ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 154


__ADS_3

Karena tidak tega melihat Tristan yang bekerja menjadi kuli bangunan, Williana pun kembali datang ke pembangunan proyek yang sedang berlangsung itu. Williana menemui Tristan dan kembali membujuk adik satu satunya itu agar pulang kembali kerumah dan meninggalkan pekerjaan yang tidak seharusnya Tristan tekuni itu.


Namun Tristan menolak dengan tegas karena tau Williana pasti akan tetap melarangnya berhubungan dengan Amira. Apa lagi siang tadi mereka baru saja resmi berpacaran.


“Kakak akan turuti semua mau kamu Tristan. Tapi tolong kamu pulang. Kakak tunggu kamu dirumah.” Ujar Williana sebelum berlalu meninggalkan Tristan yang saat itu sedang mengaduk pasir dan semen menggunakan cangkul.


Williana tidak bisa memungkiri hatinya yang begitu teriris melihat adik semata wayangnya bekerja begitu keras hanya demi bisa mendapatkan kebebasan seperti yang di inginkan-nya. Williana juga tidak mau Stefan memandangnya sebelah mata karena membiarkan Tristan bekerja begitu kasar tanpa sedikitpun bantuan.


Tristan yang mendengar apa yang dikatakan kakaknya tersenyum simpul. Pemuda itu kemudian dengan semangat melanjutkan pekerjaan lembur malamnya. Tristan tidak sabar ingin menyelesaikan pekerjaan-nya kemudian membersihkan diri dan menemui Amira untuk kemudian Tristan ajak menemui Williana dirumahnya.


Ya, Tristan akan meminta secara langsung pada Williana dengan membawa Amira agar Williana merestui hubungan-nya yang baru saja resmi dengan Amira. Tidak perduli apapun tanggapan Williana nanti karena saat ini yang sedang sangat Tristan inginkan hanya kebebasan-nya dalam berteman dan dekat dengan siapapun yang menurut Tristan baik. Dan Amira adalah satu satunya gadis yang membuat Tristan berani mengambil langkah tegas sampai keluar dari rumah meninggalkan segala kemewahan yang biasa dia nikmati.


Setelah menyelesaikan pekerjaan juga sudah membersihkan dirinya, Tristan langsung pamit pada pak Udin dengan membawa tas ranselnya.


“Kamu serius mau berhenti bekerja Tristan?” Tanya pak Udin menatap Tristan penasaran.


“Emm.. Iya pak. Saya disuruh pulang sama kakak saya.” Jawab Tristan tersenyum tipis.


Pak Udin menganggukkan kepalanya mengerti. Pria berkulit coklat gelap itu mengerti jika memang Tristan tidak bisa lama lama bekerja sebagai keneknya. Tentu saja karena pak Udin sendiri bisa menebak bahwa Tristan bukan anak yang biasa mandiri dan hidup susah. Semua itu juga terlihat dari bagaimana cara Tristan bekerja juga gerak geriknya. Namun pak Udin juga merasa sangat takjub dan bangga pada Tristan yang mau bekerja begitu kasar padahal tidak biasa melakukan-nya.


“Ya sudah kalau begitu. Pesan saya kamu belajar yang pintar ya Tan. Raih cita cita kamu setinggi langit.” Ujar pak Udin yang membuat Tristan tersenyum lebar.


“Itu pasti pak. Saya juga mau mengucapkan banyak terimakasih karena pak Udin mau menolong saya dan memberikan saya pekerjaan. Saya pamit ya pak..”


“Ya.. Hati hati.” Angguk pak Udin.

__ADS_1


Tristan menghela napas kemudian berlalu dari bangunan proyek yang sedang berlangsung itu. Tristan berharap semoga Williana benar benar menuruti apa yang Tristan mau dengan membebaskan Tristan untuk dekat dengan Amira atau siapapun teman Tristan yang baik.


Tristan berjalan menjauh dari bangunan itu kemudian menyetop angkot yang mengarah ke jalan rumah Amira. Tristan bermaksud mengajak Amira untuk menemui Williana dan mengatakan dengan jujur bahwa mereka berdua sudah resmi pacaran.


“Kamu serius Tristan?” Tanya Amira tidak percaya dengan apa yang Tristan katakan padanya.


Saat ini Tristan sudah berada diteras rumah sederhana Amira. Pemuda itu langsung mengutarakan maksud kedatangan-nya pada Amira. Tristan bahkan juga mengatakan pada Amira bahwa dirinya sudah berhenti dari pekerjaan-nya itu.


