
Alan dan dokter Rania menatap takjub pada layar laptop milik Alan dimana dilayar laptop milik pria itu sedang diputar Video Tristan dan Amira yang sedang berdansa.
Tristan memang mengirimkan Video rekaman saat dirinya dan Amira sedang tampil pada Alan. Dan itu tentu saja karena memang Alan yang memintanya.
“Ini.. Ya Tuhan.. Alan, aku tidak menyangka Amira bisa begitu lues berdansa.” Dokter Rania menggeleng takjub namun juga sangat tidak menyangka melihat pergerakan apik Amira dan Tristan diatas panggung didepan banyak orang yang hadir disana.
“Iya.. Aku juga nggak nyangka. Tristan benar benar berhasil melatih Amira. Dan jujur, aku bangga dengan penampilan mereka.” Senyum Alan menatap pada dokter Rania.
Dokter Rania menganggukkan kepalanya setuju. Siang ini seperti biasanya, mereka berdua sedang makan siang bersama saat waktu istirahat tiba. Hal itu memang biasa mereka lakukan bahkan sebelum resmi menjalin sebuah komitmen untuk bersama. Dan setelah menjalin hubungan, keduanya pun sepakat untuk selalu meluangkan waktu untuk berdua ditengah kesibukan mereka meskipun hanya untuk makan siang bersama.
“Ya sudah kalau gitu aku balik ke tempat kerja ya.. Waktu istirahat sebentar lagi habis.” Senyum Alan menatap dokter Rania dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Oke..” Angguk dokter Rania lagi. Dokter cantik itu juga tersenyum membalas tatapan Alan.
“Hati hati.” Tambahnya saat Alan mulai memasukan laptopnya kedalam ransel miliknya.
“Ya sayang.. Kamu semangat ya kerjanya. Nanti sore aku jemput lagi pulangnya.”
Dokter Rania tertawa pelan merasa sangat lucu dengan panggilan sayang yang Alan tujukan padanya. Terkesan lebay memang. Namun panggilan itu juga terdengar sangat manis.
“Oke.. Aku balik.” Alan bangkit dari duduknya sembari menggendong ranselnya yang kemudian di ikuti oleh dokter Rania.
“He'em..”
Sebelum berlalu Alan menatap lembut wajah cantik dokter Rania. Wajah yang selalu terlihat manis apa lagi jika dokter cantik itu sedang mengenakan kaca matanya seperti sekarang. Benar benar terlihat menggemaskan.
“Kenapa?” Tanya dokter Rania merasa malu karena Alan yang terus menatapnya padahal pria itu sudah berdiri dan menggendong ranselnya.
“Eh enggak. Nggak papa kok. Oke aku balik kerja ya..”
Alan kemudian melangkah menjauh dari dokter Rania yang masih berdiri didepan meja kantin rumah sakit tempatnya dan Alan makan siang. Keduanya memang sengaja memilih makan siang di kantin rumah sakit tempat dokter Rania bekerja agar tidak membuang waktu di jalan.
__ADS_1
Dokter Rania menghela napas kemudian tersenyum. Tidak pernah sedikitpun terbayangkan olehnya jika dirinya akan menjalin hubungan yang begitu manis dengan Alan, pria yang dulu menjadi pasien-nya.
“Cieee.. Yang abis pacaran sama ayang..” Goda dokter Agnes yang sejak tadi sebenarnya memperhatikan Alan dan dokter Rania.
Dokter Rania menoleh mendengar suara dokter Agnes. Dokter cantik itu kembali mendudukan diri dikursinya saat dokter Agnes berpindah duduk di sampingnya di kursi yang tadi di duduki Alan.
“Jadi sekarang udah resmi nih?” Dokter Agnes kembali menggoda Dokter Rania membuat wajah dokter Rania langsung memerah karena merasa malu.
“Apaan sih Nes..”
“Yah yah yahh.. Dia malu ternyata. Udah nggak papa kali Ran.. Selamat ya karena akhirnya hubungan kamu sama Alan resmi. Buru buru gih di sahin biar lebih..”
“Hem Nes, waktu istirahat makan siang kita sudah selesai. Lebih baik sekarang kita segera bergegas untuk kembali bekerja.” Sela dokter Rania memotong apa yang ingin dikatakan oleh dokter Agnes. Dokter cantik itu tau rekan satu profesinya itu pasti tidak akan berhenti menggodanya kalau tidak buru buru di tinggalkan.
“Aku duluan ya Nes..”
