
“Hay mommy... Angel datang.”
Stefan melengos enggan menatap makam Lusi. Pria itu bahkan terus berdiri dengan jarak dua meter dari makam Lusi dengan kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidung mancungnya.
Stefan tidak ingin berada disana sebenarnya. Tapi bujukan Hana membuatnya tidak bisa menolak. Bujukan wanita yang sampai saat ini masih belum Stefan anggap sebagai wanita yang di cintainya.
“Mommy lihat deh.. Disini ada daddy juga loh mommy.. Daddy juga pasti kangen banget sama mommy, sama kaya Angel yang kangen sama mommy...”
Sera dan Hana hanya diam disamping Angel. Mereka berdua mendengarkan saja apa yang Angel katakan didepan makam Lusi, mommy nya.
“Oh iya mommy.. Angel mau kenalin mommy sama mommy Hana. Mommy Hana itu istri daddy. Orang nya baik, cantik, dan mommy Hana juga sayang banget sama Angel. Angel bahagia banget punya mommy Hana sebagai ganti mommy di sisi Angel. Daddy memang pintar cariin Angel mommy yang baik.”
Sera tersenyum sambil mengusap lembut pundak kecil cucu kesayangan-nya. Sera tau bagaimana perasaan cucunya. Angel bahkan selalu terlihat murung jika sedang sendiri sebelum kehadiran Hana.
“Mommy sekarang Angel nggak sendirian lagi kalau lihat warna jingga di langit. Mommy Hana selalu temenin Angel.”
Angel terus menceritakan apa yang dirasakan-nya. Gadis kecil itu merasa sangat beruntung karena wanita yang di nikahi Stefan adalah Hana. Wanita yang mau menyayanginya dengan tulus.
“Mommy Hana juga bisa memasak loh mom.. Omelette keju buatan mommy Hana sangat enak. Daddy juga suka.”
Hana tersenyum mendengarnya. Hana memang sudah pandai memasak sejak tinggal di panti asuhan karena terbiasa membantu tukang masak disana. Selain itu Hana suka membuat camilan.
Hana menoleh menatap Stefan yang terus membuang muka didepan makam mendiang istri pertamanya. Hana tidak mengerti dengan cara pikir pria tampan itu. Sera bilang Stefan sangat mencintai Lusi. Tapi pada kenyataan-nya bahkan didepan makam Lusi saja Stefan selalu membuang muka. Itu membuat kesan seolah Stefan sangat membenci Lusi, bukan mencintai Lusi.
Hana juga berpikir jika memang Stefan sangat mencintai Lusi, pria itu pasti akan dengan semangat selalu datang ke makam Lusi dengan membawa sebuket bunga tanpa harus di ajak dan di paksa bahkan di bujuk.
Hana ingin sekali bertanya pada Stefan mengapa bersikap demikian. Tapi Hana masih berpikir waras dengan tidak mencampuri urusan pribadi Stefan. Apa lagi jika itu menyangkut masa lalu Stefan dengan mendiang istrinya. Hana merasa dirinya bukan siapa siapa. Hubungan-nya dengan Stefan hanya hubungan atas dasar saling menguntungkan, bukan hubungan antara dua hati yang saling bertaut yang kemudian akan tumbuh rasa cinta.
Setelah berziarah ke makam Lusi, Sera mengajak Stefan, Hana juga Angel untuk jalan jalan sejenak. Mereka keliling mall dan membeli beberapa barang yang Angel butuhkan.
“Kamu nggak pengin beli sesuatu?”
__ADS_1
Hana yang sedang tersenyum melihat Angel memilih mainan langsung menoleh mendengar pertanyaan Stefan.
Hana kemudian menggeleng pelan. Hana merasa tidak sedang membutuhkan apapun. Semua baju bajunya yang ada di dalam lemari masih bagus bagus menurutnya. Bahkan baju baju itu juga masih ada yang belum Hana pakai.
“Kamu sendiri?” Tanya Hana balik pada Stefan.
Stefan hanya tersenyum miring. Pria itu merasa tidak penting untuk menjawab pertanyaan Hana.
