ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 179


__ADS_3

Paginya Stefan langsung mengajak Hana pergi. Stefan dan Hana bahkan tidak sarapan bersama keluarga om dan tantenya lebih dulu dan memilih untuk mencari sarapan diluar.


“Stefan, aku mau itu..”


Stefan tidak mendengar rengekan manja Hana karena terus fokus memikirkan apa yang terjadi semalam. Pria itu sedang memikirkan Gabriel yang entah kenapa terasa berbeda menurut Stefan.


Hana yang merasa aneh karena Stefan terus saja diam mengeryit. Wanita itu kemudian menyentuh lembut tangan Stefan membuat si empunya langsung menoleh kearahnya.


“Kenapa?” Tanya Stefan pelan.


Hana tersenyum. Wanita itu yakin Stefan tidak mendengarkan permintaan-nya tadi.


“Kamu tu yang kenapa dari tadi diam terus.. Sampe aku minta omelette itu kamu nggak kasih..”


“Oh iyah.. Kamu mau ini? Ini, makanlah.”


Stefan menyodorkan isi piringnya yang masih utuh dan sama sekali belum dia sentuh pada Hana.


Hana kemudian mengambilnya sedikit untuk menghilangkan rasa penasaran-nya pada menu sarapan milik suaminya itu. Ibu Alan pernah bilang padanya jika wanita hamil menginginkan sesuatu yang ada didepan mata selama mampu sebisa mungkin harus di penuhi agar bayi yang lahir nanti tidak ileran.


“Enak..” Senyum Hana sambil mengunyah omelette tersebut.


“Sudah.. Aku hanya ingin sedikit saja Stefan.” Tambah Hana.


Stefan mengangguk kemudian kembali meletakan piring itu di depan-nya. Pagi ini Stefan benar benar tidak selera untuk sarapan karena terus memikirkan apa yang terjadi semalam.


“Kamu kenapa nggak makan?” Tanya Hana menatap Stefan bingung.


Stefan menggeleng pelan. Pria itu khawatir Gabriel akan melakukan sesuatu pada Hana.


“Hana, apa tidak sebaiknya kita pulang saja?”


Pertanyaan Stefan membuat Hana langsung berhenti mengunyah makanan yang baru saja dia suapkan kedalam mulutnya.


“Loh, kenapa? Kita kan belum ketemu sama Selena..”


Stefan menghela napas. Bertemu atau tidak dengan Selena baginya sudah tidak penting. Yang terpenting adalah bagaimana caranya untuk melindungi Hana dari Gabriel.


“Hana.. Aku nggak mau kamu dan anak kita kenapa napa..” Lirih Stefan menatap Hana dengan tatapan yang membuat Hana tidak bisa menolak.

__ADS_1


Hana tau Stefan hanya ingin yang terbaik untuknya juga janin dalam kandungan-nya. Dan sekarang Hana tau kenapa Stefan tidak pernah mengajaknya kesana dengan terus menunda nunda waktu.


“Baiklah..” Angguk Hana tersenyum menyetujui.


Dari kejauhan tanpa Stefan dan Hana sadari seorang gadis cantik berambut keriting mengembang sedang mengawasi mereka diam diam. Gadis itu tersenyum penuh arti menatap Stefan yang sedang mengobrol dengan Hana di meja yang tidak jauh dari mejanya.


“Kak Stefan... Akhirnya kita bisa bertemu lagi.” Senyumnya bergumam penuh arti.


Setelah sarapan, Stefan mengajak Hana jalan jalan dengan mendatangi beberapa tempat wisata yang memang selalu ramai di kunjungi oleh orang orang disana. Namun semua itu tidak juga membuat pikiran Stefan teralihkan dari ke khawatiran-nya pada Hana.


Tidak mau Hana kelelahan Stefan pun akhirnya mengajak Hana untuk segera kembali ke kediaman om dan tantenya. Namun setibanya disana Stefan dan Hana mendapati rumah itu kosong. Gabriel yang biasanya menjadi penunggu dirumah itu tidak ada dimana mana.


“Stefan..” Entah kenapa Hana tiba tiba merasa takut. Wanita mulai percaya dengan cerita Stefan tentang Gabriel.


“Kita pulang sore ini juga sayang.. Tenanglah, semuanya akan baik baik saja.” Ujar Stefan menarik Hana kedalam pelukan-nya untuk menenangkan wanita itu dari segala rasa takutnya.


