
Hana sedang mengayun Theo di balkon kamarnya sembari menikmati semilir angin sejuk sore ini saat mendengar suara klakson mobil Stefan. Wanita itu tersenyum. Stefan pulang lebih awal dari biasanya lagi hari ini.
“Wah.. Daddy udah pulang tuh..” Senyum Hana memberi tahu putranya yang sedang berada di gendongan-nya dengan posisi yang sudah tidak lagi di tidurkan. Ya, bayi yang sudah memasuki usia jalan 4 bulan itu memang sudah tidak mau lagi di gendong seperti bayi pada umumnya.
Theo tertawa meskipun belum bersuara. Bayi itu merasa senang karena Hana mengajaknya berbicara.
“Kita tunggu disini dulu ya sayang.. Tunggu daddy bersih bersih baru nanti Theo sama daddy, oke?” Ujar Hana.
Hana memang selalu menyuruh agar siapa saja yang baru dari luar rumah harus mencuci tangan sebelum mendekat pada Theo, begitu juga dengan Stefan.
Tidak lama kemudian sampailah Stefan di kamar mereka. Stefan tersenyum melihat Hana yang sedang berdiri di balkon kamar mereka. Stefan yakin Hana pasti sudah mengetahui perihal kepulangan-nya. Tidak ingin membuat Theo menangis karena melihatnya yang tidak bisa langsung menggendongnya, Stefan pun segera melepas jas, dasi juga sepatu dan kaos kaki yang di kenakan-nya kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sekitar 15 menit berada di dalam kamar mandi, Stefan keluar dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya. Pria itu melangkah menuju lemari untuk mengambil baju ganti lalu segera mengenakan-nya.
Setelah rapi, Stefan pun melangkah menuju balkon mendekat pada Hana juga putra mereka.
“Hey jagoan-nya daddy..” Sapa Stefan dengan senyuman lebar pada Theo.
Theo yang melihat Stefan langsung tersenyum lebar. Bayi itu bahkan mengangkat kedua tangan-nya meminta Stefan agar segera menggendongnya.
“Wah.. Daddy nya udah wangi tuh. Udah nggak mau matahari lagi.” Ujar Hana mendekat pada Stefan.
Stefan menerima saliman dari Hana kemudian langsung mengambil alih Theo dari gendongan Hana. Pria itu juga tidak lupa mencium kening Hana dengan sangat lembut dan mesra.
“Angel sama mamah belum pulang?” Tanya Stefan pelan.
“Belum.. Tapi tadi mamah bilang sama aku katanya mau Angel pengin makan makanan jepang. Jadi mungkin pulang sekolah mamah langsung ngajak Angel buat nyari makanan yang Angel mau.” Jawab Hana sembari menjelaskan.
Stefan menganggukkan kepalanya mengerti. Pria itu kemudian menciumi wajah tampan nan gembul putranya yang tidak lagi mau di gendong seperti bayi. Theo bahkan juga sudah bisa tengkurap dengan kepala tegak. Pertumbuhan-nya memang sangat cepat dan pesat.
“Anak ganteng daddy gimana hari ini? Nggak rewel kan?” Tanya Stefan pada Theo yang terus tertawa tanpa suara.
__ADS_1
“Nggak dong daddy, Theo pintar banget. Nen-nya juga pinter.” Jawab Hana dengan senyuman lebar.
“Udah bobo?” Tanya Stefan yang kali menatap Hana dengan senyuman lembut penuh cintanya.
“Belum dad.. Theo lagi aktif banget. Dia belum bobo lagi..” Hana menjawab lagi.
“Uuhh.. Begitu ya? Jagoan daddy udah hebat banget ya sekarang? Udah kuat yah?”
“Aooo..” Tiba tiba Theo menyauti pertanyaan Stefan. Theo bahkan juga menyentuh wajah tampan Stefan dan mencubitnya membuat Stefan meringis.
“Eh sayang.. Di sayang dong daddy nya..” Ujar Hana dengan sangat lembut melihat Theo yang mencubit kedua pipi Stefan.
“Nggemesin banget sih anak daddy ini..” Gemas Stefan yang kemudian menciumi kedua pipi gembul Theo.
