ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 110


__ADS_3

“Kamu kenapa tadi ngelarang Amira nerima uang dari aku Alan? Kamu juga melarang aku mengantar Amira pulang? Ini sudah malam loh, dan tidak baik anak gadis jalan sendirian malam malam begini. Bahaya.” Omel dokter Rania pada Alan yang terlihat tenang duduk diatas ranjangnya.


“Makasih banyak ya dokter, dokter nggak cuma baik sama aku. Tapi dokter juga baik pada adik dan keluargaku. Aku tidak bermaksud melarang Amira menerima uang dari dokter atau dokter mengantar Amira pulang. Tapi diluar sudah ada teman-nya Amira yang menunggu dokter. Aku tidak tau mereka sedang bertengkar atau enggak, tapi yang aku tau teman-nya itu baik dan perhatian. Jadi aku pikir lebih baik Amira pulang dengan dia. Yah.. Untuk melatih kemandirian dia dalam menghadapi masalahnya sendiri dengan bijak. Bukankah masalah tidak akan selesai kalau di hindari?”


Dokter Rania mengeryit bingung dengan alasan Alan. Wanita itu berpikir kenapa Alan bisa begitu percaya pada Tristan.


“Alan, memangnya kamu begitu percaya dengan Tristan?” Tanya dokter Rania membuat Alan langsung menatapnya.


“Tentu saja. Tristan anak yang baik.” Jawab Alan yang memang tidak mempunyai pemikiran buruk pada Tristan.


Dokter Rania menggelengkan kepalanya. Jika Tristan baik mungkin dokter cantik itu masih bisa percaya. Tapi jika kakaknya Williana, dokter Rania benar benar tidak bisa percaya.


“Kamu tau tidak Tristan itu siapa Alan?”


Pertanyaan dokter Rania kali ini membuat Alan mengeryit.


“Memangnya kamu tau?” Tanya balik Alan menatap penuh rasa ingin tau pada dokter Rania.


Dokter Rania menghela napas. Sepertinya Alan memang tidak tau siapa itu Tristan dan keluarganya.


“Tentu saja aku tau. Tristan itu adalah bungsu di keluarga Atmaja. Dia adik Williana Atmaja.”


Alan diam. Alan merasa pernah mendengar nama Williana tapi entah dimana. Yang jelas nama Williana Atmaja sangat tidak asing di indra pendengaran-nya.


“Alan, Tristan mungkin baik. Tapi tidak dengan kakaknya, Williana.” Ujar dokter Rania mengingatkan Alan.


Alan tidak tau harus berkata apa. Harusnya memang dirinya bisa waspada dan menjaga adiknya dengan baik, bukan malah mempercayakan Amira pada laki laki yang bahkan baru sebentar Alan kenal.


“Aku kenal siapa dan bagaimana Williana Atmaja Alan. Dia juga terus mengejar Stefan meskipun dia sendiri tau Stefan sudah punya istri yaitu Hana.”


Alan menelan ludah. Perasaan khawatir mulai merayapi hatinya. Alan tidak tau siapa itu Williana Atmaja yang sebenarnya. Tapi Alan yakin dokter Rania tidak mungkin berbohong padanya.


“Lalu aku harus bagaimana sekarang dokter?” Tanya Alan bingung.

__ADS_1


Dokter Rania menghela napas kemudian meraih ponselnya yang berada di saku dress rumahan yang dia kenakan.


“Biar aku coba telepon.” Katanya kemudian segera menghubungi Amira.


Dokter Rania menempelkan benda pipih itu di telinga kanan-nya menunggu Amira merespon telepon darinya hingga tidak lama kemudian Amira pun mengangkat telepon dari dokter Rania.


“Halo, Amira kamu dimana?” Tanya dokter Rania begitu Amira mengangkat telepon darinya.


“Ya kak, Aku sudah dirumah.” Jawab Amira dari seberang telepon.


“Syukurlah kalau begitu. Ya sudah ya, aku cuma mau nanya itu aja.”


Dokter Rania menyudahi telepon-nya kemudian menatap Alan lagi.


“Bagaimana dokter?” Tanya Alan penasaran.


“Amira sudah dirumah. Tapi Alan, aku tidak bermaksud mempengaruhi kamu untuk membenci Tristan. Tristan memang baik dan sepertinya dia berbeda dengan Williana. Aku hanya ingin kamu sedikit waspada saja jika sudah berhubungan dengan keluarga Atmaja.”


“Ya sudah kalau begitu, istirahatlah. Sudah malam.”


