ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 240


__ADS_3

Seharian ini dokter Rania tidak bisa tenang bekerja karena terus memikirkan Alan. Dokter cantik itu juga merasa sangat menyesal karena memberitahu Alan apa yang sebenarnya. Apa lagi setelah meninggalkan-nya kemarin ponsel Alan sama sekali tidak aktif. Dokter Rania ingin datang langsung kerumah Alan sebenarnya. Tapi kemudian dokter Rania berpikir mungkin Alan membutuhkan waktu untuk sendiri.


“Ya Tuhan.. Semoga saja Alan enggak melakukan hal yang macam macam.” Gumam dokter Rania.


Karena tidak tenang terus memikirkan Alan, setelah pulang dari rumah sakit dokter Rania pun memilih untuk langsung mendatangi kediaman keluarga Alan. Dokter cantik itu ingin memastikan sendiri bahwa Alan dalam keadaan baik baik saja.


Kedatangan dokter Rania disambut dengan sangat ramah oleh ibu. Ibu bahkan langsung menuntun dokter Rania untuk masuk kedalam rumah kemudian mempersilahkan untuk duduk di ruang tamu.


“Sebentar nak dokter, ibu akan buatkan teh. Kebetulan ibu juga baru saja membuat camilan kesukaan Alan.” Katanya dengan penuh semangat kemudian berlalu dari hadapan dokter Rania tanpa mau mendengarkan dokter Rania yang sudah membuka mulut hendak mengatakan sesuatu. Namun karena ibu yang sudah berlalu, dokter Rania pun mengurungkan niatnya untuk berbicara dan hanya bisa menghela napas.


Tidak lama ibu kembali dengan secangkir teh hangat diatas nampan yang dibawanya serta sepiring kue disamping cangkir tersebut.


“Silahkan di cicipi dokter. Alan sangat menyukai kue ini. Semoga saja dokter juga suka.” Ujar ibu tersenyum sambil menyuguhkan teh dan sepiring kue buatan-nya di atas meja di depan dokter Rania.


Dokter Rania tersenyum. Kehangatan sikap ibu membuat dokter Rania tiba tiba teringat dengan mendiang kedua orang tuanya yang selalu mendukung dan menyemangatinya dulu.


“Ya bu.. Terimakasih. Oh ya bu, apa Alan sudah pulang?” Jawab dokter Rania tersenyum manis kemudian menanyakan tentang Alan pada ibu.


“Belum nak dokter. Alan belum pulang. Biasanya sih jam segini sudah dirumah. Mungkin sebentar lagi dia pulang.” Jawab ibu masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


Dokter cantik itu menghela napas pelan. Sejak kemaren sore Alan tidak bisa dihubungi. Bahkan semalam Alan menolak telepon darinya sebelum akhirnya nomor Alan tidak lagi aktif.


“Eemm bu, apa kemarin Alan terlihat marah saat pulang?”

__ADS_1


Ibu terdiam dan mengeryit bingung mendengar pertanyaan dokter cantik itu namun kemudian tertawa merasa lucu. Bagaimana mungkin Alan marah sedang ibu sendiri tau mereka berdua kemarin bersama.


“Tidak dong dokter. Alan biasa saja. Dia bahkan bilang dia baru saja jalan bersama dokter.” Jawab ibu.


“Lalu semalam..”


Suara motor Alan membuat dokter Rania tidak lagi melanjutkan pertanyaan-nya. Mendadak jantungnya langsung berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Dokter Rania khawatir Alan akan marah marah padanya didepan ibu.


“Itu Alan pulang.” Senyum ibu yang sama sekali tidak bisa membaca raut ke khawatiran di wajah cantik dokter Rania.


“Ah, iya. bu..”


“Aku pulang..” Alan masuk kedalam rumah dan langsung menyalimi ibunya. Pria itu terlihat tenang meski ada dokter Rania disana. Alan juga berusaha untuk menutupi segalanya dari ibunya. Alan belum ingin ibunya tau tentang apa yang sudah Alan ketahui tentang Stefan dari dokter Rania kemarin sore.


“Ah ya bu, boleh. Tapi jangan yang hangat ya bu. Es teh saja.” Jawab Alan tersenyum manis pada ibunya.


