ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 270


__ADS_3

Stefan berdecak saat Rico tiba tiba menyerahkan undangan yang di kirim oleh sekolah tempat Amira dan Tristan menimba ilmu. Jika saja bukan karena rasa tanggung jawabnya pada Amira sebagai pelaku yang menabrak Alan, Stefan tidak akan mau menjadi donatur di sekolah itu.


“Apa kamu ada waktu untuk mewakili saya datang ke acara itu Rico?” Tanya Stefan yang merasa malas hanya untuk menyentuh dan membuka undangan tersebut. Stefan tau Williana juga adalah donatur di sana yang artinya Williana juga akan hadir di acara tersebut.


“Tentu saja tuan.” Jawab Rico sedikit menganggukkan kepalanya.


“Baik kalau begitu, tolong kamu datang sebagai perwakilan dari perusahaan kita.” Ujar Stefan.


“Baik tuan. Kalau begitu saya permisi untuk kembali bekerja.”


“Ya.. Silahkan.” Angguk pelan Stefan mempersilahkan.


Rico kemudian kembali keluar dari ruangan Stefan. Stefan benar benar tidak tau kenapa pihak sekolah harus mengundang para donatur untuk hadir di acara perpisahan siswa siswi mereka. Acara yang menurut Stefan sangat tidak penting untuk dia hadiri. Apa lagi jika Stefan juga harus mengajak Theo dan Hana juga Angel. Itu pasti akan sangat merepotkan sekali untuknya juga Hana.


Stefan menghela napas kemudian mengangkat pergelangan tangan kirinya menilik waktu melalui jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Stefan mengeryit. Waktu makan siang sebentar lagi akan tiba.


Enggan untuk menyentuh lagi berkas berkas di atas mejanya, Stefan pun memilih untuk meraih ponselnya. Pria itu mencari kontak Hana kemudian segera menghubungi istri tercintanya itu. Stefan menunggu video call nya di angkat oleh Hana, namun sampai dua kali menelepon via video call Hana sama sekali tidak mengangkatnya. Hal itu membuat Stefan mengeryit bingung. Tidak biasanya Hana mengabaikan telepon darinya.


“Apa mungkin Hana sedang kewalahan mengurus Theo?” Pertanyaan penuh rasa khawatir itu langsung memenuhi benak Stefan.


Stefan menghela napas pelan kemudian segera menghubungi Sera untuk menanyakan sedang apa Hana sekarang sehingga tidak mengangkat telepon darinya.


“Halo mah.. Mamah, Hana sedang apa mah? kok aku telepon sampai dua kali nggak di angkat juga?”


Begitu Sera mengangkat telepon-nya Stefan langsung menodongnya dengan pertanyaan tentang Hana.


“Ya nak.. Mamah sedang dalam perjalanan menuju sekolah Angel. Jadi mamah enggak tau Hana sedang apa sekarang. Tapi tadi saat mamah mau berangkat Hana sedang menyusui Theo di taman belakang rumah.” Jawab Sera dari seberang telepon.

__ADS_1


Stefan memejamkan kedua matanya. Rasa khawatirnya benar benar tidak bisa di bendung lagi. Stefan takut sesuatu terjadi pada Hana dirumah.


“Ya sudah kalau begitu mah, aku...”


“Stefan, kamu tidak perlu begitu khawatir. Hana dirumah tidak sendirian. Ada para body guard dan pelayan dirumah yang pasti akan menjaga dan membantu Hana.” Sela Sera yang bisa menebak bahwa putranya sedang sangat khawatir karena Hana tidak mengangkat telepon darinya.


Stefan menghela napas pelan. Stefan tidak bisa tenang sebelum memastikan sendiri bahwa Hana dan Theo baik baik saja sekarang.


“Ya mah..” Balas Stefan pelan.


“Ya sudah, kamu jangan lupa makan siang ya.. Mamah tutup dulu telepon-nya.”


“Ya mah.. Mamah hati hati di jalan.”


“Ya sayang..” Balas Sera kemudian segera menutup sambungan telepon-nya dengan Stefan.


Stefan juga tidak lupa memberitahu Rico tentang kepulangan mendadaknya. Stefan menyuruh agar Rico menggantikan-nya nanti saat rapat setelah makan siang di langsungkan.


Stefan melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan diatas rata rata. Pria itu benar benar merasa sangat khawatir pada Hana karena Hana tidak mengangkat telepon darinya. Padahal biasanya Hana langsung mengangkatnya tanpa Stefan menunggu lama. Bahkan Hana sama sekali tidak balik menelepon-nya sekarang.


