
“Permisi nyonya..”
Hana sedang membalas pesan dari Aisha didepan kamarnya saat seorang pelayan menghampirinya. Hana langsung menurunkan ponsel yang sedang menjadi fokusnya kemudian menatap pelayan tersebut.
“Oh ya, ada apa?” Tanya Hana.
“Nyonya di tunggu ditaman belakang rumah oleh nyonya Sera.”
Hana mengeryit. Bahkan hanya untuk memanggilnya saja Sera menyuruh seorang pelayan. Jika Hana mungkin dia akan memanggil sendiri dengan suara melengking yang pasti akan terdengar disetiap sudut ruangan luas dirumah itu.
“Mamah manggil saya?” Tanya Hana menunjuk dirinya sendiri.
“Iya nyonya..” Angguk si pelayan yang Hana sendiri tidak tau siapa namanya.
Hana terdiam lagi dan bertanya tanya dalam hati kenapa tiba tiba Sera memanggilnya.
“Eemm.. Ya sudah, nanti saya kesana. Makasih ya mbak..”
“Sama sama nyonya. Saya permisi.”
Hana menganggukkan kepala dengan senyuman manis dibibirnya saat pelayan itu pamit undur diri dari hadapan-nya. Setelah itu Hana pun berlalu dari depan kamarnya dan Stefan untuk menemui Sera yang sedang menunggunya ditaman belakang rumah.
“Apa mungkin mamah mau menanyakan tentang hubungan aku dan Stefan? kalau memang iya aku harus bagaimana? Aku harus jawab apa?”
Sambil melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, Hana merasakan khawatir yang amat sangat. Sera wanita yang sangat cerdas dan Hana pasti tidak bisa berkutik jika Sera bertanya banyak hal tentang hubungan-nya dengan Stefan yang sebenarnya tidak pernah nyata.
Baik Stefan maupun Hana sebenarnya tidak pernah membenarkan asumsi Sera dan juga publik tentang hubungan yang mereka jalin lama itu. Tapi membuka semuanya secara terang terangan juga pasti akan berakibat fatal. Dan Hana pasti yang akan menjadi bulan bulanan para awak media jika sampai berbicara jujur.
“Ya Tuhan.. Tolong bantu hamba..”
Hana berhenti melangkah dan memejamkan kedua matanya sesaat. Stefan sedang tidak ada dirumah sekarang. Dan Angel, malaikat kecil itu juga sedang sekolah. Hana tidak akan punya alasan untuk menghindar dari Sera sekarang.
Hana membuka kedua matanya kemudian menghembuskan napasnya dengan kasar.
__ADS_1
“Enggak, aku nggak boleh takut. Mamah Sera bukan orang jahat. Dia orang baik.” Gumam Hana optimis.
Hana kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. Hana bahkan mempercepat langkahnya tidak mau membuat Sera terlalu lama menunggunya.
Begitu sampai ditaman belakang rumah, Hana terdiam. Hana baru menyadari ternyata taman dibelakang rumah mewah itu sangat luas. Rumput hijau dan pohon pohon kecil serta bunga bunga yang bermekaran. Disana juga ada kolam ikan yang suara gemericik airnya membuat suasana begitu asri.
“Hana !! Mamah disini.”
Hana mengikuti arah suara Sera dan menemukan wanita itu sedang duduk di gazebo kayu bercat putih dengan jarak yang cukup jauh darinya.
Hana tersenyum menganggukan kepalanya dan melangkah dengan mantap mendekat pada Sera yang menunggunya.
“Duduk..” Senyum Sera pada Hana setelah Hana sampai didepan-nya.
“Iya mah..”
Hana menurut dan duduk tepat disamping Sera dengan jarak sekitar setengah meter dari Sera.
Sera tidak langsung mengatakan maksud memanggil Hana untuk menemuinya. Wanita itu melirik Hana yang diam disampingnya kemudian tersenyum dan menatap lurus kedepan.
“Hana..” Panggilnya pelan.
“Ya mah..” Saut Hana menoleh menatap Sera yang meluruskan pandangan-nya kedepan.
“Sepertinya kamu sudah mengenal Stefan begitu dalam ya.. Kamu bisa tetap tenang meskipun Stefan begitu dingin dan tidak perduli dengan apapun disekitarnya.”
