
Stefan mengeryit saat membuka kedua matanya karena tidak mendapati Hana disampingnya. Padahal hari masih sangat pagi dan biasanya saat dirinya bangun Hana juga baru hendak akan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Pelan pelan Stefan bangkit dari berbaringnya dan terduduk diatas tempat tidur. Pria itu menghela napas kemudian meraih segelas air putih yang ada di nakas dan menenggaknya sampai habis guna membasahi kerongkongan-nya yang terasa kering setelah tidur semalaman.
Stefan menghela napas. Pria itu berpikir mungkin Hana bangun lebih pagi karena semalam tidur lebih awal dari biasanya.
Sesaat Stefan terdiam. Stefan tersenyum membayangkan apa yang dilakukan-nya semalam. Stefan bukan pria polos yang tidak pernah melihat tubuh wanita. Tapi tidak sengaja menyentuh bagian tubuh Hana semalam saat menggantikan baju Hana membuat sesuatu dalam diri Stefan seperti bangkit dan langsung berkobar terasa panas membakar seluruh tubuhnya.
Stefan menggelengkan kepalanya. Hana benar benar mulai membuat Stefan merasa tidak waras.
Stefan kemudian turun dari ranjang dan berjalan pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Kebetulan hari ini Stefan sedang tidak terlalu sibuk sehingga Stefan bisa sedikit santai berangkat ke perusahaan.
15 Menit kemudian Stefan sudah kembali keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk putih yang melilit di pinggangnya.
Stefan mengeryit ketika melihat tempat tidurnya yang masih berantakan dan juga tidak ada kemeja yang terletak diatas tempat tidur.
“Apa dia sedang memasak?” Stefan bertanya tanya dalam hati.
Biasanya Hana selalu rajin menyiapkan baju yang akan Stefan kenakan. Tapi kali ini bahkan Hana sepertinya belum sama sekali masuk kembali kedalam kamar mereka.
Stefan berdecak pelan. Pria itu melangkah menuju lemari bajunya membuka dan meraih setelan jas serta kemeja putih dan dasi yang hendak di pakainya.
Setelah penampilan-nya rapi, Stefan segera keluar dari kamarnya.
“Mommy bisa aja... Hahaha..”
Tawa Angel membuat Stefan menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar gadis kecil itu yang sedikit terbuka. Stefan yakin Hana pasti berada disana.
Stefan melangkah lebar menuju kamar Angel. Benar saja, Hana sedang berada didalam kamar Angel dan baru saja selesai mengikat rambut panjang Angel.
Stefan menyipitkan kedua matanya. Mengurus Angel memang bukan lagi kegiatan baru Hana. Hanya saja Stefan merasa aneh karena Hana bahkan sampai mengabaikan kebiasaan menyiapkan keperluan Stefan dan membereskan tempat tidur mereka.
“Angel.” Panggil Stefan membuat Angel juga Hana langsung menoleh ke arahnya.
“Daddy.. Selamat pagi daddy...” Senyum Angel langsung menyapa dengan hangat.
__ADS_1
Sementara Hana, wanita itu langsung membuang muka setelah melirik tajam pada Stefan. Dan itu tentu saja dilihat langsung oleh pria berkemeja putih dan masih belum mengenakan jas hitamnya itu.
“Angel bisa tinggalin mommy sama daddy dulu? Ada yang mau daddy bicarakan sama mommy..”
Angel menatap sebentar pada Hana kemudian menatap lagi pada stefan. Gadis yang rambutnya dikepang tempel itu kemudian menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.
Angel kemudian melangkah keluar dari kamarnya meninggalkan Hana yang berada didalam kamarnya dan Stefan yang berada diambang pintu kamarnya.
Setelah memastikan Angel sudah tidak lagi terlihat, Stefan pun masuk dan menutup pintu kamar Angel.
Sementara Hana tetap saja membuang muka merasa kesal pada Stefan karena apa yang dilihatnya semalam.
“Kenapa?” Tanya Stefan menatap Hana tanpa ekspresi.
“Nggak papa.” Jawab Hana ketus.
Rahang Stefan mengeras. Baru kali ada wanita yang berani berbicara padanya namun tidak mau langsung menatapnya.
“Hana..” Panggil Stefan dengan nada menekan karena kesal.