Sementara dokter Rania, wanita itu mendadak kikuk sendiri berhadapan langsung dengan Alan. Rasa khawatir juga terus menggerogotinya akan sikap Alan yang mungkin saja berubah padanya karena menganggap dokter Rania bersekongkol menutupi kebohongan Stefan.


“Alan aku..”


“Kamu juga berniat untuk memberitahu ibuku tentang apa yang selama ini kalian tutupi?” Tanya Alan menyela apa yang ingin dikatakan oleh dokter Rania.


Dokter Rania menggelengkan kepalanya mendengar apa yang di pertanyakan oleh Alan padanya. Karena memang kedatangan-nya sama sekali tidak bermaksud untuk memberitahu tentang siapa pelaku yang menabrak Alan malam itu pada ibu Alan.

__ADS_1


“Enggak Alan. Aku sama sekali nggak ada maksud untuk memberitahu ibu. Kamu salah kalau menganggap aku..”


“Lalu untuk apa? Untuk apa kamu datang kesini?”. Lagi, Alan menyela apa yang ingin dokter cantik itu katakan dengan pertanyaan-nya yang cukup menohok hati.


Dokter Rania diam. Wanita itu pikir Alan akan memahami penjelasan-nya kemarin sore setelah berpikir semalaman. Tapi nyatanya Alan justru bersikap begitu sinis padanya.


“Jujur aku kecewa sama kamu. Aku pikir kamu baik dan tulus. Tapi nyatanya kamu juga di bayarkan oleh Stefan Devandra sehingga kamu juga menutupi apa yang kamu tau selama ini? Ternyata uang itu memang bisa menutup hati nurani seseorang yah?”


Dokter Rania menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan apa yang Alan katakan. Hanya karena dokter Rania ikut menutupi apa yang terjadi sebenarnya semua kebaikan-nya langsung di anggap hanya demi uang semata. Padahal pada kenyataan-nya dokter Rania sama sekali tidak mau menerima uang dari Stefan. Adapun Stefan memberikan uang itu hanya untuk obat obat yang Alan butuhkan yang memang harganya tidak murah. Sedang untuk jasa merawat Alan, dokter Rania sama sekali tidak mengharap imbalan apapun. Baginya cukup melihat kesembuhan Alan saja itu sudah menjadi imbalan atas kerja kerasnya merawat Alan seorang diri. Dokter Rania tulus melakukan semuanya tanpa sedikitpun mengharap bayaran uang dari Stefan yang mempercayakan kesembuhan Alan padanya.


“Enggak Alan. Kamu salah kalau menganggap aku seperti itu. Aku tidak sepeserpun menerima uang dari Stefan. Untuk obat mungkin memang Stefan yang memberikan karena memang harga obat itu tidak murah. Bahkan harganya bisa dua kali lipat dari gajiku sebagai dokter Alan.”


Alan terkejut. Gaji dokter cantik itu saja pasti sudah mahal. Dan sekarang Alan mendengar obat untuknya bisa lebih dua kali lipat dari obatnya.


“Kenapa sih kamu nggak ngerti juga. Aku sudah jelaskan semuanya. Kalau kamu menyalahkan Stefan, baiknya kamu pikirkan dulu apa yang sudah Stefan lakukan untuk kebaikan kamu juga keluarga kamu Alan. Permisi.”


Tidak bisa menahan emosi dan kecewanya karena apa yang Alan katakan, dokter Rania pun langsung bangkit dari duduknya. Dokter cantik itu kemudian berlalu tanpa berpamitan pada ibu yang sedang berada di dapur untuk membuatkan teh yang di inginkan oleh Alan.


Sementara Alan, pria itu terdiam. Ingatan tentang saat dirinya memukul Stefan bahkan sampai Hana yang menangis menjelaskan padanya kembali berputar di benaknya. Alan kemudian berpikir entah berapa rupiah yang sudan Stefan keluarkan untuknya dan keluarganya selama ini. Alan juga berpikir masih pantaskah dirinya menuntut mengingat semua yang sudah Stefan lakukan untuknya juga keluarganya.


“Loh nak, dokter Ranianya mana?” Tanya ibu yang berhasil membuyarkan semua pemikiran Alan.


Alan langsung mengangkat kepalanya menatap ibu yang terlihat kebingungan.

__ADS_1


“Eemm.. Dokter Rania pulang bu..” Jawab Alan sekenanya.


__ADS_2