
“Kak.. Maafin Amira ya.. Amira nggak bisa cegah kak Hana melakukan itu.. Amira sudah berusaha membujuk kak Hana.. Tapi kak Hana tetap bersikeras dengan apa yang dilakukan-nya sekarang..”
Amira membatin menatap Alan yang tidak berdaya. Gadis dengan rambut lurus sebahu itu meneteskan air matanya. Seragam putih abu abu melekat dengan pas di tubuhnya yang semampai. Harusnya sekarang gadis itu berada disekolah, bukan dirumah sakit.
Ya, Amira memang sudah beberapa hari bolos sekolah. Amira memang berangkat sekolah dari rumah, tapi tempat yang Amira tuju bukan sekolah melainkan rumah sakit tempat Alan berada sekarang.
Amira memejamkan kedua matanya. Gadis itu merasa sangat bersalah pada kakaknya karena tidak bisa menghalangi Hana bersama Stefan.
Suara pintu yang dibuka membuat Amira kembali membuka kedua matanya. Gadis itu menolehkan kepalanya dan mengeryit ketika mendapati dokter Rania masuk kedalam ruang rawat Alan.
Dokter Rania tersenyum menatap Amira kemudian melangkah mendekat pada Amira. Pagi ini dokter Rania bermaksud untuk memeriksa keadaan Alan seperti biasanya.
“Selamat pagi..” Sapa dokter Rania ramah pada Amira.
Amira hanya diam. Amira sedikit merasa tidak suka pada dokter cantik itu. Amira menganggap dokter itu bersekongkol dengan Stefan untuk memisahkan kakaknya dengan Hana.
“Kamu nggak sekolah?” Tanya dokter Rania sambil mengecek keadaan Alan.
“Bukan urusan dokter saya mau sekolah atau enggak.” Jawab Amira malas.
Dokter Rania tersenyum mendengarnya. Dokter cantik itu tidak tau kenapa Amira selalu bersikap ketus padanya. Amira bahkan juga selalu menatapnya dengan sinis seolah dokter Rania memiliki kesalahan yang begitu besar pada gadis itu.
“Kamu selalu kesini setiap pagi dan akan pergi saat ibu kamu datang. Saya sangat yakin pasti yang ibu kamu tau kamu berangkat sekolah.”
Amira tersenyum sinis. Amira sangat tidak suka jika ada orang asing yang mengurusi kehidupan-nya.
“Ibu kamu pasti sangat bangga sama kamu. Dia begitu percaya sama kamu sampai tidak pernah curiga sedikitpun. Tapi mungkin kalau ibu kamu tau kamu tidak pernah sekolah lagi sejak kakak kamu dirawat disini dia akan sangat sedih.”
Amira mengepalkan kedua tangan-nya menatap dokter Rania yang di anggapnya begitu lancang karena berani berkomentar tentang apa yang Amira lakukan.
__ADS_1
“Tugas dokter itu mengurus dan memastikan kakak saya baik baik saja. Bukan mengurusi dan ikut campur dengan apa yang saya lakukan.” Tekan Amira menatap kesal pada dokter Rania.
Dokter Rania menggelengkan kepala dengan senyuman yang menghiasi bibirnya merasa kasihan pada gadis didepan-nya.
“Dokter sama saja dengan Stefan Devandra. Saya yakin dokter juga sama liciknya seperti laki laki brengsek itu. Laki laki kaya raya yang menganggap semuanya bisa dibeli dengan uang termasuk perempuan yang di cintai kakak saya.”
Rania mengeryit tidak mengerti dengan apa yang Amira katakan. Apa lagi saat mendengar Amira yang begitu berani menghina Stefan. Dokter Rania yakin jika Stefan mendengarnya, pria itu tidak segan untuk melakukan sesuatu pada gadis didepan-nya.
“Saya memang kenal dengan Stefan. Tapi kamu tidak sepantasnya mengatakan hal seperti itu. Stefan sudah begitu baik dengan mengatur segala yang terbaik untuk perawatan kakak kamu.”
Amira tertawa dengan kepala menggeleng.
“Dokter pikir Stefan melakukan itu karena dia baik? Tidak dokter. Dia merebut perempuan yang dicintai kakak saya. Dia memanfaatkan keadaan sulit keluarga kami.”
Dokter Rania tidak paham dengan apa yang Amira katakan. Stefan memang dingin dan seenaknya. Tapi dokter Rania tau Stefan tidak selicik itu. Dokter Rania tau bagaimana Stefan karena mereka sudah mengenal lama. Stefan orang yang baik meskipun terlihat dingin dan cuek.
