
Alan berdiri dibalkon kamarnya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Entah kenapa melihat bintang yang menghiasi langit malam ini membuat hati Alan tenang. Alan memejamkan sesaat kedua matanya merasakan semilir angin malam yang begitu sejuk di kulit wajahnya.
“Terimakasih Tuhan.. Terimakasih untuk kekuatan yang sudah kau berikan pada hamba.. Terimakasih untuk ketenangan ini..” Batin Alan dengan kedua mata terpejam.
“Makan malam sudah siap..”
Suara dokter Rania membuat Alan kembali membuka kedua matanya. Pria berkaos biru lengan panjang itu kemudian menoleh pada dokter Rania yang berdiri di ambang pintu balkon dengan membawa nampan dimana diatas nampan yang dibawanya itu terdapat dua piring makan malam lengkap dengan dua gelas air putih untuk minumnya.
Alan tertawa pelan. Dokter Rania selalu saja menyiapkan semua yang Alan butuhkan tanpa sedikitpun terlihat keberatan dari raut wajahnya.
Dokter Rania yang melihat Alan tertawa ikut tertawa juga. Wanita itu kemudian mendekat pada Alan dan menaruh nampan yang dibawanya diatas meja yang ada didekat Alan.
“Aku selalu saja merepotkan dokter.” Ujar Alan membuat dokter Rania mengeryit.
“Dokter selalu menyiapkan apa yang aku butuhkan. Dokter juga selalu memenuhi apa yang sebenarnya tidak perlu dokter lakukan. Aku benar benar merasa sangat tidak enak.” Lanjut Alan lagi.
Dokter Rania menghela napas kemudian meraih kursi roda milik Alan dan mendekatkan pada pria itu.
Alan yang mengerti dengan maksud dokter cantik itu segera mendudukan dirinya dikursi roda tersebut. Alan memang sudah bisa kembali berjalan, namun belum benar benar lancar karena kakinya masih gemetaran jika terlalu lama berdiri.
“Perlu kamu ingat Alan, aku melakukan semua ini tidak gratis. Stefan membayarku dan itu artinya kamu harus cepat sembuh agar tidak lagi merepotkan aku.”
Alan tersenyum. Entah seberapa kaya seorang Stefan Devandra itu sehingga mengeluarkan uang untuk pengobatan-nya saja tidak pernah merasa keberatan.
__ADS_1
“Sudahlah Alan, lebih baik sekarang kita makan. Aku sudah sangat lapar.”
Alan menganggukkan kepalanya. Pria itu diam diam memperhatikan dokter Rania yang mendudukan dirinya di kursi didepan-nya kemudian mulai menyantap makan malamnya.
“Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?” Tanya dokter Rania yang sadar diperhatikan oleh Alan.
“Oh enggak. Nggak ada kok.” Jawab Alan malu sendiri.
Alan kemudian mulai menyantap makan malamnya. Dan sembari mengunyah makanan itu Alan berpikir tentang dirinya yang semakin hari semakin membaik dan pulih. Alan berpikir apakah dirinya bisa dekat lagi dengan dokter Rania jika nanti dirinya sembuh dan sudah tidak lagi tinggal dengan dokter cantik itu.
Memikirkan semua itu membuat Alan tiba tiba minder. Dirinya hanya pria biasa. Sedangkan dokter Rania, dia adalah wanita cantik dengan prestasi yang gemilang serta kaya. Tidak mungkin rasanya jika Alan bisa menggapainya.
Selama makan malam berdua itu berlangsung, tidak ada obrolan antara keduanya. Mereka fokus dengan pikiran dan makanan mereka masing masing.
Dokter Rania merasa sudah terbiasa dengan kehadiran Alan disampingnya. Setiap hari bahkan setiap waktu mereka selalu bersama. Tapi sekarang keadaan Alan berangsur membaik. Alan sudah bisa kembali berjalan meskipun masih dengan gerakan yang sangat pelan dan tidak bisa lama. Tapi itu adalah pemulihan yang sangat cepat. Dan dokter Rania merasa sayang jika kebersamaan-nya bersama Alan akan cepat berlalu.
