
Malamnya.
Stefan sedang fokus dengan laptopnya. Sementara Hana sedang menyusui Theo diatas tempat tidur saat suara ketukan pintu terdengar. Stefan yang tau Hana tidak bisa membuka pintu karena Theo yang belum benar benar terlelap pun memilih mengesampingkan pekerjaan-nya sejenak. Pria itu bangkit dari duduknya dan melangkah pelan menuju pintu kamar yang memang sengaja Stefan kunci dari dalam.
“Selamat malam daddy...”
Stefan mengangkat sebelah alisnya menatap Angel yang tersenyum begitu manis begitu Stefan membuka pintu untuknya.
“Tentang tadi siang, Angel sangat minta maaf daddy.. Angel tidak akan mengulanginya lagi.”
Stefan tersenyum samar. Angel tau dirinya masih kesal sampai sekarang. Namun kekesalan Stefan bukan karena amarah tidak suka dengan apa yang Angel lakukan. Stefan hanya masih terkejut dan takut jika sampai sesuatu yang buruk menimpa gadis kecil itu seperti saat Angel mengalami kecelakaan di sekolah dan harus di larikan kerumah sakit bahkan sampai kehilangan banyak darah.
“Angel sudah buatkan teh hangat untuk daddy. Daddy mau kan maafin Angel?”
Gadis kecil itu meraih secangkir teh hangat yang sebelumnya dia letakan dimeja kecil dekat pintu kamar Stefan dan Hana, menyodorkan pada Stefan dengan tatapan memelas.
Angel memang membuat sendiri teh tersebut dengan di bantu oleh Sera, omanya. Tentunya setelah Angel menceritakan apa yang sudah dilakukan-nya tadi siang pada Sera.
Stefan menghela napas kemudian menerima secangkir teh tersebut. Stefan menatap teh yang sudah berada di tangan-nya kemudian menyeruputnya sedikit. Entah mendapat ide darimana Angel berusaha mendapat maaf darinya dengan menyogoknya menggunakan secangkir teh. Tapi Stefan merasa sangat terkesan dengan hal manis itu.
Angel menatap Stefan menunggu respon daddy nya. Angel juga berharap daddy nya menyukai teh buatan-nya.
“Eemm.. Lumayan enak.” Gumam Stefan setelah merasakan teh buatan putrinya.
Angel tersenyum lebar. Senang rasanya mendengar Stefan menyukai teh buatan-nya.
“Kali ini daddy maafkan kamu. Tapi ingat, lain kali jangan mengulanginya lagi. Bermain juga harus hati hati. Kamu mengerti?”
Angel menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias.
__ADS_1
“Baik daddy.”
Stefan tersenyum geli kemudian merentangkan satu tangan-nya menyuruh agar Angel memeluknya yang tentu saja langsung dilakukan oleh gadis kecil itu dengan senang hati.
“Apa kamu sudah mengerjakan tugas sekolah?” Tanya Stefan sambil mengusap lembut puncak kepala Angel yang memeluk perutnya.
“Sudah dad..” Jawab Angel sambil memejamkan mata merasakan hangatnya kasih sayang Stefan.
“Oke, kalau begitu segeralah istirahat. Ini sudah malam. Jangan lupa cuci kaki, tangan, dan gosok gigi.”
Angel melepaskan pelukan-nya lalu mendongak membalas tatapan Stefan.
“Oke daddy.. Selamat malam.” Balasnya dengan penuh semangat.
“Hem.. Nice dream my princess..” Angguk pelan Stefan dengan senyuman.
Stefan menatap Angel yang berlalu dari hadapan-nya dengan sangat antusias. Stefan kemudian menggeleng merasa lucu juga gemas dengan tingkah gadis kecilnya.
Stefan kembali melangkah menuju sofa dimana sekarang sofa itu menjadi tempat favoritnya saat mengecek pekerjaan-nya dirumah. Stefan bahkan hampir tidak pernah lagi masuk keruang kerjanya. Stefan ingin melakukan segala hal dirumah namun tetap bisa membantu Hana saat sedang mengurusi Theo.
Ketika hendak mendudukkan dirinya di sofa, Stefan melirik Hana yang sama sekali tidak bersuara sejak tadi. Senyumnya mengembang begitu Stefan mendapati Hana yang ternyata sudah terlelap dengan Theo yang masih menyusu padanya.
Stefan tersenyum. Hana pasti terlelap tanpa di sengaja karena saking lelahnya mengurusi Theo sendiri. Stefan juga yakin Hana juga pasti sesekali mengawasi Angel yang memang mulai ekstrim saat bermain. Meski memang sudah ada Sera yang mengurus semua keperluan Angel namun Stefan tau bagaimana Hana yang begitu merasa bertanggung jawab sebagai ibu dari dua anak.
