ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 106


__ADS_3

“Mual mual? Apa Hana sedang hamil?”


Alan yang hendak keluar dari kamarnya tidak sengaja mendengar dokter Rania yang sedang berbicara lewat sambungan telepon.


Alan memejamkan kedua matanya. Hatinya terasa mencelos mendengar pertanyaan dokter Rania tentang kehamilan Hana. Dan Alan yakin yang sedang berbicara dengan dokter Rania lewat sambungan telepon pastilah adalah Stefan.


Alan menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Meskipun sudah mencoba merelakan Hana dengan Stefan, namun kenyataan bahwa Hana bukan jodohnya selalu membuat hati Alan berdenyut ngilu.


Alan menelan ludah kemudian kembali memundurkan kursi rodanya masuk kedalam kamar lagi. Alan juga menutup pelan pintu kamarnya agar dokter Rania tidak terganggu dengan bunyi pintu yang dia tutup.


“Ya Tuhan... Kenapa rasanya masih begitu sakit.. Tolong Tuhan.. Kalau memang Hana bukan takdir baik hamba hapuskan segera ingatan hamba tentang Hana.” Batin Alan memejamkan kedua matanya.


Alan selalu berusaha melupakan semua kenangan kebersamaan-nya dengan Hana. Tapi Alan merasa semakin dirinya melupakan, semakin gencar pula bayangan Hana muncul di setiap Alan sadar. Bahkan saat Alan tidur pun mimpi nya selalu di penuhi dengan sosok Hana.


Namun Alan sebisa mungkin tetap tenang. Pria itu tidak ingin membagi lagi deritanya pada ibu juga kedua adiknya. Alan ingin mereka percaya bahwa Alan baik baik saja meskipun sebenarnya Alan hancur sendiri dalam diam karena cintanya untuk Hana yang sampai saat ini masih bersemayam di hatinya.


Sekali lagi Alan menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Alan berusaha untuk mengenyahkan rasa sakit di hatinya sekarang.


Suara pintu yang dibuka dengan pelan membuat Alan menolehkan kepalanya. Disana, di ambang pintu yang terbuka dengan lebar dokter Rania berdiri. Alan tersenyum menatap dokter cantik itu.


“Alan, aku harus pergi sekarang. Ada pasien mendadak yang harus aku tangani. Kamu nggak papa kan aku tinggal sendiri dirumah?”


“Ya dokter, nggak papa. Dokter hati hati ya di jalan.” Senyum Alan mengangguk pelan.


Dokter Rania ikut tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


“Aku tidak akan lama Alan.” Katanya kemudian.

__ADS_1


“Hem, ya dokter.” Alan kembali menganggukkan kepalanya.


Setelah itu dokter Rania kembali menutup pintu kamar Alan dengan sangat pelan.


Alan tersenyum miris. Hana hamil itu artinya Hana dan suaminya Stefan memang benar benar sudah saling mencintai.


“Ternyata ucapan orang bijak tidak selalu benar. Bohong sekali jika melihat orang yang di cintai bahagia meskipun dengan orang lain kita juga bahagia. Pada kenyataan-nya aku sakit melihat Hana bahagia dengan laki laki lain. Aku ingin Hana bahagia bersamaku, hanya bersamaku. Dan aku ingin Hana hanya mencintaiku, bukan Stefan atau laki laki lain.” Gumam Alan nelangsa sendiri.


Alan kemudian menggerakkan kursi rodanya menuju balkon yang pintunya masih terbuka. Alan mendekat ke tepi balkon menatap mobil merah milik dokter Rania yang mulai keluar dari pekarangan luas rumahnya.


Sampai sekarang Alan masih tidak mengerti kenapa Stefan mau menikah dengan Hana. Apa lagi Hana juga meminta imbalan agar bisa mendapatkan uang untuk biaya operasinya bahkan sampai biaya sekolah kedua adik Alan juga pengobatan ibu Alan.


Bukan bermaksud menghina atau meremehkan Hana. Alan sendiri mengakui Hana memang cantik. Tapi untuk seorang Stefan Devandra Hana pasti jauh dari kata cantik. Alan tau siapa dan seperti apa sosok Stefan Devandra menurut rumor yang beredar. Meskipun satu rumor sudah berhasil membuktikan bahwa Stefan bukan pria kejam seperti yang tersebar di kalangan publik.


