ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 140


__ADS_3

Suasana hening membuat Hana juga dokter Rania merasa tidak nyaman. Mereka berdua merasa Stefan dan Alan memang sengaja enggan bersuara lebih dulu.


“Eemm.. Alan.. Kedatangan kami berdua kesini sebenarnya ingin berterimakasih sama kamu karena kamu sudah mendonorkan darah kamu pada Angel. Berkat kamu Angel sekarang sudah berangsur sembuh dan bisa ber aktivitas kembali seperti biasanya. Kami benar benar sangat berterimakasih sama kamu Alan..” Ujar Hana pelan.


Alan tersenyum tipis tanpa menatap Hana yang duduk berjajar dengan Stefan. Alan menganggap apa yang dilakukan-nya dengan mendonorkan darah pada Angel bukanlah apa apa jika di bandingkan dengan apa yang sudah Stefan lakukan dengan memastikan segala yang terbaik untuk Alan dan keluarganya.


“Tidak perlu berterimakasih Hana. Aku hanya mencoba sedikit membantu. Itu semua belum ada apa apanya jika dibandingkan dengan semua bantuan yang sudah tuan Stefan berikan padaku juga keluargaku.” Balas Alan menatap Hana sebentar.


Hana menelan ludah. Entah perasaan-nya saja atau bukan, tapi Hana merasa Alan sangat berbeda. Alan tidak seperti saat terakhir mereka bertemu.


Dokter Rania melirik Stefan yang juga membuang muka enggan menatap Alan. Dokter itu tau Stefan tidak menyukai Alan karena tau Alan mempunyai rasa lebih dari sekedar sahabat pada Hana. Dan dokter cantik itu mencoba untuk maklum. Siapapun pasti tidak suka jika ada orang lain yang mengharapkan miliknya. Dokter Rania berpikir mungkin sampai saat ini Alan juga masih berharap pada Hana.


Saat sedang memikirkan tentang sikap Stefan pada Alan, tiba tiba dokter Rania menyadari apa yang Stefan kenakan. Wanita itu menyipitkan kedua matanya kemudian tersenyum. Stefan tampak sangat lucu dengan kaos pendek warna pink bergambar miki mouse yang di kenakan-nya.


Dokter Rania kemudian melirik pada Hana yang juga mengenakan baju dengan warna yang sama dengan Stefan. Keduanya tampak sangat serasi dan cocok dengan baju couple itu.


“Baju kalian bagus.” Puji dokter Rania membuat wajah Stefan langsung merah padam.


Sementara Hana, dia langsung tersenyum lebar merasa sangat bahagia mendengar pujian dari dokter Rania. Itulah yang Hana inginkan. Yaitu mendapat pujian dari orang orang di sekitarnya dengan kekompakan baju yang di kenakan-nya dengan Stefan.


“Terimakasih. Ini aku sendiri yang memilihnya.” Balas Hana senang karena pujian dari dokter Rania.


Alan menatap bergantian pada Stefan dan Hana sebentar. Pria itu setuju dengan apa yang dokter Rania katakan. Hana dan Stefan memang sangat serasi dengan baju yang begitu kompak. Mereka terlihat manis. Meskipun sebenarnya Alan sedikit merasa heran dengan pilihan Hana yang menurutnya sangat berbanding terbalik dengan sikap Hana yang Alan tau tidak banyak neko neko itu.


Setelah dirasa pembicaraan itu selesai, Hana langsung mengajak Stefan pulang yang tentu saja langsung Stefan iyakan. Keduanya kemudian pamit pada dokter Rania dan segera berlalu dari kediaman dokter cantik itu.

__ADS_1


Dokter Rania yang mengantar keduanya sampai depan merasa ada sesuatu yang aneh dari tatapan Stefan. Dokter itu juga sangat yakin bahwa Stefan pasti belum memberi tau Hana tentang Stefan yang menabrak Alan malam itu.


Dokter Rania menghela napas kemudian masuk kembali kedalam rumahnya.


“Dokter...” Panggil Alan yang sudah berada di ujung tangga menunggu dokter Rania yang akan membantunya menaiki tangga dengan memapahnya.


Dokter Rania tersenyum kemudian segera menghampiri Alan.


“Biar aku bantu.” Ujar dokter Rania.


“Terimakasih dokter..” Senyum Alan menatap dokter cantik itu.


-------


Sementara itu di tempat lain tepatnya di tempat kerja baru Tristan. Pemuda tampan dengan kulit putih bersih itu tampak sedang membawa sekarung semen yang beratnya hampir sama dengan berat tubuhnya sendiri.


