
Dokter Rania sedang mencoba memejamkan kedua matanya saat tiba tiba ponselnya berdering. Wanita yang masih betah bergumul didalam selimut tebalnya itu berdecak merasa sangat terganggu dengan suara nyaring ponselnya. Enggan mengangkat telepon tersebut, dokter cantik itu pun meraih bantal dan menutupi kedua telinganya menggunakan bantal tersebut agar suara nyaring ponselnya tidak mengganggunya.
Satu sampai dua hingga tiga kali ponselnya terus berdering. Hal itu membuat dokter Rania merasa kesal hingga akhirnya membuka kembali bantal yang dia gunakan untuk menutupi telinganya.
“Ck, siapa sih. Ganggu banget.” Kesal dokter cantik itu menggerutu.
Dokter Rania bangkit dari berbaringnya kemudian meraih ponselnya yang terus berdering itu.
“Alan..” Gumam dokter cantik itu pelan dengan wajah sendu.
Dokter cantik itu tidak mengangkat telepon dari Alan. Dia hanya diam menatap nama kontak Alan yang tertera di layar ponselnya.
“Mau ngapain dia telepon aku? Bukan-nya udah punya teman dekat baru.” Kesalnya.
Dokter Rania merasa kesal pada Alan sejak melihat Alan berboncengan dengan teman kerjanya yang dokter cantik itu tidak tau siapa. Bahkan penyebab sekarang dirinya merasa tidak enak badan adalah Alan. Dokter Rania tidak bisa berhenti memikirkan Alan dengan teman kerjanya yang sore itu Alan antar pulang. Dokter cantik itu sampai tidak bisa tidur semalaman hingga paginya merasakan denyutan hebat di kepalanya.
Deringan ponselnya berhenti dan entah kenapa dokter cantik itu tiba tiba berharap Alan akan kembali menelepon-nya. Tapi nyatanya Alan tidak menelepon-nya lagi dan hanya mengirim pesan singkat pada dokter Rania dengan mendo'akan agar dokter cantik itu cepat sembuh.
“Jadi dia tahu aku sakit sekarang?” Gumamnya dengan senyuman yang mulai menghiasi bibirnya.
Sebenarnya dokter Rania juga berniat memberitahu Alan tentang Hana yang sudah melahirkan agar mereka bisa sama sama datang untuk menjenguk Hana. Meskipun sebenarnya dokter Rania juga yakin Alan dan ibunya pasti sudah tau berita tersebut.
“Tapi..” Senyuman dibibir dokter cantik itu tiba tiba sirna mengingat apa yang dilihatnya kemarin sore. Alan bersama wanita lain dan mereka tampak sangat akrab. Bahkan dari gerakan tubuhnya terlihat sangat jelas Alan yang menawarkan agar wanita itu ikut saja dengan-nya.
“Apa mungkin perempuan itu sedang dekat dengan Alan?”
Dokter Rania mulai bertanya tanya. Pasalnya selama ini dokter Rania tidak banyak tau tentang orang orang di sekitar Alan kecuali keluarganya. Yang dokter cantik itu tahu hanya Alan orang yang baik.
“Ah sudahlah, bukan urusan aku juga Alan sedang dekat dengan siapa.”
Perasaan kesal itu mulai kembali menghampiri dokter Rania. Tidak perduli dengan pesan singkat yang di kirim Alan untuknya, dokter cantik itu pun memilih untuk kembali membaringkan tubuhnya. Denyutan di kepalanya membuat dokter cantik itu merasa malas untuk melakukan apapun hari ini.
-----------
Sorenya setelah pulang dari bekerjanya, Alan langsung menuju kediaman dokter Rania. Alan benar benar khawatir dengan keadaan dokter cantik itu yang tidak masuk kerja karena alasan sakit.
Tidak membutuhkan waktu lama motor Alan sampai tepat didepan gerbang kediaman dokter Rania. Dan seperti biasanya, satpam dirumah itu selalu menyapanya dengan ramah kemudian mempersilahkan untuk Alan masuk kedalam.
“Dokter Rania nya ada kan pak?” Tanya Alan setelah turun dari motornya kemudian melepaskan helm yang dia kenakan.
__ADS_1
“Oh ada tuan. Nona hari ini nggak kemana mana. Kata si mbak sih nona lagi sedikit demam.” Jawab pak satpam yang juga memberitahu Alan tentang keadaan dokter Rania sekarang.
Alan mengangguk pelan mendengar apa yang dikatakan oleh satpam itu.
“Ya sudah kalau begitu saya masuk ya pak..”
“Oh iya tuan, silahkan.”
Alan berjalan menjauh dari pak satpam dan motornya menuju pintu utama kediaman mewah dokter Rania. Pria itu mengetuk pelan pintu yang terbuka itu karena tidak ingin lancang masuk tanpa izin. Tidak lama muncul asisten rumah tangga yang akrab disapa mbak oleh dokter Rania.
“Mbak..” Senyum Alan ramah.
“Ya tuan, silahkan masuk.”
“Dokter Rania ada?” Tanya Alan pelan untuk basa basi. Tentu karena Alan sudah tau dokter cantik itu ada.
“Ada tuan. Tapi dari pagi nona enggak keluar dari kamar. Badan-nya panas dan wajahnya pucat.”
Mendengar jawaban asisten rumah tangga tersebut perasaan Alan semakin tidak tenang.
“Boleh saya lihat dokter Rania ke kamarnya mbak? saya janji tidak akan macam macam.”
