ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 12


__ADS_3

Stefan masuk kedalam ruangan dokter yang akan menangani Alan setelah Alan keluar dari rumah sakit nanti. Stefan memang sudah mengatur semuanya dengan rapi. Pria itu tidak ingin lari dari tanggung jawabnya setelah menabrak Alan meskipun itu tidak sengaja Stefan lakukan.


Peristiwa itu memang tidak ada yang melihat. Tapi itu bukan berarti Stefan tidak mengakui kesalahan-nya. Bahkan jika suatu saat nanti muncul saksi yang melihat kejadian itu Stefan akan dengan berani menghadapinya bahkan dengan kepala tegak.


“Stefan...”


Seorang wanita berambut lurus sebahu tersenyum menatap Stefan yang berdiri dicelah pintu yang Stefan buka. Wanita dengan jas putih kebanggaan-nya itu kemudian mengabaikan apa yang sedang disentuhnya dan fokus menatap Stefan yang memang selalu menampakkan wajah datarnya pada siapapun.


“Silahkan masuk Stefan..” Katanya mempersilahkan.


Stefan mengangguk pelan kemudian masuk kedalam ruangan dokter itu dan langsung duduk dikursi didepan meja kerja dokter cantik itu tanpa disuruh.


“Oh ya Stefan, ngomong ngomong selamat untuk pernikahan-nya. Maaf sekali aku nggak bisa datang memenuhi undangan.”


“Aku kesini bukan untuk membahas tentang pernikahan Rania.” Sela Stefan membuat dokter cantik bernama Rania itu tersenyum dan langsung diam.


“Oh, baiklah.”


“Bagaimana kondisi Alan?” Tanya Stefan langsung pada inti pembicaraan.


Dokter Rania terdiam sesaat. Stefan memang khusus menghubunginya agar dokter cantik itu menangani Alan. Stefan juga mempercayakan semua tentang Alan pada dokter Rania.


“Kondisinya masih tetap sama. Tapi Stefan, ada kemungkinan dia akan mengalami kelumpuhan jika sadar nanti.”


Stefan diam. Tentang kondisi Alan, Stefan sama sekali tidak pernah mengharapkan semua itu terjadi.


“Tapi kamu nggak perlu khawatir. Kelumpuhan itu bukan permanen. Dia tetap akan bisa berjalan kembali seperti sedia kala. Ya, meskipun dengan proses dan waktu yang tidak sebentar.”


“Apapun itu, lakukan yang terbaik. Usahakan agar dia bisa pulih seperti sedia kala.”


Rania mengangguk anggukkan kepalanya.


“Sepertinya kamu sangat perduli dengan dia.”


Stefan menghela napas. Sejauh ini tidak ada seorang pun yang tau selain Rico dan orang orang nya bahwa Stefan lah yang menabrak Alan. Polisi bahkan tidak melanjutkan penyelidikan karena tidak ada saksi mata serta barang bukti apapun.

__ADS_1


Ya, sampai saat ini mobil sport merah milik Stefan masih dalam tahap perbaikan karena kerusakan yang cukup parah di bagian depan-nya. Yang memperbaikinya pun adalah orang kepercayaan Stefan yang sudah pasti tidak akan ingin tau kenapa mobil mewah itu bisa sampai mengalami kerusakan begitu parah.


“Aku yang menabraknya.” Ujar Stefan dingin.


Kedua mata dokter Rania membulat mendengar apa yang Stefan katakan. Dari awal dokter itu memang sudah yakin tidak mungkin seorang Stefan bisa begitu perduli pada seseorang tanpa sebab.


“Maka dari itu, aku minta sama kamu untuk menanganinya dengan baik. Karena jika sesuatu sampai terjadi pada dia kamu akan tau sendiri akibatnya Rania. Kamu tau siapa aku kan? Aku tidak pernah main main dengan apa yang aku ucapkan.”


Dokter Rania menelan ludah. Stefan memang tidak pernah main main dengan ucapan-nya. Pria itu pasti akan melakukan apa saja untuk membuktikan ucapan-nya.


“Kamu tidak bisa mengancamku Stefan.” Dokter Rania berusaha memberanikan dirinya. Wanita itu tidak merasa bergantung pada Stefan dan tidak harus tunduk pada perintah Stefan.


“Adapun aku mau menangani Alan dengan baik, itu tentu saja karena memang sudah tugasku sebagai seorang dokter untuk membantu pasien pasienku.”


Stefan tersenyum tipis.