Hana hanya diam. Hana diam dengan sikap dingin Stefan bukan karena menerima pria itu apa adanya. Tentu saja karena Hana memang tidak perduli. Toh dirinya dan Stefan memang sebenarnya tidak pernah saling mengenal. Jadi Hana tidak keberatan walaupun Stefan cuek dan bersikap begitu dingin padanya.
“Kamu perempuan yang hebat. Mamah akui itu. Mamah saja yang sudah mengenalnya dari kecil sering sekali perotes tidak terima dengan sikap dingin-nya. Tapi kamu nggak begitu.”
Hana hanya tersenyum tipis. Hana tau jika sedikit saja dirinya berbicara tentang Stefan baik itu pasti akan membuat satu kebohongan yang kemudian akan di tutupi lagi dengan kebohongan lainya.
“Tapi kamu harus tau satu hal Hana, dulu Stefan nggak seperti itu. Stefan adalah laki laki yang penuh kasih sayang, suka bercanda dan ramah pada semua orang meskipun tertutup dari orang luar.”
__ADS_1
Hana terkejut. Rasanya aneh sekali jika memang Stefan seperti apa yang Sera katakan. Tapi Sera juga tidak mungkin berbohong. Apa lagi Angel putri Stefan juga memiliki sikap yang Sera sebutkan tadi. Dan Hana berpikir mungkin sikap Stefan yang seperti itu menurun pada Angel.
“Mamah tau kamu nggak akan percaya mengingat bagaimana Stefan yang sekarang. Tapi mamah nggak bohong Hana, mamah bicara apa adanya. Stefan berubah begitu cuek dan dingin setelah Lusi meninggal dalam kecelakaan pesawat.”
“Kecelakaan pesawat?”
Hana terkejut lagi. Padahal Hana berpikir mungkin Lusi meninggal karena melahirkan Angel yang kemudian membuat sikap Stefan begitu dingin dan cuek pada Angel, putrinya sendiri.
“Ya.. Lusi mengalami kecelakaan pesawat setelah melahirkan Angel. Mamah juga tidak tau jelas apa yang terjadi sehingga Lusi tiba tiba pergi tanpa Stefan. Tapi Stefan selalu menghindar jika membahas tentang itu. Dan sejak kematian Lusi Stefan menjadi seperti sekarang. Stefan bahkan selalu mengabaikan Angel, buah cintanya dengan Lusi.”
Hana menghela napas pelan. Entah kenapa Hana merasa ada sesuatu yang aneh. Seorang istri pergi menggunakan pesawat yang pasti tidak pergi ke jarak yang dekat dan tanpa suaminya padahal baru saja melahirkan.
“Mah, apa mungkin saat itu Lusi sedang marah pada Stefan?”
Sera menoleh menatap Hana dengan keryitan dikeningnya.
“Maksud kamu?” Tanya Sera tidak mengerti.
Hana mendadak gelagapan. Hana menyesal sekali mengeluarkan pertanyaan seperti itu pada Sera.
“Ah eemm.. Enggak mah. Maaf, aku lancang.” Sesal Hana.
Sera tersenyum menatap Hana. Wanita itu kemudian kembali meluruskan pandangan-nya. Sera juga pernah berpikir seperti itu. Mungkin Lusi marah karena suatu hal pada Stefan kemudian berniat menghindar dengan pergi menggunakan pesawat dan pesawat itu mengalami kecelakaan yang menyebabkan Lusi akhirnya meninggal.
“Ah ya Hana.. Stefan bilang kamu sudah tidak punya orang tua.”
“Ya mah.. Kedua orang tua aku meninggal karena kecelakaan dan akhirnya aku tinggal di panti asuhan. Dan setelah aku beranjak dewasa kemudian aku mencari pekerjaan dan bisa menyewa rumah untuk tempat tinggal aku sendiri mah. Memang hanya gubug kecil, tapi aku nyaman tinggal disana karena setiap bulan-nya aku membayar dengan hasil jerih payah aku sendiri.” Senyum Hana menceritakan.
Sera mengangguk anggukan kepalanya.
“Sepertinya memang kamu dan Stefan sangat lengket. Bahkan cerita kamu sama persis dengan cerita Stefan. Apa kamu selalu berkeluh kesah pada Stefan sayang?”
“Apa? Stefan cerita tentang aku?” Hana benar benar sangat terkejut sekarang. Bagaimana mungkin ceritanya bisa sama dengan cerita Stefan tentang dirinya. Bahkan mungkin Alan saja yang dekat dengan-nya tidak begitu tau segalanya.
__ADS_1