ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 137


__ADS_3

Karena Amira tidak percaya dengan apa yang Tristan katakan, Tristan pun mengajak Amira ke tempatnya bekerja. Tristan juga menunjukan tempat tidurnya yang hanya terbuat dari papan triplek yang dibuat kotak seperti ruangan namun tidak ada atap diatasnya. Amira tidak kaget melihatnya, namun Amira tidak menyangka juga tidak percaya dengan apa yang Tristan lakukan. Amira yakin Tristan belum dan tidak tau bagaimana susah dan beratnya menjadi seorang kuli bangunan. Apa lagi Tristan juga harus panas panasan nantinya.


“Tristan kamu yakin mau kerja seperti ini? Memangnya kamu bisa?”


Tristan mencebikkan bibirnya mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Amira. Pemuda itu menghela napas.


“Kenapa nggak bisa? Aku ini laki laki, bukan banci. Aku juga tidak selemah yang kamu pikirkan. Aku bisa melakukan apa saja untuk diriku sendiri.” Jawab Tristan dengan penuh percaya diri.


Amira diam. Jika sampai Williana tau dia pasti akan semakin marah. Apa lagi jika Putri juga tau, dia akan semakin menyalahkan Amira. Tapi Amira tidak perduli. Toh Tristan melakukan-nya juga demi kebebasan-nya sendiri dalam berteman.


“Ya sudah kalau memang kamu yakin kamu bisa. Aku nggak bisa ngelarang kamu karena aku juga bukan siapa siapa.”


Tristan tersenyum kemudian meraih kedua tangan Amira. Pemuda itu menatap tangan-nya yang menggenggam tangan Amira.


“Amira.. Sebenarnya aku ingin hubungan kita itu lebih dari sekedar teman. Aku akui aku nggak bisa jauh dari kamu. Terserah kamu mau bilang aku ini lebay atau apa. Tapi aku mau tanya sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku?”


Amira mengerjapkan beberapa kali kedua matanya mendengar apa yang Tristan tanyakan padanya. Tristan menembaknya. Tristan menyatakan perasaan padanya.


“Tap tapi bagaimana dengan Putri?” Tanya Amira gagap.


“Huh.. Aku itu nggak suka sama perempuan yang ngejar ngejar aku. Makanya aku maunya kamu yang jadi pacar aku. Kan kamu nggak ngejar aku karena uang aku. Jadi aku yang sekarang sebagai kuli bangunan ini, apa kamu mau?”


Amira bingung sekarang. Amira memang tidak pernah sedikitpun mengincar uang ataupun harta yang Tristan miliki. Amira dekat dengan Tristan murni karena menganggap Tristan adalah teman yang baik. Tapi sekarang Tristan malah menyatakan perasaan padanya. Jika Amira menolak, Tristan pasti akan salah mengartikan maksudnya. Tapi jika Amira menerima, itu artinya Amira harus siap dengan segala konsekuensinya mengingat Williana yang begitu sangat tidak menyukainya.


“Tristan tapi bagaimana dengan kakak kamu?” Amira mencoba mencari alasan agar Tristan berubah pikiran.

__ADS_1


“Sudah nggak usah mikirin kakak aku. Dia itu sudah dewasa, sudah pantas berumah tangga.”


Amira menelan ludah. Gadis itu tidak bisa mengelak lagi. Tristan pasti berharap jawaban itu sekarang juga.


“Amira.. Bagaimana?” Tanya Tristan kemudian.


Amira menatap Tristan yang memelas padanya. Tristan memang sangat baik. Tristan juga tidak pernah memandangnya sebelah mata. Tristan juga tidak segan membantunya saat Amira mengalami masalah dan kesulitan.


“Eemm.. Tristan maaf.. Aku minta waktu untuk memikirkan semuanya.”


Pelan pelan Amira melepaskan kedua tangan Tristan yang menggenggamnya. Amira tidak ingin salah langkah. Amira merasa harus memikirkan semuanya sebelum memutuskan untuk menerima atau menolak Tristan nantinya.


Tristan menganggukkan kepalanya pelan. Tristan paham dan mengerti dengan apa yang Amira katakan. Semuanya memang perlu di pikirkan matang matang.


Amira mengeryit kemudian tertawa. Itu sama saja Tristan memaksanya secara halus.


