ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 298


__ADS_3

Sampai menjelang sore Hana terus berada di ruang keluarga. Wanita itu benar benar takut dirinya akan jatuh jika nekat berjalan dengan Theo yang berada di gendongan-nya. Bahkan Hana juga sampai tertidur dengan posisi duduk bersandar di sofa. Beruntungnya Theo begitu anteng dan sama sekali tidak memberontak dalam dekapan Hana. Balita itu bahkan ikut kembali tidur saat mendapati Hana yang memejamkan kedua matanya.


Para pelayan yang khawatir serta penasaran karena Hana yang tidak juga kunjung keluar dari ruang keluarga pun bersama sama mengecek keadaan Hana. Mereka saling menatap begitu melihat Hana yang tertidur dengan posisi duduk di sofa.


“Apa nyonya begitu sangat kelelahan mengurus tuan muda Theo seorang diri sampai tertidur di sofa?” Tanya salah satu pelayan itu pada kedua teman-nya.


“Mungkin begitu. Tuan muda Theo tidak bisa sembarang di sentuh oleh orang. Dia benar benar seperti tuan Stefan.” Jawab pelayan satunya lagi dengan mengedikkan kedua bahunya.


“Sudah sudah, kok malah kalian ngobrol sih? Ini kalau tuan Stefan lihat, bisa kena amukan kemarahan kita. Lebih baik sekarang kita coba bangunkan nyonya supaya nyonya pindah ke kamar saja.” Lerai pelayan yang tampak lebih dewasa dari kedua pelayan yang tadi.


Kedua pelayan itu menganggukkan kepalanya dengan kompak. Mereka juga tidak mau jika sampai terkena amukan Stefan.


Ketiga pelayan itu kemudian melangkah pelan masuk ke dalam ruang keluarga mendekat pada Hana. Ketika sampai tepat di depan Hana ketiganya saling menatap sekali lagi. Setelah merasa yakin, salah satu dari mereka kemudian mencoba membangunkan Hana dengan sangat pelan dan hati hati. Dan pelan pelan Hana pun akhirnya terbangun. Wanita itu membuka kedua matanya dan mengeryit ketika mendapati tiga pelayan ada di depan-nya.


“Kalian..” Gumam Hana pelan. Wanita itu meringis ketika rasa denyutan ngilu itu kembali terasa di kepalanya. Memang tidak separah tadi, tapi rasanya benar benar membuat Hana merasa tidak nyaman.


“Maaf nyonya, kami hanya khawatir sama nyonya karena sejak siang tadi nyonya tidak juga keluar. Karena itu kami memutuskan untuk sama sama menghampiri nyonya. Dan karena melihat nyonya yang tidur dengan posisi duduk kami terpaksa membangunkan nyonya. Maaf nyonya kalau kami lancang. Tapi kami takut nyonya akan merasa tidak nyaman.” Ujar salah satu dari mereka menjelaskan pada Hana.


Hana tertawa pelan mendengarnya. Wanita itu kemudian menegakkan tubuhnya membuat Theo langsung terbangun dari tidurnya. Beruntungnya balita tampan itu tidak menangis dan hanya menatap bingung pada Hana.


“Terimakasih untuk perhatian kalian.” Senyum Hana.


“Kalian bisa tolong bantu saya gendong Theo? Kepala saya sedikit pusing.” Ujar Hana kemudian.


“Tentu saja nyonya.” Jawab pelayan yang tadi menjelaskan pada Hana.


Hana kemudian menatap Theo dengan sangat lembut dan penuh perhatian.

__ADS_1


“Sayang di gendong sama mbak sebentar ya.. Please..” Ujar Hana dengan suara selembut mungkin.


Theo hanya diam saja. Balita tampan itu terlihat sangat lemas juga malas karena baru bangun dari tidurnya.


“Mbak, tolong yah..” Senyum Hana.


“Baik nyonya.” Angguk pelayan yang sejak tadi berbicara mewakili kedua teman-nya.


Pelayan itu mengambil alih Theo dengan sangat pelan dan hati hati dari gendongan Hana. Dan seolah mengerti dengan apa yang Hana katakan, Theo tidak menangis saat pelayan yang menggendongnya. Sebaliknya, balita tampan dengan rambut coklat terang itu justru terlihat begitu nyaman dan menyenderkan kepalanya di bahu pelayan yang menggendongnya.


