
“Kak Stefan...”
Suara Selena sama sekali tidak membuat Stefan bergerak. Pria itu terus menangis dalam diam dengan kepala menunduk di depan ruang operasi tempat Hana sedang di tangani oleh dokter.
Selena dan Gabriel memang datang ke hotel tempat Stefan dan Hana menginap karena ada sesuatu yang mereka ingin berikan pada Hana. Tapi begitu sampai di hotel keduanya mendapat informasi dari pihak hotel bahwa Stefan sedang membawa Hana kerumah sakit karena suatu insiden yang pihak hotel sendiri belum tau apa.
Selena dan Gabriel saling menatap. Mereka berdua tidak tau harus bagaimana sekarang karena ini adalah pertama kali bagi mereka melihat Stefan begitu sangat terpuruk.
Selena kemudian segera menghubungi kedua orang tuanya untuk memberitahukan tentang apa yang terjadi pada Hana sekarang.
Gabriel menyentuh lembut bahu Stefan membuat pria itu menoleh padanya. Gabriel kemudian segera menuliskan sesuatu di buku kecil yang dibawanya dan menunjukan-nya pada Stefan.
“Kak Hana akan baik baik saja.” Tulis Gabriel bertujuan untuk menenangkan Stefan.
Stefan hanya diam saja. Saat ini tidak ada siapapun yang bisa membuatnya tenang. Ketakutan akan kehilangan terus menggerogoti perasaan-nya membuat Stefan tidak berdaya.
-----------
“Oma kenapa?” Tanya Angel menatap Sera yang sama sekali tidak menyentuh makan siangnya. Saat ini keduanya sedang makan siang di sebuah restoran. Keduanya baru saja pulang dari sekolah Angel.
Sera menghela napas pelan. Sejak pagi perasaan-nya terus terasa tidak enak. Jantungnya terus berdebar begitu kencang membuatnya merasa tidak nyaman. Pikiran Sera juga terus tertuju pada Hana dan Stefan.
Sera memang tau Hana dan Stefan akan segera pulang. Tentu saja karena Stefan yang sudah memberitahunya. Namun Stefan melarang Sera untuk memberitahu pada Angel karena Stefan dan Hana bermaksud memberikan kejutan pada gadis kecil mereka.
“Oma sakit?” Tanya Angel lagi.
Sera tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya. Sera tidak mungkin menceritakan kegundahan hatinya pada Angel ataupun mbak Titin yang berada di antara dirinya dan Angel.
“Oma nggak papa sayang.” Senyum Sera disertai gelengan kepala pelan menatap Angel.
“Lebih baik sekarang cepet kamu abisin makan siangnya ya sayang. Sepertinya oma perlu tidur siang.”
__ADS_1
“Iya oma..” Angguk Angel kemudian kembali melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda karena bertanya pada Sera.
Sekali lagi Sera menghela napas. Stefan hanya beberapa kali menghubunginya selama di amerika. Hal itu membuat Sera kadang merasa khawatir mengingat bagaimana Gabriel yang begitu kejam dan ganas. Namun kali ini perasaan khawatir Sera berbeda dari biasanya. Sera sendiri tidak tau kenapa.
“Apa terjadi sesuatu pada mereka berdua?” Batin Sera bertanya tanya sendiri.
Sera menelan ludah. Jika memang benar sesuatu telah menimpa Hana atau Stefan, Maxime pasti sudah menghubunginya.
“Sudahlah, nanti coba aku telepon Stefan saja.” Sera kembali membatin. Wanita itu tidak ingin memperlihatkan apa yang sedang di rasakan-nya pada Angel. Karena Sera sendiri juga tau bagaimana Angel yang sudah sangat merindukan mommy juga daddy nya.
Sera kemudian menatap pada Angel yang sedang menyantap makan siangnya. Sera berharap tidak ada suatu apapun yang menimpa Stefan maupun Hana sampai keduanya kembali lagi ke indonesia.
“Ya Tuhan.. Hamba mohon, lindungi putra dan menantu juga calon cucu hamba dimanapun mereka berada. Hamba sangat menyayangi mereka.” Mohon Sera dalam hati pada sang pencipta.