“Tidak usah repot repot mbak. Ya sudah saya permisi ke atas yah.”
Setelah berkata dengan sopan, Alan langsung naik ke lantai dua menuju kamar dokter Rania. Pria itu benar benar merasa sangat khawatir dengan keadaan dokter Rania sekarang.
Ketika sampai didepan pintu kamar dokter cantik itu, Alan mengetuk pintunya. Namun karena tidak juga kunjung ada jawaban, Alan pun memberanikan diri membuka pelan pelan pintu tersebut yang ternyata memang tidak di kunci.
Setelah pintu kamar itu dibuka, Alan menemukan dokter Rania yang sedang terlelap tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai leher.
Alan tersenyum dan masuk kedalam kamar dokter cantik itu. Alan menghela napas. Pandangan-nya tertuju pada sepiring nasi dan lauk beserta sayurnya juga segelas air putih yang ada di atas nakas. Alan yakin makanan itu sengaja di siapkan oleh asisten rumah tangga yang bekerja dirumah itu untuk dokter Rania.
Karena penasaran dengan keadaan wanita yang selalu menjadi penyemangat dan alasan Alan tersenyum setiap pagi itu, Alan pun memberanikan diri mendekat. Alan duduk ditepi ranjang kemudian menempelkan punggung tangan-nya di kening dokter Rania untuk mengecek suhu tubuh wanita itu. Dan apa yang Alan lakukan itu berhasil mengusik tidur dokter Rania yang langsung terkejut karena kehadiran Alan dikamarnya.
“Alan, kamu mau ngapain?”
Dokter Rania langsung bangkit dari berbaringnya kemudian menjauh dari Alan dengan tatapan waspada.
“Eh maaf maaf.. Aku nggak berniat macam macam kok dokter. Aku cuma ingin tau keadaan dokter saja. Maaf kalau aku lancang.”
__ADS_1
Dokter Rania menatap Alan yang langsung berdiri dari duduknya begitu dirinya terbangun. Dokter Rania juga tau Alan pria yang baik. Tapi kehadiran pria itu yang begitu tiba tiba di kamarnya benar benar membuatnya sangat terkejut.
“Aku tadi siang kerumah sakit. Tapi suster disana bilang dokter nggak masuk karena izin sakit. Terus aku coba telepon, dokter nggak angkat. Aku kirim pesan juga nggak di balas. Karena khawatir sama dokter makan-nya aku langsung kesini. Kata mbak, dokter dari tadi pagi nggak keluar kamar. Dan tadi aku cuma mau ngecek keadaan dokter saja. Maaf sekali lagi dokter kalau saya sudah lancang masuk ke kamar dokter.”
Dokter Rania menghela napas kemudian perlahan menurunkan selimut yang dia gunakan untuk menutupi tubuhnya dari Alan.
“Makasih udah perhatian sama aku.” Katanya pelan.
Alan tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Pria itu kemudian melirik makanan yang masih penuh dan seperti belum tersentuh itu.
“Dokter udah makan belum?” Tanya Alan kemudian.
Dokter Rania menggelengkan kepalanya. Kondisi tubuhnya membuatnya malas melakukan segala hal. Apa lagi mulutnya juga terasa pahit yang membuat dokter itu tidak nafsu makan.
“Aku malas makan. Mulutku pahit.” Jawabnya.
Alan menghela napas dengan disertai decakan kecil. Alan tidak menyangka seorang dokter saja malas makan karena mulut pahit. Padahal seharusnya dokter lebih tau bagaimanapun rasanya harus tetap di paksa untuk makan walaupun cuma sedikit supaya lekas sembuh.
“Ya walaupun pahit tapi kan tetap harus makan dokter, biar dokter cepat sembuh. Aku suapin yah?”
Dokter Rania mengeryit menatap Alan yang mulai meraih sepiring nasi yang ada diatas nakas kemudian duduk kembali di tepi ranjang milik dokter Rania. Pria itu lalu menyodorkan sesendok nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya didepan bibir dokter Rania.
“Tapi...”
“Dokter dulu marah kalau aku nggak mau makan kan? Apa perlu aku juga marah sama dokter supaya dokter juga mau makan?” Sela Alan bertanya.
Dokter Rania tersenyum mendengarnya. Tidak ingin berdebat, dokter Rania pun akhirnya membuka mulutnya menerima suapan dari Alan.
Alan menyuapi dokter Rania sambil mengajaknya mengobrol dan sesekali bercanda hingga akhirnya tanpa sadar dokter cantik itu menghabiskan makanan-nya.
“Nah sekarang waktunya minum obat supaya dokter cepat sembuh terus bisa kerja lagi. Kasihan tau dokter pasien-nya nungguin.” Ujar Alan sambil menaruh kembali piring kosong di tangan-nya ke nakas.
“Ck, dokter dirumah sakit nggak cuma aku Alan. Kan ada dokter yang lain. Kalau aku nggak ada ya mereka yang nangani dokter lain lah. Masa nunggu aku sampe aku sembuh.” Balas dokter Rania.
“Iya sih.. Tapi kan dokter yang aku kenal dekat cuma dokter Rania doang. Dan aku kan juga pasien-nya kamu.”
“Apaan sih? orang kamu udah sembuh juga.”
Dokter Rania tersenyum malu malu. Perhatian Alan berhasil membuat dokter cantik itu lupa akan apa yang di lihatnya kemarin sore.
__ADS_1