Dokter Rania buru buru bangkit dari duduknya kemudian melangkah menjauh dari dokter Agnes. Dokter cantik itu tidak ingin terus terusan di goda oleh dokter Agnes.
“Pinter banget ngelesnya si Rania..” Geleng dokter Agnes menatap punggung dokter Rania merasa geli.
Sejak hari itu Williana sering melamun. Wanita itu bahkan bisa duduk diruang kerjanya tanpa melakukan apapun sampai semalaman. Yang ada di pikiran-nya selalu pertanyaan tentang kenapa Stefan tidak mau dengan-nya. Kenapa Stefan memutuskan komunikasi dengan-nya.
“Kakak..” Panggil Tristan yang malam itu baru pulang. Pemuda itu merasa penasaran karena sejak beberapa menit dirinya berdiri di ambang pintu, Williana terus saja diam tanpa melakukan apapun.
Williana terus saja diam dan fokus dengan pemikiran-nya sendiri. Bahkan Williana sama sekali tidak mendengar suara Tristan yang memanggilnya.
Tristan yang semakin merasa penasaran dengan kediaman kakaknya pun perlahan mendekat.
“Kak...” Panggilnya lagi sembari menyentuh lembut bahu Williana.
Williana tersentak kemudian buru buru menoleh. Kedua matanya menyorotkan keterkejutan saat pandangan-nya bertemu dengan Tristan.
__ADS_1
“Tristan..” Gumamnya pelan.
Tristan mengeryit. Keterkejutan yang terlihat jelas dari kedua mata kakaknya membuat Tristan semakin merasa ingin tau dengan apa yang sedang bersarang di kepala cantik sang kakak.
“Kakak kenapa?” Tanya Tristan pelan.
Williana tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Williana merasa tidak ada gunanya dirinya menceritakan apa yang sedang mengganggu pikiran-nya karena semua orang pasti akan selalu menganggapnya salah.
“I'm okay..” Jawabnya berbohong.
Tristan tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Pemuda itu memutar setengah lingkaran kursi yang di duduki Williana membuat Williana menghadap padanya. Setelah itu Tristan berlutut di depan kakaknya, menatapnya dengan tatapan lembut dan dalam.
“Kakak nggak bisa bohong sama aku..” Lirih Tristan.
Williana menelan ludah membalas tatapan dalam adiknya. Saat ini Williana ingin sekali menangis untuk menumpahkan semua beban yang memenuhi hatinya. Beban cinta sepihak pada Stefan yang sudah lama dia rasakan. Cinta yang juga sudah Williana perjuangkan dengan berbagai cara bahkan sampai Williana mempermalukan dirinya sendiri.
“Apa ini ada hubungan-nya dengan kak Stefan?” Tanya Tristan lagi.
Dada Williana terasa semakin penuh bahkan sesak mendengar Tristan menyebut nama Stefan. Williana tidak tau harus mengupayakan apa lagi supaya Stefan mau menatapnya.
Williana menggelengkan kepalanya. Rasanya sulit untuk menghindar dari pertanyaan Tristan sekarang.
“Kakak mencintainya Tristan. Kakak merasa nggak bisa tanpa Stefan..” Lirih Williana yang akhirnya tidak sanggup lagi menahan air matanya.
Tristan menghela napas. Tristan tau bagaimana rasanya mencintai seseorang. Tristan sudah beberapa kali mengingatkan kakaknya namun sekalipun Williana tidak pernah mau mendengarkan-nya. Sebaliknya, Williana malah marah padanya bahkan pernah sampai menamparnya.
Tristan mengukir senyuman manis dibibirnya. Tristan tidak ingin lagi menyalahkan apa yang kakaknya rasakan sekarang. Apa lagi Tristan juga tau Williana mencintai Stefan jauh sebelum Stefan menikah dengan Hana ataupun Lusi, mendiang istri pertamanya.
“Kakak boleh menangis sekeras kerasnya sekarang. Tapi setelah ini aku nggak mau lagi melihat kakak merenungi apa yang tidak perlu.” Ujar Tristan lembut.
Saat itu juga pertahanan Williana runtuh. Wanita itu berhambur memeluk Tristan yang berlutut di depan-nya.
__ADS_1
“Sakit Tristan.. Sakit banget..” Tangis Williana menangis sambil memeluk Tristan erat.
Tristan hanya bisa diam saja membiarkan kakaknya menumpahkan segala rasa sakitnya lewat tangisan-nya. Pemuda itu membalas lembut pelukan erat kakaknya, mengusap usap punggung bergetar Williana.