
Stefan membunyikan klakson mobilnya begitu sampai didepan pintu gerbang kediaman dokter Rania. Rahangnya terus mengeras tidak terima karena menganggap Alan membantu mendonorkan darah untuk Angel dengan maksud dan tujuan tertentu.
Begitu pintu gerbang tersebut dibuka, Stefan kembali melajukan mobilnya masuk ke dalam pekarangan luas rumah dokter Rania. Stefan memarkirkan mobilnya dihalaman tepat didepan teras kemudian turun dari mobil mewah itu dengan cepat.
Stefan menghela napas pelan kemudian masuk kedalam rumah dokter Rania. Pria itu langsung menuju lantai dua dimana kamar Alan berada tanpa bertanya lebih dulu pada asisten rumah tangga yang bekerja disana. Hal itu membuat asisten rumah tangga di rumah dokter Rania kebingungan juga ketakutan.
Tidak mau disalahkan jika terjadi sesuatu, asisten rumah tangga tersebut segera menghubungi dokter Rania mengatakan tentang Stefan yang datang dan masuk begitu saja kedalam rumah.
Stefan berhenti melangkah begitu sampai didepan kamar Alan yang sedikit terbuka. Stefan menyipitkan kedua matanya merasa Alan seperti sudah tau bahwa dirinya akan datang.
Tanpa mengetuk pintu Stefan langsung masuk begitu saja kedalam kamar Alan. Dan kebetulan saat itu Alan sedang duduk menyandarkan punggungnya di pangkal ranjang.
“Tuan Stefan..” Gumam Alan terkejut karena kedatangan pria itu secara tiba tiba.
Stefan menatap Alan dengan rahang mengeras. Stefan tetap yakin bahwa Alan menolong Angel dengan maksud dan tujuan tertentu.
“Apa maksud kamu tiba tiba mendonorkan darah untuk putriku Alan?” Tanya Stefan dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
__ADS_1
Alan mengeryit tidak mengerti kenapa tiba tiba Stefan menanyakan hal yang Alan sendiri tidak tau apa maksudnya. Karena Alan sendiri tidak mempunyai maksud apa apa. Alan benar benar ingin membantu Stefan dan Hana dan itu tulus tanpa maksud ataupun tujuan apapun.
“Saya tidak tau apa maksud tuan. Saya memang mendonorkan darah untuk Angel. Tapi itu saya lakukan benar benar tulus dari hati saya tanpa ada maksud dan tujuan apapun.”
Stefan tersenyum sinis. Stefan tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang Alan katakan mengingat pria itu mempunyai perasaan terpendam pada Hana, istrinya. Stefan berpikir bisa saja Alan melakukan-nya agar Hana merasa berhutang budi kemudian kembali dekat dengan-nya seperti dulu.
“Jangan pernah berpikir kalau aku ini bodoh Alan. Aku tau kamu mencintai istriku diam diam.”
Kedua mata Alan sempat melebar mendengar apa yang Stefan katakan. Pria itu tidak menyangka Stefan mengetahui tentang perasaan-nya.
“Dokter Rania, apa dia yang memberitahukan pada Stefan tentang perasaan aku pada Hana?” Batin Alan bertanya tanya. Alan mengira selain Amira dan ibunya, hanya dokter Rania yang mengetahui tentang perasaan terpendamnya pada Hana.
Alan menghela napas. Pria itu mencoba untuk tetap tenang meskipun Stefan sudah tau tentang perasaan-nya pada Hana. Alan tidak ingin terlihat bodoh didepan Stefan. Tapi Alan juga tidak ingin munafik dengan tidak mengakui tentang perasaan-nya pada Hana.
“Kenapa kamu diam saja Alan? Apa kamu pikir aku tidak tau tentang perasaan kamu pada Hana hah?! Sekarang katakan dengan jujur apa maksud kamu tiba tiba datang mendonorkan darah kamu pada putriku? Apa kamu berharap bisa dekat lagi dengan Hana dengan cara murahan kamu itu? Apa kamu pikir kamu bisa merebut Hana dariku?”
