
Malam ini Hana ikut terjun ke dapur khusus memasak untuk Stefan. Hana melakukan itu sebagai tanda terimakasihnya atas kejutan yang sudah Stefan berikan padanya siang ini. Disamping itu Hana juga sedang bahagia karena akhirnya bisa berkomunikasi lagi dengan keluarga Alan. Dengan begitu Hana akan tau bagaimana perkembangan pria itu lewat Aisha.
“Oma.. Angel takut mommy akan dimarahi sama daddy seperti waktu itu..” Ujar pelan Angel menatap Hana yang sedang berbaur memasak dengan pelayan yang bertugas memasak dirumah itu.
Sera tersenyum. Bahkan Lusi saja tidak pernah melakukan itu. Lusi memang baik dan lemah lembut. Tapi Lusi tidak seperti Hana yang mau terjun sendiri ke dapur atau melakukan pekerjaan rumah lain-nya seperti yang Hana lakukan meski hanya kadang kadang.
“Tenang saja.. Kalau nanti daddy marah sama mommy, biar oma marahin balik daddy nya sayang.” Senyum Sera mengusap lembut kepala cucu kesayangan-nya.
“Sudah, lebih baik sekarang kita jangan ganggu mommy. Biarkan mommy melakukan apa yang mommy mau. Oke?” Ujar Sera mengajak Angel berlalu dari area dapur tidak ingin mengganggu kegiatan yang sedang Hana lakukan bersama pelayan di dapur.
Satu jam berkutat didapur, akhirnya semua hidangan sudah tertata rapi diatas meja makan. Hana tersenyum melihat semua hidangan itu yang meskipun bukan semua hasil masakan-nya tapi Hana merasa puas karena berhasil membuat dua menu masakan spesial untuk Stefan malam ini.
“Ini untuk apa yang sudah kamu lakukan hari ini Stefan. Terimakasih sudah mempertemukan aku dengan Aisha.”
Hana menghela napas. Mungkin Stefan akan tetap memasang muka datarnya nanti. Tapi Hana berharap Stefan mau mencicipi masakan-nya.
“Kenapa kamu senyum senyum sendiri disini? Kesambet?”
Itu suara Stefan.
Hana langsung menoleh dan tersenyum lebar melihat Stefan yang sudah berdiri tidak jauh dari meja makan dengan setelan jas hitam serta dasi yang masih begitu rapi mengikat kerah kemeja biru mudanya.
Hana tau, Stefan baru sampai rumah malam ini.
“Stefan..”
Hana melangkah mendekat pada Stefan yang seperti biasa, memasang wajah datar tanpa ekspresi.
“Untuk tadi siang.. Terimakasih banyak. Sekarang aku sudah punya nomor Aisha lagi.” Senyum Hana berkata.
Stefan melengos. Stefan tau Hana bahagia karena bisa kembali lagi berkomunikasi dengan keluarga Alan.
“Tidak usah dibahas. Aku nggak mau mamah sampai tau tentang Aisha atau siapapun keluarga Alan.” Kata Stefan dingin.
Senyum Hana memudar. Namun mengingat apa yang sudah Stefan lakukan untuknya, Hana tidak ingin terbawa suasana. Toh Stefan memang selalu bersikap datar dalam suasana apapun. Hana bahkan sepertinya tidak pernah melihat Stefan tersenyum dengan tulus selama tinggal dan menjadi istri Stefan.
__ADS_1
“Sudah, aku mau mandi.”
Tanpa menunggu persetujuan dari Hana, Stefan berlalu begitu saja melangkah menuju tangga meninggalkan Hana yang berusaha untuk tidak terpancing emosi dengan sikap Stefan.
“Huft.. Sabar Hana, sabar.. Stefan memang begitu. Dia mungkin tidak tau bagaimana caranya ber ekspresi dengan benar..” Gumam Hana menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan sambil mengusap usap dadanya sendiri berusaha menahan emosi yang hampir saja menguasainya.
Tetapi tanpa Hana tau Stefan diam diam memperhatikan-nya. Pria itu tersenyum menatap Hana yang memunggunginya. Stefan merasa senang karena Hana mengucapkan terimakasih secara langsung padanya. Meskipun untuk mendapatkan kata terimakasih dan senyuman lebar Hana itu Stefan harus menghadirkan seseorang yang sebenarnya sangat ingin Stefan jauhkan dari Hana, istrinya.
Stefan mempercepat langkahnya menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya karena sebentar lagi waktu makan malam akan segera tiba.