“Apa mungkin ini yang dinamakan jodoh adalah rahasia Tuhan? Aku selalu bersama Hana. Setiap hari menghabiskan waktu bersama setelah seharian bekerja. Aku juga sangat yakin bahwa Hana adalah jodohku. Tapi pada kenyataan-nya, Hana malah menikah dan bahagia bahkan mencintai laki laki lain. Semua yang aku impikan juga aku harapkan benar benar tidak sesuai. Kenyataan-nya sekarang aku merasa sakit bahkan hancur tanpa bisa melakukan apa apa. Aku tidak berdaya sendiri tanpa Hana tau.” Alan kembali bergumam.


“Sekarang bahkan kamu sedang hamil Hana. Aku yakin kamu dan Stefan begitu saling mencintai.”


Alan mendongak menatap langit berhiaskan bintang. Dulu setiap malam minggu Alan selalu mengajak Hana jalan jalan kemudian menatap langit berbintang sama sama. Mereka berdua memang tidak mengatakan hal penting apapun. Mereka hanya mengobrol seputar tentang bintang yang memang tidak banyak Alan ketahui.


“Hana.. Apa mungkin semua yang kita lalui bersama selama ini tidak ada artinya untuk kamu?”


Alan bertanya tanya sendiri. Ingin bertanya pada Hana tapi rasanya tidak mungkin. Alan sudah tidak bisa lagi bebas menemui Hana seperti dulu. Karena sekarang sudah ada Stefan yang berstatus sebagai suami yang Hana cintai.


Alan memejamkan kedua matanya merasakan semilir angin yang menerpa kulit wajah juga tubuhnya. Saat itu juga bayangan Hana tersenyum kembali membayanginya. Alan ingin sekali bisa melupakan Hana. Tapi semakin keras dirinya melupakan, semakin sering pula bayangan Hana muncul di pandangan-nya.


“Kakak...”

__ADS_1


Alan kembali membuka kedua matanya saat mendengar suara Amira. Pria itu menoleh dan mendapati Amira yang sudah berdiri di ambang pintu penghubung balkon kamarnya.


“Emm.. Aku tadi udah berkali kali mengetuk pintu dan memanggil kakak, tapi kakak nggak nyaut nyaut makan-nya aku masuk langsung aja kak.” Ujar Amira menatap Alan.


Alan menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum tipis.


“Kamu sama siapa kesini?” Tanya Alan pada Amira.


“Aku sendirian kak. Tadinya aku dari toko buku tapi karena kebetulan toko bukunya juga deket dari sini makan-nya aku sekalian mampir. Tadi saat dijalan kompleks juga aku ketemu sama dokter Rania yang katanya mau menangani pasien-nya jadi dokter Rania juga nyuruh aku buat nemenin kakak sampai dokter Rania kembali.”


Alan tertawa pelan. Dokter cantik itu benar benar sangat baik dan perhatian padanya. Alan semakin merasa berhutang banyak pada dokter cantik itu.


“Terus nanti kamu pulangnya bagaimana?” Tanya Alan lagi.


“Eemm.. Gampang itu kak, aku bisa pulang naik taksi atau mungkin naik angkot.”


“Naik taksi? Memangnya kamu punya duit? Terus naik angkot malam malam juga bahaya loh, apa lagi buat anak gadis seperti kamu dek.”


Amira terdiam sesaat. Ongkos untuk naik angkot Amira memang punya. Tapi untuk naik taksi rasanya tidak mungkin karena Amira sendiri juga tau ongkos untuk naik taksi tidaklah murah.


Saat Alan mengedarkan pandangan-nya ke bawah, dia tidak sengaja mendapati Tristan yang bersembunyi dibawah pohon tidak jauh dari pintu gerbang rumah dokter Rania. Alan tersenyum penuh arti. Alan menebak Tristan pasti sedang mengawasi Amira.


“Tapi nggak papa deh. Paling nanti ketemu sama guardian angel kamu dijalan.” Kata Tristan.


Amira mengeryit tidak mengerti dengan maksud kakaknya itu.


“Maksud kakak apa?”

__ADS_1


Tristan hanya mengedikkan kedua bahunya menjawab pertanyaan adiknya itu. Alan yakin Tristan memang anak yang baik dan bisa menjaga adiknya dengan benar.


__ADS_2