ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 74


__ADS_3

Sampai malam larut Stefan tidak kunjung keluar dari kamarnya. Pria itu tetap berkutat dengan laptopnya diatas ranjang.


Stefan menghela napas pelan kemudian menutup laptop yang berada di pangkuan-nya. Stefan meletakan benda itu diatas nakas lalu menatap pintu kamarnya. Malam sudah larut namun Hana belum juga masuk kedalam kamarnya.


“Apa dia masih marah?” Tanya Stefan lirih pada dirinya sendiri.


Karena penasaran Hana tidak kunjung masuk kedalam kamarnya, Stefan pun turun dari ranjang kemudian melangkah keluar dari kamarnya untuk mencari Hana yang mungkin saja sedang berada dikamar Angel sekarang.


Stefan mengeryit, semua lampu sudah dimatikan. Para pelayan juga sudah tidak ada lagi yang berlalu lalang pertanda malam memang sudah sangat larut.


Stefan kemudian melangkah menuju kamar Angel dan pelan pelan membuka pintunya. Disana tidak ada Hana dan hanya ada Angel yang tertidur dikarpet berbulu yang ada didepan ranjangnya. Karena tidak tega melihat putri kecilnya tertidur tengkurap di karpet, Stefan pun segera memindahkan-nya diatas ranjang dengan sangat pelan dan hati hati. Stefan juga menyelimuti Angel dengan selimut, mematikan lampu kemudian keluar kembali dari kamar gadis kecil itu.


Stefan menghela napas. Hana selalu berada dikamar Angel biasanya jika sedang ngambek padanya. Tapi sekarang wanita itu entah sedang berada dimana. Stefan yakin sejak tadi Hana juga tidak menemani Angel.


Stefan mengedarkan pandangan-nya ke seluruh sudut rumah hingga akhirnya tatapan Stefan berhenti pada pintu balkon lantai dua rumahnya yang terbuka.


Stefan langsung melangkah menuju pintu itu dengan tebakan Hana pasti sedang berada disana.


Benar saja, begitu Stefan sampai di ambang pintu tersebut Stefan mendapati Hana yang sedang berdiri dibalkon dengan posisi memunggunginya.


“Kenapa sih kamu jahat banget sama aku Stefan.. Kenapa kamu malah berduaan sama nenek sihir itu. Sebel..!!”


Stefan tersenyum geli mendengar Hana yang sedang marah marah sendiri. Pria itu melangkah mendekat pelan pelan pada Hana dan berdiri tepat dibelakang Hana.


“Bilangnya cinta sama aku. Nggak mau aku pergi dari sisinya. Tapi nyatanya dia sendiri yang malah begitu sama si Williana. Dia memang cantik, sexy. Tapi kan dia bukan siapa siapa. Sedangkan aku, aku ini istrinya. Harusnya dia bisa menjaga perasaan aku.”


Stefan ingin sekali tertawa mendengar istrinya berbicara sendiri. Stefan juga merasa senang karena itu artinya Hana cemburu melihatnya dengan Williana. Dan itu adalah garis keras dari seorang wanita yang sangat mencintai pasangan-nya.


Hana menghela napas kasar. Wanita itu tidak menyadari Stefan yang sedang berdiri dibelakangnya.

__ADS_1


“Memang sih Williana itu cantik, Sexy, dia kaya dan punya segalanya. Dia juga pasti sangat pintar sama seperti Stefan. Tidak heran kalau dia menjadi perempuan idaman. Tapi Stefan.. Dia kan udah bilang kalau dia cinta sama aku. Tapi...”


“Tapi apa?”


Kedua mata Hana melebar mendengar Stefan yang bertanya dengan menyela ucapan-nya. Dengan cepat Hana memutar tubuhnya dan mendapati Stefan yang berdiri menjulang dengan kedua tangan yang di lipat didepan dada.


“Kayanya kamu ini punya teman tidak kasat mata ya Hana. Malam malam begini ngomel sendiri disini. Nanti kalau kamu di culik sama wewe gombel bagaimana?”


Hana berdecak. Hana memang sengaja menghindar dari Stefan. Hana bahkan sudah berencana akan tidur di kamar tamu karena tidak ingin dekat dekat dengan Stefan yang sudah membuatnya kesal.


“Biarin aja. Biar aku dibawa sama wewe gombel sekalian. Emangnya kamu perduli? Bukan-nya kamu senang ya? karena dengan begitu kamu bisa bebas berduaan dengan Williana.” Balas Hana sinis.