Dokter Rania kemudian keluar dari kamar Alan meninggalkan pria itu merenung sendirian dikamarnya.


-------------


Menjelang subuh Stefan baru kembali masuk kedalam kamarnya dan Hana. Pria itu memang sengaja menghindar dari Hana karena takut Hana menuntut jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang di lontarkan pada Stefan semalam. Sejak beberapa bulan lalu Stefan memang berniat untuk jujur dan memberitahu segalanya pada Hana. Tapi sampai sekarang Stefan merasa belum menemukan waktu yang tepat.


“Stefan.”


Stefan menelan ludah mendapati Hana yang duduk menyenderkan punggungnya di pangkal ranjang dengan bantal sebagai alasnya. Stefan pikir Hana masih tertidur pulas sekarang.


“Kamu sudah bangun?” Tanya Stefan pelan masih berdiri didepan pintu yang baru saja di tutupnya.


“Aku bahkan belum tidur Stefan.” Ujar Hana membuat Stefan terkejut.

__ADS_1


“Aku menunggu kamu tapi kamu tidak juga kembali. Apa pekerjaan kamu begitu banyak sampai jam segini baru selesai?”


Stefan menelan ludah. Stefan sebenarnya tertidur di ruang kerjanya diatas sofa saat sedang memutar otak mencari cara bagaimana caranya memberitahu Hana tentang semuanya tanpa harus ada drama kekecewaan apa lagi perpisahan.


Stefan menghela napas kemudian mendekat ke ranjang dimana Hana duduk.


“Maaf.. Aku tertidur di ruangan kerjaku.” Jawab Stefan memilih untuk jujur. Stefan tidak ingin lagi berbohong pada Hana apapun itu.


Ekspresi Hana langsung terlihat sendu mendengarnya. Wanita itu kemudian melengos enggan menatap Stefan yang berdiri disamping ranjang.


“Kamu jahat banget sih. Aku nungguin kamu disini tapi kamu malah enak enakan tidur di ruang kerja kamu. Kamu nggak mikirin aku apa? Kamu nggak mikirin anak kita?”


Stefan menggigit bibir bawahnya sendiri. Kali ini Hana merajuk dengan nada manja padanya.


“Ya ya maaf.. Aku kan nggak tau kalau kamu bakal nungguin aku. Lagian kenapa kamu nggak tidur dulu aja kaya biasanya.” Ujar Stefan pelan.


Hana menoleh cepat pada Stefan. Kedua matanya sudah berkaca kaca menatap Stefan yang sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun karena meninggalkan-nya semalaman dan lebih memilih untuk tidur sendiri di ruang kerjanya.


“Jadi sekarang kamu nyalahin aku? Begitu?” Kali ini suara Hana mulai meninggi dan sedikit bergetar membuat Stefan menelan ludah lagi.


“Bu bukan begitu maksud aku Hana.. Tapi kan biasanya memang begitu. Kamu biasanya tidur duluan kan tanpa nungguin aku?”


Jantung Stefan sudah mulai bekerja diluar normalnya. Pria itu tidak menyangka Hana akan marah hanya karena Stefan tidur di ruang kerjanya.


“Itu kan biasanya Stefan. Sekarang beda. Aku itu lagi hamil. Dan aku hamil anak kamu. Jadi wajarkan kalau aku nungguin kamu, aku pengin tidur di peluk sama kamu. Tapi kamu malah asik dengan pekerjaan kamu itu. Sepertinya aku ini memang nggak penting ya buat kamu. Yang ada di pikiran kamu itu hanya kerja dan kerja.”


Stefan memejamkan kedua matanya sambil menarik napas panjang mendengar amukan Hana. Pria itu benar benar tidak berpikir Hana akan begitu marah hanya karena tidak di temani tidur. Wanita itu terlihat sangat manja saat melengos namun tiba tiba berubah seperti harimau betina yang marah karena tidurnya yang terganggu. Begitu buas dan menyeramkan.


Stefan kembali membuka kedua matanya kemudian langsung naik ke atas tempat tidur. Tidak mau mendengar amukan kemarahan Hana lagi, Stefan pun langsung membungkam bibir Hana dengan ciuman lembutnya saat Hana hendak berkata lagi.


“Sudah ya, jangan marah marah lagi sayang.. Sekarang lebih baik kamu tidur, aku akan temani.” Bujuk Stefan lembut.


Hana menatap Stefan kemudian mengangguk dengan pelan. Suasana hatinya benar benar bisa berubah ubah dengan begitu cepat. Hana menurut saja saat Stefan memeluknya dan perlahan memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


__ADS_2