
Stefan baru saja mendudukan dirinya di kursi kerjanya saat ponsel miliknya berdering. Stefan mengeryit kemudian meraih benda pipih miliknya itu.
Stefan tersenyum saat mendapati nama Hana yang tertera dilayar ponselnya kemudian segera mengangkat telepon dari Hana.
“Ada apa Hana?” Tanya Stefan tanpa basa basi begitu mengangkat telepon dari Hana.
“Stefan.. Ya Tuhan.. Alan Stefan, Alan.. Aku harus menjenguknya..”
Senyuman dibibir Stefan langsung berganti dengan wajah tanpa ekspresi begitu mendengar suara Hana yang begitu sangat antusias membicarakan Alan.
“Kenapa?” Tanya Stefan malas.
Stefan bisa menebak dari siapa Hana tau tentang perkembangan baik Alan. Siapa lagi kalau bukan Aisha atau Amira adik Alan. Tidak mungkin jika dokter Rania yang memberitahu Hana.
“Aisha tadi meneleponku Stefan. Dia bilang Alan mulai ada perkembangan baik. Aku harus melihatnya.”
Stefan berdecak dan memejamkan sesaat kedua matanya. Padahal Stefan baru saja merasa bahagia karena Stefan menganggap Hana adalah miliknya. Tapi sekarang, Hana bahkan begitu antusias ingin sekali melihat keadaan Alan.
“Stefan..?” Panggil Hana karena Stefan yang diam saja.
“Boleh kan aku pergi menjenguk Alan?”
Stefan masih saja diam. Hana bertanya padanya seperti sedang meminta izin darinya. Dan Stefan sangat menghargai itu.
“Boleh.” Jawab Stefan dingin.
“Terimakasih Stefan.. Aku tidak akan lama, aku janji.”
“Tunggu aku pulang Hana. Aku yang akan mengantar kamu ke tempat Alan. Dia sudah tidak lagi dirumah sakit.” Kata Stefan tegas.
“Apa?” Hana terkejut mendengarnya. Wanita itu tidak tau jika Alan sudah di pindahkan dari rumah sakit ke tempat lain.
“Lalu dimana Alan sekarang Stefan?” Tanya Hana penasaran.
“Nanti juga kamu akan tau.” Jawab Stefan kemudian langsung memutuskan sambungan telepon-nya.
Stefan berdecak. Ketakutan semakin menggerogoti hatinya sekarang. Hana bahkan sudah tau perihal tentang perkembangan baik kondisi Alan. Hana juga terdengar sangat bahagia dan antusias.
“Enggak. Apapun yang terjadi Hana tetaplah istriku. Dan dia harus tetap berada di sisiku suka atau tidak.” Gumam Stefan penuh tekad.
Stefan tidak perduli apapun yang terjadi nanti. Yang Stefan mau hanya Hana tetap ada di sisinya. Dan Stefan akan menyingkirkan siapa saja yang berani mencoba mengambil miliknya.
__ADS_1
Stefan kemudian menghubungi Rico menyuruhnya untuk menghadap padanya. Tidak lama kemudian Rico masuk dan duduk tepat dikursi didepan meja kerja Stefan.
“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Tanya Rico pelan.
“Ya Rico. Kamu utus beberapa orang untuk berjaga dirumah dokter Rania. Pastikan semuanya aman dan langsung beritahu saya jika ada yang mencurigakan.” Perintah Stefan telak.
“Baik tuan. Ada lagi?”
“Ya, kamu wakili saya datang menemui Williana malam ini untuk membahas tentang kerja sama kita dengan perusahaan mereka. Saya ada urusan mendadak. Itu saja.”
“Ya tuan. Kalau begitu saya permisi tuan.”
“Ya..”
Rico bangkit dari duduknya kemudian berlalu keluar dari ruangan Stefan. Pria itu menghela napas. Padahal tadi pagi Stefan terlihat sangat berbunga bunga. Tapi sekarang bahkan wajahnya seperti orang yang sedang sangat kesal. Stefan bahkan tidak biasanya menyuruh Rico untuk mewakilinya saat bertemu dengan Williana. Karena Williana memang selalu ingin Stefan sendiri yang datang dan mereka bisa membahasnya bersama karena Williana yang memang selalu berusaha menarik perhatian Stefan.
Namun Rico tidak ingin ambil pusing. Baginya melakukan yang terbaik untuk Stefan adalah tugasnya. Dan Rico akan berusaha sebaik mungkin demi menyenangkan hati bosnya itu.
------------
“Mommy...” Panggil Angel pada Hana yang sedang menemaninya menatap langit jingga sore ini.
“Ya sayang..” Saut Hana menoleh pada Angel yang duduk disampingnya di ayunan kursi panjang di balkon lantai dua rumah mewah itu.
“Kalau mommy Lusi masih hidup sekarang apa mommy Hana juga akan tetap jadi mommy nya Angel?”
