
Stefan menghentikan mobilnya tepat didepan teras rumah dokter Rania. Disana sudah ada dokter Rania, ibu Alan, juga Amira. Mereka sudah tau Stefan dan Hana akan datang karena sebelumnya Stefan juga sudah memberitahu dokter Rania bahwa dirinya dan Hana akan datang dengan Aisha sekaligus.
“Kamu kenapa Aisha?” Tanya Hana menatap bingung pada Aisha yang tampak ketakutan menatap pada dokter Rania, ibunya, juga kakaknya Amira.
“Aku takut kak Amira marah sama aku kak..” Jawab Aisha jujur.
Hana melirik Stefan yang hanya diam saja dikursi kemudinya. Pria itu juga sempat menatap pada Aisha lewat kaca mobil didepan-nya, namun Stefan bersikap tenang seperti tidak tau arti tatapan Aisha.
“Kamu tenang aja, Amira nggak akan marah. Ada aku dan Stefan yang akan menjelaskan.” Senyum Hana menenangkan Aisha.
Amira menatap Hana ragu namun kemudian menganggukkan kepalanya percaya bahwa dirinya tidak akan terkena amukan Amira.
“Ayo turun.” Ajak Stefan kemudian.
Hana dan Aisha menurut saja. Keduanya turun dari mobil mewah Stefan bebarengan setelah Stefan turun dari mobilnya.
Aisha meraih tangan Hana dan menggenggamnya erat seperti meminta perlindungan takut jika Amira akan marah padanya.
“Hana...” Lirih ibu Alan menutup mulutnya melihat kehadiran Hana yang sudah sangat lama tidak dilihatnya. Terakhir mereka bertemu adalah sebelum Alan di operasi. Dan setelah Alan di operasi mereka benar benar tidak pernah lagi bertemu.
Hana tersenyum menatap ibu Alan. Pelan pelan Hana mendekat pada ibu Alan dengan Stefan yang mengikuti dari belakang.
“Ibu...” Senyum Hana menyalimi ibu Alan.
Ibu Alan menangis terharu saat Hana menyaliminya. Wanita itu benar benar merasa sangat berhutang segalanya pada Hana. Tidak hanya berhutang budi saja tapi juga nyawa karena Hana sudah menyelamatkan Alan.
“Ibu apa kabar?” Tanya Hana menatap ibu Alan dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya. Hana sempat merasa sangat pangling pada wanita itu karena sosoknya yang sangat berbeda. Ibu Alan tampak lebih muda dan cantik dari sebelumnya.
“Baik nak.. Kabar ibu sangat baik. Kamu sendiri bagaimana? Kamu baik baik saja kan?” Angguk ibu Alan kemudian bertanya balik pada Hana.
“Seperti yang ibu lihat. Aku baik baik saja bu.. Aku bahkan sangat baik baik saja.” Senyum Hana.
Stefan yang berada disamping Hana hanya diam saja. Stefan melirik sekilas pada dokter Rania yang tersenyum menatap ke akraban Hana dan ibu Alan.
“Ekhem.”
__ADS_1
Deheman Stefan membuat Hana tersadar bahwa disampingnya ada Stefan suaminya yang harus Hana kenalkan pada ibu Alan.
“Ah ya bu.. Perkenalkan ini Stefan. Dia suami aku bu..” Senyum Hana melirik Stefan sekilas kemudian menatap kembali pada ibu Alan yang berada didepan-nya.
Stefan tidak langsung bersuara. Pria itu menatap ibu Alan dan melirik sekilas pada dokter Rania yang berdiri disamping kanan ibu Alan. Stefan juga melirik pada Amira yang hanya diam disamping kiri ibu Alan dengan tatapan kearah lain.
Stefan merasa Amira tidak menyambut baik kedatangan-nya. Gadis itu begitu cuek tidak seperti Aisha yang sopan.
Ibu Alan menundukkan kepalanya karena Stefan yang terus saja diam. Apa lagi Stefan juga menatap pada putrinya.
“Selamat malam tuan..” Sapa pelan ibu Alan.
Merasa tidak enak karena kediaman suaminya, Hana pun meraih tangan besar Stefan menggenggamnya dan sedikit menancapkan kukunya yang sedikit panjang pada punggung tangan pria itu.
Akibatnya Stefan sedikit meringis karena apa yang Hana lakukan. Pria itu menoleh pada Hana dengan tatapan kesal. Stefan tau apa maksud Hana.
Tentu saja karena Hana ingin Stefan menyapa ramah ibu Alan.
“Eemm.. Ya, selamat malam bu..” Balas Stefan kikuk.
“Ya sudah lebih baik sekarang kita masuk kedalam.” Ajak dokter Rania yang tentu langsung di angguki setuju oleh Hana.
Mereka masuk beriringan kedalam rumah dokter Rania, kecuali Amira. Gadis itu tetap memilih untuk di teras.
