ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 274


__ADS_3

Pagi ini Williana benar benar tidak bisa fokus dengan pekerjaan-nya. Wanita itu terus memikirkan Tristan yang sampai sekarang masih mendiamkan-nya. Tristan bahkan sepertinya juga sengaja mematikan ponselnya untuk menghindarinya.


“Enggak, aku nggak bisa begini terus. Aku harus ke sekolah Tristan sekarang juga.” Gumam Williana tidak bisa tenang memikirkan Tristan. Apa lagi Williana juga merasa sangat bersalah karena sudah memukul Tristan semalam.


Williana kemudian segera menghubungi sekretarisnya agar menghadapnya. Tidak lama kemudian masuklah sekretaris cantik berkaca mata dengan penampilan yang cukup sederhana menurut Williana.


“Permisi nona..” Sapa sopan sekretaris tersebut pada Williana.


“Ya.. Saya mau tanya ada jadwal apa saja hari ini?” Tanya Williana langsung.


“Nanti siang anda ada jadwal pertemuan dengan client nona. Setelah itu malamnya anda ada undangan makan malam bersama tuan Roni.”


“Kamu tolong gantikan saya untuk pertemuan siang ini. Dan untuk undangan makan malam itu batalkan saja. Saya ada urusan mendadak yang tidak bisa di tunda sekarang. Dan mungkin saya tidak akan kembali ke kantor lagi. Kamu tolong atur semuanya ya.. Kalau ada yang penting kamu langsung saja datang kerumah.” Ujar Williana dengan tenang.


“Oh iya nona. Baik.”


“Kalau begitu saya pergi. Tolong handle semuanya ya..”


Williana meraih ponselnya, tas, juga kunci mobilnya kemudian bangkit dari duduknya. Dengan langkah lebar Williana melangkah keluar dari ruangan-nya meninggalkan sekretarisnya yang hanya bisa menghela napas karena harus mengemban tugas yang menurutnya tidaklah mudah.


Williana melangkah menuju lift dengan langkah lebar. Williana merasa harus segera menemui Tristan untuk mendapat maaf dari adik satu satunya itu.


“Selamat pagi nona..” Sapa seorang karyawan yang saat itu juga hendak turun ke lantai dasar gedung perusahaan itu.


“Hem ya..” Balas Williana yang lebih memilih untuk memainkan ponselnya saat berada di dalam lift. Karena itu karyawan tersebut merasa serba salah. Ingin menyapa tapi takut di abaikan. Tapi tidak menyapa juga takut di anggap tidak sopan pada bosnya itu.


Beberapa menit bersama Williana didalam lift, karyawan itu merasa seperti sedang uji nyali. Keringat dingin bahkan sampai mengucur di pelipisnya. Dan ketika pintu lift terbuka karyawan tersebut baru bisa merasa lega karena Williana melangkah keluar begitu saja dengan gaya angkuhnya lebih dulu.


“Huft.. Punya bos kok begitu sekali.” Gumam karyawan itu mengelus dada setelah Williana berlalu.


----------

__ADS_1


“Apa aku bilang, kalau kita tetap semangat dan giat berlatih pasti kita bisa.”


Amira tersenyum dan menganggukkan kepalanya setuju. Selama beberapa hari ini Amira memang mulai semangat dan percaya pada dirinya sendiri bahwa dirinya bisa menampilkan yang terbaik. Dan semangatnya itu berkobar juga karena Tristan yang terus mendukungnya tanpa henti.


“Iya.. Kamu benar Tristan. Makasih yah kamu udah telaten ngajarin aku dansa. Maaf juga karena aku sering banget nginjek kaki kamu.”


Mendengar kata terimakasih yang Amira ucapkan, tiba tiba sebuah ide melintas di benak pemuda tampan itu. Tristan menghela napas sambil mengusap kaos olahraga yang dikenakan-nya. Ya, mereka memang sengaja mengenakan baju olah raga saat sedang berlatih. Mereka juga memilih ruang dansa untuk berlatih. Namun sebelum itu Tristan sudah meminta izin lebih dulu pada guru.


“Jadi cuma makasih doang nih? Kamu nggak ada niatan buat kasih sesuatu sama aku begitu?”


Senyuman di bibir Amira memudar mendengarnya. Gadis itu menyipitkan kedua matanya menatap tidak mengerti pada Tristan.


“Kan kita latihan juga karena kemauan kamu Tristan. Kamu loh yang tiba tiba daftar untuk penampilan kita. Aku juga...”