Sementara Theo di gendong oleh pelayan satunya, kedua pelayan lainya membantu Hana bangkit dari sofa. Mereka kemudian mengiringi Hana keluar dari ruang keluarga. Mereka juga terus memastikan keamanan Hana saat Hana menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua hingga akhirnya sampai di kamarnya.


“Sekali lagi terimakasih.” Senyum Hana setelah duduk di tepi ranjang. Sedang Theo, dia langsung membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur super empuk tersebut begitu pelayan menurunkan-nya.


“Sama sama nyonya.” Jawab kompak tiga pelayan itu.


“Oh yah.. Silahkan.” Angguk Hana mempersilahkan dengan senyuman manis yang mengembang di bibirnya.


Ketiga pelayan tersebut kemudian keluar dari kamar Hana dan Stefan. Mereka juga tidak lupa menutup kembali pintu kamar Hana dan Stefan dengan sangat pelan.


Hana menghela napas. Wanita itu menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur tepat disamping tubuh Theo. Hana merasa sangat bersyukur karena Theo bisa memahami keadaan-nya. Entah itu karena kebetulan atau memang Theo memahami apa yang Hana katakan padanya tadi.


“Terimakasih ya sayang untuk pengertian-nya. Mommy sayang banget sama Theo..” Ujar Hana kemudian mencium gemas kedua pipi dan kening Theo.


Theo merespon apa yang Hana lakukan dengan tertawa. Balita itu juga menyentuh kedua pipi Hana dan melahapnya gemas.


Hana tertawa merasa geli. Sebenarnya sore itu sudah waktunya untuk Theo di mandikan. Namun karena denyutan di kepalanya membuat Hana merasa akan lebih baik jika dirinya menunggu sampai Stefan pulang saja.

__ADS_1


Sore itu tidak banyak yang Hana lakukan. Wanita itu hanya bermain bersama Theo di atas tempat tidur. Mengajak balita itu mengobrol dan sesekali menciuminya dengan gemas.


Suara pintu yang dibuka pelan membuat perhatian Hana teralihkan. Wanita itu tersenyum ketika mendapati Stefan yang masuk. Dan seperti biasanya, sebelum mendekat pada Theo, Stefan terlebih dulu membersihkan dirinya di kamar mandi.


Setelah selesai membersihkan diri, Stefan pun mendekat pada Hana yang langsung menyaliminya. Stefan juga mendaratkan ciuman singkat di kening Hana setelah itu baru Stefan fokus pada Theo.


“Selamat sore jagoan-nya daddy..”


Stefan meraih tubuh gempal Theo mengangkatnya dan mencium gemas kedua pipi putra pertamanya itu.


“Loh kok sedikit bau acem sih? Adek belum mandi ya? Iya?”


Theo tertawa dan sedikit memekik melihat ekspresi di buat buat daddy nya. Balita itu memang selalu ceria jika sudah berinteraksi dengan daddy nya.


“Iyah, Theo belum mommy mandiin dad. Kepala mommy sedikit sakit sejak tadi siang.” Jawab Hana disertai keluhan.


Stefan langsung menoleh mendengar keluhan istri tercintanya. Pria itu menatap penuh rasa khawatir pada wajah Hana yang baru Stefan sadari memang pucat.


“Ya ampun sayang.. Kok kamu nggak bilang dari siang sih? Daddy bisa pulang lebih cepat kalau kamu bilang..” Ujar Stefan.


Hana tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Mungkin mommy hanya kurang istirahat dad.” Katanya tidak ingin membuat Stefan khawatir.


Stefan berdecak pelan.


“Ya sudah kalau begitu, lebih baik kamu istirahat. Theo biar daddy yang handle.”

__ADS_1


Hana mengangguk menurut saja pada apa yang Stefan katakan. Wanita itu kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sementara Stefan, dia mengambil alih kepengurusan Theo. Namun tanpa sepengetahuan Hana, Stefan menghubungi dokter Clara menyuruhnya untuk datang agar memeriksa keadaan Hana.


__ADS_2