
Hana semakin merasa bosan karena hanya mengikuti Stefan saja. Saat Stefan meeting Hana ikut serta. Bahkan saat Stefan berbicara dengan Boby di ruang rapat Hana pun dengan setia mendampingi sambil menyantap buah yang dibawanya dari rumah.
Hana benar benar tidak menyangka Stefan bisa tahan dengan aktivitas yang menurut Hana sangat membosankan itu.
“Abis ini mau ngapain lagi?” Tanya Hana setelah Boby pamit dan keluar dari ruang rapat meninggalkan Hana dan Stefan disana.
Stefan tersenyum samar. Stefan sudah menyarankan untuk Hana menunggu di ruangan-nya saja sebenarnya. Tapi Hana menolak dan bersikukuh untuk mengikuti apapun yang Stefan lakukan hari ini.
“Aku masih ada dua pertemuan lagi dengan rekan bisnisku setelah ini Hana.” Jawab Stefan menatap Hana yang sedang duduk santai di kursi.
Hana berdecak. Malas sekali rasanya mengikuti Stefan. Tapi Hana tidak bisa menahan diri akan ke ingin tahuan-nya yang begitu besar terhadap siapa saja yang dekat dengan Stefan khususnya wanita. Hana khawatir ada banyak wanita sejenis Williana yang mendekati Stefan tanpa sepengetahuan-nya.
“Sepertinya akan lebih baik kalau kamu aku antar pulang sayang..” Ujar Stefan dengan seringaian di bibirnya. Stefan tau Hana sudah tidak betah karena terus mengikuti semua aktivitasnya sejak pagi.
“Enggak. Aku tetap mau ikut sama kamu.” Tegas Hana menolak saran Stefan.
Stefan menggelengkan kepalanya. Hana benar benar sangat keras kepala.
“Ya sudahlah terserah kamu saja.” Ujar Stefan pasrah.
Stefan kemudian mengajak Hana keluar dari ruang rapat menuju ruangan-nya. Dan saat waktu makan siang tiba Stefan mengajak untuk Hana keluar mencari makan siang di restoran terdekat.
“Stefan aku nggak mau makan disini.” Ujar Hana begitu mobil Stefan hendak masuk ke parkiran depan restoran yang Stefan tuju.
__ADS_1
“Kenapa?” Tanya Stefan menoleh pada Hana sembari menginjak rem perlahan.
“Aku pengin makan masakan padang. Sepertinya sambel ijonya akan sangat enak dengan sayur daun singkong nya.” Jawab Hana membayangkan makanan yang sedang sangat di inginkan-nya itu.
Stefan mengeryit. Stefan sebenarnya tidak terlalu suka dengan masakan yang terlalu banyak bumbu. Sedang masakan padang sangat khas dengan bumbu kental melimpah yang tentu juga sangat banyak mengandung lemak. Namun Stefan juga tidak mungkin menolak mengingat bagaimana tingkah istrinya akhir akhir ini.
“Ayo Stefan kita ke restoran padang saja.. Aku nggak mau disini..” Pinta Hana menatap Stefan penuh harap.
Stefan menarik napas dalam dalam. Setiap hari sejak Hana hamil Stefan benar benar melatih kesabaran-nya sendiri. Stefan berusaha memperluas danau sabarnya meskipun dengan sangat terpaksa karena Hana juga sering menindasnya.
“Baiklah..” Angguk Stefan pasrah.
“Yey.. Makasih suamiku..” Senang Hana yang kemudian memberikan kecupan singkat di pipi Stefan.
Stefan hanya tersenyum tipis. Setidaknya ciuman Hana di pipinya menjadi penghibur hatinya yang selalu merasa di tindas oleh istrinya sendiri.
Begitu sudah berada di restoran padang, Hana memesan hampir semua menu yang ada di daftar buku menu. Hal itu membuat Stefan hanya bisa menelan ludah menatap sajian didepan-nya yang berlumur bumbu khas padang yang begitu banyak dan melimpah. Rasa lapar Stefan bahkan langsung sirna melihat semua yang ada di depan-nya.
