ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 19


__ADS_3

“Ini apa?” Hana menatap bingung pada paperbag yang diberikan Stefan padanya.


“Kamu pake ini.. 2 jam lagi kita pergi.” Ujar Stefan dengan wajah datarnya.


“Apa? Pergi? pergi kemana?”


Stefan menatap Hana kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Hana membuat Hana menelan ludah karena tiba tiba wajah tampan Stefan begitu dekat dengan-nya.


“Bisa nggak? Kamu nggak usah bawel? Ikuti aja apa mau aku dari pada aku pergi dengan perempuan lain.”


Hana berdecak dan mendorong dada Stefan membuat wajah Stefan menjauh dari wajahnya.


“Memangnya aku perduli kamu mau pergi sama siapa? Terserah kamu ya mau pergi sama perempuan lain atau enggak.” Ketus Hana dengan begitu berani mendongak menatap Stefan.


“Begitu? Lalu bagaimana kalau nanti ada berita tentang kamu yang tidak bisa memuaskan aku sehingga aku berpaling pada perempuan lain?”


Kedua mata Hana mendelik. Stefan mengancamnya.


“Tapi semua itu terserah kamu Hana. Resiko kamu tanggung sendiri.” Senyum miring Stefan kemudian melangkah masuk kedalam kamar mandi.


Hana menghela napas kesal. Stefan benar benar melakukan segala hal semaunya sendiri.


Hana kemudian membuka paperbag yang diberikan Stefan. Di dalam paperbag itu terdapat gaun mewah warna salem yang membuat bibir Hana terbuka melihatnya.


“Ya Tuhan ini.. Ini bagus banget..”


Hana membolak balikan gaun tersebut. Hana bisa menebak gaun itu pasti harganya sangat mahal.


Hana kemudian melangkah menuju cermin dan menempelkan gaun itu di tubuhnya menilai nilai apakah gaun itu cocok untuknya atau tidak.


Hana tersenyum. Gaun itu begitu pas dengan warna kulitnya. Dan Hana juga yakin gaun mewah itu juga pas dengan tubuhnya.


“Gaun-nya cocok sama kamu.”


Suara Stefan kembali terdengar. Hana menatap Stefan lewat cermin didepan-nya. Pria itu sudah berdiri tepat dibelakangnya dengan kancing kemeja yang sudah terbuka dua.


“Aku nggak suka ditolak Hana. Jadi 2 jam lagi kamu harus sudah siap. Didalam paperbag itu juga ada sepatu dan tas untuk kamu. Dandan yang cantik ya..” Ujar Stefan dengan wajah datarnya kemudian berlalu keluar dari kamar mereka.


Hana berdecak dan mengerucutkan bibirnya. Wanita itu sungguh merasa sangat kesal karena cara Stefan mengajaknya pergi bahkan jauh dari kata romantis. Stefan memaksanya bahkan sampai mengancamnya.


“Dasar suami nyebelin.” Sungut Hana menatap pantulan wajah kesalnya di cermin didepan-nya.


2 Jam kemudian.

__ADS_1


Stefan menatap Hana yang baru saja selesai merias dirinya didepan cermin. Pria itu mengakui Hana sangat cantik dengan dandanan-nya. Apa lagi gaun yang dibelinya juga begitu pas membalut tubuh rampingnya.


“Cocok nggak?” Tanya Hana meminta pendapat Stefan yang sudah rapi dengan setelan jas hitamnya.


“Lumayan..” Jawab Stefan tanpa ekspresi.


Hana berdecak. Stefan sepertinya memang sudah mati rasa, karena hanya untuk melontarkan pujian yang Hana harapkan saja Stefan enggan. Begitu pikir Hana.


“Ayo buruan, aku nggak mau kita telat.”


“Tapi Stefan, bagaimana dengan Angel? Apa dia ikut juga?” Tanya Hana menatap Stefan dengan wajah sendu.


Hana tidak mau jika Angel sampai ngambek karena tidak diajak ikut serta saat mereka pergi.


“Angel sedang jalan jalan sama mamah.” Jawab Stefan.


“Jalan jalan? Kemana?”


Stefan menatap Hana jengkel. Wanita didepan-nya terlalu banyak bicara membuat Stefan merasa gemas.


“Lupakan tentang Angel. Lebih baik kita pergi sekarang sebelum Angel pulang dan dia merajuk karena tidak ikut kita pergi malam ini.”


Hana menghela napas dan menganggukan kepalanya setuju. Hana kemudian mengikuti langkah Stefan yang berada didepan-nya. Hana ingin sekali bertanya akan diajak kemana dirinya oleh Stefan sekarang. Tapi Hana tau, bertanya juga tidak ada gunanya karena Stefan tidak mungkin mau menjawabnya.


Hana menurut saja saat Stefan membukakan pintu mobil untuknya. Kali ini Stefan mengendarai mobilnya sendiri tanpa Rico.