“Ya Tuhan.. Kenapa ini berat sekali..” Keluh Tristan dalam hati.


Tristan memejamkan sesaat kedua matanya. Seumur hidup ini kali pertama Tristan bekerja begitu kasar dan keras. Karena biasanya Tristan bisa kapan saja dan berapa saja meminta uang pada kakaknya. Tapi sekarang demi sesuap nasi untuk dirinya bertahan Tristan harus bisa melakukan pekerjaan apapun. Itu juga Tristan lakukan demi bisa mendapatkan kebebasan untuk dirinya sendiri.


“Tristan cepat sedikit !!”


Lamunan Tristan buyar saat salah seorang teman kerjanya berseru memanggilnya. Tristan kemudian menghela napas dan melanjutkan langkahnya dengan sekarung semen yang berada di bahunya.


“Aku harus semangat. Aku pasti bisa. Aku harus buktiin sama kakak kalau aku bisa mandiri. Aku bisa cari uang sendiri.” Batin Tristan menyemangati dirinya sendiri sembari melangkahkan kakinya di antara para pekerja yang lain-nya.

__ADS_1


Dengan susah payah satu persatu semen itu berhasil Tristan angkut dengan bahunya. Dengan bermandikan keringat Tristan melakukan pekerjaan itu sampai akhirnya waktu bekerjanya selesai.


Tristan merebahkan tubuhnya di papan triplek yang begitu keras. Rasa panas dan pengap Tristan rasakan karena di tempatnya tidur itu sama sekali tidak ada pendingin ruangan ataupun kipas angin.


Tristan sangat tidak biasa sebenarnya dengan keadaan itu. Tapi Tristan sudah bertekad. Tristan yakin dirinya bisa melakukan semua itu.


“Tan, kamar mandi sudah kosong tuh. Buruan kamu mandi.” Tegur pria berkulit coklat gelap yang tempat tidurnya bersebelahan dengan Tristan. Pria itu juga yang memberikan pekerjaan itu pada Tristan saat Tristan bertanya.


“Oh iya pak.” Senyum Tristan kemudian segera bangkit dari berbaringnya.


Tristan melangkah menuju kamar mandi dengan membawa handuk kecil di tangan-nya yang memang begitu padat antrian itu. Tristan sengaja mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk itu sembari menunggu kamar mandi tersebut kosong.


Begitu sampai di dalam kamar mandi Tristan menahan napas karena bau yang begitu menyengat di indra penciuman-nya. Tristan bahkan sampai muntah muntah karena bau tersebut. Bau yang siapapun pasti tidak akan bisa menahan-nya. Bau air pipis dan bekas orang buang air besar yang tidak tau harus bagaimana Tristan singkirkan. Padahal Tristan sudah mengguyur kamar mandi itu dengan air banyak namun bau tersebut tidak kunjung hilang.


Wajah Tristan memerah begitu juga dengan kedua matanya karena terus muntah muntah selama dirinya mandi. Dan keadaan Tristan itu membuat pria berkulit coklat gelap yang biasa di sapa pak Udin itu merasa iba.


Pak Udin sebenarnya sudah bisa menebak bahwa Tristan bukanlah gelandangan yang biasa mencari pekerjaan serabutan. Pak Udin tau Tristan berasal dari keluarga berada. Tentu saja itu sangat terlihat jelas dari gerak geriknya.


“Kamar mandinya memang bau. Orang orang disini pada jorok jorok kalau pipis suka nggak di siram. Maklumin ya Tan.” Ujar pak Udin pada Tristan.


“Iya pak, nggak papa kok.” Senyum Tristan mengerti.


Tristan kemudian menghela napas. Tristan sekarang tau bagaimana susahnya mencari uang dan bertahan hidup tanpa kakaknya.


“Maafin Tristan ya kak. Tapi Tristan benar benar nggak mau terlalu kakak kekang. Tristan ingin seperti teman teman yang lain yang bisa bebas berteman dan dekat dengan siapa saja.” Batin Tristan.

__ADS_1


“Udah jangan bengong. Nih kamu makan, saya sudah bungkusin dari warung tadi.” Ujar pak Udin memberikan nasi bungkus pada Tristan.


Tristan menerima nasi bungkus itu kemudian mengatakan terimakasih pada pak Udin. Tristan menatap nasi bungkus tersebut. Entah apa isinya Tristan tidak tau. Yang pasti di dalam bungkusan kertas minyak itu pasti berisi makanan yang tentu tidak semewah makanan yang setiap hari Tristan santap dirumahnya.


__ADS_2