Deringan ponsel dalam saku celana jins Stefan membuat Stefan melepaskan pelukan-nya. Pria itu mengeryit ketika mendapati nama kontak omnya tertera dilayar ponselnya.


Penasaran karena tiba tiba omnya menelepon, Stefan pun segera mengangkat telepon tersebut.


“Ya om...”


“Apa?!”


------------


 


“Kerumah Stefan?” Tanya Rania pada Alan yang siang ini mendatanginya di rumah sakit tempatnya bekerja. Alan juga mengajaknya untuk makan bersama di kantin rumah sakit tempat dokter cantik itu bekerja.


“Ya dokter. Kalau dokter bersedia, nanti sore aku akan kesini untuk menjemput dokter. Kita naik motor saja.”


Dokter Rania diam dan tampak berpikir. Dokter itu tau Alan mengajaknya datang ke rumah Stefan pasti untuk bertemu dengan Hana. Dan entah kenapa ada perasaan didalam hatinya yang membuat dokter cantik itu merasa tidak nyaman.


“Bagaimana dokter?” Tanya Alan lagi.


Dokter Rania menghela napas. Wanita itu malas sebenarnya jika harus kembali berurusan dengan Stefan yang selalu seenaknya. Tapi dokter Rania juga merasa penasaran apa yang ingin di lakukan Alan jika bertemu dengan Hana.


“Ya sudah. Nanti sore kamu jemput aku saja kesini.” Senyum dokter Rania tipis.

__ADS_1


Alan tersenyum lebar mendengarnya. Pria itu merasa sangat senang karena dokter Rania mau menemaninya kerumah Stefan untuk bertemu dengan Hana.


Kali ini niat Alan benar benar hanya ingin melihat dan tau bagaimana kabar Hana sebagai orang yang pernah menjadi sahabat dan sangat dekat dengan-nya. Alan tidak punya niat apapun selain itu.


“Baik dokter. Terimakasih.”


Dokter Rania hanya menganggukkan kepalanya. Meskipun merasa ada sesuatu yang membuat hatinya tidak nyaman, namun dokter itu tetap mau menemani Alan untuk datang kerumah Stefan.


Setelah waktu istirahat makan siangnya selesai, Alan kembali ke tempatnya bekerja. Pria itu tidak sabar menunggu waktu pulang kerjanya nanti sore untuk kemudian menjemput dokter Rania.


Dengan penuh semangat Alan mengerjakan pekerjaan-nya. Pria itu begitu sumringah hari ini karena akan pergi bersama dengan dokter Rania hingga tidak terasa waktu pulang pun tiba.


Alan menghela napas kemudian mengenakan helmnya. Pria itu menaiki motornya dan melajukan-nya dengan kecepatan sedang berlalu dari parkiran depan perusahaan tempatnya bekerja untuk menuju rumah sakit tempat dokter Rania bekerja.


Ketika sampai disana ternyata dokter Rania sudah menunggu disamping mobilnya. Wanita dengan dress simpel warna peach itu tampak sesekali menilik waktu di jam tangan warna senada dengan dressnya.


Alan tersenyum dari kejauhan. Dokter Rania selalu terlihat cantik dengan penampilan apapun.


Tidak mau membuat dokter cantik itu terlalu lama menunggu, Alan segera melajukan motornya mendekat pada dokter Rania.


“Hay..” Senyum dokter Rania begitu Alan sampai didepan-nya.


“Kita pergi sekarang dokter?” Tanya Alan dengan senyuman dibibirnya.


“Boleh..” Angguk dokter Rania.


Alan kemudian turun dari motornya. Pria itu meraih helm yang dia letakan di setang motornya. Alan kemudian mendekat dan berdiri menjulang didepan dokter Rania.


“Maaf dokter..” Katanya kemudian memakaikan helm tersebut pada dokter Rania.


Dokter Rania terdiam karena apa yang Alan lakukan. Wanita cantik itu menatap Alan yang begitu lembut memakaikan helm padanya.


“Sudah. Ayo dokter...” Ajak Alan dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Pria itu benar benar terlihat sangat bahagia.


“Oh oke..” Angguk dokter Rania kemudian segera naik ke boncengan Alan.


Mereka berdua berlalu dari depan rumah sakit dengan menggunakan motor Alan. Dan sepanjang perjalanan menuju rumah Stefan dokter Rania tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana perasaan Alan pada Hana yang sebenarnya sekarang.


“Aku nggak boleh berpikir terlalu jauh. Alan hanya menganggapku teman.” Batin dokter cantik itu.

__ADS_1


__ADS_2