Dokter Amira mengajak ibu Alan untuk mengobrol sementara Hana menemui Alan dengan Stefan yang ikut serta. Namun Stefan tidak ikut masuk kedalam kamar Alan. Pria itu hanya berdiri di ambang pintu kamar Alan menatap Hana yang perlahan mendekat pada Alan yang duduk melamun di depan jendela kaca dikamarnya malam itu.
Stefan melipat kedua tangan-nya didada menatap Hana, memastikan Hana akan baik baik saja saat berada satu ruangan dengan Alan.
“Alan...”
Alan yang sedang melamun didepan jendela langsung menoleh ketika mendengar suara Hana yang memanggilnya. Pria itu menatap tidak percaya pada Hana yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
“Hana..” Lirih Alan menatap tidak percaya pada sosok Hana yang melangkah mendekat padanya.
Alan baru saja hendak menarik dua sudut bibirnya untuk tersenyum namun saat itu juga Alan sadar bahwa Hana sudah menjadi milik orang lain. Alan sudah tidak lagi bisa berharap pada Hana.
__ADS_1
Alan menghela napas kemudian memaksa tersenyum tipis. Bagaimanapun juga Alan harus tetap terlihat baik baik saja untuk menghargai pengorbanan Hana yang rela menikah dengan Stefan.
“Hy Hana...”
Hana berhenti tepat ditengah ruangan luas kamar Alan. Hana merasa ada sesuatu yang berbeda. Tentu saja karena statusnya sekarang yang adalah istri Stefan.
Hana mencoba mengukir senyuman dibibirnya. Melihat Alan duduk dikursi roda membuatnya merasa tidak tega. Hana merasa sakit mengingat bagaimana semangatnya Alan dulu.
“Ibu sudah menceritakan semuanya sama aku Hana.. Seharusnya kamu tidak perlu melakukan itu semua. Tapi bagaimanapun juga aku tetap merasa sangat berterimakasih untuk semua yang sudah kamu lakukan. Aku mungkin tidak akan bisa mengganti semuanya sekarang. Tapi nanti Hana kalau aku sudah bisa pulih kembali aku akan giat bekerja untuk melunasi semuanya.” Ujar Alan.
Meskipun pahit juga sakit, tapi Alan berusaha untuk tersenyum. Alan tidak ingin terlihat lemah didepan Hana apa lagi disana juga ada Stefan yang mengawasinya. Kentara sekali pria itu takut jika Hana dan Alan melakukan sesuatu.
Hana menggelengkan kepalanya pelan. Atas semua yang sudah dia lakukan, sedikitpun Hana tidak pernah mengharapkan balasan. Hana tulus melakukan semuanya karena Hana sudah menganggap keluarga Alan seperti keluarganya sendiri.
“Alan kamu tidak perlu memikirkan itu. Aku tulus melakukan semuanya karena aku sayang sama kamu juga keluarga kamu.. Aku sudah menganggap kalian seperti keluargaku sendiri.” Lirih Hana menatap Alan sedih.
Alan tersenyum berusaha menahan kesakitan-nya. Alan bukan pria yang bodoh. Ucapan Hana menggariskan dengan keras bahwa cinta Alan bertepuk sebelah tangan. Hana sama sekali tidak mempunyai perasaan apa apa padanya.
“Terimakasih untuk semuanya Hana. Dan tuan.. Terimakasih.”
Kali ini Alan menatap pada Stefan yang terus berdiri di ambang pintu kamarnya. Rumor Stefan adalah pria dingin, angkuh, juga kejam Alan harap tidak benar benar nyata. Alan tidak ingin Hana sampai menderita.
Perlahan Stefan melangkah mendekat pada Alan. Pria itu bahkan berdiri menjulang tepat didepan kursi roda Alan.
Hana yang melihat itu hanya bisa diam dengan harapan Stefan tidak melontarkan kata pedasnya pada Alan.
Alan tersenyum mendongak menatap Stefan. Melihat dari sosok Hana yang semakin terlihat cantik Alan yakin Hana bahagia dengan pernikahan-nya bersama Stefan. Apa lagi Alan juga yakin Hana pasti tidak merasa kurang suatu apapun karena Stefan pasti memberikan apapun yang Hana butuhkan.
Stefan menghela napas pelan kemudian mengulurkan tangan-nya pada Alan.
“Saya Stefan Devandra, suami Hana.” Ujar Stefan memperkenalkan diri dengan bangga pada Alan.
Alan tertawa pelan kemudian menyambut uluran tangan Stefan menjabat tangan Stefan dengan erat dan mantap.
“Saya tau itu tuan. Saya Alan putra.” Balas Alan dengan senyuman.
__ADS_1
Sakit itu semakin terasa begitu Alan berjabat tangan dengan Stefan. Tapi Alan tidak ingin egois. Hana akan jauh lebih bahagia dengan Stefan. Alan sadar siapa dirinya yang bahkan untuk menggerakkan kedua kakinya saja tidak mampu. Apa lagi jika mengingat dirinya bisa kembali membuka kedua matanya juga karena Hana, dan tentunya karena uang Stefan.