“Ya udah kalau gitu ayo aku antar kamu pulang. Tapi jalan kaki ya.. Aku belum ada uang soalnya.” Ujar Tristan dengan senyuman lebarnya.


“Iya.. Nggak papa kok..” Angguk Amira mengerti.


“Eemm.. Pak, saya anterin teman saya dulu ya..” Tristan berpamitan pada seorang pria tua yang akan menjadi teman kerjanya. Tristan sebenarnya sudah mulai bekerja menjadi kenek tukang bangunan itu.


“Ya Tan.. Jangan lama lama ya.. Nanti abis maghrib sudah harus kerja lagi soalnya.” Jawab pria tua berkulit coklat gelap itu.


“Beres pak.” Angguk Tristan tersenyum.

__ADS_1


Setelah itu Tristan mengajak Amira berlalu dari ruko yang masih dalam tahap pembangunan awal itu. Tristan berharap dirinya bisa bertahan dan membuktikan pada kakaknya bahwa dirinya bisa mandiri sendiri. Itu semua Tristan lakukan demi kebebasan-nya. Tristan tidak ingin selalu di kekang oleh kakaknya itu. Tristan ingin bisa berteman dan dekat dengan siapa saja yang menurut Tristan baik.


------------


Kepergian Tristan dari rumah juga caci makian Hana membuat Williana benar benar merasa sangat tidak tenang. Williana bahkan tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaan-nya sehingga memilih untuk langsung menemui Stefan. Williana tidak terima dengan apa yang Hana lakukan. Williana ingin protes pada Stefan yang hanya diam saja saat Hana berlaku kasar padanya. Stefan bahkan sedikitpun tidak mencegah Hana dan terus membiarkan-nya dalam diam.


“Ada apa Williana?” Tanya Stefan menatap Williana yang duduk di depan-nya.


“Kamu masih bertanya ada apa? Stefan, kamu sadar nggak sih apa yang istri kamu lakukan sama aku semalam itu sudah membuat aku malu di depan adikku sendiri. Sekarang bahkan adikku marah dan pergi dari rumah. Aku tidak terima dan aku akan menuntut Hana.” Marah Williana.


Stefan tersenyum sinis mendengarnya. Pria itu menggeleng pelan tidak menyangka karena Williana masih belum juga menyadari kesalahan-nya.


“Dengar baik baik Williana, semua orang baik yang berada di dekat Hana adalah orang saya juga. Termasuk Amira. Kamu pikir saya tidak tau apa yang kamu lakukan? Kamu mengawasi Amira bahkan berniat mencelakainya hanya karena Amira dekat dengan Tristan. Seharusnya kamu sadar dengan kepergian Tristan sekarang. Tristan bukan boneka yang bisa kamu atur semau kamu. Lagi pula, yang mendekat itu Tristan pada Amira. Bukan Amira yang mendekati Tristan.”


Rahang Williana mengeras mendengar apa yang Stefan katakan. Stefan bersikap seolah dia tau segalanya tentang Tristan.


“Kamu tidak seharusnya mencampuri urusan keluargaku Stefan.” Tekan Williana merasa sangat kesal.


“Williana, Saya juga sebenarnya tidak ingin repot mengurusi tentang ini. Tapi kamu yang lebih dulu memulai dengan mengusik Amira. Jadi saya tidak bisa diam saja.”


Kedua tangan Williana mengepal erat mendengar apa yang Stefan katakan. Namun bukan Stefan yang menjadi sasaran kebencian-nya, melainkan Hana yang Williana anggap sebagai dalang dari semuanya sejak semalam.


“Satu lagi Williana, kamu tidak akan bisa menuntut istri saya. Karena saya, saya tidak akan diam saja. Saya bahkan bisa menghancurkan kamu detik ini juga kalau saya mau. Jadi lebih baik mulai sekarang kamu berhenti mengusik Amira dan keluarganya atau kamu akan berhadapan langsung dengan saya.” Senyum Stefan menatap Williana.


Williana benar benar tidak bisa menerima begitu saja apa yang Stefan katakan. Williana juga tau bagaimana Stefan. Pria itu bisa melakukan segalanya jika sudah marah. Dan Williana, dia tentu tidak ingin kehilangan segalanya yang sudah susah payah dia bangun hanya karena kebodohan-nya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2