
Hana menatap Stefan yang terlelap begitu nyaman diatas ranjang setelah selesai sarapan. Pria itu bahkan langsung memejamkan kedua matanya begitu kepalanya menempel di bantal.
Hana tidak tau apa yang di pikirkan oleh suaminya semalam sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak. Padahal permasalahan sudah terungkap dan mereka sudah di pastikan aman. Tapi Stefan malah tidak bisa memejamkan kedua mata sampai semalaman.
“Apa mungkin Stefan memikirkan Angel?” Gumam Hana bertanya tanya sendiri.
Hana juga tidak bisa bohong. Meski memang dirinya senang terus berjalan jalan bersama Stefan, namun Hana juga sangat merindukan gadis kecilnya itu. Hana ingin cepat cepat pulang agar bisa memeluk Angel. Hana merindukan saat saat bersama gadis kecil itu.
“Huft, Angel. Mommy kangen banget sama kamu sayang..” Hela napas Hana pelan.
Merasa bosan berada dikamar, Hana pun turun dari ranjang kemudian memutuskan untuk keluar.
Saat membuka pintu kamarnya, Hana mendapati Gabriela yang sedang duduk sambil melukis di dekat jendela tidak jauh dari kamar yang Hana dan Stefan tempati.
Hana tersenyum menatap gadis cantik berambut keriting itu yang sudah benar benar pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti biasanya.
Hana menutup pintu kamar dengan sangat pelan kemudian melangkah mendekat pada Gabriel yang sedang fokus menggoreskan cat air dengan kuas di permukaan kanvas putih didepan-nya.
“Gabriel..”
Panggilan Hana membuat Gabriel menoleh. Gadis cantik itu tersenyum lebar kemudian dengan cepat menarik kursi yang ada di belakangnya.
Gabriel menepuk pelan kursi tersebut sambil terus tersenyum pada Hana menyuruh agar Hana duduk disana.
“Aku duduk disitu?” Tanya Hana.
__ADS_1
Gabriel menganggukkan kepalanya dengan antusias. Meskipun sekarang dirinya tidak bisa berbicara, tapi Gabriel tetap merasa senang karena orang orang di sekitarnya sudah tidak lagi menjauh dan menatap penuh waspada terhadapnya.
Hana segera mendudukan dirinya dengan pelan di kursi yang Gabriel letakan di sampingnya. Senyuman Hana mengembang menatap Gabriel yang tetap begitu semangat dan antusias meskipun harus kehilangan kemampuan berbicaranya. Gadis itu juga tetap terlihat sumringah dengan binaran kebahagiaan dari sorot kedua matanya.
“Ya Tuhan.. Hamba benar benar tidak menyangka ada orang sekejam dan sejahat Michele yang dengan teganya memfitnah gadis polos dan lugu seperti Gabriel.” Batin Hana menatap iba pada Gabriel.
Melihat tatapan Hana padanya, Gabriel tertawa sambil menutup mulutnya. Gadis cantik berambut keriting dengan warna coklat terang itu kemudian meraih tangan Hana. Gabriel menggerakkan tangan satunya menunjuk dirinya sendiri kemudian menunjukan jempol tangan-nya pada Hana memberi tahu bahwa dirinya baik baik saja dan tidak mempermasalahkan apa yang sekarang di alaminya.
Hana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Hana benar benar merasa sangat takjub karena ketabahan dan kesabaran hati Gabriel menerima ujian yang diberikan Tuhan padanya.
“Lukisan kamu bagus.” Puji Hana kemudian.
Gabriel mengangguk dengan senyuman manisnya. Gadis itu kemudian melepaskan tangan Hana pelan dan kembali berkutat dengan lukisan-nya.
Hana terus duduk di samping Gabriel yang begitu fokus melukis. Namun meskipun begitu Gabriel tidak melupakan kehadiran Hana di sampingnya. Gadis itu sesekali menoleh dan tersenyum manis pada Hana. Gabriel juga sempat mengusap lembut perut buncit Hana yang membuat janin dalam kandungan Hana bergerak seperti menendang dengan begitu kuat. Gabriel terlihat terkejut namun tertawa pada akhirnya.