“Dokter...” Panggil Alan yang tiba tiba berhenti menyantap makanan-nya.
“Ya Alan..” Saut dokter Rania langsung menatap pria itu.
Sesaat Alan terdiam. Alan ingin sekali menanyakan segala apa yang mengganggu pikiran-nya. Tapi Alan takut jawaban dokter Rania tidak sesuai dengan apa yang Alan harapkan. Alan takut kecewa jika pada kenyataan-nya kedekatan-nya dengan dokter cantik itu selama ini hanya sebatas pasien dan dokter saja.
“Untuk semua yang sudah dokter lakukan, aku benar benar sangat berterimakasih. Aku tidak tau akan bagaimana jadinya jika tidak ada dokter.”
__ADS_1
Dokter Rania menghela napas mendengarnya. Alan berterimakasih bukan hanya sekali atau dua kali. Pria itu sudah sering mengucapkan-nya. Dan ucapan terimakasih yang kembali Alan lontarkan kali ini membuat dokter Rania merasa sedikit kecewa. Tentu saja karena dokter cantik itu sebenarnya berharap Alan mengatakan sesuatu yang lain selain kata terimakasih. Sesuatu yang sangat dokter cantik itu harapkan namun dokter Rania sendiri juga tidak tau sesuatu apa itu.
“Tidak perlu berterimakasih berlebihan. Aku melakukan-nya karena Stefan yang menyuruhku. Harusnya kamu berterimakasih pada Stefan, bukan padaku.” Balas dokter Rania tanpa senyuman.
Alan hanya bisa menganggukan pelan kepalanya. Entah kenapa Alan merasa ekspresi dokter cantik itu tidak seperti biasanya. Dokter Rania terlihat sedikit murung mendengarnya berterimakasih.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, dokter Rania segera membereskan-nya kemudian berlalu meninggalkan Alan yang duduk di kursi rodanya. Wanita itu bahkan tidak mengatakan apapun sebelum meninggalkan Alan sendiri. Padahal biasanya dokter cantik itu tidak pernah telat mengingatkan agar Alan segera tidur mengingat hari sudah malam.
Melihat sikap tidak biasa dokter Rania, Alan semakin merasa bingung. Pria itu bertanya tanya dalam hati dimana letak kesalahan saat dirinya mengucapkan kata terimakasih pada dokter itu. Dokter Rania bahkan sampai membawa bawa nama Stefan.
“Apa aku salah ngomong?” Gumam Alan pelan.
Alan melihat dengan sangat jelas tadi bagaimana ekspresi dokter Rania saat dirinya berterimakasih. Dokter cantik itu sama sekali tidak memperlihatkan senyuman manis yang biasa menghiasi bibirnya.
“Apa dia marah sama aku? Tapi kalau iya marah karena apa?”
Alan bingung sendiri karena dokter Rania yang tidak membalas dengan baik ucapan terimakasihnya.
Alan mendongak menatap langit penuh bintang lagi. Entah kenapa tiba tiba Alan merasa tidak bersyukur dengan kesembuhan kakinya. Semua itu tentu saja karena Alan takut akan berpisah dan tidak lagi bisa dekat apa lagi mengenal sosok baik dan penuh ketulusan seperti dokter Rania.
Tidak berbeda dengan Alan, dokter Rania pun merasakan hal yang sama. Wanita itu merenung di atas tempat tidurnya. Kilasan kebersamaan dengan Alan terus berputar di pikiran-nya membuat dokter Rania semakin merasa tidak rela kebersamaan-nya dengan Alan akan berakhir.
“Enggak enggak, aku nggak boleh begini. Tugas aku sebagai dokter adalah membantu pasienku sembuh. Harusnya aku bahagia karena aku berhasil membantu Alan sembuh dan bisa berjalan lagi seperti sedia kala..” Gumam dokter cantik itu menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran tidak baik yang menguasainya.
__ADS_1
“Huft.. Sudahlah, lebih baik sekarang aku istirahat.” Putus dokter Rania kemudian membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, menarik selimut dan mulai memejamkan kedua matanya menyelami alam mimpi.