Selesai membersihkan diri Stefan turun dan langsung menuju meja makan. Dan disana sudah ada Hana, Angel, juga Sera yang menunggunya.
Stefan menatap ketiganya bergantian kemudian duduk dikursinya.
“Eemm.. Kamu mau makan apa Stefan?” Tanya Hana yang langsung bangkit dari duduknya bermaksud mengambilkan makanan untuk Stefan.
Sera yang melihat itu tersenyum. Hana tidak pernah menyerah melayani Stefan saat makan bersama meskipun pria itu selalu bersikap dingin dan acuh tak acuh padanya.
“Terserah kamu saja.” Jawab Stefan pelan.
“Oke kalau begitu.”
Hana kemudian mengambil nasi dan lauk serta sayur yang Hana masak sendiri. Hana bahkan sengaja menjauhkan masakan pelayan agar Stefan mencicipi lebih dulu masakan-nya.
Lagi lagi Sera hanya tersenyum karena tingkah Hana. Sera menganggap Hana sedang berjuang keras menarik perhatian Stefan.
“Mommy, Angel juga mau makan masakan-nya mommy dong..” Senyum Angel menyodorkan piringnya pada Hana setelah Hana meletakan piring berisi makanan untuk Stefan.
Stefan mengeryit mendengar apa yang Angel katakan. Pria itu kemudian menatap semua hidangan didepan-nya.
“Jadi ini semua kamu yang masak?” Tanya Stefan menatap Hana.
Hana langsung gelagapan. Hana khawatir Stefan marah jika tau dirinya terjun ke dapur untuk memasak bersama pelayan.
“Oh emm...”
__ADS_1
“Iya Stefan. Itu yang didepan kamu semuanya masakan Hana loh.. Ternyata selain cantik dan baik istri kamu ini pinter masak loh..” Ujar Sera tersenyum pada Stefan memuji kemampuan masak Hana.
Stefan diam. Pria itu kemudian meraih sendok dan garpu yang ada didepan-nya dan mulai mencicipi makanan yang ada dipiringnya.
Stefan mengunyah pelan makanan dalam mulutnya. Pria itu tersenyum samar merasakan lezatnya masakan Hana.
“Bagaimana rasanya Stefan?” Tanya Sera yang begitu antusias meminta pendapat putra tunggalnya itu.
“Eemm.. Lumayan.” Jawab Stefan sambil kembali menyuapkan nasi dan lauk kedalam mulutnya.
Hana tersenyum mendengarnya. Walaupun Stefan hanya berkomentar lumayan, tapi setidaknya pria itu tidak menuduhnya berniat menggantikan posisi tukang masak di rumah itu.
Dengan senyuman yang menghiasi bibirnya, Hana mengambilkan makanan untuk Angel kemudian Sera. Tanggapan Stefan tentang masakan-nya memang tidak memuaskan. Tapi dengan Stefan mau memakan masakan-nya saja Hana sudah merasa senang. Karena itu artinya usaha Hana tidak sia sia.
“Eemm.. Stefan, besok kan hari minggu. Kamu dan Angel juga libur.” Ujar Sera sedikit ragu.
Stefan mengarahkan pandangan-nya pada Sera menunggu apa yang akan di katakan oleh mamahnya.
“Jadi tadi Angel merengek sama mamah. Dia minta buat mamah bilang sama kamu.”
Stefan menelan sisa makanan dalam mulutnya kemudian melirik Angel yang menundukkan kepala tidak berani menatapnya.
Sera menghela napas. Sera tau Stefan pasti akan menolak permintaan Angel tapi kali ini Sera benar benar berharap Stefan mau mengabulkan ke inginan putrinya.
“Angel ingin kita semua sama sama berziarah ke makam Lusi besok.” Lanjut Sera.
Kedua mata Stefan sedikit melebar mendengarnya. Stefan memang tidak pernah berziarah ke makam Lusi sejak Lusi meninggal. Pria itu bahkan selalu memiliki alasan untuk menolak ajakan berziarah bersama ke makam mendiang istrinya.
“Mamah tau kan apa jawaban aku?” Tanya Stefan kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu dari meja makan begitu saja.
Sera menghela napas dan menoleh pada Angel yang menangis. Sera benar benar tidak tega melihat cucunya menangis hanya karena ingin berziarah bersama Stefan ke makam Lusi, ibu kandung yang melahirkan-nya.
“Sabar ya Angel.. Nanti mommy coba bicara sama daddy...”
Hana memeluk Angel yang menangis merasa tidak tega melihat gadis kecil itu sedih.
__ADS_1