“Selamat makan suamiku.. Selamat makan juga anakku..” Senyum lebar Hana menatap Stefan sebentar kemudian menunduk beralih menatap dan mengusap lembut perut ratanya.
Stefan meringis melihat istrinya yang begitu lahap menyantap makanan khas padang itu. Stefan bahkan merasa ikut kenyang melihat cara istrinya makan.
Stefan meraih segelas teh hangat yang di pesan-nya dan menyeruputnya sedikit demi sedikit sembari memperhatikan cara Hana makan.
__ADS_1
Stefan bahkan juga sampai ber angan angan akan seperti apa tingkah anaknya jika lahir dari rahim Hana nanti mengingat tingkah ajaib Hana akhir akhir ini. Stefan menebak nebak sendiri mungkin saja anaknya akan begitu luar biasa tingkahnya. Bisa saja menuruni tingkahnya atau mungkin tingkah Hana. Namun apapun itu Stefan tetap merasa bersyukur karena sebentar lagi dirinya akan menjadi daddy yang sebenarnya. Stefan akan benar benar memiliki anak yang tentu adalah darah dagingnya sendiri.
Setelah Hana menyelesaikan santapan-nya, Stefan langsung mengajak Hana untuk bertemu dengan rekan bisnisnya.
Hana sempat protes pada Stefan karena ternyata rekan bisnis Stefan adalah wanita sexy yang bahkan cara berpakaian-nya melebihi cara berpakaian Williana.
“Lain kali kalau niat mau berbisnis dan bertemu dengan orang penting itu bajunya di cek dulu nona. Jahitan-nya sudah selesai atau belum.” Sindir Hana setelah Stefan selesai membicarakan tentang kerja samanya dengan wanita berpakaian sexy tersebut.
Stefan menahan napas sejenak merasa sangat tidak enak pada rekan bisnisnya itu karena ucapan Hana. Stefan berharap wanita itu tidak memasukkan kedalam hati apa yang Hana katakan. Karena sebenarnya Stefan sudah terbiasa berhadapan dengan wanita wanita sexy dan Stefan merasa itu bukan masalah selama pikiran-nya tidak macam macam.
Wanita itu menatap Hana dengan kedua mata menyipit tidak suka. Namun dia tetap berusaha untuk tenang karena tau siapa Hana. Wanita itu juga tidak mau mencari penyakit dengan menuruti egonya marah pada Hana yang sudah berani berkata tidak sopan padanya. Karena bisa bekerja sama dengan Stefan adalah sebuah kehormatan bagi perusahaan yang memang belum benar benar di kenal namanya di kalangan masyarakat.
“Maafkan atas ucapan istri saya nona.. Saya harap anda bisa maklum.” Ujar Stefan merasa tidak enak.
“Oh tidak apa apa tuan. Kalau begitu saya permisi. Saya harap kerja sama kita bisa membuahkan hasil yang maksimal tuan.” Balas wanita itu menutupi rasa kesalnya pada Hana dengan tersenyum ramah pada Stefan.
“Oh itu pasti.” Angguk Stefan percaya diri.
Ketika wanita itu menyodorkan tangan-nya bermaksud menyalami Stefan dan Stefan hendak membalasnya, Hana langsung mencegahnya dengan memeluk Stefan dari belakang. Hal itu membuat wanita yang adalah rekan bisnis Stefan itu langsung menarik kembali tangan-nya mengurungkan niat untuk bersalaman dengan Stefan.
Wanita itu menghela napas kasar kemudian tertawa bingung. Ingin marah tapi rasanya tidak mungkin karena Stefan pasti akan membela istri yang sangat di cintainya itu. Wanita itu juga tidak mau jika sampai Stefan membatalkan kerja sama dengan-nya.
“Mari tuan, nyonya..” Katanya kemudian berlalu dari restoran tempat mereka bertemu.
__ADS_1
Sementara Stefan, pria itu benar benar dibuat tidak berdaya dengan sikap keterlaluan Hana. Hana bahkan begitu berani menghina rekan bisnisnya dengan begitu terang terangan.
“Ya Tuhan... Tolong perluas lagi kesabaranku..”