Tidak ingin mengganggu tidur lelap istri juga anaknya, Stefan pun kembali melanjutkan aktivitasnya sendiri. Pria itu meletakan secangkir teh hangat yang dibawanya di atas meja. Ini pertama kali Stefan mencoba teh buatan Angel. Dan teh itu adalah tanda maaf dari Angel karena kenakalan-nya yang berhasil membuat Hana dan Stefan terkejut juga khawatir.
Sampai malam larut Stefan baru selesai dengan laptopnya. Setelah itu Stefan pun menutup laptopnya dan memutuskan untuk tidur. Stefan bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju ranjang. Pria itu tersenyum lagi menatap istri dan putranya yang masih dengan posisi yang sama. Itu menandakan keduanya benar benar sudah nyenyak. Namun sekarang Theo sudah tidak lagi menyusu membuat buah dada Hana menyembul keluar yang tentu tidak Hana sadari. Tidak tega melihatnya, Stefan pun pelan pelan merapikan baju Hana, menutupi bagian dada Hana dengan sangat pelan dan hati hati agar Hana tidak terusik dari tidurnya.
Setelah merapikan baju Hana, Stefan pun membaringkan tubuhnya disamping Theo. Stefan tidak ingin mengganggu Hana yang sudah begitu lelah seharian mengurusi putra mereka. Selain itu Stefan juga sudah merasa lelah baik pikiran maupun tubuhnya.
__ADS_1
Stefan menghela napas pelan kemudian mulai memejamkan kedua matanya ikut terlelap bersama anak dan istrinya.
----------
Di kediaman dokter Rania.
Dokter Rania menatap tidak mengerti pada sepupu jauh mendiang kedua orang tuanya yang tiba tiba saja datang berkunjung padahal malam sudah hampir larut. Dokter cantik itu merasa sangat terganggu dengan kehadiran mereka yang menurutnya sangat aneh dan tidak biasa.
Dokter Rania masih sangat ingat bagaimana perlakuan mereka pada dirinya juga mendiang kedua orang tuanya. Mereka begitu semena mena bahkan mengambil warisan dari kakek dan nenek dokter Rania dengan sangat tidak terhormat. Mereka juga menghina kedua orang tua dokter Rania dan menuduh mereka ingin menguasai sendiri warisan keluarga. Padahal pada kenyataan-nya secuilpun kedua orang tua dokter Rania tidak pernah menikmati warisan tersebut.
“Rania, om dan tante minta maaf karena mengganggu malam malam begini. Kami berdua sebenarnya baru saja dalam perjalanan jauh dan tiba tiba teringat pada kamu. Jujur Rania, kami benar benar sangat merindukan kamu.” Ujar Monik, adik sepupu dari ayah dokter Rania.
Dokter Rania tersenyum sinis. Dokter cantik itu merasa kedua orang di depan-nya seperti menganggap dirinya bodoh dengan percaya begitu saja bualan munafik itu.
“Kami senang dan ikut merasa bahagia karena akhirnya kamu bisa mencapai cita cita kamu. Yah.. Kami tidak menyangka kamu bisa menjadi dokter yang begitu hebat. Kami sebagai keluarga merasa sangat bangga.”
Dokter Rania menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan sikap tidak tau malu keduanya. Padahal dulu mereka dengan sangat terang terangan menghina dokter Rania. Mereka bahkan mengatakan dokter Rania tidak akan bisa mencapai cita citanya karena dokter Rania hanya anak yang terlahir dari darah orang tidak punya derajat.
“Cukup basa basinya om, tante. Sebenarnya ada tujuan apa kalian tiba tiba datang kemari? Ini sudah malam dan saya sudah harus istirahat.” Tegas dokter Rania yang merasa muak dengan bualan tantenya.
“Oh ya Tuhan.. Baiklah sayang. Sebenarnya kami ingin meminjam uang. Kamu tau, Susi adik kamu dia sedang membutuhkan dana besar untuk pernikahan-nya. Kami sangat berharap kamu bisa membantu.”
Dokter Rania tertawa. Sudah dia duga, mereka berdua datang pasti karena maksud dan tujuan tertentu.
Karena tidak ingin lama lama berinteraksi dengan keduanya, dokter Rania pun langsung memberikan apa yang mereka inginkan.
“Tidak usah meminjam. Saya ikhlas membantu kalian. Ambil saja uang itu dan silahkan kalian keluar dari rumah saya.” Ujar dokter Rania yang merasa tidak perlu bersikap hormat pada keduanya.
“Terimakasih, terimakasih Rania. Kami tau kamu menyayangi Susi. Kalau begitu kami permisi.”
__ADS_1
Dengan sangat gembira Monik dan suaminya berlalu keluar dari rumah mewah dokter Rania. Mereka bahkan tidak mempermasalahkan sikap dokter Rania karena uang yang diberikan oleh dokter Rania secara cuma cuma pada keduanya.
“Dasar penjilat.” Gumam dokter Rania menggelengkan kepala tidak menyangka dengan sepupu jauh kedua orang tuanya yang sepertinya memang tidak punya sedikitpun rasa malu itu.