“Ck iya iya.. Oke cukup. Aku yang mau.” Sela Tristan merasa kesal karena Amira tidak peka dengan kemauan-nya.


Amira langsung diam saat Tristan menyela ucapan-nya. Gadis itu berdecak ikut merasa kesal karena Tristan menyela begitu saja apa yang ingin dia katakan.


Tristan melirik sekilas pada Amira kemudian melengos. Ide yang sempat melintas di benaknya segera Tristan buang jauh jauh. Tristan yakin Amira pasti tidak mau menuruti kemauan-nya.


“Enggak. Nggak jadi.” Jawab Tristan tidak semangat.


Amira menggelengkan kepalanya. Tidak biasanya Tristan mudah berubah pikiran jika ada yang sedang di inginkan.


Melihat Tristan yang langsung tidak semangat, Amira pun berinisiatif ingin membuat Tristan senang. Karena dengan merasa senang Tristan pasti akan kembali bersemangat.


Amira menghela napas kemudian tersenyum menatap Tristan yang tidak mau menatapnya. Pemuda itu bahkan mulai fokus dengan game yang ada di ponselnya mengabaikan Amira yang masih duduk disampingnya. Jika sudah seperti itu Amira langsung yakin bahwa Tristan sedang ngambek padanya.


Tidak ingin di abaikan, Amira pun langsung mendaratkan ciuman singkat di pipi Tristan. Hal itu membuat Tristan terkejut karena ciuman tiba tiba dari Amira.


Tristan langsung menoleh pada Amira yang menunduk malu malu dengan apa yang baru saja dia lakukan.

__ADS_1


“Amira kamu...”


“Anggap aja itu bayaran buat kamu karena kamu udah sabar banget ngajarin aku dansa dari aku yang nggak bisa sampai akhirnya aku mulai bisa.” Ujar Amira pelan.


Tristan tersenyum lebar. Pemuda itu menyentuh pipinya yang di cium oleh Amira. Rasa kesal yang sempat menguasai hatinya langsung sirna begitu saja karena Amira yang tiba tiba menciumnya.


“Hem ya sudah kalau begitu aku ke kantin dulu ya, haus banget.” Amira beralasan karena tidak bisa menahan rasa malunya pada Tristan. Gadis itu bergegas bangkit dari duduknya kemudian berlari kecil menjauh dari Tristan keluar dari ruangan luas yang di penuhi kaca itu.


Tristan tersenyum semakin lebar. Ini adalah pertama kali Amira menciumnya lebih dulu bahkan tanpa Tristan meminta. Meski pada awalnya memang berniat meminta namun dia urungkan karena Amira yang langsung mengeluarkan jurus bawelnya.


Dan lagi lagi tanpa Amira dan Tristan ketahui, Putri mengawasi mereka. Gadis dengan rambut yang di gerai itu merasa sangat geram melihat kemesraan Amira dan Tristan yang begitu alami. Kemesraan yang tercipta bukan karena dibuat buat.


“Sialan tuh si Amira. Berani banget dia mencium Tristan. Dasar cewek nggak tau diri.” Gerutu Putri menahan rasa kesal dan emosinya.


“Pantas saja Tristan tidak mau sama kamu. Ternyata selain tidak punya sopan santun kamu juga selalu ingin tau apa yang orang lain lakukan.”


Kedua mata Putri membulat sempurna mendengar suara Williana. Buru buru gadis itu memutar tubuhnya dan terkejut saat mendapati Williana yang sudah berdiri dengan angkuh di belakangnya.


“Kak Williana?” Gumamnya kaget.


Williana menatap dari atas sampai bawah gadis berseragam putih abu abu itu. Williana tau didalam ruangan yang sedang di awasi Putri sedang ada Tristan dan Amira.


“Jadi selama ini kamu sama sekali tidak berusaha untuk memisahkan Tristan dan Amira? Pantas saja.” Senyum remeh Williana berkata pada Putri.


Putri menggelengkan kepalanya. Berbagai cara sudah dia lakukan, namun Edo dan Joshua selalu berhasil menggagalkan-nya. Mereka seperti kacung yang selalu siaga menjaga hubungan Tristan dan Amira.


“Kak aku..”


“Sudahlah. Sepertinya saya salah sudah percaya sama kamu.” Sela Williana dengan sangat sombong.


Setelah menyela apa yang ingin di katakan Putri, Williana pun melewati Putri begitu saja masuk ke dalam ruangan tempat Tristan dan Amira latihan dansa.

__ADS_1


__ADS_2