Setelah Angel dan mbak Titin menyelesaikan makan siangnya, Sera segera mengajak mereka untuk pulang. Tentunya setelah Sera membayar makanan yang di pesan-nya berikut dengan tips untuk pelayan di restoran tersebut.
Dalam perjalanan menuju pulang Sera merasa semakin tidak tenang. Napas wanita itu bahkan sampai tidak beraturan karena apa yang sedang di pikiran-nya.
“Ya Tuhan.. Ada apa ini?” Gumam Sera semakin merasa tidak tenang.
Angel yang melihat sang oma terlihat gelisah sendiri mengeryit. Gadis kecil itu meraih tangan Sera dan menggenggamnya lembut membuat Sera langsung menoleh padanya.
“Oma.. Angel lihat dari tadi oma sepertinya sedang tidak tenang. Emangnya ada apa sih oma?” Angel kembali mencoba menanyakan apa yang terjadi pada Sera berharap wanita itu mau mengatakan apa yang sedang dirasakan padanya.
Sera tersenyum tipis. Akhir akhir ini Angel mulai berpikir dewasa. Gadis kecilnya juga mulai peka terhadap orang orang di sekitarnya. Dan Sera merasa senang dengan pertumbuhan cucu kesayangan-nya itu.
Sera membalas genggaman lembut tangan kecil Angel. Saat ini Sera tidak dapat melakukan apa apa. Sera hanya bisa meminta perlindungan pada Tuhan untuk Stefan dan Hana yang sekarang sedang berada jauh darinya.
“Oma hanya sedang sedikit kepikiran dengan mommy dan daddy sayang.. Yah.. Mungkin karena oma terlalu kangen sama mereka.” Ujar Sera menjawab.
Angel tersenyum. Gadis itu kemudian berhambur memeluk Sera dengan gerakan pelan. Kepalanya dia sandarkan di dada Sera mencari kenyamanan disana.
__ADS_1
“Angel juga kangen banget sama mommy dan daddy oma.. Semoga saja mereka cepat pulang ya oma..” Katanya pelan dengan ekspresi sendu.
“Ya sayang.. Kita berdo'a ya semoga Tuhan selalu melindungi mommy juga daddy dan juga calon adik kamu.”
Sera membelai lembut rambut gadis kecil itu memberikan rasa nyaman.
“Ya oma...”
--------------
PRANNGG !!
Amira yang saat itu baru selesai mengganti baju dan hendak keluar dari kamarnya lagi terkejut ketika mendengar suara keras benda jatuh dari arah dapur. Khawatir dengan keadaan ibunya, Amira pun bergegas keluar dari kamarnya dan melangkah cepat menuju dapur untuk menghampiri ibu.
“Ya Tuhan.. Ibu..!!”
Amira terkejut melihat beberapa piring yang sudah jatuh dan menjadi kepingan tajam di depan kedua kaki ibunya.
Ibu menatap pada Amira dengan napas memburu. Wanita itu tidak tau kenapa sejak pagi perasaan-nya sangat tidak tenang. Apa lagi bayangan Hana juga terus berada didepan kedua matanya.
“Ya ampun bu.. Ibu kenapa? ibu sakit?” Tanya Amira langsung menghampiri ibunya dan menuntun-nya menjauh dari pecahan piring tersebut.
“Ibu nggak papa nak.. Ibu hanya tiba tiba kepikiran dengan Hana. Sudah lama sekali ibu tidak mendengar kabarnya.” Jawab Ibu menatap Amira dengan wajah sendu.
Amira menghela napas mendengarnya. Sejak Hana menikah dengan Stefan, mereka memang hanya satu kali bertemu dengan Hana. Itupun saat mereka sama sama mengunjungi Alan di rumah dokter Rania saat Alan masih sakit.
“Kita berdo'a aja ya bu.. Semoga kak Hana selalu bahagia dan baik baik saja.” Senyum Amira membalas tatapan ibunya untuk menenangkan hatinya.
Amira sendiri juga tidak tau bagaimana kabar Hana sekarang. Apa lagi sekarang dirinya juga sibuk dengan sekolah dan pekerjaan-nya.
“Coba nanti ajak Tristan deh kesana.” Gumam Amira membatin.
__ADS_1