
Hana membuka pelan pintu kamarnya dan Stefan. Wanita itu kemudian mengeryit ketika mendapati pelayan yang berdiri di depan-nya bukan Angel.
“Selamat malam nyonya, maaf saya mengganggu. Didepan ada tuan Alan yang mencari anda dan tuan Stefan kata pak satpam.”
Kedua mata Hana terbelalak mendengar apa yang pelayan itu katakan. Hana sangat terkejut mendengar Alan yang tiba tiba datang mencarinya juga Stefan.
“Alan?”
Hana menoleh. Entah sejak kapan Stefan sudah berdiri disampingnya.
“Apa dia datang dengan Rania?” Tanya Stefan dengan ekspresi seriusnya menatap pelayan yang sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya saat sedang berbicara.
“Tidak tuan. Tuan Alan datang sendiri.” Jawab si pelayan.
Stefan berdecak pelan. Perasaan-nya tiba tiba terasa tidak enak.
“Baik. Biarkan dia masuk. Saya akan menemuinya.” Ujar Stefan tegas.
“Baik tuan. Saya permisi.”
Hana menatap lantai depan kamarnya bingung harus berkata apa. Meski saat pertemuan kemarin tidak terjadi apa apa antara Stefan dan Alan, namun perasaan Hana tetap tidak bisa bohong. Hana khawatir jika kedatangan Alan akan menimbulkan masalah.
“Kenapa?” Tanya Stefan menatap Hana yang hanya diam saja di sampingnya.
“Kamu takut aku akan berbuat kasar sama sahabat kamu?”
Pertanyaan Stefan membuat Hana dengan cepat langsung menatapnya. Hana menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang saat ini sedang di pikirkan Stefan tentangnya.
“Stefan aku...”
“Nanti aja ngomongnya. Lebih baik sekarang kita temui teman kamu dulu.” Sela Stefan dengan wajah datar.
Hana langsung diam. Hana tau meski sekarang Stefan terlihat datar dan seolah tidak perduli, namun perasaan-nya juga pasti sedang tidak menentu.
“Ayo..” Ajak Stefan.
“Eemm.. Stefan. Biar aku aja yang gendong Theo.” Ujar Hana.
Stefan diam sesaat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya setuju. Stefan kemudian memberikan Theo pada Hana. Setelah itu mereka berdua melangkah beriringan menuju tangga dan menuruninya satu persatu dengan langkah pelan menuju lantai satu rumahnya.
Diluar rumah, satpam segera membukakan pintu gerbang untuk Alan setelah mendapat mandat dari Stefan lewat pelayan dirumah itu untuk mempersilahkan Alan masuk.
__ADS_1
“Terimakasih ya pak.” Senyum Alan.
Alan menghela napas pelan kemudian melangkahkan kakinya di halaman luas kediaman Stefan. Meski tatapan tajam dan curiga para body guard disana terus mengarah padanya, namun Alan tetap berusaha agar terlihat tenang. Alan terus melangkahkan kakinya hingga akhirnya sampai diteras depan rumah Stefan. Disana sudah ada pelayan yang menunggu Alan kemudian mempersilahkan-nya untuk masuk dan mengantar Alan sampai ke ruang tamu.
“Silahkan duduk tuan..” Ujar pelayan itu mempersilahkan agar Alan duduk.
“Ya... Terimakasih.” Senyum Alan mengangguk pelan kemudian mendudukan dirinya diatas sofa. Alan sebisanya menahan emosi yang sedang menguasai hati juga pikiran-nya.
Setelah mempersilahkan Alan duduk pelayan itu berlalu. Namun tidak lama setelah pelayan yang mempersilahkan Alan duduk itu melenggang pergi dari hadapan Alan, muncul pelayan lain-nya dengan membawa tiga cangkir teh hangat diatas nampan. Tidak lupa pelayan itu juga menyertakan camilan untuk di suguhkan diatas meja didepan Alan.
“Silahkan tuan..” Ujarnya sambil meletakan suguhan yang dibawanya diatas meja.
Alan menganggukkan kepala dengan senyuman tipis yang menghiasi bibirnya. Dan setelah itu pelayan tersebut kembali berlalu meninggalkan Alan sendiri di ruang tamu serba mewah itu.
“Aku tidak perduli apapun yang terjadi nanti. Hana tetap harus tau siapa Stefan sebenarnya.” Batin Alan penuh tekad.
Alan memejamkan sesaat kedua matanya untuk mengumpulkan tekadnya. Alan tidak akan mundur apapun yang terjadi.
Saat itu Stefan muncul dengan Hana yang menggendong Theo. Alan segera bangkit dari duduknya. Kedua tangan-nya mengepal erat dengan rahang yang mengeras melihat Stefan yang sedang melangkah mendekat padanya dengan Hana yang berada disampingnya.