Stefan yang merasa jengkel dengan sikap Hana langsung mendekat. Pria itu meraih lengan Hana menariknya kasar membuat Hana langsung menoleh dan mau tidak mau harus berdiri dari duduknya.
“Stefan, kamu apa apaan sih?!”
Hana berontak marah karena apa yang Stefan lakukan dengan mencekal lengan-nya begitu erat. Hana berusaha melepaskan cekalan tangan Stefan namun bukan-nya melepaskan, Stefan malah semakin mengeratkan cekalan-nya.
“Katakan padaku sekarang Hana.”
Hana terus berusaha melepaskan cekalan tangan Stefan. Hana mencubit memukul tangan Stefan yang sama sekali tidak mengendurkan cekalan-nya.
“Stefan lepasin. Ini sakit.” Ringis Hana.
“Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu mengatakan-nya Hana.” Tekan Stefan dengan rahang mengatup keras.
“Mengatakan apa?” Tanya Hana tidak mengerti.
__ADS_1
“Aku nggak ngerti maksud kamu. Sekarang lebih baik lepaskan aku Stefan. Aku mau sarapan.”
“Mana kopi untukku?”
Hana menghela napas kasar.
“Minta buatin sana sama dokter Rania. Jangan sama aku.” Ketus Hana membuat kedua mata Stefan kembali menyipit.
“Sekarang lepasin tangan kamu dari tangan aku. Ini sakit Stefan.” Hana terus berusaha melepaskan cekalan tangan Stefan.
Sedang Stefan, pria itu masih mencoba mencerna apa yang Hana katakan dengan tiba tiba menyebut nama dokter Rania.
Stefan tersenyum kemudian menghempaskan tangan Hana membuat Hana jatuh terlentang diatas kasur ber seprei pink bermotif hello kitty milik Angel. Dan ketika Hana hendak bangkit Stefan langsung melingkupinya dengan ikut naik keatas kasur empuk itu.
“Stefan kamu...”
Hana tidak meneruskan ucapan-nya karena Stefan yang tiba tiba mendekatkan wajahnya. Hidung mancung pria berkulit putih itu bahkan hampir saja menempel dengan ujung hidung milik Hana.
“Dengar Hana. Aku dan Rania hanya berteman. Kamu tidak perlu marah ataupun cemburu.. Aku hanya milik kamu..” Lirih Stefan menatap tepat pada kedua mata Hana. Tatapan-nya begitu lembut seolah sedang meyakinkan dan menenangkan Hana.
Hana hanya diam. Lidahnya terasa kelu sampai Hana rasanya tidak bisa mengeluarkan suara dari bibirnya untuk menyauti apa yang Stefan katakan.
Tatapan Stefan turun dari mata ke bibir pink berlipstik Hana. Dengan sangat lembut Stefan mengusap bibir Hana menggunakan ibu jarinya. Stefan kemudian memiringkan wajahnya membuat Hana refleks menutup kedua matanya erat erat.
Stefan tersenyum geli melihat Hana memejamkan kedua matanya. Bibir Hana seolah sedang mengundangnya. Namun Stefan tidak ingin terburu buru menyentuhnya begitu saja. Stefan akan menunggu waktu yang tepat. Sampai tiba waktunya Stefan yakin saat itu Hana akan benar benar menyerahkan segalanya padanya termasuk hati dan cintanya.
Stefan menjauhkan sedikit wajahnya dari wajah Hana namun masih tetap berada diatas tubuh Hana.
“Eh jelek.” Panggil Stefan membuat Hana membuka kedua matanya kembali.
“Kamu nggak usah besar kepala. Aku nggak mungkin mencium bibir kamu yang dower itu. Mending sekarang kamu bikinin aku kopi panas.”
Hana yang tadi sempat terlena dengan tatapan Stefan sontak langsung merasa kesal. Dengan kasar Hana mendorong dada bidang Stefan agar menyingkir dari atasnya membuat pria itu langsung terduduk ditepi ranjang.
Hana langsung bangkit dan duduk didepan Stefan yang terus menatapnya.
__ADS_1
“Eh Stefan. Denger ya, walaupun bibir aku ini kamu bilang dower, tapi bibir aku masih suci. Dan aku nggak akan membiarkan kamu atau siapapun menyentuhnya. Ingat itu.” Ketus Hana kemudian bangkit berdiri dan berlalu keluar dari kamar Angel meninggalkan Stefan yang diam diam tersenyum merasa lucu dengan kemarahan Hana.