“Kamu nggak usah khawatir Amira. Kakak aku memang jutek, kejam lagi. Tapi kakak aku itu bukan tipe orang yang suka ingkar dengan ucapan-nya sendiri.”


Amira menghela napas. Meskipun Tristan sudah meyakinkan-nya, tapi Amira benar benar tidak bisa yakin begitu saja dengan hubungan mereka. Berteman saja tidak boleh apa lagi jika sampai mereka jujur bahwa sekarang hubungan mereka sudah lebih dari sebatas teman.


“Kamu mau kan Amira ikut sama aku sekarang? Tenang aja, aku bakal pastiin kamu akan selalu aman sama aku.” Senyum Tristan kembali meyakinkan Amira.


Amira menatap Tristan. Gadis itu menelan ludah. Jika dirinya menolak untuk ikut, Tristan pasti akan sangat kecewa. Tapi jika dirinya ikut bukan tidak mungkin Williana akan semakin marah pada Tristan dan menuduh Amira yang mempengaruhi Tristan agar melawan padanya.


“Amira please.. Cuma kamu orang yang aku percaya saat ini. Cuma kamu yang bisa membuat aku kuat saat ini.” Bujuk Tristan meraih dan menggenggam tangan Amira.


Amira menatap tangan-nya yang di genggam oleh Tristan kemudian menghela napas lagi. Tidak mau membuat Tristan kecewa, Amira pun akhirnya menganggukkan kepalanya setuju untuk mengikuti Tristan menemui Williana.


“Tunggu sebentar, aku pamit dulu sama ibu.” Ujar Amira melepaskan pelan genggaman tangan Tristan.


“Oke..” Angguk Tristan tersenyum lebar.


Tristan berharap Williana benar benar akan menuruti semua kemauan-nya. Tristan juga berharap hubungan-nya dengan Amira akan terus berjalan mulus apapun rintangan-nya.

__ADS_1


Setelah mendapat izin dari ibunya, Amira pun pergi dengan Tristan menuju kediaman mewah keluarga Atmaja. Dan selama dalam perjalanan, Amira benar benar merasa sangat tidak tenang. Amira memikirkan akan bagaimana reaksi Williana jika Tristan mengatakan bahwa mereka sudah menjalin hubungan.


Ke khawatiran Amira semakin memuncak begitu mereka sampai di pekarangan luas keluarga Atmaja. Bahkan saat dirinya dan Tristan sudah berhadapan langsung dengan Williana, rasanya Amira ingin berlari sekencang kencangnya untuk menghindari tatapan tajam Williana padanya.


“Tristan, ngapain kamu ajak dia kesini?”


Tristan menoleh sebentar pada Amira yang menundukan kepala tidak berani membalas tatapan kakaknya. Dengan penuh keberanian dan tekadnya, Tristan meraih tangan Amira dan menggenggamnya erat didepan Williana menunjukan pada kakaknya bahwa dirinya tidak bisa di pisahkan dengan Amira apapun yang Williana lakukan.


“Ini Amira kak, dia pacar Tristan.” Ujar Stefan tenang.


Amira memejamkan kedua matanya mendengar Tristan yang begitu jujur mengatakan bahwa Amira adalah pacarnya.


Williana hanya diam saja. Williana juga sudah menebak hubungan Tristan dan Amira bukan hanya sekedar teman saja. Apa lagi Tristan sampai kabur dari rumah hanya karena tau Williana bermaksud tidak baik pada Amira.


“Aku akan pulang kembali kerumah ini kalau kakak biarin aku dan Amira bersama. Tapi kalau kakak masih melarang aku sama Amira, aku bakal tetap pergi dan nggak akan pulang lagi kerumah ini.”


Rahang Williana mengeras mendengarnya. Williana tidak menyangka jika hanya karena seorang gadis Tristan sampai senekat itu.


Williana menghela napas kemudian melengos enggan menatap adiknya yang sangat menguji kesabaran itu.


“Ini sudah malam. Sebaiknya kamu antar dia pulang dulu setelah itu kamu istirahat.” Ujar Williana kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Tristan dan Amira.


Melihat reaksi tenang kakaknya Tristan merasa sangat lega. Williana menyuruhnya mengantar Amira, itu berarti Williana mengizinkan-nya bersama dengan Amira.


“Tristan, kakak kamu nggak marah?” Tanya Amira yang terkejut karena reaksi tidak terduga Williana.

__ADS_1


Tristan menoleh pada Amira kemudian langsung memeluk erat tubuh ramping kekasihnya itu.


“Aku seneng banget Amira. Aku seneng banget karena akhirnya kakak aku mau ngertiin aku.” Ujar Tristan dibalik punggung Amira bahagia.


__ADS_2