Malam ini Tristan benar benar tidak bisa menahan dirinya lagi karena apa yang sudah dilakukan oleh kakaknya.
__ADS_1
“Apa maksud kakak mengirim berbagai hadiah pada Putri dengan nama Tristan?” Tanya Tristan dengan penuh penekanan.
Williana tersenyum mendengar pertanyaan penuh penekanan dan amarah itu. Williana memang sengaja mengirim berbagai hadiah manis pada Putri dengan nama Tristan. Wanita itu berharap Putri menerimanya dan menganggap Tristan yang benar mengirimnya secara sengaja agar bisa lebih dekat dengan-nya.
“Apa dia suka dengan semua yang kakak kirimkan Tristan?”
Tristan menyipitkan kedua matanya semakin merasa marah pada kakaknya itu. Apa yang kakaknya lakukan membuat Putri semakin salah paham. Gadis itu semakin lengket padanya. Putri bahkan juga mengatakan pada teman sekelasnya bahkan hampir seluruh sekolah tau bahwa Tristan mengirimkan berbagai hadiah manis padanya.
“Kakak tau nggak sih? Apa yang kakak lakukan itu membuat aku muak. Aku semakin tidak betah disini. Aku muak menjadi adik kakak yang selalu di atur dan di kekang.”
Williana berdecak mendengar ucapan penuh amarah yang di lontarkan oleh adik bungsunya. Williana tidak merasa marah meski apa yang Tristan ucapkan sudah sangat keterlaluan. Karena Williana sendiri yakin Tristan tidak akan berani bertindak lebih apapun yang Williana lakukan.
“Terserah kamu mau ngomong apa Tristan. Yang jelas kakak lebih setuju kamu dekat dengan Putri dari pada kamu dekat dengan gadis miskin itu.” Ujar Williana santai.
“Dia punya nama kak. Namanya Amira. Dan Tristan suka sama Amira. Tristan sayang sama Amira.” Tegas Tristan melawan kakaknya dengan begitu berani.
“Kakak tidak ingin tau namanya Tristan. Tapi perlu kamu tau, gadis itu tidak akan mau sama kamu. Kakak yakin dia akan lebih memilih uang dari pada kamu.”
Tristan tersenyum miring kemudian menggelengkan kepalanya karena kakaknya masih saja seperti itu. Kakaknya selalu menganggap segala hal bisa di beli dengan uang, termasuk harga diri seseorang.
“Kakak salah. Amira tidak seperti itu. Dia bukan orang yang mendewakan uang seperti kakak.”
Williana menghela napas. Wanita itu menatap wajah tampan adiknya. Tristan tidak pernah seperti itu sebelumnya. Namun setelah kenal dan dekat dengan Amira, Tristan berani berbohong bahkan berani melawan-nya sekarang.
“Tristan, kamu tidak tau bagaimana kerasnya kehidupan di luar sana. Kamu juga tidak tau seperti apa orang orang diluar sana. Mereka mungkin kelihatan baik. Tapi itu hanya topeng. Yang ada di pikiran mereka hanya uang dan uang. Mereka pasti akan memanfaatkan kamu demi uang. Gadis itu pasti juga seperti itu.”
“Kakak nggak tau apa apa tentang Amira. Kakak hanya bisa berprasangka buruk pada orang lain. Padahal yang sebenarnya memandang segala sesuatu dengan uang itu kakak sendiri.” Balas Tristan cepat.
Williana hanya diam saja. Wanita itu tidak mau terlalu meladeni Tristan yang sedang emosi.
“Pokonya aku nggak mau tau. Kalau sampai kakak melakukan itu lagi, Tristan akan pergi dari rumah ini.” Ancam Tristan kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Williana.
__ADS_1