Stefan berdecak. Hana benar benar salah mengartikan kebersamaan-nya dengan Williana tadi.


“Kamu lucu juga ya kalau lagi cemburu.” Senyum geli Stefan menatap Hana.


“Apa? Aku? cemburu? sama kamu dan Williana.. Iiihh nggak banget. Amit amit..” Hana bergidik tidak mau mengakui kecemburuan-nya sendiri.


Hal itu membuat Stefan tertawa pelan. Pria itu menggeleng tidak menyangka jika ternyata gengsi istrinya besar juga.


“Ya sudah kalau memang kamu nggak cemburu kebetulan banget. Aku mau minta izin sama kamu buat menghadiri acara makan malam sama Williana besok malam. Soalnya rekan bisnis kita mau mengadakan acara resepsi pernikahan-nya.” Senyum Stefan memancing Hana.


“Enggak. Kamu nggak boleh pergi. Kamu dirumah aja. Dasar suami genit.” Marah Hana dengan suara yang mulai meninggi.


“Itu artinya kamu cemburu.” Tegas Stefan tersenyum miring menatap Hana.


“Aku nggak cemburu. Aku cuma..”


“Cuma apa? Cuma nggak mau aku dekat dekat sama perempuan lain kan?” Sela Stefan meraih pinggang Hana dan memeluknya dengan mesra.

__ADS_1


Hana mendongak menatap Stefan yang menunduk menatapnya. Saat itulah Hana merasa bersalah karena sudah menonjok sudut bibir Stefan sampai terlihat memar. Dan Hana baru menyadari bahwa mungkin arti luka yang dikatakan oleh Angel adalah luka lebam yang ada di sudut bibir Stefan.


Hana menelan ludah. Stefan terus saja diam saat dirinya marah marah tadi. Hana juga melihat Stefan sempat kebingungan saat Hana berakting didepan Williana.


“Eh jelek, dengerin baik baik ya karena aku nggak mau mengulang lagi apa yang aku katakan sama kamu.” Ujar Stefan pelan.


“Apa yang kamu lihat itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Williana tidak melakukan apa apa. Williana tiba tiba datang dan mengajak ngobrol. Aku sudah menyuruhnya pergi. Tapi aku yakin kamu juga tau bagaimana Williana. Dia berusaha merayuku tapi aku bukan laki laki seperti apa yang ada di pikiran kamu Hana. Aku tau dan sadar aku adalah laki laki yang beristri. Dan aku mencoba untuk menjaga kesetiaan sebagai seorang suami yang baik.” Jelas Stefan.


Hana mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Hana termakan rasa cemburunya sendiri sampai kalap.


“Maaf..” Lirih Hana menundukan kepalanya menghindari tatapan Stefan.


“Maaf untuk apa? Untuk kamu yang membentakku didepan Williana atau untuk kamu yang memukulku?” Tanya Stefan.


Kedua mata Hana memanas mendengar pertanyaan Stefan. Hana mengakui dirinya sangat keterlaluan karena sampai main tangan pada suaminya sendiri. Meskipun tidak ada siapapun yang melihat saat dirinya memukul Stefan, tapi Hana yakin Stefan pasti sangat kesakitan karena itu.


“Maaf Stefan.. Harusnya tangan ini nggak mukul kamu.” Lirih Hana dengan suara bergetar.


Stefan tersenyum merasa lega karena akhirnya Hana mengerti yang sebenarnya. Stefan tidak membutuhkan kata maaf dari Hana sebenarnya. Stefan hanya ingin Hana tau yang terjadi sebenarnya antara dirinya dan Williana saat di perusahaan.


”Cium dong. Setidaknya biar luka akibat pukulan dari kamu ini nggak terlalu sakit.” Ujar Stefan membuat Hana kembali mendongak menatapnya.


Perlahan senyuman mulai terukir dibibir Hana. Tanpa mengatakan apapun Hana langsung berjinjit mencium pipi Stefan singkat.


Mendapat ciuman singkat dari Hana di pipinya, Stefan pun tersenyum.


“Aku benar benar minta maaf Stefan.” Ujar Hana menatap Stefan menyesal.


“Asal setelah di pukul aku di cium kaya gini, aku rela kok di pukul setiap hari.” Senyum Stefan membuat Hana tersipu malu.

__ADS_1


__ADS_2