Perlahan Stefan mulai melajukan pelan mobilnya keluar dari pekarangan luas rumahnya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya selama dalam perjalanan sehingga suasana hening menyelimuti. Stefan yang fokus dengan kemudinya dan Hana yang fokus dengan berbagai pikiran yang memenuhi kepalanya tentang akan kemana sebenarnya mereka berdua.


20 Menit perjalanan mereka akhirnya sampai ditempat tujuan yaitu sebuah gedung yang sudah ramai dipenuhi orang yang berlalu lalang.


Hana menelan ludah, melihat dari penampilan orang orang itu Hana yakin mereka semua bukan orang orang sembarangan.


“Stefan kenapa kita kesini?” Tanya Hana was was. Hana takut tidak bisa menyesuaikan diri ditengah orang orang yang sederajat dengan Stefan.


“Kita di undang oleh Williana Atmaja. Kamu pasti tau atau paling tidak pernah mendengar namanya. Malam ini adalah acara peresmian cabang hotel yang baru selesai dia bangun. Jadi aku harap kamu tau apa yang harus kamu lakukan nanti. Bersikaplah sebagaimana layaknya kamu adalah istriku Hana.”


Hana menggigit bibir bawahnya. Hana tidak pernah menghadiri acara seperti itu. Dan Hana khawatir dirinya akan membuat Stefan malu.


“Stefan tapi aku...”


“Yang harus kamu lakukan hanya mengangkat wajah kamu dan tersenyum pada mereka semua. Dan ingat, kamu harus selalu ada disampingku.” Kata Stefan menyela ucapan Hana.


Hana menghela napas. Stefan pasti tidak menerima protesan-nya. Hana benar benar menyesal karena dengan bodohnya mau diajak oleh Stefan tanpa lebih dulu dirinya tau Stefan akan mengajaknya kemana.

__ADS_1


“Ayo turun..” Perintah Stefan kemudian turun lebih dulu dari mobilnya.


Hana menghela napas nelangsa. Yang semua orang tau dirinya dan Stefan saling mencintai. Tidak mungkin sekali rasanya jika Hana menolak turun dan memilih tinggal didalam mobil membiarkan Stefan berjalan seorang diri di antara para tamu tamu yang hadir.


Hana menghela napas. Wanita itu kemudian memberanikan diri turun dari mobil dan menghampiri Stefan yang menunggunya.


Tanpa Stefan meminta Hana pun langsung melingkarkan tangan-nya di lengan Stefan. Hal itu membuat Stefan tersenyum. Entahlah, tiba tiba Stefan merasa bangga karena membawa gandengan yang tidak lain adalah istrinya sendiri.


Stefan dan Hana melangkah masuk kedalam gedung yang sudah dipenuhi oleh para tamu undangan.


“Kita duduk disini saja.” Kata Stefan yang memilih meja di tengah ball room luas itu.


Hana hanya menurut saja. Kali ini Hana benar benar mengandalkan Stefan dan statusnya sebagai nyonya Devandra.


“Hay Stefan..”


Baru saja mereka mendudukan dirinya tiba tiba seorang wanita cantik bergaun merah menyala mendekat pada Stefan. Wanita itu bahkan tanpa ragu merangkul bahu Stefan seolah mereka sangat akrab dan intim.


“Williana tolong jaga sikap. Ada istriku.” Kata Stefan dingin.


Hana memutar jengah kedua bola matanya. Sebenarnya Hana tidak sedikitpun merasa keberatan. Tapi Hana merasa jijik dengan tingkah wanita bergaun merah menyala itu yang seperti wanita gampangan.


“Oh ya.. Aku sampai lupa kalau aku juga mengundang istri kamu.” Senyum wanita yang tidak lain adalah Williana itu kemudian beralih menatap Hana yang tetap tenang duduk didepan Stefan.


“Jadi ini Hana Larasati?” Tanya Williana menatap Hana remeh.


Hana tetap diam saja. Hana enggan mengulurkan tangan-nya memperkenalkan diri pada wanita yang bahkan sudah berani merangkul bahu Stefan, suaminya.


“Dia cantik. Tapi sepertinya dia kurang pantas berada disamping kamu Stefan.” Komentar Williana dengan senyuman dibibirnya.


Stefan hanya diam saja enggan menyauti ucapan Williana.


“Tapi menurut saya, saya sangat pantas bersanding dengan suami yang sangat saya cintai nona.” Ujar Hana berusaha mengukir senyuman dibibirnya membalas ucapan Williana.


Hana tidak mau diremehkan oleh siapapun meskipun itu Stefan.


“Kamu..”


“Justru yang tidak pantas itu adalah anda yang dengan begitu tidak tau malunya memeluk suami saya, bahkan didepan banyak orang.” Ujar Hana lagi.


Rahang Williana mengeras. Williana tidak menyangka jika ternyata Hana adalah wanita yang begitu berani.


Williana menatap Stefan sebentar. Pria itu masih saja diam dan tenang. Tidak mau mempermalukan dirinya sendiri karena ucapan Hana, Williana pun berlalu tanpa mengatakan apapun lagi.

__ADS_1


__ADS_2