“Dari awal aku melihat kamu, aku sudah yakin kalau kamu adalah anak yang baik Gabriel. Dan Gabriel yang malam itu menemuiku untuk menanyakan suara benda jatuh itu, aku juga tidak yakin itu kamu. Selain karena warna bola mata yang berbeda. Senyuman itu juga berbeda.” Hana tersenyum sembari membatin menatap Gabriel yang terkejut karena gerakan janin dalam kandungan-nya.
Selesai melukis Gabriel kemudian mengajak Hana ke kamarnya. Gadis itu menuntun Hana dengan sangat hati hati saat menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Dikamarnya Gabriel menunjukan photo photonya saat menghadiri acara pernikahan Stefan dengan Lusi dulu. Namun gadis itu juga terlihat merengut sesaat membuat Hana mengeryit.
“Kenapa?” Tanya Hana pelan.
Gabriel menatap Hana. Gadis itu terlihat kebingungan seperti ingin mengatakan sesuatu pada Hana. Gabriel tidak bisa menggunakan bahasa isyarat karena tidak pernah mempelajarinya. Tentu saja karena Gabriel tidak pernah menyangka dirinya akan menjadi bisu.
__ADS_1
“Begini saja Gabriel, kamu bisa menuliskan apa yang ingin kamu katakan sama aku. Seperti saat kita dirumah sakit.” Senyum Hana memberi saran.
Gabriel tersenyum lebar. Gadis itu bangkit dari duduknya diatas ranjang disamping Hana kemudian berjalan ke laci meja belajarnya yang berada tidak jauh di seberang ranjang tempatnya biasa tidur.
Gabriel meraih pulpen dan buku miliknya kemudian membawanya lagi mendekat pada Hana.
Setelah duduk kembali disamping Hana, Gabriel segera menuliskan apa yang ingin dikatakan-nya pada Hana. Lewat tulisan tangan-nya Gabriel meminta maaf pada Hana karena saat Hana dan Stefan menikah dirinya juga keluarganya tidak bisa hadir.
“Nggak papa.. Aku ngerti kok. Mamah bilang kalian sedang ada urusan sehingga tidak bisa datang.” Senyum Hana membalas dengan tatapan lembut pada Gabriel.
Gabriel menghela napas dan tersenyum tipis. Gadis itu kembali menuliskan apa yang ingin dikatakan-nya pada Hana di buku. Gabriel menceritakan bahwa saat itu dirinya sedang di kurung dan tidak boleh keluar karena di tuduh melukai tetangga samping rumah dengan menusuknya. Padahal Gabriel sama sekali tidak tau apa apa saat itu. Gabriel bahkan sempat dibawa ke kantor polisi dan di tahan selama satu minggu hingga akhirnya tuan Smith memberi jaminan yang akhirnya Gabriel di bebaskan. Disamping itu tuduhan atas penusukan itu juga tidak ada bukti yang kuat. Meski memang benar yang melakukan itu adalah Gabriel palsu atau Michele yang menyamar.
“Jadi selama ini kamu tau kalau Michele yang berada di balik semua kejadian yang membuat kamu selalu di tuduh psikopat?” Tanya Hana hati hati.
Gabriel mengangguk dengan kedua mata berkaca kaca.
“Kenapa kamu nggak bilang sama semua orang Gabriel? kenapa kamu nggak melaporkan-nya sama tante sama om?” Tanya Hana pelan.
Gabriel menggeleng kemudian menuliskan kembali apa yang ingin dia katakan. Gabriel menuliskan bahwa jika dirinya melapor yang sebenarnya, Michele akan membunuh semua keluarganya termasuk Stefan juga Sera yang ada di indonesia.
Hana menggeleng tidak menyangka Michele berbuat begitu kejam pada Gabriel selama beberapa tahun. Bahkan sejak Gabriel berusia 11 tahun. Michele tidak hanya membunuh karakter Gabriel, tapi juga menghancurkan masa depan gadis belia itu.
“Aku nggak tau tekanan seperti apa yang kamu rasakan sejak dulu karena Michele, tapi aku yakin itu sangat tidak mudah untuk kamu Gabriel. Tapi Gabriel mulai detik ini kamu nggak perlu takut dengan siapapun. Kamu harus berani jujur pada orang orang yang menyayangi kamu. Katakan apapun yang membuat kamu berat. Karena kami semua sayang sama kamu.” Ujar Hana mengusap lembut bahu Gabriel.
Gabriel menganggukan kepalanya kemudian berhambur memeluk Hana yang langsung dengan lembut Hana balas.
__ADS_1