
“Kamu masih tidak mau menggunakan handphone itu?”
Hana baru saja hendak naik ke atas tempat tidur dimana Stefan duduk sekarang saat Stefan tiba tiba mengungkit tentang ponsel pemberian-nya lagi.
Hana berdecak kemudian naik, membaringkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Hana malas menjawab pertanyaan yang dari awal sebenarnya sudah Hana jawab dengan jelas dan gamblang pada Stefan. Dan Hana memilih memunggungi suaminya itu.
“Hana, aku sedang berbicara dengan kamu.” Tegas Stefan.
Hana tetap bertahan dengan posisinya membuat Stefan merasa gemas dan akhirnya meraih bahu Hana memaksanya agar wanita itu menatap padanya.
“Stefan kamu..”
“Aku paling tidak suka dibantah Hana.” Sela Stefan yang kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Hana untuk yang kesekian kalinya.
Hana menelan ludah melihat tatapan tajam Stefan padanya. Berada sedekat sekarang dengan Stefan sudah bukan lagi sesuatu yang asing baginya karena Stefan memang selalu mendekatkan wajah padanya saat sedang berbicara serius. Namun meskipun begitu, Hana tetap tidak bisa menolak pesona pria tampan itu. Apa lagi kedua mata coklat beningnya yang selalu menatap tajam kearahnya.
“Stefan, bisa tidak kamu jangan paksa aku?”
Pertanyaan dan balasan tatapan sendu Hana membuat ekspresi Stefan langsung berubah. Dan entah kenapa Stefan tiba tiba merasa dirinya sudah sangat kejam memperlakukan Hana.
“Bukankah hubungan kita ini sama sama menguntungkan? Aku mendapat apa yang aku mau untuk orang orang yang aku sayangi. Dan kamu, kamu juga begitu bukan? Tolong jangan menindasku..”
Hana mulai mengeluarkan jurus memelasnya. Sebenarnya Hana tidak ingin di kasihani. Hana hanya sedang merasa malas meladeni Stefan yang memang selalu bertingkah seenaknya.
“Atau sebenarnya kamu marah karena apa yang aku lakukan tadi pada Williana? Stefan, bukankah aku ini istrimu? Meskipun kita tidak saling mencintai bukankah seharusnya kamu membelaku?”
Stefan mengeryit. Sedikitpun kekesalan-nya malam ini tidak ada hubungan-nya dengan apa yang Hana lakukan pada Williana. Karena berkat Hana juga Stefan tidak perlu capek capek mengusir wanita itu dari rumahnya.
“Asalkan kamu katakan apa alasanmu berbuat seperti itu pada Williana.”
Hana mengeryit.
“Kamu tidak sedang berpikir aku cemburu kan?” Tanya Hana menatap Stefan.
__ADS_1
Stefan tersenyum miring kemudian menjauhkan dirinya dari Hana. Pria tampan itu membaringkan tubuhnya disamping Hana dengan pandangan lurus ke langit langit kamarnya.
“Jangan besar kepala Hana. Memangnya kamu pikir kamu pantas?”
Hana menoleh menyipitkan kedua matanya menatap Stefan dengan hati dongkol.
“Kamu pikir kamu sehebat itu apa? Heh tuan, dengar ya. Aku bahkan bisa mendapat laki laki yang lebih tampan dari kamu. Lebih hebat segalanya bahkan.”
Tidak mau diremehkan, Hana pun bangkit dari berbaringnya. Hana menatap Stefan dengan rasa kesal yang menguasai hati juga pikiran-nya.
“Oh ya? Aku tidak yakin.”
Hana berdecak kesal. Stefan benar benar sangat memuakkan.
Enggan semakin memperpanjang perdebatan-nya dengan Hana, Stefan pun merubah posisi berbaring terlentangnya menjadi miring memunggungi Hana.
Membayangkan Hana cemburu melihat kedekatan-nya dengan Williana entah kenapa Stefan merasa senang.
“Besok kamu harus menggunakan handphone itu Hana.” Ujar Stefan tidak menerima penolakan apapun dari Hana.
Hana menutup tubuhnya dengan selimut yang sama dengan Stefan. Wanita itu menghela napas kemudian tersenyum.