Setelah membayar semua mainan yang Angel beli, Stefan mengajak mereka untuk pulang dengan alasan ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Sera sempat protes karena Stefan masih saja berkutat pada pekerjaan di hari libur. Namun Stefan tidak menanggapi dan tetap mengemudikan mobilnya dengan fokus.
Sesampainya dirumah Stefan mengeryit melihat mobil sport merah miliknya sudah terparkir dengan rapi didepan teras rumahnya. Stefan terdiam sesaat sebelum akhirnya datang Rico dengan mobilnya.
“Stefan, ini mobil kamu kan?” Tanya Sera pada Stefan.
Hana ikut menatap mobil sport merah itu kemudian mengeryit. Wanita itu merasa aneh dengan pertanyaan Sera pada Stefan. Tidak mungkin sekali rasanya jika Sera tidak mengenali mobil milik Stefan.
“Iya mah.. Mobil ini baru selesai aku servis.” Jawab Stefan sedikit tergagap.
“Baru selesai di servis? Tapi bukan-nya dua bulan yang lalu baru kamu servis ya?”
Stefan hanya diam saja. Pria itu tidak ingin berbohong pada Sera sehingga memilih untuk diam tidak menjawab pertanyaan Sera.
“Selamat siang nyonya, tuan..” Sapa Rico dengan senyuman di bibirnya. Kali ini Rico hanya mengenakan kaos pendek warna merah menyala yang di padukan dengan jins hitam yang begitu pas melekat di kaki panjangnya.
“Kita bicara diruangan saya saja.” Ujar Stefan dingin kemudian berlalu begitu saja masuk kedalam rumah.
“Emm.. Saya permisi nyonya.”
Rico mengangguk pelan ketika hendak melewati Hana dan Sera. Pria itu kemudian melangkah menyusul Stefan masuk kedalam rumah menuju ruang kerja Stefan.
Hana semakin merasa penasaran. Wajah Stefan terlihat tidak biasa saat menatap mobil sport merah miliknya. Bahkan Hana melihat kedua mata Stefan sempat sedikit melebar sebentar seperti orang yang terkejut.
__ADS_1
“Ya sudah yuk nak, masuk..” Ajak Sera pada Hana.
“Oh iya mah.. Ayo..”
----------
Di ruangan Stefan.
“Kenapa kamu tidak menelepon dulu sama saya kalau mobil itu akan dibawa pulang?”
Stefan menatap kesal pada Rico karena tidak memberitahunya lebih dulu tentang mobil sport merah itu yang ternyata sudah selesai di perbaiki.
“Maaf tuan. Tapi Ma'ruf mengatakan mobil tuan akan di antar nanti malam. Tapi ternyata sebelum waktunya mobil tuan sudah di antar lebih dulu. Saya juga baru tau saat Ma'ruf menelepon saya mengatakan bahwa karyawan-nya terlalu rajin sehingga mengantar mobil anda lebih awal.” Jawab Rico.
Stefan mengeryit.
“Karyawan yang terlalu rajin? atau memang Ma'ruf yang terlalu bodoh?”
Rico hanya diam saja. Rico tau Stefan pasti tidak ingin Hana sampai tau tentang kecelakaan itu.
“Maaf tuan, kedepan-nya saya akan lebih berhati hati lagi.” Ujar Rico pelan.
Stefan terdiam sesaat. Stefan tidak bodoh. Berita tentang kecelakaan yang membuat Alan sampai sekarat seperti sekarang pasti akan membuat heboh dan itu akan menguntungkan bagi pihak yang memanfaatkan-nya.
“Hubungi Ma'ruf dan suruh dia membawa karyawan terlalu rajin-nya itu kehadapan saya besok di kantor.” Perintah Stefan dengan sangat tegas.
“Baik tuan.” Angguk Rico pelan.
“Oke, kamu boleh pulang dan istirahat.” Ujar Stefan dengan ekspresi datarnya.
“Baik tuan. Saya permisi.”
__ADS_1
Stefan tidak menyaut saat Rico pamit undur diri dari hadapan-nya. Pria itu menghela napas pelan. Entah kenapa tiba tiba Stefan merasa takut jika Hana sampai tau tentang kecelakaan malam itu.