“Gelar dokter sangat penting bukan untuk kamu? Kamu tidak ingin gelar itu hilang hanya karena tidak bisa menangani pasien kamu bukan?”


Dokter Rania diam. Melawan Stefan hanya akan menjerumuskan dirinya sendiri ke sesuatu yang tentu saja tidak bagus untuk karir juga hidupnya kedepan.


Stefan bangkit dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan dokter Rania yang merasa sangat kesal dengan ancaman tanpa alasan Stefan.


Stefan menghela napas. Dokter Rania adalah teman-nya sejak kecil. Kepintaran wanita itu sudah tidak bisa diragukan lagi. Meski memang dokter Rania tidak seberuntung dirinya yang lahir dari keluarga kaya raya.


Ya, Rania hanya murid beruntung yang mendapatkan beasiswa disekolah tempat mereka menimba ilmu dulu.


Ketika sedang melangkah di koridor rumah sakit Stefan berpapasan dengan Hana yang memang sudah selesai berbicara dengan Amira.


Keduanya sama sama berhenti melangkah dan saling menatap satu sama lain.


Stefan tersenyum miring. Dengan jelas Stefan bisa melihat sisa air mata yang masih menggenangi kelopak mata istrinya.


“Apa keadaan-nya separah itu sampai kamu meneteskan air mata?”


Hana berdecak. Hana sangat yakin sekarang bahwa Stefan bukan manusia yang mempunyai hati dan perasaan.

__ADS_1


“Itu bukan urusan kamu.” Ketus Hana kemudian melangkah melewati Stefan begitu saja.


Stefan diam sesaat kemudian menoleh menatap Hana yang melangkah cepat mendahuluinya dan Rico.


Stefan tersenyum lagi. Pria itu kemudian menatap Rico yang berdiri dengan sedikit menundukan kepala didepan-nya.


“Apa ada sesuatu yang terjadi?”


“Ya Tuan.. Nyonya sempat bertengkar dengan adik Alan. Mereka berdebat dan sama sama menangis.”


Stefan mengeryit. Pria itu menganggap adik Alan tidak mempunyai rasa terimakasih setelah apa yang Stefan lakukan atas nama Hana.


“Kamu boleh kembali bekerja. Tapi ingat, selalu pantau keluarga Alan. Jangan biarkan mereka mempengaruhi Hana.”


“Baik tuan.”


Stefan memutar tubuhnya kemudian berlalu meninggalkan Rico untuk menyusul Hana yang sudah lebih dulu menuju parkiran.


Saat Stefan sampai di parkiran Stefan melihat Hana yang sudah di kerubuti para pemburu berita disamping mobilnya. Stefan berdecak kesal. Pria itu melangkah lebar menghampiri Hana yang terlihat kebingungan karena terus di todong pertanyaan seputar hubungan-nya dengan Stefan yang di anggap di rahasiakan dari publik.


Para pemburu berita itu semakin gencar bertanya saat Stefan menghampiri Hana. Tidak ingin membuat rumor tidak sedap tersebar, Stefan memeluk dengan mesra pinggang Hana.


“Tuan Stefan minta waktunya sebentar. Sejak kapan anda berhubungan dengan nyonya Hana? Dan kenapa selama ini tidak ada satupun orang yang tau tentang kedekatan kalian?”


Stefan menoleh menatap Hana yang menatap ngeri para pemburu berita buas itu. Merasa kasihan melihat istrinya yang ketakutan, Stefan pun dengan lembut membopong Hana didepan para wartawan itu.


“Seberapa lamanya saya dan istri saya menjalin hubungan itu bukan hal penting. Yang harus kalian semua tau adalah saya sangat mencintai istri saya melebihi apapun di dunia ini.” Ujar Stefan dengan wajah datarnya.


Setelah berkata begitu manis dan romantis didepan para pemburu berita, Stefan membuka pintu mobilnya dan langsung mendudukkan Hana disamping kemudi dengan sangat pelan dan lembut. Hal itu membuat Hana sedikit terlena dengan sikap tidak biasa Stefan didepan para pemburu berita tersebut.


Stefan masuk kedalam mobilnya mengabaikan para wartawan yang tidak berani lagi mengejarnya. Dan dengan kecepatan diatas rata rata Stefan mengemudikan mobil mewahnya berlalu dari parkiran rumah sakit.


“Sekarang kamu tau kan akibat dari keluar tanpa sepengetahuan aku?”


Hana hanya diam saja. Wanita itu masih tidak menyangka dengan sikap Stefan yang melindunginya dari para wartawan tadi.

__ADS_1


__ADS_2