Hana berhenti melangkah begitu sampai dengan jarak sekitar dua meter dari sofa tempat Alan duduk. Sementara Stefan, pria itu terus saja mendekat hingga akhirnya berhenti tepat didepan Alan.
“Selamat datang dirumah saya Alan.” Ujar Stefan pelan.
“Jangan anda pikir saya takut tuan. Meskipun saya tidak punya apa apa tapi setidaknya saya tidak licik dan penuh kecurangan seperti anda.” Tekan Alan.
Hana terkejut mendengar apa yang Alan katakan pada Stefan. Padahal sebelumnya Alan bersikap baik dan ramah pada suaminya.
“Saya licik dan curang?” Tanya Stefan menyipitkan kedua matanya menatap Alan tidak suka.
Tidak bisa lagi menahan emosinya, Alan pun langsung melayangkan bogem mentahnya ke wajah tampan Stefan yang langsung mengenai sudut bibir tipis Stefan. Dan bogem mentah Alan berhasil membuat tubuh Stefan terdorong ke belakang bahkan nyaris jatuh ke lantai jika saja Stefan tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
“Stefan !!” Pekik Hana yang membuat putranya kaget kemudian menangis dengan sangat kencang.
Sedangkan Alan, meski sudah berhasil melayangkan tinjunya di wajah Stefan, namun dia belum merasa puas.
Hana langsung menubruk Stefan. Wanita itu menangis melihat suaminya di pukul tepat didepan mata kepalanya sendiri.
Stefan meringis kemudian memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah karena hantaman keras kepalan tangan Alan.
“Stefan kamu tidak papa?” Tanya Hana menatap Stefan khawatir.
__ADS_1
Tangisan nyaring Theo berhasil membuat para pelayan juga body guard langsung berdatangan. Dan melihat Stefan yang sedang mengusap darah di sudut bibirnya para body guard itu langsung paham. Mereka langsung memegangi Alan.
“Apa apaan ini? Lepaskan saya !!” Marah Alan memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkraman para body guard Stefan.
Stefan mendesis merasakan nyeri juga perih di sudut bibirnya. Pria itu menatap Hana yang menangis menatap penuh khawatir padanya. Stefan kemudian tersenyum samar. Hana hanya fokus padanya dan sama sekali tidak memperdulikan Alan yang marah dan berteriak meminta di lepaskan oleh body guard yang mencekalnya.
“Ya Tuhan Stefan.. Kamu terluka.”
Stefan merasa senang karena ternyata Hana jauh lebih mengkhawatirkan-nya.
“Aku tidak apa apa Hana.” Lirih Stefan.
Stefan kemudian beralih menatap putranya yang menangis.
“Lebih baik kamu ke kamar sekarang. Alan akan menjadi urusanku. Kasihan Theo, dia ketakutan mendengar suara keras.”
Hana menggelengkan kepalanya. Wanita itu tidak ingin meninggalkan Stefan hanya dengan Alan. Hana takut keduanya akan berkelahi.
“Ada apa ini?” Tanya Sera yang tiba tiba muncul dengan Angel yang di gandengnya.
Kedua mata Sera terbelalak melihat Stefan yang terluka dibagian sudut bibirnya. Wanita itu segera menghampiri Stefan dan Hana dengan penuh ke khawatiran.
“Ya Tuhan, Stefan kamu kenapa?”
Stefan hanya tersenyum dan menggeleng pelan tidak ingin membuat mamahnya khawatir.
“Aku nggak papa mah..” Jawabnya.
Sera kemudian menyadari ada sosok lain diantara mereka. Sera menoleh menatap Alan yang sedang di tahan oleh dua body guard dan sedang berusaha melepaskan diri dengan sesekali memberontak.
“Alan..” Gumamnya lirih.
“Mah.. Tolong aku titip Theo sebentar. Ajak Angel dan Theo ke kamar ya mah..” Pinta Hana pada Sera.
Sera tidak tau apa yang terjadi. Namun wanita itu tetap mengiyakan permintaan tolong Hana. Sera menerima Theo yang di berikan Hana kemudian membawanya berlalu dari ruang tamu dengan mengajak serta Angel. Sera percaya Stefan dan Hana bisa menyelesaikan apa yang saat ini sedang mereka hadapi.
“Oma, kenapa mommy menangis? Kenapa daddy juga berdarah. Dan om itu, kenapa di pegangi oleh body guard daddy?” Tanya Angel polos.
Sera tersenyum mendengar pertanyaan Angel. Wanita itu tidak tau harus menjawab apa karena memang Sera sama sekali tidak tau duduk permasalahan-nya. Tapi Sera menebak mungkin Alan sudah tau apa yang selama ini Stefan sembunyikan.
“Oma juga nggak tau sayang. Kita do'akan yang terbaik saja ya..” Balas Sera yang membuat Angel menganggukkan kepalanya dengan polos.
__ADS_1
“Ya oma..”