Hana tersenyum melihatnya. Meski selalu sibuk dengan perusahaan-nya Stefan tidak pernah mengabaikan-nya juga Theo. Stefan selalu bisa mengatur waktu untuk memperhatikan-nya, Theo, juga Angel.
“Aku bikinin minum yah? Kamu mau apa? Teh atau coklat panas? Ah atau kamu mau kopi?” Tanya Hana menawarkan pada Stefan.
“Oke.. Sebentar.” Angguk Hana kemudian berlalu dari balkon meninggalkan Stefan yang menggendong Theo.
Stefan terus mengajak putranya mengobrol yang juga beberapa kali di sauti oleh Theo dengan suara khas bayi yang begitu lembut bahkan hampir terdengar seperti aongan kucing. Namun tidak lama kemudian Theo pun menguap dan merengek sambil menggigiti jarinya sendiri.
“Cup cup cup anak daddy ngantuk ya? Mau nen ya? Sebentar ya sayang.. Mommy lagi bikinin kopi buat daddy..”
Tapi ucapan Stefan sama sekali tidak mempan karena akhirnya Theo tetap menangis.
“Loh kenapa? Kok nangis sayang?”
Stefan menoleh mendengar suara Hana yang muncul dengan secangkir kopi di tangan-nya.
“Ini sayang, kayanya Theo ngantuk deh.” Kata Stefan dengan raut wajah khawatir. Stefan memang seperti itu. Pria itu paling tidak bisa melihat putranya merengek apa lagi sampai menangis kencang.
__ADS_1
“Ya udah bawa masuk aja dad.. Biar aku susui.”
Stefan mengangguk kemudian segera melangkah masuk kedalam kamar mengikuti Hana yang lebih dulu melangkah di depan-nya.
Mereka berdua melangkah menuju sofa kemudian duduk disana. Stefan segera memberikan putranya pada Hana yang sudah siap untuk menyusui. Benar saja, Theo langsung memejamkan kedua matanya sembari menyusu pada Hana.
Melihat itu Stefan tersenyum geli. Pria itu meraih secangkir kopi yang Hana letakan diatas meja kemudian menyeruputnya sedikit.
“Ini maksudnya Theo mau bobo kalau udah di gendong sama daddy nya begitu?” Tanya Hana merasa geli karena putranya yang memang seperti sengaja menunggu kepulangan Stefan sebelum tidur.
“Ya.. Sepertinya begitu sayang. Mamah bilang aku juga dulu begitu. Aku bahkan sangat lengket sama papah.” Senyum Stefan meletakan secangkir kopi panasnya kemudian membelai lembut pipi gembul Theo yang begitu kuat menyusu pada Hana.
Hana hanya tersenyum mendengarnya. Hana juga merasakan sendiri bagaimana rasanya hidup tanpa kasih sayang dari orang tua. Meski memang sejak kecil suaminya hidup bergelimang harta, namun Hana yakin Stefan pasti tetap merasa kurang.
Stefan beralih menatap pada Hana yang juga sedang menatap Theo. Stefan hampir saja melupakan jika Hana tumbuh tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya karena mereka mengalami kecelakaan saat Hana masih kecil.
“Hana..” Panggil Stefan membuat Hana langsung menatapnya.
“Ya Steff..” Saut Hana pelan.
“Aku selalu berharap semoga kita berdua di beri umur panjang oleh Tuhan. Supaya kita bisa menjaga anak anak kita dengan baik.”
Hana tersenyum mendengarnya. Wanita itu menganggukkan kepalanya. Hana juga selalu berdo'a pada Tuhan agar Tuhan memberikan segala yang terbaik untuk keluarganya.
“Ya Stefan.. Kita harus memastikan segala yang terbaik untuk Angel dan Theo. Mungkin juga adik adik Angel dan Theo nanti.”
“Memangnya kamu pengin punya anak berapa? Apakah Theo dan Angel masih belum cukup?” Tanya Stefan sambil memijat pelan bahu Hana.
“Aku sih se dikasihnya sama Tuhan. Berapapun aku akan sangat mensyukurinya.” Jawab Hana pelan.
“Baiklah kalau begitu. Itu artinya kamu harus siap melayaniku sesering mungkin sayang..”
__ADS_1
“Yee.. Maunya.” Sindir Hana membuat Stefan tertawa.