Tidak sabar ingin cepat sampai di kediaman-nya, Stefan pun menambah kecepatan mobil yang di kendarainya. Beruntungnya siang ini jalanan tidak begitu padat karena waktu makan siang memang belum tiba.


Dalam waktu singkat mobil Stefan sampai didepan gerbang kediaman-nya. Stefan membunyikan klakson mobilnya beberapa kali membuat pak satpam dengan gerakan cepat langsung membukakan pintu gerbang tersebut.


Kepulangan Stefan tiba tiba siang ini membuat para body guard juga pelayan bertanya tanya. Apa lagi melihat Stefan yang begitu sangat buru buru masuk kedalam rumahnya dengan wajah khawatir. Itu membuat para pekerjanya kebingungan.


“Apa ada sesuatu yang terjadi?” Tanya salah seorang body guard pada teman teman-nya yang lain.

__ADS_1


Semua body guard disana hanya bisa menggelengkan kepalanya karena memang tidak ada apapun yang terjadi dirumah mewah itu.


Didalam rumah, Stefan melangkah lebar menuju tangga. Namun langkahnya terhenti ketika mendapati tiga pelayan sedang sibuk menyiapkan makan siang di meja makan.


“Kalian.” Panggil Stefan membuat tiga pelayan tersebut kompak menoleh padanya.


“Kami tuan..” Saut salah satu dari mereka. Ketiganya kompak menundukan kepala sebagai rasa hormatnya pada Stefan sebagai tuan-nya.


“Dimana Hana?” Tanya Stefan kemudian.


“Nyonya baru beberapa menit naik keatas tuan. Mungkin nyonya mau menidurkan Tuan muda Theo tuan.” Jawab pelayan yang sejak tadi mewakili dua teman-nya berbicara pada Stefan.


Setelah mendengar jawaban dari pelayan-nya Stefan pun melanjutkan langkahnya menuju tangga. Pria itu menaiki satu persatu anak tangga dengan cepat menuju lantai dua.


Begitu sampai didepan pintu kamarnya, Stefan segera membukanya dengan pelan. Pandangan-nya langsung dia sapukan ke seluruh sudut kamarnya. Stefan menghela napas merasa lega begitu mendapati Hana yang sedang berbaring diatas tempat tidur dengan Theo yang berada di dekapan-nya.


Stefan kemudian melangkah masuk kedalam dan menutup kembali pintu kamarnya dengan sangat pelan dan hati hati. Stefan pikir sesuatu sedang terjadi. Stefan juga berpikir Hana sedang sangat kewalahan mengurusi Theo sendiri sehingga sampai tidak bisa mengangkat telepon darinya.


Stefan mendekat pada Hana dan Theo yang begitu tenang memejamkan kedua matanya. Pria itu mendudukan dirinya di tepi ranjang tepat disamping kaki Hana yang tertidur miring sambil mendekap Theo. Hana bahkan membiarkan dadanya menyembul keluar. Stefan menebak mungkin Hana tertidur saat sedang menyusui Theo yang akhirnya terlelap karena rasa nyaman dalam dekapan Hana.


Tidak tega melihat istrinya yang begitu kelelahan, Stefan pun menarik pelan selimut yang berada di bawah kaki Hana kemudian menyelimuti istri juga putranya dengan lembut. Namun ternyata apa yang di lakukan Stefan membuat Hana merasa terusik sehingga Hana terbangun dari tidurnya yang baru sebentar itu.


“Stefan..” Lirih Hana melihat Stefan yang sedang menyelimutinya.


“Tidak apa apa. Tidurlah.. Aku tau kamu lelah sayang..” Ujar Stefan dengan suara berbisik karena tidak mau membuat putranya terbangun kemudian menangis.


Hana tersenyum dan menurut saja. Wanita itu kemudian kembali memejamkan kedua matanya karena rasa kantuk juga lelah yang begitu tidak bisa dia tahan.

__ADS_1


Sedangkan Stefan, pria itu mulai melepaskan jas, dasi, sepatu, juga kaos kakinya lalu naik keatas ranjang bergabung dengan Hana juga putranya untuk sama sama tidur siang. Pria itu memposisikan dirinya dibelakang Hana, memeluk mesra perut Hana yang sudah kembali terlelap dengan damai.


__ADS_2