Alan tersenyum tidak menyangka dengan apa yang Stefan pikirkan tentangnya. Karena sedikitpun Alan tidak pernah mempunyai pemikiran ingin dekat apa lagi merebut Hana dari Stefan. Sebaliknya, Alan sedang berusaha menjauh dan melupakan Hana dari ingatan-nya. Dan tadi, alasan pusing dan lemasnya setelah pengambilan darah untuk Angel hanyalah kebohongan belaka agar Alan tidak perlu bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan Hana.
__ADS_1
“Tuan, mohon jangan salah paham dengan apa yang saya lakukan. Saya tidak punya maksud apa apa. Niat saya mendonorkan darah saya pada Angel murni ingin membantu tuan dan juga Hana. Mungkin bantuan saya ini memang tidak sepadan dengan bantuan yang tuan berikan pada saya dan keluarga saya selama saya tidak berdaya. Tapi saya harap apa yang saya lakukan bisa diterima dengan baik oleh tuan, Hana, juga nyonya Sera.” Ujar Alan berusaha untuk menjelaskan.
Stefan tertawa mendengar apa yang Alan jelaskan padanya. Stefan sedikitpun tidak percaya dengan apa yang Alan katakan. Pria itu tetap menganggap Alan melakukan-nya karena mempunyai maksud dan tujuan tertentu.
“Kamu pikir aku percaya dengan apa yang kamu katakan Alan? Aku Stefan Devandra. Dan aku tidak sebodoh yang kamu kira.”
Alan menghela napas. Alan tidak tau darimana Stefan tau tentang perasaan-nya pada Hana. Yang jelas, Alan tidak sedikitpun berniat ingin merebut Hana dari Stefan. Karena dengan Hana bahagia saja itu sudah cukup bagi Alan. Alan sedang berusaha untuk ikhlas dan rela. Alan ingin menjalani hidup dan takdirnya dengan baik kedepan-nya.
“Tentang perasaan saya pada Hana memang betul tuan. Tuan tidak salah kalau mengira saya mempunyai perasaan pada Hana karena itu memang benar adanya. Saya mencintai Hana sejak dulu sebelum tuan hadir dalam hidup Hana. Tapi sedikitpun saya tidak pernah berpikir untuk mendekati Hana lagi. Saya sadar siapa saya tuan. Dan saya juga tau Hana sangat mencintai tuan. Hana adalah perempuan yang baik. Hana pasti bisa menjaga hati dan perasaan-nya untuk tuan, laki laki yang Hana cintai.”
Stefan menggelengkan kepalanya. Pria itu merasa sangat lucu mendengar apa yang Alan katakan. Alan sudah tau Hana mencintai Stefan namun masih saja berusaha mendekati Hana dengan caranya yang menurut Stefan sangat murahan.
“Aku tidak percaya dengan omong kosong kamu Alan. Perlu kamu tau, aku tidak akan membiarkan siapapun termasuk kamu merusak hubunganku dengan Hana. Aku akan menghancurkan siapa saja orang yang berani mengusik kehidupan bahagiaku, apa lagi jika sampai berani mengusik perempuanku.” Ujar Stefan dengan penekanan di akhir kalimatnya.
Alan hanya diam saja. Alan merasa tidak perlu meladeni apa yang Stefan katakan. Karena jika Alan terus menyauti ucapan Stefan, itu pasti akan semakin menimbulkan kesalah pahaman.
Stefan menatap Alan meremehkan kemudian berlalu keluar begitu saja dari kamar Alan. Pria itu bahkan tidak mengatakan apapun lagi setelah ucapan penuh penekanan yang menjurus pada ancaman itu pada Alan.
__ADS_1
“Huh, lihatlah Hana, ternyata tidak cuma aku saja yang gila karena kamu. Tapi seorang Stefan Devandra yang begitu kaya raya dan berkuasa, dia juga sangat tergila gila sama kamu.” Gumam Alan tertawa sendiri.