“Stefan Devandra, dia hanya laki laki pengecut yang menggunakan kekayaan dan kekuasaan-nya untuk menindas orang orang lemah seperti keluarga kami.”
Tidak tahan dengan ucapan pedas Amira, Dokter Rania pun menyela dengan nada sedikit meninggi. Dokter Rania tau seperti apa dan bagaimana Stefan. Mungkin Stefan memang salah karena sudah menabrak sampai Alan menjadi seperti sekarang. Tapi Stefan sedang berusaha bertanggung jawab. Stefan bahkan sampai mengancamnya demi melakukan yang terbaik untuk Alan.
“Kamu masih terlalu kecil untuk mengatakan sesuatu yang tidak pantas. Kamu tidak tau siapa Stefan Devandra, jadi saya mohon kamu jangan berspekulasi sendiri. Karena kalau Stefan bukan orang baik dia tidak mungkin menyuruh saya sebagai teman-nya untuk kembali ke indonesia hanya untuk merawat kakak kamu.”
Bukan-nya diam, Amira malah tertawa merasa lucu dengan pembelaan dokter cantik dihadapan-nya untuk Stefan.
“Sepertinya memang kekayaan dan kekuasaan tuan Stefan itu bisa membeli segalanya ya dokter.”
Dokter Rania menggelengkan kepalanya. Gadis remaja didepan-nya benar benar sangat keras kepala.
“Amira...”
__ADS_1
Suara ibu Alan membuat dokter Rania dan Amira menoleh ke arah pintu dimana wanita ringkih itu berdiri.
Kedua mata Amira membulat, bagaimana mungkin ibunya datang kerumah sakit sepagi ini. Padahal tadi saat Amira dan Aisha hendak berangkat wanita itu masih sibuk dengan pekerjaan rumahnya.
“Ibu..” Lirih Amira terkejut.
Ibu Alan menatap Amira kecewa. Yang dirinya tau Amira sedang bersekolah sekarang. Tapi yang dilihatnya justru Amira sedang berdebat dengan dokter yang menangani Alan tentang Stefan.
“Bu aku..” Amira bingung harus menjelaskan bagaimana. Dirinya sudah tertangkap basah bolos sekolah. Menjelaskan pun pasti tidak akan ada gunanya.
Dokter Rania hanya diam ditempatnya. Merasa tidak seharusnya berada di antara Amira dan ibunya, dokter Rania pun memilih untuk keluar dari ruang rawat Alan.
Ibu Alan melangkah mendekat pada Amira. Kecewa sekali rasanya karena putri yang selalu dia percaya juga dia banggakan ternyata membohonginya.
“Kenapa Amira? Kenapa kamu nggak berangkat sekolah?” Tanya ibu Alan lirih pada Amira.
Amira menundukkan kepalanya. Sejak Alan mengalami kecelakaan Amira memang sudah tidak pernah lagi datang kesekolahnya. Terakhir Amira datang saat kepala sekolah memanggil dan menjelaskan padanya bahwa seluruh tunggakkan dan biaya sekolahnya sudah lunas. Itupun Amira langsung kerumah sakit dan tidak jadi mengikuti pelajaran.
“Ibu tau darimana kalau aku nggak sekolah?” Tanya Amira perlahan mengangkat kepalanya menatap ibunya yang menangis didepan-nya.
“Aisha yang bilang sama ibu.. Dia menangis melihat kakaknya yang tiba tiba berubah seperti sekarang.”
Amira diam. Aisha memang mengetahuinya, tapi Amira sudah mewanti wanti adiknya itu untuk tidak mengatakan-nya pada sang ibu.
“Aku nggak mau sekolah bu.. Aku mau cari kerja aja. Aku mau gantikan seluruh biaya yang sudah kak Hana dan suaminya keluarkan untuk kita.”
Ibu Alan menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan pemikiran putrinya saat ini.
“Jangan bodoh. Kamu harus sekolah. Kamu harus bisa menggapai cita cita kamu nak. Ibu nggak mau masa depan kamu hancur.. Ibu mau anak anak ibu sukses..”
__ADS_1
“Tapi bu..”
“Amira.. Hana melakukan semua ini karena dia sayang sama kita. Dia bahkan rela menikah dengan Stefan Devandra, laki laki yang belum tentu dia cintai demi kita.. Ibu mohon kamu mengerti. Hargai keputusan orang lain.” Sela ibu Alan meraih kedua tangan Amira dan menggenggamnya menatap putrinya dengan penuh harapan besar.