Hana tertawa mendengar apa yang Angel pertanyakan. Jika Lusi masih ada sekarang Hana tidak mungkin menjadi bagian dari keluarga Devandra. Mungkin Hana sedang kebingungan bahkan sedang putus asa mencari uang untuk pengobatan Alan.
“Dengar ya Angel.. Kalau misalnya sekarang mommy Lusi masih ada, daddy nggak mungkin menikah lagi dan mencarikan mommy untuk Angel. Daddy pasti masih dengan mommy Lusi. Dan Angel akan sangat bahagia..” Senyum Hana menjawab.
“Tapi sekarang Angel sangat bahagia kok mommy. Walaupun mommy Lusi nggak bisa ada disamping Angel, tapi ada mommy yang selalu ada disamping Angel.” Ujar Angel dengan senyuman lebarnya.
“Ya ya ya.. Baiklah Angel Devandra, sekarang lebih baik kamu bersih bersih sebelum daddy pulang. Bukankah kamu mau ikut daddy dan mommy pergi setelah ini?”
“Oke mommy..”
Dengan semangat Angel turun dari ayunan kursi panjang itu kemudian berlari kecil masuk kedalam menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Hana yang melihat itu tersenyum. Hana benar benar merasa sangat tersentuh dengan pertanyaan Angel. Hana tau seberapa baiknya dirinya untuk Angel, gadis kecil itu pasti tetap ingin merasakan bagaimana lembutnya kasih sayang ibu kandungnya sendiri. Apa lagi sejak dilahirkan Angel tidak pernah merasakan hangatnya dekapan Lusi. Setidaknya begitu yang Hana tau dari Sera.
Deru suara mobil Stefan menarik perhatian Hana. Hana melangkah ke tepi balkon dan tersenyum ketika melihat Stefan turun dari mobil mewahnya. Hana benar benar tidak sabar ingin segera menjenguk Alan. Apa lagi Stefan juga berniat ikut dengan-nya.
__ADS_1
Hana berlalu dari balkon berniat menyambut kepulangan Stefan. Wanita itu berlari menuruni anak tangga dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.
Stefan yang melihat Hana berlarian mendekat padanya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya berdecak. Stefan tau Hana seperti itu karena Stefan mengiyakan ke inginan-nya untuk menjenguk Alan.
“Hay Stefan..” Sapa Hana tersenyum lebar begitu sampai didepan Stefan.
Stefan diam dengan tatapan datarnya. Pria itu merasa kesal karena Hana tersenyum bukan karena dirinya melainkan karena tau Alan yang sudah mulai membaik.
Malas menyauti sapaan Hana, Stefan pun melangkah melewati Hana begitu saja. Bahkan saking kesalnya Stefan sedikitpun merasa tidak tertarik dengan senyuman manis Hana.
Melihat sikap dingin Stefan Hana berdecak. Memang bukan kali ini saja Stefan seperti itu. Tapi menurut Hana itu tetap sangat menyebalkan.
“Padahal pagi tadi nggak begini tuh bule.. Hadeh.. Dasar bunglon.” Dumel Hana kemudian melangkah mengikuti Stefan.
Hana melangkah cepat dibelakang Stefan mengejar Stefan yang terus saja diam dan sama sekali tidak mengatakan apapun padanya.
“Aku sudah mandi Stefan..” Ujar Hana mencoba menarik perhatian Stefan namun Stefan tetap saja diam melangkah lebar mengabaikan-nya.
“Aku juga mengajak Angel untuk ikut serta dengan kita. Dia sekarang sedang mandi dan bersiap siap.”
Ucapan Hana kali ini berhasil menghentikan langkah Stefan. Pria itu bahkan menurunkan lagi satu kakinya yang hendak menaiki anak tangga pertama menuju lantai dua.
Stefan memutar tubuhnya menatap Hana dengan ekspresi datarnya.
Hana terus berusaha mengembangkan senyuman dibibirnya meskipun Stefan menatapnya tajam.
“Untuk apa kamu mengajak Angel?” Tanya Stefan dingin.
Hana menelan ludah. Hana pikir Stefan akan senang jika Hana mengajak ikut serta putrinya.
“Memangnya kenapa kalau Angel ikut Stefan?”
Stefan berdecak. Itu suara Sera. Dan jika Sera sudah ikut andil dalam berbicara, Stefan tidak akan bisa beralasan banyak. Apa lagi jika itu menyangkut Angel.
“Sudahlah, terserah kamu saja Hana.”
Malas berdebat, Stefan pun berbalik dan menaiki anak tangga dengan cepat meninggalkan Hana yang hanya diam saja.
Sera menggeleng melihat tingkah putra tunggalnya. Wanita itu kemudian menghampiri Hana yang berdiri didepan tangga.
”Dia itu sebenarnya cuma mau berduaan sama kamu Hana. Dasar laki laki, anaknya mau di abaikan begitu saja.”
__ADS_1
Hana hanya tertawa kikuk. Jelas sekali Hana melihat kemarahan Stefan dari tatapan matanya. Sepertinya Stefan memang tidak ingin Angel ikut karena hal yang lain dan bukan karena hanya ingin berdua dengan-nya.