“Aku cemburu? Apa iya?” Gumam Hana tersipu sendiri.
Hana tidak pernah merasakan apa itu cemburu. Karena selama bersama dengan Alan pun Hana tidak pernah melihat Alan dekat dengan wanita lain. Hal itu membuat Hana selalu merasa bahwa Alan hanya ada untuknya.
Tapi Stefan, dia tidak sama dengan Alan. Stefan di kelilingi oleh wanita wanita cantik yang pasti sebagian besar mempunyai niat yang sama seperti Williana. Wanita wanita itu juga pasti berasal dari kalangan atas yang tentu tidak sepadan dengan Hana.
“Loh kenapa aku tiba tiba memusingkan hal itu.. Ya Tuhan.. Amit amit deh cemburu sama dia.. Jangan sampe..”
Hana bergidik ngeri tidak mau jika sampai rasa cemburu itu benar benar Hana rasakan saat melihat Stefan dengan wanita lain.
Sementara Stefan, pria itu terus tersenyum dalam diamnya. Stefan tidak menyangka jika ternyata Hana berani melakukan hal seberani itu pada Williana agar Williana menjauh darinya.
__ADS_1
Stefan tau apa yang sudah Hana lakukan pasti sangat membuat Williana geram. Karena itu Williana pasti tidak akan diam saja dan itu tidak akan mudah untuk Hana. Tapi Stefan tidak akan diam saja. Stefan akan melindungi Hana sebagai istrinya, bukan sebagai wanita yang dia cintai.
--------------
“Kali ini mommy harus banyak bikin omelette nya. Kejunya juga banyakin mommy. Daddy sangat suka keju.”
Hana yang sedang memecahkan telur kedalam mangkuk mengeryit mendengar apa yang Angel katakan. Pagi ini gadis kecil itu memang sangat semangat sekali meminta pada Hana agar Hana membuatkan-nya omelette dengan keju yang melimpah.
“Angel, mommy kan buatnya buat kamu. Lagian kalau nanti mommy masaknya terlalu banyak, daddy pasti marah dan menganggap mommy menggantikan posisi tukang masak dirumah ini.” Ujar Hana dengan lembut.
Angel tertawa.
“Daddy memang galak mommy. Tapi daddy itu orangnya baik. Daddy bahkan pernah kok mau makan masakan oma yang sangat asin. Saat itu semua pelayan dirumah ini sedang pulang kampung mommy.” Cerita Angel.
“Oh ya?” Tanya Hana tidak percaya.
“Ya mommy.. Kalau mommy nggak percaya, mommy bisa tanyakan sama oma langsung.”
Hana tertawa mendengarnya. Hana juga percaya Stefan baik. Tapi kebaikan Stefan itu hanya sedikit dan harus selalu ada timbal baliknya menurut Hana. Benar benar pria yang tidak punya ketulusan.
“Baiklah, mommy akan membuat banyak omelette kejunya. Tapi nanti kalau daddy marah, kamu harus belain mommy. Bagaimana?”
Ekspresi Angel langsung berubah. Gadis itu menatap Hana sendu yang menandakan bahwa Angel sendiri tidak berani membantah Stefan.
“Maaf mommy.. Angel tidak berani membantah daddy..” Katanya pelan menundukan kepalanya.
Hana menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Bahkan sikap dingin dan cuek Stefan sampai membuat Angel begitu takut padanya.
“Kamu tenang saja sayang.. Daddy kan sayang banget sam kita. Daddy pasti nggak akan marah kok. Mommy hanya bercanda tadi.” Hibur Hana yang kemudian langsung membuat Angel tersenyum.
Dari balik tembok, tanpa Hana dan Angel sadari Stefan berada tidak jauh dari keduanya didapur. Stefan juga mendengar dengan jelas apa yang mereka obrolkan.
Stefan menghela napas. Stefan bersikap tegas pada Angel bukan tanpa alasan. Dan Stefan merasa tidak perlu ada yang tau tentang alasan-nya bersikap demikian pada Angel.
__ADS_1
Stefan kemudian berlalu dari tempatnya sambil merogoh saku dalam jasnya mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
“Rico, siang nanti jemput Aisha di sekolahnya. Bawa dia kerumah.” Perintahnya pada Rico lewat sambungan telepon.